
"Rencananya aku akan menemui perempuan itu tapi entah kapan, akupun bingung jadinya, tapi hari minggu ini jenazah pria itu akan dikebumikan kembali di tanah kelahirannya di Bandung jadi mungkin aku bisa bertemu dengan perempuan itu," jelasnya Guntur yang sesekali menghela nafasnya dengan cukup keras.
"Tapi Abang datang kan diacara resepsi kami berdua?" Tanyanya Kabir karena bersamaan dengan hari resepsi pernikahannya yang hari minggu baru berlangsung acaranya.
Guntur menatap ke arah Kabir," insya Allah aku pasti datanglah,kan aku berangkatnya subuh jadi insha Allah siang balik sore sampai di Jakarta,"
"Syukur alhamdulilah kalau seperti itu, tapi ngomong-ngomong apa masalah ini diketahui oleh Aunty Laura dan Uncle Benjamin Amar?" Tanyanya Kabir yang mulai kepo dengan kehidupan pribadi kakak sepupunya itu.
"Alhamdulillah mereka sudah mengetahui segalanya, mereka sangat berterima kasih kepada pria yang bernama Abdil Pramudya itu, syukurnya lagi kami sudah memberikan sejumlah uang serta sebuah rumah untuk mereka huni di daerah Jakarta, mereka awalnya sih nolak, tapi karena mami membujuk dengan berbagai alasan dan perkataan akhirnya pihak kedua orang tuanya setuju menerimanya, info terakhir aku dapatkan adalah katanya si pendonor mata ini sebelum kecelakaan terjadi memang ada penyakit jantung bawaan sehingga memang sulit untuk hidup lebih lama kedepannya," ungkapnya Guntur.
"Jadi gimana dengan hubungan kau dengan perempuan yang ambisius itu? Dan juga janji kamu terhadap orang baik itu, manakah diantara mereka yang akan kamu pilih antara cinta dan amanah?" Kabir memperhatikan raut wajahnya Guntur Aswin kakak sepupunya yang hanya terpaut usia beberapa bulan saja dengannya.
Guntur sesekali menghela nafasnya dengan cukup keras, "Itulah yang sulit aku pilih dimana janjiku pada Tania dan juga janjiku kepada sang penolongku, aku sungguh dilema dan kesulitan untuk memilih mana yang akan aku jalani di kehidupan ini,"
"Apa Abang sudah shalat istikharah meminta petunjuk kepada Allah SWT atau belum? Lakukan itu berulang kali agar hatimu benar-benar mantap tanpa ada keraguan terbesit sedikitpun keresahan dan kebimbangan di dalam pilihannya Abang nantinya,"
Guntur terdiam sesaat tapi arah pandang sudut netra hitamnya melihat sosok perempuan yang cantik, tapi sedikit tomboi sedang berjalan di atas lantai dua memakai mukenah putih bermotif bunga matahari. Ternyata perempuan yang dilihatnya adalah Jingga Aurora Ainah Zain.
Jingga baru saja selesai melaksanakan shalat isya dan membaca surah Yasin sebagai doa yang dikirim dan dipanjatkan khusus untuk kekasihnya Abdil Pramudya.
"Cantik, hatiku teduh dan tentram banget melihat perempuan itu memakai mukenah, dibandingkan dengan tadi berpakaian tomboi dan sedikit jutek, dalam busana tertutup seperti itu sungguh cantik," pujinya Guntur yang entah kenapa melihat Jingga dalam balutan mukenah tersebut sangat membuatnya bahagia.
Kabir memperhatikan dan mengikuti arah pandang Guntur. Kabir tersenyum simpul melihat Guntur memperhatikan kakak iparnya Senja.
"Hem! Dia itu adalah kakak kembarnya Istriku, namanya…" ucapannya terpotong karena segera dipotong oleh kedatangan Bu Diah dengan membawa sebuah nampan berisi minuman dua cangkir dan masing-masing sepiring puding buah.
__ADS_1
"Silahkan diminum Pak, Tuan Muda," ujarnya Bu Diah Sartika asisten rumah tangganya Aliya atas rekomendasi Senja.
"Makasih banyak Bi Diah atas minuman dan kuenya," tuturnya Kabir.
"Jadi istrimu kembar, tapi kenapa kamu yakin banget jika dia adalah kakak iparmu? Apalagi mereka aku yakin kembar identik sama persis kan?" Tanyanya Guntur yang menerka wajahnya Senja dan Jingga.
"Alhamdulillah saya sanggup membedakan mereka dalam kondisi apapun bukan karena banyak tanda-tanda yang sangat jelas membedakan mereka berdua tapi, hatiku selalu bisa membedakan mereka. Aku pernah sempat dijebak keduanya memakai hijab dengan model dan pakaian yang sama tapi apa yang aku dapatkan adalah aku tidak salah memilih istriku sendiri, apalagi orng awam di luar sana saya enggak yakin jika mereka bisa dan sanggup membeda-bedakan antara Senja dan kakaknya," pungkas Kabir.
