
"Mama mohon berhenti, jangan seperti ini," teriaknya Bu Clara yang melihat putranya hendak memukul wajahnya Septa.
"Uncle berhenti, janganlah bertindak main tangan seperti ini, semuanya bisa dibicarakan dengan baik-baik," ucapnya Sabrina putrinya Bu Henny.
"Mama mohon berhentilah Nak, Mama tidak ingin melihat kalian berselisih seperti ini," ucapnya sendu Bu Clara Diana yang berjalan sempoyongan ke arah Septa.
Pak Raka Bumi pun berhenti dan tidak melanjutkan niatnya untuk memukul wajahnya Septa, Papa biologisnya Kabir.
Bu Clara membantu Septa untuk bangkit dari posisi berlututnya itu, dia sebenarnya sangat malu dengan kenyataan yang beberapa tahun silam yang dilakukan oleh suaminya.
"Apa yang dikatakan oleh Septa memang benar adanya, tapi masalah dia menghamili putriku Hanin Mazaya itu sama sekali aku tidak mengetahuinya, Mama waktu itu hanya tahu jika mereka saling mencintai dan cintanya tidak direstui oleh Papa kalian," ungkapnya Bu Clara.
"Bagaimana kalau kita berbicara baik-baik di atas sofa, jangan seperti ini alangkah baiknya kalau setiap ada masalah dibicarakan baik-baik dengan kepala dingin," ujarnya Gilang Ramadhan kakaknya Sabrina.
Semuanya pun menuruti perkataan dari Gilang, mereka berjalan ke arah sofa ruang tengah miliknya Kabir dengan Senja.
Senja merangkul lengannya Kabir,agar tidak bertindak kasar melihat papanya dikasari. Sedangkan Jingga dan Guntur membantu Pak Septa yang wajahnya sedikit memar terkena pukulan dari Pak Raka.
Bu Hanin dibantu oleh Vania Larissa yang semakin meraung keras menangisi kenyataan yang terjadi padanya dimasa mudanya dulu. Ia tidak habis pikir jika ternyata kekasihnya bukannya meninggal dunia, tapi ternyata dia diculik oleh papa kandungnya sendiri karena berniat untuk memisahkan mereka.
Hana membantu mengobati wajahnya Pak Septa kebetulan dia seorang dokter, sehingga dia dipercaya untuk mengobati seluruh lukanya Pak Sapta Danu Triadji.
"Jadi apa yang kamu inginkan! Katakan pada kami karena aku yakin kamu datang ke sini untuk mengacau pasti ada maksud khusus kamu kan!?" Sarkasnya Pak Raka.
Pak Septa hanya tersenyum tipis menanggapi perkataannya kakak dari perempuan yang disayanginya itu.
"Saya ke sini untuk meminta hakku sebagai papa biologisnya Kabir Kasyafani dan berniat untuk melamar Hanin Mazaya, semoga niat baikku ini direstui dan diterima baik oleh kalian semua terutama untuk Kabir putraku dan khususnya bundanya Hanin," ucapnya pak Septa yang memang kedatangannya ke rumahnya Kabir bertujuan untuk mempersunting wanita pujaan hatinya.
Pak Raka kembali berdiri dan maju ke depannya Septa," hahaha! Tadi kamu mengacau sekarang ingin menuntut hakmu dan paling menggelikan adalah kamu hendak melamar adikku! Sungguh lelucon kamu ini sangat lucu," cibirnya pak Raka.
__ADS_1
"Mas Raka, kenapa keinginan dan tujuan baiknya pak Septa mas salah artikan? Kita seharusnya memberikan jalan kepada siapapun tanpa terkecuali kepada orang lain yang berniat tulus dan baik, bukannya mengolok-oloknya," tampiknya Bu Siska Namitah.
"Benar sekali apa yang dikatakan Mbak Siska, sebaiknya melupakan masa lalu dan memperbaiki kesalahan-kesalahan yang terjadi, dan jangan biarkan ada kebencian dan dendam yang menyelimuti hati nurani kita bang, aku mendukung niat baiknya Papanya Kabir," imbuhnya Bu Henny adik kembarnya Bu Hanin.
"Sepaham dan setuju pakai banget, apa yang dikatakan Aunty Henny memang seharusnya terjadi, aku dengan istriku Hana Aerin setuju dengan niatnya Om Septa, dan saya secara pribadi meminta kepada aunty Hanin untuk menerima lamarannya Om Septa,secara kan kekasih lama," tuturnya Gilang sambil mengecup punggung tangannya Hana.
