
Leo menggendong tubuhnya Adinda dengan cepat ketika melihat sudah banyak darah yang mengalir di pahanya Adinda.
"Stop! Jangan banyak bicara mas akan membawamu ke rumah sakit, mas yakin kamu akan baik-baik saja," ucapnya Leo berusaha untuk menenangkan Adinda dan juga dirinya sendiri.
Leo tidak menyadari jika Adinda sudah pingsan karena kehilangan banyak darah. Ia mengira Adinda hanya tertidur saja. Leo menidurkan tubuhnya Adinda ke atas jok kursi mobil bagian belakang.
"Aku mohon bertahanlah kamu pasti akan selamat, anak kita juga," harapnya Leo kemudian mengemudikan mobilnya dengan kecepatan yang cukup tinggi.
Untungnya keadaan dijalan raya tidak terlalu padat ataupun macet sehingga perjalanan yang ditempuh keduanya terbilang cepat. Leo tidak peduli dengan beberapa teguran, umpatan dan omelan dari banyaknya pengguna jalan lainnya. Yang paling penting adalah dia bisa cepat sampai di rumah sakit terdekat.
"Adinda bertahanlah, walaupun aku tidak mencintaimu tetapi aku mungkin membiarkanmu seperti ini," gumamnya Leo sambil melihat sekilas ke arah Adinda yang terbaring lemah, tidak sadarkan diri itu.
Saking khawatirnya dengan kondisi dari Adinda dan calon bayinya,ia melupakan keberadaan istri dan kedua anak kembarnya itu. Leo fokus kepada keselamatan Adinda yang sangat mengkhawatirkan.
Berselang beberapa menit kemudian, mereka sudah sampai di depan lobi rumah sakit. Leo berteriak meminta tolong karena sudah tidak sanggup untuk mengangkat tubuhnya Adinda dengan jarak yang cukup jauh ke UGD. Mesin mobilnya belum berhenti dengan baik, Leo segera membuka mobilnya dengan cepat,bahkan dia memarkirkan mobilnya dengan asal saja.
"Suster!! Tolong cepat kesini!" Teriaknya Leo Carlando Zain.
Beberapa perawat yang mendengar teriakannya Leo dan melihatnya bergegas menarik bangkar. Mereka bergerak cepat agar tidak menunda lebih lama lagi.
"Naikkan cepat pasiennya," pintanya seorang perawat pria yang melihat kondisinya Adinda.
Hampir keseluruhan pakaiannya Leo sudah terkena darah segarnya Adinda.
"Saya harus segera menghubungi nomor hpnya abang Dani karena hanya dia keluarga yang dimiliki Adinda di Jakarta," cicitnya Leo seraya mengambil hpnya dari dalam saku celananya itu.
Berulang kali Leo menghubungi nomor hpnya Dani Ardian Maulana tapi tidak tersambung juga. Adinda sudah dibawa masuk ke dalam ruangan ugd untuk segera ditangani. Tim dokter dan suster segera menangani kesehatannya Adinda. Mereka memeriksa secara keseluruhan yang terjadi padanya Adinda.
"Ya Allah… apa yang dilakukan oleh Abang Dani sampai-sampai tidak menjawab teleponku," gumamnya Leo dengan mondar mandir risau memikirkan tentang Dani mantan kakak iparnya.
Hingga telponnya belum tersambung juga, seorang perawat berjalan tergesa-gesa ke arah tempatnya berdiri.
"Maaf apa Anda suaminya pasien yang bernama Adinda Apriliani?" Tanyanya perawat itu.
Leo segera menolehkan kepalanya ke arah perawat yang melayangkan pertanyaan itu kepadanya. Leo mulai khawatir dan ketakutan melihat kepanikan yang tidak dapat ditutupi oleh perawat berhijab itu.
"Saya adalah suaminya, emangnya ada apa yah Sus, istriku Adinda baik-baik saja kan?" Tanyanya balik Leo yang sudah mulai panik.
"Istri Anda harus segera dioperasi untuk menyelamatkan nyawa keduanya, jadi kami meminta tanda tangan persetujuan dari Anda selaku suaminya Pak," ujarnya perawat itu.
