
Jihan duduk tepat di samping mommynya Senja Starla dan diapit oleh daddy-nya Kabir Kasyafani dengan tatapan teduhnya yang menenangkan hatinya.
"Bagaimana Nak Jihan,apa kamu setuju menikah dengan putraku yang bernama Kaisan Al-Ayyubi Haitam?" Tanyanya Bu Jessika yang ingin memastikan apakah Jihan bersedia untuk menikah ataukah tidak.
"Bismillahirrahmanirrahim, aku bersedia untuk menikah, tapi ada syaratnya yang perlu pak Kaisan penuhi keinginanku," ucapnya Jihan dengan penuh keyakinan.
Semua orang yang berada di dalam ruang tamu tersebut mengarahkan pandangannya ke arah Jihan dengan dahi berkerut.
"Cucuku,apa maksudnya kamu berbicara seperti itu? Kalau sudah setuju untuk menerima lamarannya mereka, kenapa meski ada syaratnya segala," tukasnya Bu Hanin Mazaya.
"Iya Nak,niat mereka ini datang kemari karena memiliki niat yang tulus untuk mempersunting kamu sebagai pendamping hidup dari putra tunggal mereka Nak," cecarnya Bu Saskia Sophia yang takut jika Jihan membuat mereka malu.
Semua orang masih mengarahkan pandangannya ke Jihan seorang sedangkan Ocean Skala Pratama tak henti-hentinya mengamati gerak geriknya Jinan.
Aku semakin curiga dengan Jinan. Aku yakin sangat jika ada yang terjadi padanya. Lihatlah dari semua orang yang berada di sini memperlihatkan wajah bahagianya.
Sedangkan Jinan sedih, gegana saja seolah yang akan menikahi Jihan adalah pacarnya saja.
Aku akan menyelidiki apa sebenarnya yang terjadi, aku tidak menyukai jika ada salah satu saudaraku orang yang aku sayangi bersedih atau mengalami masalah.
Jihan tersenyum simpul sebelum menjawab pertanyaan dari semua orang yang mulai memperlihatkan wajah bingung, panik, khawatir.
"Nak Jihan katakan pada Daddy apa yang terjadi padamu, kenapa meski ada syaratnya segala. Kalau kamu terbebani dengan lamaran ini jangan sekali-kali memaksakan dirimu untuk menyetujuinya Nak. Kabir menjeda perkataannya itu seraya berjalan ke arah Jihan yang hanya berjarak beberapa meter saja darinya.
Kabir memegangi kedua tangannya Jihan,"Kabir Kami tidak akan pernah memaksakan kehendak kami kepadamu, karena kami keluargamu ingin melihat kalian bahagia bukan mengintimidasi dan menyetir kehidupan kalian Nak," nasehatnya Kabir.
__ADS_1
"Dad, aku tidak ingin melihat kalian sedih ataupun kecewa padaku, aku hanya ingin mengajukan permintaan kecil kepada mereka," sahutnya Jihan dengan senyuman hangatnya agar papanya tenang tidak perlu banyak pikiran.
"Kalau gitu nak Jihan mau apa, insya Allah kami akan kabulkan keinginan kamu apapun itu," ucapnya Bu Margaretha.
"Maafkan aku gara-gara perkataanku ini membuat kalian semua seperti orang-orang yang berada di depan meja hijau saja," candanya Jihan untuk mencairkan suasana.
Senja menatap nanar ke arah putri bungsunya itu dengan senyuman tipisnya," Jihan Yuanni Ulli kebahagiaan kamu adalah kebahagiaan mommy,"
Jihan memegangi punggung tangan mommy nya itu," maafkan aku Moms, bukan niat hati untuk menyakiti kalian aku hanya ingin mengatakan jika apa bisa pernikahan kami bulan depan saja diselenggarakan, masalahnya bulan ini jadwal kuliahku di kampus sungguh padat, hanya itu dan semoga saja kalian bisa mengabulkannya," jelasnya Jihan yang tersenyum lebar melirik ke arah kakaknya Jinan.
Semua orang bernafas lega saking tegangnya mereka sampai-sampai tidak ada yang bergerak leluasa, bahkan untuk berbicara berbisik saja mereka tidak berani.
"Oh tentu saja nak Jihan, kami tidak mungkin menganggu perkuliahanmu, kami sangat beruntung jika memiliki calon cucu mantu yang peduli dengan pendidikannya, walaupun yang namanya seorang wanita kodratnya akan tetap terjun ke dapur untuk mengabdikan seluruh hidupnya untuk rumah tangganya itu." Ungkapnya Bu Margaret Natasa yang tidak menyangka jika hanya masalah kecil seperti itu saja yang diinginkan oleh Jihan.