Leo Carlando, Aliah Aziza, Senja Starla dan Jingga Aurora hanya menyimak dari perbincangan mereka, apalagi mereka hanya orang luar yang tidak ingin mencampuri urusan rumah tangga mereka.
Memang mereka sudah menikah tetapi, tidak memiliki wewenang untuk berbicara, takutnya mereka salah berbicara dan akan menyinggung perasaan mereka.
Kecuali mereka meminta pendapat, barulah dia akan berkomentar jika itu diminta, mereka akan berbicara seperlunya saja.
"Hanin, putriku tidak perlu repot-repot berbicara untuk menjawab pertanyaan dari papanya Kabir, saya yang akan mewakilinya untuk menjawab segalanya." Tutur Bu Clara.
"Iya Oma, semuanya keputusan ada di tangannya Oma karena aku yakin Aunty sekarang hati, perasaan dan jiwanya masih terguncang hebat dengan mendengar semua fakta baru, tapi aku ingin meminta dan memohon kepada Pak Septa untuk tidak memperpanjang masalah ini dan tidak membawanya ke jalur hukum, takutnya kelurga kita akan menjadi sorotan publik dan pastinya akan berpengaruh kepada stabilitas perusahaan," terangnya Guntur Aswin.
Semua orang mengarahkan pandangannya ke arah pria berusia lima puluh tahun lebih itu, terdiam sejenak dan nampak tenang sehingga semua orang was-was dan berfikir yang tidak-tidak.
Pak Septa tersenyum simpul sebelum menjawab pertanyaan dari Guntur," seandainya saya ingin melaporkan semua tindakan dari Tuan Besar Aldin Nasution mungkin sedari dulu aku sudah melapor ke polisi,tapi niatku hanya satu untuk bersatu dengan putra dan wanita yang sangat aku cintai di dunia ini," jelasnya Pak Septa.
Semua bernafas lega ketika Pak Septa menjawab perkataan dari Guntur, semua orang tersenyum bahagia karena tidak akan ada masalah dengan pihak berwajib.
Bu Clara membuang nafasnya dengan cukup keras dan mengelus dadanya saking leganya mendengar perkataan dari calon menantunya itu.
"Alhamdulillah kalau seperti itu Nak, saya malah berterima kasih kepadamu dan kita semua saling memaafkan karena tidak ada satupun manusia di dunia yang tidak pernah melakukan kesalahan dan khilaf dalam hidupnya, saya akan menjawab permintaanmu yaitu yang ingin menikahi putriku, silahkan saja Nak restuku untukmu," ungkapnya Bu Clara.
"Alhamdulillah makasih banyak Nyonya Besar, saya sungguh bahagia mendengar, saya akan segera menyiapkan segala sesuatunya untuk mempersiapkan pernikahan kami," sahutnya pak Septa yang senyuman selalu terukir di sudut bibirnya itu.
Pak Abbas Khaer nampak kecewa karena masih berharap untuk rujuk dengan mantan istrinya itu. Apalagi mengingat dia baru menyadari jika dirinya jatuh cinta pada Hanin Mazaya, setelah mereka bercerai.
__ADS_1
Cinta yang aku rasakan untuknya sudah terlambat, aku sudah tidak punya harapan untuk bersama dengan bundanya Kabir. Sedangkan Kabir putra kebanggaanku hari ini akan menjadi putranya seutuhnya.
Kabir memperhatikan lekat perubahan wajah dari papa sambungnya itu. Ada rasa sedih melihat wajah pria yang sudah membesarkannya, mendidik, menjaga dan merawatnya hingga detik ini menjadikan dia seorang pengusaha muda dan sukses tanpa pamrih. Bahkan dia sudah mengetahui jika,dia hanya anak sambung tapi kasih sayang dan ketulusannya dalam mendidiknya tidak pernah berkurang sedikitpun.
Ya Allah jika bisa aku meminta padamu, aku ingin Hanin menolak mentah-mentah lamarannya Septa, aku tidak bisa melihat wanita yang aku sayangi hidup bersanding dengan laki-laki lain.