__ADS_1
Leo terkejut mendengar penuturan dari perawat itu," astagfirullah aladzim kenapa bisa seperti itu Mbak Sus?" Tanyanya Leo yang semakin khawatir.
Leo segera meraih kertas untuk segera dibubuhkan tanda tangannya di atas kertas yang disodorkan oleh suster tersebut. Tanpa berfikir panjang, Leo menandatangani surat pernyataan perjanjian itu jika pihak keluarga setuju untuk melakukan tindakan prosedur kesehatan berupa operasi.
Leo berusaha untuk nampak tenang dan sabar padahal dalam hatinya dan pikirannya itu sangat takut, cemas, khawatir dan merisaukan tentang kondisi kesehatannya Adinda yang mengkhawatirkan.
"Bismillahirrahmanirrahim semoga saja keduanya selamat anak dan ibunya sehat dan baik-baik saja," Lirihnya Leo.
Adinda kembali dilarikan ke arah dalam ruangan operasi agar tidak semakin banyak darah yang keluar.
"Ya Allah… panjangkan lah umur keduanya,sehatkankah keduanya, jangan biarkan salah satunya terjadi sesuatu, pasti aku akan marah pada diriku sendiri, aku memang meragukan bahwa calon bayinya Adinda adalah anakku, tapi aku sangat takut jika terjadi sesuatu padanya, anaknya tidak punya dosa sedikitpun sehingga harus menanggung kesalahan dan kekeliruan kami," Leo mengusap wajahnya dengan gusar.
Sesekali ia menghembuskan nafasnya dengan panjang serta menghembuskan nafasnya dengan cukup kasar pula.
Sedang jauh dari tempat rumah sakit, seorang perempuan menitikkan air matanya disela doanya ketika melaksanakan shalat isya.
Air matanya semakin menetes membasahi pipinya, lidahnya keluh seketika tak mampu berkata-kata lagi saking sedih,hancur berkeping-keping perasaannya dan juga hatinya. Atas pengkhianatan dan kebohongan besar yang dilakukan oleh suaminya Leo Carlando Zain.
"Ya Allah… andaikan Mas Leo meminta ijin padaku untuk menikah lagi dan mengatakan kepadaku, siapa perempuan yang akan dinikahinya dan juga alasannya mungkin saya akan berusaha untuk tegar dan ikhlas menerima keputusan suamiku, tapi apalah daya semuanya sudah terjadi," lirih Aliya.
Kedua putrinya turut memanjatkan doa kepada Allah SWT untuk kebaikan dan kebahagiaan rumah tangga kedua orang tuanya itu. Mereka turut bersedih mendengar mamanya terisak dan tersedu-sedu meratapi nasibnya.
Keesokan paginya, untuk pertama kalinya dalam hidupnya selama menikah dengan Leo Carlando Zain, Alia tidak masak karena rumah kontrakan yang disewanya untuk satu minggu kedepannya itu tidak menyediakan dapur sama sekali sehingga mau tidak mau setiap kali makan harus pesan atau makan di luar.
Untungnya minggu ini dia sudah gajian dari menulis novel online dari aplikasi yang ada di ponselnya itu. Gaji yang Alhamdulillah bertambah jumlah nominalnya dibandingkan bulan lalu. Sehingga bisa menutupi uang belanjanya.
"Sayang hari ini mama tidak masak untuk sarapan kalian, jadi seperti kemarin malam kita makan di luar lagi, tapi ngomong-ngomong apa kalian mau makan apa, kebetulan di depan jalan banyak warung makan loh," tuturnya Aliya sambil duduk di hadapan cermin besar yang terpasang di dinding kamar tersebut.
Senja dan Jingga yang sedang memakai pakaian gantinya setelah mandi menghentikan kegiatannya itu sesaat.
"Kami tidak masalah kok ma, yang paling penting kami makan itu sudah cukup,mau makan dimana, makan apa saja yang paling penting halal itu sudah lebih dari cukup kok Ma," timpalnya Senja.
Aliya tersenyum sumringah bahagia karena anaknya sangat mengerti dengan keadaannya itu.
Aliya bersama kedua putrinya pagi itu berangkat ke sekolah, tapi harus singgah ke warung makan sebelum mereka ke sekolah.