Jihan melihat ke arah kakaknya itu,"kakak kalau menurut kakak apa minggu ketiga kakak sudah punya waktu luang yang cukup?" Tanyanya Jihan.
Jinan yang banyak pikiran kehilangan fokus sehingga ia spontan menjawab pertanyaan dari adiknya itu.
"Tanggal 21 bulan depan adalah waktu yang sangat baik," Jawabnya Jinan reflek karena mengingat tanggal awal pertemuan pertama kalinya dengan Kaisan waktu di Jakarta Indonesia.
Jinan yang baru tersadar dengan apa yang barusan dia ucapkan. Dia reflek menutup mulutnya saking tidak percayanya dengan apa yang terucap dari bibirnya.
Alhamdulillah, kenapa kakak bisa menyebut tanggal itu padahal dihari Senin lima hari sebelumnya, kami sudah mulai libur.
Hemph… apa kami sehati karena saudari kembar yah. Bang Gamal tanggal itu akan ke London. Apakah ini berkah jalan keluar yang Allah SWT tunjukan pada kami.
__ADS_1
Tapi sudahlah yang paling penting hari itu aku akan kabur bersama bang Gamaliel Audrey untuk pergi kemanapun bang Gamal bawa aku pergi. Asalkan aku bisa pergi jauh dan tidak jadi menikah dengan Pak Kaisan itu sudah cukup.
"Iya ibu, kami libur di tanggal 21 itu," timpalnya Jihan.
Ya Allah kenapa aku menyebut tanggal pertemuan kami. Di tanggal itu lima tahun sudah lamanya pertemuan kami dan entah kapan bisa terjadi lagi untuk kisah kami selanjutnya.
"Baiklah kalau begitu sudah diputuskan kalau bulan depan tanggal 21 itu adalah hari akad nikahnya Jihan dan Kaisan, apa masih ada yang mungkin akan mengeluarkan pendapatnya mengenai pernikahan ini?" Tanyanya Bu Jessika.
Bu Jessika melihat satu persatu semua orang yang ada di dalam sana dengan tatapan penuh harap agar kedepannya tidak ada lagi yang berbicara untuk menentang keputusan hari ini.
Bu Jessika tersenyum penuh kegembiraan itu dan kembali melanjutkan perkataannya,"Kalau memang tidak ada jadi kami memutuskan untuk menetapkan Du hari itu adalah hari bahagianya putrinya pak Kabir Kasyafani Sanders."
Semuanya sudah diputuskan oleh kedua keluarga besar tersebut. Jinan ingin segera meninggalkan tempat tersebut dan tak henti-hentinya merutuki dirinya sendiri.
Senja tamunya sudah pulang ke rumahnya, sedangkan mereka yang ada masih berbincang-bincang santai. Mereka masih membicarakan masalah rencana akad nikahnya Alif Naufal besok siang bersama denga Asmina Meidina.
"Aku tidak menduga jika besok status aku sudah berubah dari seorang ibu menjadi mertua dan empat bulan lagi berubah menjadi Oma," imbuhnya Icha Khaerunisa.
"Benar apa yang kamu katakan istriku, kita berdua akan menjadi Oma dan opa dalam waktu yang cukup singkat, diusiaku yang sekarang ini aku berfikir masih sangat jauh dan tidak membayangkannya," sahut Hakim Rahman dengan membuang nafasnya dengan cukup keras.
Guntur menepuk pundaknya sahabatnya itu," sabar brotha seperti ini sudah jalannya takdir yang sudah ditentukan oleh Allah SWT kepada setiap umatnya yang masih bernyawa, sebaiknya kamu harus bersabar dan tidak memusingkan masalah anak-anak, yang perlu kita lakukan selajutnya adalah belajar dari pengalaman dan jangan biarkan kesalahan terulang kembali jadi bijak lah dalam bertindak," nasehat Guntur Aswin.
"Benar sekali bro, hidup ini penuh dengan ujian dan cobaan yang harus kita jalani dengan kuat, sabar dan pantang menyerah dan paling penting tetap tawakal kepada Allah SWT dan terus berikhtiar untuk memperbaiki apa yang sudah rusak," sahutnya Mike Andres.
"Allah SWT adalah penentu segalanya, jadi tidak mungkin ada akibat tanpa sebab dan apa yang sudah terlanjur terjadi karena kehendak Sang Maha Kuasa," terangnya Fajri Bachan yang ikut nimbrung sambil sesekali menyesap kopinya yang masih mengepul asapnya itu.
__ADS_1