
Ya Allah kenapa Mas Danu kembali muncul, aku kira pesawat terbang yang ditumpanginya jatuh.
Mas Danu salah satu korban dalam kecelakaan itu. Tapi, kenapa dia selamat dan ternyata masih hidup.
Sedangkan berita yang aku dapatkan, jika mas Danu dalam kecelakaan itu dinyatakan meninggal dunia dan termasuk salah satu korban kecelakaan.
Ini tidak mungkin, andaikan aku tahu jika mas Danu masih hidup pasti aku tidak akan menyetujui permintaan Papa untuk menikah dengan Mas Abbas.
Air matanya sudah menggenang bak telaga warna di danau. Air matanya terus menetes membasahi pipinya itu.
Suara Isak tangisannya memenuhi segala sisi ruangan kamarnya. Ia tidak menduga jika papa kandung dari putra tunggalnya itu masih hidup.
Satu bulan kemudian, sejak acara pesta pernikahan yang begitu megah, mewahnya diselenggarakan khusus untuk Senja Starla Airen dan juga Kabir Kasyafani Sanders. Semua kembali ke aktifitasnya masing-masing.
Senja sudah tinggal bersama dengan keluarga besar Sanders. Kabir memboyong istrinya itu seperti perjanjian kesepakatan awal setelah menikah, Senja akan menetap di kediaman keluarga Sanders.
Jingga dan Guntur tidak pernah bertemu kembali, bahkan komunikasi pun sama sekali terputus. Kabir keliling dunia menjalankan bisnisnya.
Seperti hari ini dari Dubai,ia kembali terbang ke Paris Perancis. Ia fokus dengan pekerjaannya sebelum berniat untuk melamar gadis penolongnya dan juga jodoh yang diamanahkan kepadanya oleh almarhum Abdil Pramudya.
"Sen, hari ini kamu mau ke kampus?" Tanyanya pak Abbas papa mertuanya Senja.
Senja yang sedang mengisi beberapa makanan ke atas piring makannya Kabir, segera menghentikan sesaat aktivitasnya itu sambil menolehkan kepalanya ke arah mertuanya itu.
"Hem, iya Pa, rencananya seperti itu, banyak tugas yang mau aku setor soalnya, kenapa pa?" Tanyanya balik Senja.
"Papa hanya ingin mengetahui apa kamu belum dapat surat tentang magang di perusahaan mana? Kalau belum Papa bisa bantuin kamu untuk magang di perusahaan Kabir saja, suamimu kalau di perusahaan papa sudah banyak anak magang soalnya nak," tuturnya pak Abbas.
__ADS_1
Senja tersenyum simpul menanggapi perkataannya dari Pak Abbas," tidak perlu seperti itu Pak, insya Allah hari ini sudah ada surat penugasannya, saya tidak ingin merepotkan Papa takutnya kedepannya dikira magang di sana bukan karena kemampuan saya, tapi karena koneksi dan ada permainan di belakang lagi," tukasnya Senja.
Kabir hanya mendengarkan perbincangan kedua orang beda generasi itu.
"Saya sepaham dengan apa yang dikatakan oleh Senja, biarkan dia sendiri yang berusaha dengan kemampuannya karena nenek yakin istri dari cucuku ini memiliki kemampuan yang tidak diragukan lagi, jadi kamu tidak perlu repot-repot membantunya dalam hal semacam ini cukup dukung dan percaya kepadanya saja itu sudah cukup, iya kan cucu mantu?" Bu Claudia menatap ke arah Senja.
Senja tersenyum tipis menanggapi perkataannya dari Bu Claudia sang nyonya besar di dalam rumah itu.
"Narnia kamu juga mau magang kan?" Tanyanya Bu Claudia.
"Insha Allah minggu depan sudah mulai magang Nek, kebetulan perusahaan Abang Guntur tempat aku magang, hanya saja Abang Guntur ngomong kalau dia tidak akan membantuku katanya harus berjuang sendiri Nek, padahal ini kan pertama kalinya mulai magang takutnya dipersulit oleh karyawan tetap di perusahaan itu," keluhnya Narnia adik sepupunya Kabir.
Papanya Narnia adalah sepupunya Pak Abbas Khairil. Gadis yang memilih tinggal bersama Kabir dan anggota keluarganya yang lain daripada harus menetap bersama dengan papa dan mamanya di Singapura.
"Ini kesempatan bagus sih untuk lebih dekat dengan Abang Guntur, aku akan buktikan padanya jika aku sanggup bersinar tanpa embel-embel nama paman Abbas."
"Semoga kalian berhasil dan buktikan kepada dunia jika perempuan juga sanggup bersaing dengan para pria," tuturnya Nyonya Claudia.
