
Setelah kepergian dua orang itu. Jingga segera keluar dari balik pintu bilik salah satu toilet umum setelah keadaan cukup aman.
"Alhamdulillah mereka sudah pergi, aku harus segera mengikuti mereka secepatnya, jangan biarkan rencana mereka berhasil, kasihan pak Guntur kalau harus masuk kedalam jebakan orang-orang jahat itu," Jingga segera berjalan mengendap-endap mengikuti kemanapun perginya beberapa orang itu yang membawa Guntur.
Mereka sangat pintar dan lihai mengelabui orang-orang dengan cara mengganti pakaiannya Guntur dengan pakaian baru serta memakaikan topi dan kacamata hitam. Sehingga tidak ada yang mampu mengenali jika itu adalah Guntur.
Setiap ada yang lewat dan melihat apa yang mereka lakukan selalu saja berdalih, beralibi dan beralasan yang masuk akal sehingga tidak dicurigai.
"Maaf teman kami mabuk berat sehingga kami harus membantunya berjalan," kilahnya si botak ketika berpapasan dengan beberapa orang yang menatap mereka dengan tatapan yang berbeda-beda.
Mereka bernafas lega ketika sudah berada di dalam lift. Untungnya di dalam lift hanya mereka bertiga. Jingga sampai Dy depan lift ketika bersamaan dengan pintu lift yang tertutup.
"Lantai 16," cicitnya Jingga yang memperhatikan angka yang tertera di papan lift tersebut.
Jingga tidak sabaran menunggu lift sehingga ia segera menaiki tangga darurat.
"Kalau aku tunggu liftnya terbuka, kayaknya butuh waktu lama aku harus segera menyusul mereka dengan naik tangga darurat saja," Jingga segera berlari cepat ke arah tangga.
Jingga pertama kali melepas high heelsnya dan berlari tanpa memakai alas kaki sama sekali. Kedua dia segera menyimpan tasnya di salah satu anak undakan tangga.
"Hanya beberapa indentitas saja siapa juga yang mau ambil masalah ATM ambil saja kalau ada yang mau ambil isinya juga kosong,"
Jingga sudah berada di lantai delapan, peluh keringat bercucuran membasahi sekujur tubuhnya itu. Dia segera membuka gaun pestanya untuk memudahkannya bergerak leluasa. Untungnya dia memakai pakaian yang dalaman yang masih tertutup tapi membuat gerakannya cukup leluasa dalam gesit. Yaitu celana lejing dengan warna hitam dari atas hingga bawah yang tersisa di tubuhnya.
Jingga memutuskan melepas gaun pestanya agar tidak terganggu ketika berlari," insya Allah enggak ada yang perhatikan apa yang aku pakai ini, lagian masih tertutup juga,"
__ADS_1
Jingga semakin mempercepat langkah kakinya menuju ke lantai sepuluh. Tulisan di dinding bertuliskan lantai sebelas membuat Jingga tersenyum tipis.
"Alhamdulillah lima lantai lagi,"
Untungnya Jingga jago bela diri dan sering ikut lomba lari ketika masih sekolah dulu. Sehingga jago dalam mengatur pernafasannya dan langkah kakinya yang cukup gesit dan lincah.
"Aku tidak akan memberikan ampun kepada kalian berdua botak dan gondrong!" Umpatnya Jingga.
Sedangkan di tempat lain tepatnya di dalam pesta, semakin larut malam semakin ramailah acaranya seakan-akan tidak akan ada habisnya tamu undangan yang datang silih berganti.
"Candra kamu lihat Mbak kamu gak Nak?" Tanya Aliah sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat tersebut.
" Itu Mbak Senja Ma," balasnya Alia.
"Kalau Mbak Jingga tadi ada sih ma,kenapa emangnya ma cariin Mbak Jingga??" Tanyanya Candra yang mode keponya keluar lagi.
"Kalau kamu lihat Mbak mu itu Mama sudah bisa tenang, kamu sana lanjutkan makannya Mama masih mau menjamu teman-temannya Mama yang baru datang," ujarnya Aliah lagi.
