Belum Berakhir

Belum Berakhir
Bab. 233


__ADS_3

Jihan akhirnya bisa bernafas lega ketika mendengar keputusan dari calon suaminya itu. Jihan segera berjalan ke arah parkiran dimana mobil merah miliknya terparkir dengan rapi. Setelah berpamitan dengan Kaisan dia tidak ingin menunda lebih lama lagi ia gegas meninggalkan area kafe.


Alhamdulillah, makasih banyak ya Allah hari ini aku berhasil. Pak Kaisan tidak mempermasalahkan apa yang aku rencanakan dan dia sama sekali tidak mempermasalahkan masalah aku membatalkan rencana pernikahan kami.


Jihan segera berjalan terburu-buru hingga tanpa sengaja dia menabrak tubuh seseorang perempuan muda yang cantik.


"Augh,"


"Argh!"


Prang!


Suara benda terjatuh ke atas lantai cukup nyaring.


Teriak keduanya ketika tanpa sengaja saling bersenggolan hingga keduanya berbenturan lengan satu sama lainnya.


"Maafkan saya Mbak, aku tidak sengaja menabrak Anda," sesalnya Jihan yang meminta maaf karena berjalan dengan buru-buru hingga ceroboh menabrak orang lain pengunjung kafe.


Perempuan yang ditabraknya tersenyum simpul menanggapi perkataannya Jihan.


"Tidak apa-apa,kamu tidak perlu meminta maaf karena ini juga kesalahan aku yang berjalan sambil bermain hp," perempuan itu berucap.


Jihan memunguti ponsel perempuan muda tersebut yang berkepang satu itu. Dia membungkuk sedikit untuk mengambil ponsel yang tergeletak ke atas lantai.


"Maafin aku sekali lagi yah, aku berharap semoga hpnya tidak rusak. Tapi kalau rusak aku akan ganti rugi," tuturnya Jihan.


Jihan mengambil hp itu dan cukup tercengang melihat layar ponsel wanita muda itu yang bertuliskan nama Gibran Mahenza.


Kok namanya sama dengan nama kak Gibran?


"Hey, kamu tidak perlu repot-repot meminta maaf mulu. Hal seperti ini biasa terjadi. Jadi stop terus mengulang perkataan yang sama, lagian hpku tidak rusak juga kok," sanggah perempuan itu dengan senyuman ramahnya yang tersampir di wajahnya mempercantik penampilannya.


Jihan hanya terkekeh mendengar perkataan dari perempuan itu," Maaf apa aku boleh mengetahui namanya?" Tanyanya Jihan sambil mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dan berkenalan.


Entah kenapa dan dorongan dari mana yah Allah aku ingin sekali mengetahui perempuan cantik ini. Seolah ada sesuatu yang membuat aku tertarik mengetahui siapa dia.


Apakah karena layar ponselnya yang tersambung dengan telpon seseorang yang bernama Gibran yang mirip dengan kakak ku.


Perempuan itu langsung mengulurkan tangannya ke arah Jihan yang tangannya sudah menggantung di udara sedari tadi dengan pikiran yang cukup penasaran dengan apa yang terjadi padanya secara tiba-tiba.


"Shaista Thania," ucap perempuan itu lagi.


"Nama yang sangat cantik secantik pemilik namanya," pujinya Jihan.


"Hahaha,kamu bisa saja, kalau kamu?" Tanyanya balik Shaista.

__ADS_1


"Jihan Yuanni Ulli," jawabnya Jihan.


"Namamu juga sangat cantik, kalau gitu aku permisi dulu yah mau ketemu dengan kakak dulu di dalam sudah ditungguin soalnya," tuturnya Shaista.


"Okey, senang berkenalan denganmu. Semoga kita masih punya waktu untuk bertemu kembali." Imbuhnya Jihan.


"See you next time yah, bye." Tutur Shaista yang segera berjalan cepat ke arah dalam lokasi area.


"Bye juga," balas Jihan.


Jihan pun berjalan ke arah mobilnya,dia tidak menunda lebih lama lagi karena dia ingin segera pulang ke rumahnya.


Semoga saja pertemuan kak Jinan dengan pak Kaisan berjalan lancar dan besok kak Jinan bisa menggantikan posisiku. Amin ya rabbal alamin.


Laju kendaraannya cukup pelan, Jihan sengaja memelankan laju mobilnya, karena ingin menikmati indahnya jalan yang dilaluinya sore hari itu. Jihan menurunkan jendela mobilnya setelah mematikan ac pendingin mobilnya itu.


"Pemandangan sore ini cukup indah, pengen ke dufan kalau seperti ini, bermain sepuasnya hingga capek," cicitnya Jihan yang segera menghentikan mobilnya ketika lampu merah menyala.


Hingga sudut ekor netra hitamnya melihat seseorang yang duduk di dalam mobilnya dengan perempuan muda pula dengan penuh kemesraan.


Jihan berusaha untuk menajamkan penglihatannya itu dan melihat dengan jelas siapa orang yang telah dilihatnya.


"Bang Gamaliel Audrey," cicit Jihan.


Baru saja ingin membuka pintu mobilnya itu, suara klakson mobil yang saling bersahutan berbunyi nyaring dari arah belakang mobilnya yang membuat Jihan mengurungkan niatnya itu.


Kenapa juga lampu hijau menyala. Aku yakin dia itu Bang Gamal, tapi dengan siapa perempuan itu. Kemarin juga nelpon katanya dia tidak ada perjalanan bisnis dari kantornya. Aku akan mengikuti kemanapun perginya mereka berdua, aku ingin meyakinkan apa yang aku lihat apakah benar adanya atau hanya salah lihat saja." Lirih Jihan.


