Belum Berakhir

Belum Berakhir
Bab. 53. Persiapan Lamaran


__ADS_3

"Aku belum siap menikah, aku juga tidak ingin menikah dengan pria yang sama sekali tidak aku cintai," jawabnya Jingga.


Senja mengerutkan keningnya mendengar jawaban dari kakaknya itu yang hanya berbeda lima belas menit saja dengan waktu kelahirannya.


"Kenapa! Tapi kalau Mama menjodohkan kamu dengan Abrisam Abraham Samad gimana?" Tanyanya lagi Senja yang kesusahan membuka seat beltnya itu sehingga masih terjebak Du dalam mobil sambil berbincang-bincang dengan kakaknya.


Jingga tidak menyangka jika adiknya akan berbicara mengenai masalah hubungannya dengan Abryzan, dan juga tentang perjodohan yang baru diketahuinya pagi tadi.


"Kenapa kamu berbicara seperti itu dan dari mana kamu tahu jika saya dijodohkan dengan teman kuliah saya sendiri?" Tanyanya balik Jingga.


Senja hanya tersenyum simpul sebelum menjawab pertanyaan dari kakaknya," aku sudah sejak lama mengetahui jika kau dijodohkan dengan Abriz, tapi itu bukan langsung mama yang mengatakannya, waktu itu aku tidak sengaja mendengar percakapan mama dengan salah satu teman arisannya. Kalau enggak salah sih mamanya Abryz," ungkap Senja.


"Maksudnya Bu Sintia mamanya Abryz!" Tebaknya Jingga.


"Masya Allah kamu hafal benar calon mama mertua kamu rupanya," guraunya Senja seraya terkekeh melihat reaksinya Jingga.


"Siapa juga yang mau menikah dengan pria menjengkelkan, membosankan dan sok ganteng seperti Abrizam," ketus Jingga sambil menoyor keningnya Senja adik semata wayangnya itu.


"Haha,kak ingat benci dan cinta itu bedanya sangatlah tipis, sehingga terkadang seseorang kesulitan untuk membedakan mana cinta mana jengkel," imbuhnya Senja yang bernafas lega karena akhirnya berhasil membuka juga sabuk pengamannya.

__ADS_1


Jingga terdiam mendengarkan perkataannya adiknya, dia tidak menduga jika mamanya selama ini sudah merencanakan pernikahannya. Sedangkan dia memiliki kekasih semasa di daerah Kalimantan Selatan Banjarmasin.


"Abdil adalah pria yang baik dan sholeh dan poin pentingnya ganteng, tapi jika Mama tidak merestui hubungan kalian gimana? Apa yang akan kamu lakukan?" Tanya Senja sembari memeriksa hijab dan penampilannya melalui cermin kaca spion mobil kakaknya itu.


"Aku bingung harus gimana Sen, aku sangat mencintai Abdil tapi tidak mungkin aku menjadi anak durhaka gara-gara menentang keputusan dan keinginan mama Alia, tapi entahlah kita lihat kedepannya akan bagaimana, karena aku tidak ingin membebani diri dan pikiranku dengan hal-hal yang belum terjadi juga, sudahlah aku serahkan semuanya di tangan Allah SWT karena jodoh,maut, rezeki Allah SWT lah yang berkehendak dari segalanya, jalani saja seperti air yang mengalir," ungkapnya Jingga yang sebenarnya pasrah dengan garis tangan dan takdirnya sendiri.


"Kalau gitu kita masuk ke salon keburu mama menelpon dan ngomel-ngomel," candanya Senja Starla Airen Zain Pratama.


Senja dan Jingga sudah berada di dalam salah satu salon terbaik di daerah Jakarta bagian barat. Keduanya pun sudah memilih berbagai treatment perawatan yang akan mereka jalani dan lakukan di dalam salon terbaik yang dipadati pengunjung siang itu.


Sedangkan di tempat lain, Aliah masih sibuk mengurus segala sesuatunya untungnya beberapa anak buahnya Kabir segera turun tangan membantunya untuk mengurus segala sesuatunya itu.


Sehingga Aliah Aziza Humaira tidak perlu repot-repot setelah kedatangan sekitar sepuluh orang membantunya menyulap rumahnya sedemikian rupa sehingga semakin indah saja.


"Alhamdulillah untungnya anak buahnya Kabir datang sehingga meringankan pekerjaan ku," cicitnya Alia.