"Sudah kamu duduklah, jika kau yang mengurusi segala sesuatu saat saya makan kapan giliran kamu untuk makan! Apa kamu lupa kalau ada jadwal kuliah kamu pagi ini," cegahnya Kabir yang kasihan melihat istrinya yang belum makan.
Senja segera menuruti perintah dari suaminya itu tanpa ragu dan protes sedikitpun.
"Kamu tidak perlu terus menerus membantu suamimu untuk makan,ingat kamu juga butuh makan dan akan ke kampus kecuali hanya tinggal di rumah berdiam diri silakan kamu lakukan seperti itu Nak," imbuhnya Bu Claudia.
Senja dan Kabir berjalan beriringan ke arah mobil di dalam carport mobilnya.
"Kamu barengan saya atau mau naik mobil sendiri?" Tanyanya Kabir sebelum membuka pintu mobilnya.
__ADS_1
"Saya naik mobil sendiri pak Kabir, takutnya ada anak-anak yang lihat pasti akan muncul banyak, gosip dan rumors,kan kita sudah sepakat sejak awal untuk tidak mengekspos dan mempublikasikan hubungan pernikahan kita sebelum saya lulus dan wisuda," tampiknya Senja.
Kabir tanpa sepatah katapun langsung masuk ke dalam mobilnya dengan raut wajahnya yang sangat jelas jika dia kecewa.
Senja tidak mengerti dengan sikapnya Kabir, padahal dia sendiri yang sudah sepakat dan setuju dengan persyaratan tersebut sejak awal mereka menikah.
Kabir memberikan kunci mobil kepada Senja tanpa niatan melihat wajah istrinya itu. Ia kemudian mengemudikan mobilnya tanpa berbicara sepatah katapun lagi dan meninggalkan Senja yang terdiam terpaku melihat kepergian suaminya.
"Lagi pms kali yah! Hemm pantesan cukup sensitif hari ini,"
Berselang beberapa menit kemudian, Senja sudah berada di dalam mobilnya. Mobil berwarna merah pemberian dari bundanya Bu Hanin Mazaya sebagai kado pernikahannya khusus untuk Senja.
Semoga saja pak Kabir tidak mengetahui dengan apa yang setiap malam aku minum. Maaf saya belum siap sebelum aku benar-benar yakin jika pak Kabir mencintaiku dengan tulus, aku juga masih ragu dengan perasan aku sendiri dan entah ketakutan akan pernikahan yang aku jalani akan gagal seperti papa Leo dan mama Alia,"
Berselang beberapa menit kemudian, Senja sudah sampai di kampus paling terkenal di Jakarta. Penampilan Senja cukup berbeda dengan hari-hari sebelum menikah. Aura cantiknya semakin menonjol. Terutama di bagian depannya yang cukup ukurannya bertambah besar gara-gara ulahnya Kabir setiap malam.
Senja menghempaskan tubuhnya ke atas kursi yang berada di barisan kedua. Baru saja duduk ketiga temannya sudah muncul untuk mengusik ketenangannya.
"Hemp! Akhirnya sebulan llibur kamu balik ngampus lagi," ucapnya Naysila.
"Kami kangen banget loh, padahal baru seminggu, gimana dengan pernikahan kakak kamu apa lancar saja?" Tanyanya Icha yang ikut duduk di samping kirinya Senja.
"Aku perhatikan dari depan, samping dan belakang hingga dari atas ujung hijab kamu semakin cantik dan sangat jauh berbeda, ini pasti suasana Korea Selatan yang membuat gaya berpakaian kamu seperti ala-ala Korea Selatan gitu," pujinya Zania.
Hehe, Senja terkekeh mendengar perkataan dari teman-temannya," kamu bisa saja penampilan aku masih seperti dulu kok, mungkin pengaruh cuaca di Korsel yang membuat aku agak putih saja dari pada sebelumnya," sanggah Senja.
"Tapi ngomong-ngomong nih aku perhatikan, Zania kembali berpusing-pusing mengitari tubuhnya Senja. " Sepertinya ada yang bertambah gede deh dari sebelumnya yang sangat rata seperti tidak punya ini hari ini lebih berisi dan menarik," jelasnya Zania sambil memegangi bagian dadanya sendiri.
__ADS_1
Senja spontan menutupi seluruh bagian dadanya dengan memperbaiki letak hijabnya. Hingga suara deheman seseorang mampu mengalihkan perhatian keempat perempuan cantik itu.
"Apa cukup kentara yah! Ini semua gara-gara Pak Kabir sih yang selalu bermain di area ini, gini kan jadinya," umpatnya Senja yang menatap tajam ke arah dosennya yang baru saja masuk ke dalam kelasnya.