
"Tidak apa-apa kok Bu Hanin, masalah seperti ini sudah biasa terjadi dalam suatu hubungan, di dalam rumah tangga pasti ada saatnya terjadi perdebatan kecil itu lumrah kok dan kami sedikitpun tidak terganggu, iya kan Ma," ucap Leo yang menatap ke arah ibunya.
"Benar sekali Bu Hanin, kami tidak mempermasalahkan apa yang terjadi, karena semua orang itu memiliki masa lalu dan masalah dalam hidupnya, jadi santai saja," timpalnya Bu Sri neneknya Senja.
Pak Septa Danu Triadji bangkit dari posisi berlututnya dan berjalan menuju perempuan yang sangat dicintainya itu.
Pak Septa memegangi tangannya Hanin di hadapan sanak saudaranya, "Hanin, mungkin kedatangan Abang sangat terlambat, tapi aku tidak ingin kehilangan dirimu untuk kedua kalinya, aku sangat bahagia setelah mendengar kamu setuju menerima lamaranku ini," ucap Pak Septa.
Mimik wajahnya Pak Septa yang tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya yang membuncah di dalam dadanya itu.
Hanin Mazaya hendak mengusap wajahnya jari jemarinya,tapi segera dicegah oleh Pak Septa.
"Mulai detik ini air mata ini tidak akan lagi menetes, Abang berjanji akan mengisi hari-harimu dengan kebahagiaan, Abang tidak akan pernah membuat kamu bersedih," ucapnya pak Septa.
Hanin Mazaya yang diperlakukan seperti itu ada gelenyar aneh yang muncul dari dalam hatinya Bu Hanin, setelah beberapa lamanya sekitar tiga puluh tahun lamanya, dia tidak merasakan sentuhan dari pria manapun maupun laki-laki yang disukainya setulus hatinya.
"Abang tidak perlu seperti ini, aku masih bisa dan sanggup untuk menyeka air mataku ini," cegahnya Bu Hanin.
"Hanin, tolong jangan hentikan apa yang akan aku perbuat, karena aku ingin mengganti waktu yang telah terbuang sia-sia berapa tahun lamanya, aku tidak ingin membuang waktu lagi, jadi please aku mohon berhentilah untuk mencegah apa yang akan aku lakukan untuk kamu wanitaku pujaan hatiku duniaku," tuturnya Pak Septa.
Sedangkan Pak Raka memaksa istrinya untuk pulang bersamanya, padahal belum berkeinginan untuk pulang.
"Ingat hari minggu pagi kita akan kembali berkumpul di rumahnya cucuku ini Kabir dengan Senja, aku sendiri yang akan mengurus segala sesuatunya disini," ucap Bu Clara Diana yang segera menutup pembicaraan malam itu dengan senyuman.
Kabir memeluk tubuh tegap papanya yang tinggi tubuh mereka hampir sama. Walau Kabir lebih tinggi sedikit dari pada papanya. Jika dilihat dari wajah keduanya seperti kakak beradik saja.
Senja memperhatikan wajah suaminya dan papa mertuanya secara bergantian, pantesan suamiku ganteng, anakku Gibran tampan karena turunan dari kakeknya dan neneknya bunda Hanin juga cantik, hemm… bibit unggul.
__ADS_1
"Selamat Pa, papa akan resmi menjadi papaku atau aku panggil daddy saja, karena aku sudah memiliki papa Abbas," ujarnya Kabir yang segera melerai pelukannya dari papa kandungnya.
Kabir segera berjalan ke arah papanya, yaitu Pak Abbas Khaer yang berencana akan pulang ke rumahnya dalam keadaan berjalan lunglai.
"Aku sudah memiliki Papa Abbas, jadi aku panggil papa dengan sebutan Daddy dan aku bangga padanya dan bersyukur banget ada Papa Abbas yang selama ini sudah menjadi panutan aku dan yang paling penting tanpa Papa Abbas mungkin aku tidak bisa berdiri di depan kalian semua," ujar Kabir yang seolah mengerti dengan kegundahan hatinya Pak Abbas.
Pak Abbas yang mendengar perkataan dari putra sambungnya yang sudah dianggap anaknya sendiri itu, membuatnya tersenyum lega. Beliau langsung menghentikan langkahnya ketika mendengar perkataan dari putranya.
"Papa Abbas sampai kapan pun kamu tetap papaku, tidak akan pernah tergantikan dan tetap selamanya akan seperti itu," tuturnya Kabir.