Jihan segera menyalakan stok kontak kunci mesin mobilnya dan berusaha untuk mengikuti kemanapun perginya mobil yang dikendarai oleh pria yang bernama Gamal Audrey itu kekasihnya sejak tiga tahun lalu.


Beberapa menit kemudian, Jihan menghentikan mobilnya agak berjauhan dari mobilnya Gamal Audrey yang sudah terparkir di salah satu hotel ternama di kota London.


"Ini kan hotel,mau ngapain mereka ke hotel?"


Tubuhnya Jihan menegang, dadanya bergemuruh hebat hingga kemarahannya sudah berada di puncak ubun-ubunnya itu. Tangannya mengepal kuat dan buku urat-urat tangannya kelihatan sangat jelas.


"Apa yang akan mereka lakukan di dalam hotel? Siapa perempuan genit berpakaian seksi itu?"


Berbagai macam pertanyaan muncul didalam benak dan pikirannya itu.


"Aku harus terus memperhatikan apa yang mereka lakukan dan sebenarnya siapa perempuan itu."


Hatinya terbakar api cemburu melihat dua anak manusia turun dari mobil dan berjalan saling berpelukkan dengan canda gelak tawa terdengar dari mereka berdua.


Apalagi ketika melihat Gamal membukakan pintu mobil bagian kanan untuk perempuannya.

__ADS_1


Ya Allah Bang Gamal begitu manisnya dan lembut memperlakukan wanita itu. Dia menyamakan perhatiannya padaku.


Aku akan mengikuti kemanapun perginya Gamal dengan perempuan seksi yang tidak punya uang untuk beli baju yang bahannya lebih banyak.


Jihan memakai masker wajah yang menutupi sebagian wajahnya itu agar tidak ketahuan oleh orang lain terutama Gamal.


"Tapi ini kan hotel salah satu temannya opa Septa Papinya Daddy Kabir, aku juga pernah sekali kesini. Hemp sepertinya aku bisa menggunakan status itu untuk mengorek informasi."


Jihan segera berjalan ke arah dalam hotel untuk menbuntutui kemana mana perginya Gamal dengan selingkuhannya.


Setelah Gamal memasuki lift tersebut, Jihan segera berjalan ke arah resepsionis yang awalnya bersembunyi di salah satu sofa yang tersedia di sudut loby hotel.


Jihan segera membuka maskernya dan tersenyum bahagia karena pegawai hotel tersebut orang yang bekerja ketika dia dan kakeknya ke hotel tersebut.


Aku yakin Mbak resepsionis ini masih mengenaliku. Semoga saja mempermudah penyelidikanku.


Hatiku memang sedih, kecewa, sakit dan sangat hancur setelah melihat Bang Gamal dengan perempuan lain. Tapi aku harus mencari tahu kebenarannya agar aku bisa mengambil keputusan yang tepat dan terbaik untuk hubungan kami.


Jihan menghela nafasnya dengan cukup keras saking menumpuk kemarahan dan kemurkaannya dalam hatinya itu, tapi terus berusaha untuk tenang, nyaman sabar tidak mau gegabah karena dia bukan perempuan lebay yang melihat kekasihnya berselingkuh dengan mengajak berkelahi dan paling parahnya itu menjambak rambut pelakor.


"Sore Mbak," sapanya Jihan yang terus berusaha beristigfar dalam hati untuk menenangkan dirinya itu.


"Sore juga,maaf ada yang bisa kami bantu?" Balasnya sang resepsionis.


"Henm, apa kamu masih mengenaliku, dua hari yang lalu aku datang bersama opaku yang bernama Pak Septa Danu Triadji dengan teman-temannya Pak Owen Wilson?" Tuturnya Jihan yang berharap penuh.


"Aku masih ingat kok Mbak, ngomong-ngomong apa ada yang bisa aku bantu?" Tanyanya balik.


Aku harus melayani koleganya Tuan besar Owen jikalau tidak aku bisa terkena masalah besar nantinya.


"Apa di hotel Anda ada pria yang bernama Gamaliel Audrey yang menyewa? Kalau bisa aku tau nomor kamarnya berapa?" Senyuman tersungging di sudut bibirnya Jihan agar sang resepsionis tidak mencurigai maksud kedatangannya yang sesungguhnya.


"Tunggu aku cek," ucap resepsionis yang bernama Anne Hathaway.


Jihan berusaha untuk menampilkan ketenangannya padahal di dalam hatinya tidak tenang bahkan tangannya gatal ingin menampar dan mencabik wajah seseorang hingga sesekali Jihan membuang nafasnya dengan cukup keras.


Setelah beberapa saat kemudian, Anne sudah menemukan data-data yang dibutuhkan oleh Jihan.


"Benar sekali tuan Gamal menginap di hotel kami sudah dua hari. Mereka cek in sehari yang lalu tepatnya kemarin hari rabu, dia mengambil paket honeymoon bersama dengan istrinya," jelasnya Anne.


Saking terkejutnya mendengar perkataan dari Anne, tubuhnya Jihan terhuyung ke belakang. Ia tidak menyangka jika apa yang ditakutkan menjadi kenyataan.


"Astaughfirullahaladzim ini tidak mungkin! Kamu pasti salah," sanggah Jihan yang berharap semua fakta yang terjadi langsung di depannya adalah hanya ilusi atau kah hanya mimpi.


Langkahnya Jihan mundur dan kembali menabrak dada seseorang yang baru saja muncul dari balik pintu berdaun dua hotel tersebut.

__ADS_1


"Aahh!" Jeritnya Jihan yang kembali lagi-lagi menabrak tubuh seseorang.


__ADS_2