"Mama, kenapa malah Mama yang menjawab dan memutuskan untuk menerima lamarannya pria ini!? Seharusnya Mama meminta jawaban dari adikku Hanin dan juga meminta kepada kami semua sebagai anak-anakmu sebelum memutuskan untuk menerimanya, bukan kah kalau seperti ini Mama bertindak sewenang-wenang," ketusnya Pak Raka.
Bu Clara tidak tinggal diam dan menjawab segala pertanyaan dan keraguan yang dirasakan oleh putranya mewakili seluruh anggota keluarganya itu yang turut hadir.
"Putraku, Mama tidak mungkin menerima lamarannya tanpa pertimbangan sedikitpun, Mama sangat paham dan mengerti apa yang keduanya inginkan dan butuhkan, apalagi Mama tidak ingin mengulangi kesalahan yang seperti dimasa lalu yang dulu Mama perbuat, cukup sudah rasa sesal yang menggerogoti tubuh dan hatiku ini, Mama tidak ingin mengulang kesalahan itu lagi," cercanya Bu Clara yang menjelaskan kepada anak pertamanya itu.
Pak Raka ngotot dan tidak ingin menyerah dan menerima lamarannya pak Septa begitu saja dengan mudahnya.
"Tapi,Ma ini hidupnya Hanin, tolong jangan buat Hanin menderita lagi. Apa Mama lupa dengan perjodohannya dulu Hanin dengan Abbas? Mereka itu dulu juga menikah tanpa cinta lihatlah berakhir bagaimana pernikahan mereka? Harus kandas di tengah jalan dan Abbas malah menduakan Hanin dengan perempuan lucknut itu!" Beramnya Pak Raka yang tidak ingin melihat adik kesayangannya jatuh dalam duka nestapa dan penyesalan karena telah mengorbankan masa mudanya seperti dulu.
Semua orang nampak tegang dan takut jika masalah ini akan berbuntut panjang kali lebar hingga merembes ke mana-mana. Pak Ramdan Alamsyah memegangi tangan istrinya Bu Henny Marsha yang ingin menimpali perdebatan keduanya.
Pak Ramdan menggelengkan kepalanya itu dan meminta kepada istrinya untuk tidak ikut campur, sementara waktu. Bu Henny terpaksa duduk kembali dengan sedikit kesal.
"Sudah cukup, hentikan ocehan kamu Raka, hormati keputusannya Mama karena mama masih hidup dan yang paling tua diantara kalian, jadi Mama yang putuskan, kalau Hanin putriku akan menikah dengan pria yang bernama Septa Danu Triadji minggu depan, perlu kalian ketahui untuk semua orang yang hadir disini, coba kalian pikir jika Hanin tidak mencintai Septa tidak mungkin dia hamil di luar nikah dan mengandung serta membesarkan anak dan buah cinta mereka hingga detik ini? Apa itu tidak cukup untuk membuktikan jika mereka saling mencintai?" Jelasnya Bu Clara yang tidak ingin dibantah.
"Aku mohon Mama dan Abang jangan lagi berdebat,apa kalian tidak malu dengan keluarga besan kita, lihatlah mereka menyaksikan apa perselisihan kita ini, Bu Sri Indarwati maafkan kami yang sudah membuat kalian merasa tidak nyaman, saya mewakili keluargaku seharusnya kami datang untuk memberikan kebahagiaan untuk Kabir dan menantuku Senja, karena masa lalu kami yang akhirnya terbongkar juga hari ini, tapi malah membuat kalian merasa tengganggu," ujarnya Bu Hanin yang mulai angkat bicara yang sangat menyesal.
"Tidak apa-apa kok Bu Hanin, masalah seperti ini sudah biasa terjadi dalam suatu hubungan, di dalam rumah tangga pasti ada saatnya terjadi perdebatan kecil itu lumrah kok dan kami sedikitpun tidak terganggu, iya kan Ma," ucap Leo yang menatap ke arah ibunya.
"Benar sekali Bu Hanin, kami tidak mempermasalahkan apa yang terjadi, karena semua orang itu memiliki masa lalu dan masalah dalam hidupnya, jadi santai saja," timpalnya Bu Sri neneknya Senja.
Mohon Maaf give away ditunda sampai akhir bulan...
__ADS_1
Musibah datang lagi di keluarga kami jadi mungkin updatenya di sempatkan saja. Satu bulan kepergian Tante adiknya mama, kemarin nenek lagi yang meninggal dunia.