
Senja terduduk di tepi ranjangnya. Dia memikirkan keberangkatannya ke Inggris London.
Ya Allah semoga aku bisa menghilangkan rasa traumaku ketika esok hari aku berangkat ke UK.
Senja segera mengemasi beberapa pakaiannya itu ke dalam koper kecil yang rencananya akan dibawahnya ke luar negeri bersamanya.
Senja dan Kabir berencana untuk memberikan kejutan ulang tahun yang kedua puluh tahun untuk ketiga anak kembarnya terutama untuk Gibran yang lebih sensitif mengenai ulang tahunnya itu.
"Nyonya Besar Senja harus bisa,bibi yakin Nyonya Muda bisa melewati perjalanan ini dengan lancar dan baik," ucapnya bi Minah.
Senja mengalihkan perhatiannya ke arah kedatangan asisten pembantu rumah tangganya itu. Senja tersenyum sebelum menjawab perkataan dari artnya itu yang sudah seperti saudaranya sendiri.
"Amin ya Allah… amin ya rabbal alamin, aku berharap begitu juga bi Mina. Aku sudah lima tahun lebih tidak bersama ketiga anakku ketika mereka berulang tahun,tapi kali ini aku akan berjuang dan berusaha untuk melawan rasa takut itu,' imbuhnya Senja.
__ADS_1
"Apa ada yang perlu saya bantu Nyonya?" Tanyanya bi Minah sambil mengarahkan pandangannya ke sekeliling tempat tersebut.
"Tidak, makasih banyak bibi tapi aku masih sanggup mengerjakannya sendiri saja," tolaknya Senja secara halus.
"Kalau gitu aku pamit yah Nyonya, masih banyak pekerjaan yang akan aku kerjakan terutama buat kerupuk pesanan Non Jinan dan Jihan pasti mereka tidak sabar menunggunya," ucapnya bi Minah.
"Alhamdulillah, makasih banyak ya bi, tanpa bantuan bibi aku pasti tidak akan bisa mengiyakan dan memenuhi permintaan anak-anakku," sahutnya Senja.
"Tidak perlu selalu mengucapkan makasih segala nyonya, sedari dulu selalu gini. Padahal semua yang kami lakukan adalah semata-mata karena kewajiban dan juga tanggung jawab kami. Lagian Nyonya Muda dengan keluarga sudah sungguh baik pada kami semua," tukasnya bi Mina.
Keesokan harinya, Kabir dan Senja sudah bersiap berangkat ke bandara. Tapi, kedua pasangan suami istri itu dikejutkan oleh kedatangan rombongan tamu di depan pintunya secara tak terduga.
"Helo… apa kami belum terlambat?" Tanyanya Zania Mirzani.
__ADS_1
"Iya kami boleh gabung gak ikut kalian ke Inggris?" Tanyanya Naysila.
Senja menatap ke arah kakak kembarnya itu seolah meminta jawaban dari Jingga, sedangkan yang ditatap malah hanya mengangkat bahunya seperti orang yang tidak bersalah sedikitpun.
"Ini semua atas desakan mereka yang memaksa mau ikut dengan kalian, padahal aku sudah berusaha untuk rahasiakan," keluhnya Jingga.
"Tidak apa-apa kalian boleh saja ikut kami, asalkan adminitrasi keberangkatan kalian lengkap dan sudah dapat ijin dari suami kalian. Karena aku perhatian sedari tadi, suami-suami takut istri itu tidak kelihatan batang hidungnya," jelasnya Kabir.
Icha ingin berbicara tapi, segera dicegah oleh Vania Larissa dengan melototkan matanya sembari sedikit mencubit lengannya Icha Khaerunisa.
"Kalau masalah perijinan Alhamdulillah kami sudah kantongin, tiket kan bos yang bayarin, paspor visa dan sejenisnya sudah ada," ucapnya Naysila yang mengeratkan giginya itu ketika berbicara agar Icha diam saja.
"Okey, kalau gitu kita segera berangkat mumpung masih pagi dan semoga kedatangan kalian semua bisa membantu mengurangi rasa trauma dan ketakutannya Senja istriku untuk menaiki pesawat," imbuhnya Kabir.
__ADS_1
Vania Larissa maju ke depan untuk menjawab perkataan dari kakak sepupunya itu.
"Sebenarnya itu tujuan kami yang sesungguhnya sehingga kami berempat datang kemari, kasihan Senja pasti kesepian kalau enggak kami temani." Vania tersenyum penuh arti ke arahnya Icha.