Adicandra Bima Satria hanya tersenyum simpul sembari melanjutkan makannya yang mencicipi hampir keseluruhan menu makanan yang terhidang di atas meja prasmanan.
"Kenapa aku perhatikan Tante Hanin sejak tadi kebanyakan terdiam, disapa menjawab apa adanya, kenapa feelingku mengatakan ada sesuatu yang terjadi pada Tante Hanin," Natasa berusaha untuk menyelidiki apa yang terjadi.
Natasha memang yang paling peka diantara semua perempuan di dalam keluarga besarnya itu. Tapi, Natasha yang terlalu sibuk memperhatikan satu persatu anggota keluarganya itu tidak menyadari jika sedari tadi ada sepasang mata yang menatapnya dengan tatapan yang berbeda.
"Sial sepertinya Natasha belum minum minuman yang aku campur obat pusingnya, kalau seperti ini aku tidak bisa bertindak sebagai seorang pahlawan untuk menolongnya disaat kesusahan, gagal total sudah untuk menarik perhatiannya Natasha padahal menurut aku ini cara jitu untuk membuatnya tertarik padaku,"
__ADS_1
Natasha yang berjalan ke arah dimana tantenya berada segera terhenti karena sapaan seseorang yang bernada teriakan.
"Hey Natasha," sapanya seorang pria.
Natasha segera berbalik badan ke arah sumber suara dan menatap jengah pria itu.
"Kebiasaan kalau mau nyapa itu pakai salam kek assalamualaikum, jangan menyapa seperti orang barat saja!" Ketusnya Natasha yang ogah-ogahan melihat pria yang sedari dulu berusaha untuk mendapatkan cintanya itu.
Pria itu hanya terkekeh menanggapi sikapnya Natasha, "Hehehe maaf assalamualaikum," salamnya Bimbing alias si Bimo Setiawan.
"Maaf saja mulu, apa kamu enggak bisa menjauh dari hidupku sehari saja selalu saja bikin kesal dan sial hidupku! Jujur saja apa kamu enggak punya kerjaan lain selain mengejar cintaku!" Gerutunya Natasha.
"Saya tidak mungkin berhenti untuk mendapatkan cintamu kecuali kamu sudah mengatakan cinta padaku, barulah aku tidak mengejar kau tetapi akan selalu berada di sisimu disisa waktumu," ujarnya Bimo.
Natasha menarik kacamatanya Bimbing yang selalu saja bertengger di puncak hidung mancungnya itu, "Bimbing sampai kapan pun saya tidak akan jatuh cinta padamu kecuali kamu berubah seperti yang aku inginkan dan harapkan! Jika kamu terus seperti ini bukannya aku jatuh cinta malahan semakin muak dan ilfeel jadinya!" Sarkasnya Natasha kemudian segera meninggalkan Bimo yang masih berdiri mematung melihat kepergian Natasya.
"Bagaimana caranya aku bisa meruntuhkan kerasnya hatimu, kusadari ku tak sempurna ku tak seperti yang kau inginkan tapi aku akan berusaha sekuat tenaga agar kamu bisa melihatku sebagai pria yang sangat mencintaimu,"
Bimbing bertekad untuk menjadi seperti yang diinginkan oleh Natasha. Perempuan yang sejak mereka masih duduk di bangku sekolah menengah pertama sudah diam-diam memperhatikan Natasha dan mencintai Natasa dalam diamnya.
"Hahaha! kamu kalau mau mendapatkan cintanya Natasha harus pintar ngaji, rajin shalat memang dia tidak memakai hijab tapi, baginya laki-laki itu harus bisa sesuai yang dia inginkan masalah kaya itu urusan belakangan," ujarnya seorang pria yang muncul setelah melihat kepergian Natasha.
Bimbing kembali memakai kacamata tebalnya itu, tidak membalas perkataannya Justin kakak sepupunya Natasha dari pihak papinya itu.
"Tapi itu sangat sulit karena keyakinan kalian itu berbeda jadi sepertinya kubur dalam-dalam saja mimpi dan impianmu itu!" Cibirnya Justine sambil menepuk pundaknya Bimo.
__ADS_1