"Karena sudah diputuskan makanya kita akan sarapan paginya di sana, mama minta Senja jangan ngambek gitu dong, kan kita sudah sepakat, enggak baik diingkari janjinya,kalau marah seperti ini mulu entar cepat tua loh," bujuknya Aliya kepada anak keduanya itu.
Senja ingin makan makanan yang terbuat dari bahan daging ayam tapi, hari ini ketiganya memutuskan untuk makan seafood olahan dari laut. Jingga dan mamanya Aliah memang paling suka makan makanan yang dari laut.
__ADS_1
Aliya berjalan beriringan dengan bergandengan tangan dengan kedua anaknya itu. Mereka berjalan ke arah salah satu warung makan yang dipilih oleh Jingga dan Senja, setelah melalui hasil perdebatan yang cukup alot dan voting pemungutan suara.
"Itu warungnya cukup ramai juga yah Ma, pasti makanannya cukup enak, aku yakin banyak pembeli berarti mereka suka dengan makanan buatan mereka, iya kan Ma?" Tebaknya Jingga.
Jingga memilih duduk di salah satu meja dengan duduk lesehan di salah satu meja panjang yang berada di sudut ruangan warung itu.
"Woo warung makannya bagus juga yah Ma, bisa foto-foto selfie kalau gini," pujinya Jingga yang mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan warung tersebut yang hanya meja yang diduduki mereka yang kurang orangnya yang lainnya sudah terisi penuh.
"Benar sekali apa yang kamu katakan Nak, kamu boleh ambil beberapa foto sebelum kita selesai makan disini," usulnya Aliah.
Jingga menaikkan kedua jari jempolnya di hadapan Aliya dan Senja. Hanya Senja yang selera makannya seperti papanya Leo Carlando Zain sedangkan Jingga lebih dominan mirip dengan sifat dan kesukaan mamanya itu.
Seorang pelayan perempuan yang memakai pakaian seragam berwarna hijau dengan celana cinox warna hitam itu segera berjalan ke arah meja mereka, dengan buku menu berada di dalam genggamannya.
"Maaf ada yang ingin kalian pesan?" Tanyanya Mbak Itu yang melihat bergantian ke arah ketiga orang yang berada di depannya.
Senja dan Jingga berebut mengambil daftar menu tersebut yang sudah berada di atas meja karena, sudah disimpan oleh Mbak pelayannya.
"Saya mau ini, saja ma sepertinya enak belum pernah aku makan soalnya,ini juga dan ini juga," ucapnya Senja yang tidak mau kalah dengan kakaknya itu.
Malahan mereka berebut buku daftar menu itu menyebut beberapa macam makanan yang akan mereka makan.
"Saya juga mau ini, udang goreng tepung keju, kepiting tumis saus Padang, cumi bakar saus tomat," pintanya Jingga.
"Apa ada lagi Bu, mungkin minumannya sama sayurnya belum mesan satupun loh," ujarnya Mbak pelayan.
"Minumannya jus alpukat satu, jus jeruk satu, ada lagi satu jus buah naga, harus dingin yah mbak, sayurannya capcay,cak kangkung tumis itu saja Mbak," jawabnya Aliyah.
"Baik Bu semua pesanannya kalian sudah saya catat, tolong menunggu sebentar yah," timpalnya perempuan pramusaji itu.
"Siap kakak cantik, makasih yah sudah bantu kami untuk cari makanan yang lezat," ucap Jingga.
Mbak itu tersenyum simpul menanggapi perkataan dari Jingga. Mereka kemudian bercengkerama dan berbincang-bincang sambil menunggu pesanan ketiga dari perempuan beda usia itu selesai dan dibawah ke depan mereka.
Berselang beberapa menit kemudian, semua makanan yang sudah mereka pesan sudah berada di hadapan masing-masing hampir memenuhi seluruh sisi meja makan.
Senja segera mencicipi masakan tersebut tanpa mencuci tangannya hingga punggung tangannya itu ditepuk oleh mamanya.
"Putrinya Mama, ingat sebelum makan harus cuci tangan dulu yah, selain cuci tangan kita harus berdoa juga supaya apa yang kita lakukan dan kerjakan bermanfaat dan membawa berkah," nasehatnya Aliyah.
__ADS_1