"Gimana caranya kamu membedakan mereka yang kembar identik?"tanyanya Guntur yang mulai gregetan dan kepo dengan kehidupannya Kabir malah sudah melupakan permasalahan dalam kehidupannya Guntur.
"Pakai hati Bang, insya Allah apapun yang kita lakukan jika selama memakai hati insya Allah semuanya akan berjalan lancar dan berakhir bahagia,"
"Tapi apa Abang mengetahui siapa nama wanita yang harus kakak nikahin sebagai tanda ucapan terima kasih sekaligus tunangannya untuk kakak nikahi?" Tanyanya Kabir.
Guntur bukannya menjawab pertanyaan dari Kabir malahan berdiri ke arah tangga. Ia ingin mengikuti kemana perginya Jingga yang memakai mukenah itu.
Kabir bukannya mencegah kepergian Guntur, tapi ia ingin melihat apa yang hendak ingin diperbuat oleh Guntur di dalam rumahnya. Ia segera mengikuti kemanapun langkah kakinya Guntur melangkah.
Guntur semakin mempercepat langkah kakinya menuju ke sebuah ruangan yang di dalamnya adalah tempat shalat berjamaah atau mushollah mini yang sengaja dibuat oleh Aliya ketika beri baru pertama kali membeli rumah itu.
Guntur semakin mempercepat langkahnya tapi, tiba-tiba terhenti ketika kekasihnya yang ada di luar negeri menelponnya barulah ia tersadar dengan apa yang barusan sedang dilakukannya.
"Kabir sepertinya aku harus segera balik, karena Tania meneleponku katanya sudah ada di bandara, aku segera menjemputnya," imbuhnya Guntur sambil menepuk pundak adik sepupunya itu.
"Ist okey… hati-hati kalau gitu Bang, kita bertemu malam Senin nanti,"
__ADS_1
"Iya, assalamualaikum," ucapnya Guntur yang mempercepat langkahnya menuju ke arah pintu.
Karena ia tidak ingin sampai terlambat menjemput kekasihnya yang bekerja sebagai model majalah dewasa itu tanpa sepengetahuan dari Guntur tentang profesi sesungguhnya itu.
"Kenapa aku perhatikan Bang Guntur ada kaitannya dengan Jingga, karena aku perhatikan ada yang aneh dengan keduanya baru pertama berjumpa tapi didepan mataku seperti orang yang sudah lama akrabnya gitu, aah sudah lah aku mau tengok istriku dulu minta jatah malam Sabtu hahah," Kabir terkekek dengan pemikirannya sendiri.
Kabir segera berjalan cepat ke arah kamarnya,ia tidak ingin terlambat sampai di kamarnya. Takutnya Senja sudah terlelap dalam tidurnya.
"Semoga saja apa yang tadi aku perbuat dan katakan bisa membuat Senja percaya dan yakin padaku jika aku sungguh-sungguh serius mencintainya segenap jiwa dan ragaku,"
Kabir membuka pintu kamar istrinya dan betapa terkejutnya jika suasana kamarnya langsung berubah drastis. Yaitu kamar itu dipenuhi oleh bunga-bunga yang bertebaran sungguh cantik memenuhi lantai dengan pola bunga yang berbeda-beda.
Sedangkan di tengah ranjangnya terdapat bunga yang berbentuk love. Kabir tidak menduga jika istrinya mempersiapkan malam pertamanya untuk unboxing itu sungguh sangat istimewa dan sempurna.
Kabir segera mengunci rapat pintu kamarnya. Ia tidak ingin ada gangguan lagi seperti yang dialaminya sebelumnya.
Kabir berjalan ke arah Senja yang sedang merias dirinya dengan riasan wajah yang cukup membuatnya semakin cantik saja. Bahkan terkesan cukup dewasa malam itu.
Kabir langsung mengecup puncak rambutnya Senja dan tidak lupa membaca doa sebelum meminta dan melaksanakan kewajibannya sebagai seorang suami.
"Ya Allah semoga pernikahanku selalu mendapatkan keberkahan, kebahagiaan dan kelancaran dalam segala hal hingga maut memisahkan kami berdua,"
Senja awalnya tersentak karena tanpa berbicara sepatah katapun, Kabir langsung memeluknya dari belakang. Kabir juga menyandarkan dagunya ke atas bahunya Senja yang tak tertutupi sehelai benangpun itu. ia menghirup aroma wangi dari tubuhnya Senja dengan penuh kelembutan.
Kabir segera merogoh saku celananya dan membuka sebuah kotak buludru berwarna merah. Ia memindahkan rambutnya Senja ke kiri sehingga seluruh leher jenjangnya terekspos dengan jelas.
__ADS_1
Kabir segera memasangkan sebuah kalung yang sangat cantik dengan liontin yang bertuliskan huruf inisial namanya dengan Senja. Yaitu SK dengan dikelilingi butiran berlian kecil di setiap sudut huruf itu. Senja terperangah melihat kalung yang begitu indah dan cantik telah melingkar di lehernya yang putih itu.