"Iya kamu beruntung banget Aliah mendapatkan calon menantu dan besan yang kaya raya bahkan kekayannya masuk sepuluh besar di negara kita ini," sahutnya Aisyah kakak sepupunya yang baru saja sampai dari Banjar.


Aliya tersenyum gembira karena apa yang dikatakan oleh kakak sepupunya itu benar adanya.

__ADS_1


"Iya mbak Senja sangat beruntung bertemu dengan pria sebaik Kabir,saya hanya berharap pengalaman pahit saya bersama dengan mas Leo Carlando tidak terulang kembali di kehidupan anak-anakku, makanya saya sangat selektif untuk menerima pinangan atau lamaran dari banyaknya pemuda dan orang tua yang menginginkan kedua putri kembarku," jelasnya Aliyah yang mengakhiri ucapannya dengan senyuman penuh kegembiraan yang tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya.


Beberapa ibu-ibu dan emak-emak duduk di sofa ruang tengah sambil beristirahat dari rutinitas dan kesibukan mereka yang cukup padat mulai subuh tadi.


"Alia itu sudah menjadi masa lalu, kenapa kamu selalu mengingat kejadian dan kesalahan dari suamimu? Apa kamu tidak bisa mengikhlaskan segalanya karena semua yang terjadi di dalam kehidupan kalian ini pastilah adanya campur tangan Allah SWT yang mengatur kehidupan rumah tangga kau seperti ini," ujarnya Aisyah lagi istri dari kakak sepupunya.


"Iya benar apa yang dikatakan oleh Aisyah, kamu seharusnya berdamai dengan masa lalu dan berusaha sekuatnya untuk melupakan kejadian pahit itu, apa kamu tidak tersiksa dengan terus mengingat kejadian itu? Kalau aku jadi kamu aku akan memaafkan kesalahannya suamimu dan berfikir positif agar hidup lebih indah dan damai," timpalnya Diana kakak iparnya Aisyah.


Aliya terdiam sambil memaknai dan menghayati apa yang dikatakan oleh semua sepupu dan masukan dari keluarganya sendiri. Aliya anak tunggal, tetapi sejak tinggal di Banjar, kedekatan dan silaturahmi dari semua sepupunya baik yang ada di jawa, daerah Jakarta maupun di daerah Kalimantan semuanya semakin akrab dan dekat.


Sehingga ketika mereka mengetahui sehari sebelum kedatangan mereka sangat antusias dan senang dengan kabar baik tersebut. Tanpa banyak pikir dan basa basi mereka segera berangkat ke Jakarta.


Bu Hani adik sepupu dari pihak bapaknya Aliah memegangi punggung tangan kakak sepupunya itu. "Mbak Aliau perlu ingat jika di dunia ini tidak ada satupun manusia yang tidak pernah atau tidak punya kesalahan dan khilaf dalam hidupnya, kita ini makhluk Allah SWT yang tidak sempurna karena hanya Allah lah yang sempurna ciptaannya mana ada," nasehatnya dari adik sepupunya itu.


"Pikirkanlah baik-baik saran dan masukan kami Mbak Aliah, karena Senja putri Mbak juga tidak mungkin bisa menikah tanpa restu dari pihak papanya apalagi menikah nantinya akan menghadirkan wali nikahnya, itu syarat sah pernikahan,"


Mereka berbincang-bincang santai hingga sore hari menjelang magrib barulah mereka bubar untuk segera bersiap menyambut kedatangan rombongan iringan anggota keluarganya Kabir Kasyafani Sanders.


Waktu terus berlalu, Senja dan Jingga pun sudah pulang ke rumahnya. Berbagai persiapan pun sudah dapat terlaksana dengan baik. Senja masih sering tidak percaya, jika di akan menikah secepat ini diusianya yang masih muda belum genap 22. Kuliahnya juga belum selesai tapi karena suatu insiden kecelakaan peristiwa yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya harus dilaluinya.

__ADS_1


"Bismillahirrahmanirrahim, semoga rencana baik kami ini mendapatkan ridho dari Allah SWT, aku hanya berharap semoga Pak Kabir tidak seperti sikap dan tingkah lakunya papa yang mengkhianati mama,"


Senja hanya takut, trauma dan khawatir jika menikah muda seperti mamanya dulu yang menikah belum cukup 20 tahun,tapi ternyata harus hidup menderita karena perselingkuhan papanya Leo Carlando Zain Pratama.


__ADS_2