Pak Abbas menolehkan kepalanya ke arah Kabir sembari menyeka air matanya yang terus menerus menetes membasahi pipinya itu. Pak Abbas kembali menarik tubuhnya Kabir ke dalam dekapan hangat pelukannya.
"Makasih banyak nak, Papa sungguh sangat bahagia mendengarnya, aku tidak menduga jika kamu akan berkata seperti ini," ucap pak Abbas.
Kabir mengelus punggung lebar papa sambungnya itu dengan senyuman yang selalu terukir di sudut bibirnya itu.
Senja dan yang lainnya meneteskan air mata saking terharunya melihat apa yang kedua anak ayah itu lakukan.
Kalian memang pantas bahagia, tapi maafkan saya harus menerima lamarannya daddynya Kabir untuk putriku, karena kamu dulu sudah mengecewakanku dengan menikahi perempuan ular dan ****** itu.
Aliyah, Leo Carlando dan anak menantunya Guntur Aswin dan Jingga segera berpamitan untuk segera pulang ke rumahnya. Karena jarak yang cukup dekat sehingga mereka hanya berjalan kaki untuk pulang.
Aliyah dan Leo berjalan terlebih dahulu, sedangkan Jingga dan Guntur berjalan belakangan.
Jingga kebanyakan diam dalam perjalanan sambil sesekali menatap ke arah langit, dimana terdapat bulan purnama malam ini.
"Apa bulan sudah mengalahkan ketampanannya Guntur Aswin Nasution? Sehingga menatap ke arahku kamu enggan banget," candanya Guntur yang juga mengarahkan pandangannya ke arah bulan purnama.
__ADS_1
Jingga segera mengarahkan tatapannya ke arah suaminya itu," suamiku dengan bulan sangat berbeda, karena bulan itu sangat cantik dan indah bukannya ganteng," balasnya canda pula.
Guntur menatap intens ke arah Jingga seolah ingin berharap agar Jingga berharap lain.
Jingga seperti seakan-akan ingin meraih bulan malam itu, "Bulan purnama malam ini memang sangat indah, tapi suamiku lebih tampan melebihi dari indahnya bulan purnama," cicitnya Jingga yang tidak berani berbicara dengan suara yang besar karena untuk memuji ketampanan pria ini untuk pertama kalinya, kalau memuji kebaikan pria itu biasa.
Guntur yang mendengar perkataan dari Jingga, seperti tidak percaya dengan apa yang didengarnya langsung. Wajahnya bersemu merah ketika Jingga memuji kegantengannya.
"Hemp, maaf kamu barusan ngomong apa sepertinya aku kurang jelas, apa boleh kamu mengulanginya lagi," pintanya Guntur yang berpura-pura tidak mengetahui apa yang dikatakan oleh Jingga istrinya.
Pasangan suami istri itu saling berjalan beriringan dengan santai sambil menikmati pemandangan di sekitar kompleks perumahan elit dimana Senja, Kabir Kasyafani tinggal.
Jingga reflek menghentikan langkah kakinya itu," aku tidak ngomong apa-apa kok, mungkin mas hanya salah dengar saja, kemungkinan besarnya adalah hanya suara angin semata saja," elaknya Jingga yang segera cabut dari hadapannya Guntur karena dia cukup malu telah memuji suaminya.
Tapi, Guntur secepatnya menarik tangannya Jingga sehingga dia tidak jadi meninggalkan tempat tersebut. Tubuhnya Jingga tertarik hingga jatuh kedalam pelukannya Guntur.
"Aahh!" Teriaknya Jingga yang tubuhnya tertarik hingga terjatuh ke dalam pelukannya Guntur.
Ujung hijabnya Jingga terbang terkena angin malam yang bertiup cukup kencang malam itu.
Keduanya saling bertatapan satu sama lainnya, hingga kedua pasang mata mereka saling bertatapan satu sama lainnya. Guntur menghalau kain hijabnya Jingga yang kebetulan menghalangi wajahnya Jingga.
"Kamu sangat cantik, entah kenapa dalam sekejap saja aku langsung jatuh cinta padamu dan aku sudah bertekad jika aku harus segera mendapatkan kamu dan menjadikan kamu bidadari surgaku," terangnya Guntur.
Jingga tak berkedip saking tidak percayanya mendengar perkataan dari suaminya itu.
Ya Allah aku sangat bahagia mendengarnya tapi, kenapa aku tiba-tiba merasakan kebahagiaan yang sangat stelah mendengar perkataan dari suamiku Pria yang sama sekali belum aku cintai dan sayangi.
__ADS_1