Belum Berakhir

Belum Berakhir
Bab. 22. Keberangkatan Ke Banjarmasin


__ADS_3

Setelah menyantap sarapan pagi ketiganya pun melanjutkan perjalanannya menuju ke sekolah tempat selama ini kedua putri kecilnya menimba ilmu.


Berselang beberapa menit kemudian, semua makanan yang sudah mereka pesan sudah berada di hadapan masing-masing hampir memenuhi seluruh sisi meja makan.


Senja segera mencicipi masakan tersebut tanpa mencuci tangannya hingga punggung tangannya itu ditepuk oleh mamanya.


Senja dan Jingga sama sekali tidak mempermasalahkan kepindahan mereka nantinya ke daerah luar pulau Jawa. Karena keduanya cukup yakin jika apa yang diputuskan oleh orang tuanya terutama mamanya itu adalah yang terbaik.


Aliyah segera menemui wali kelasnya kedua anak kembarnya terlebih dahulu sebelum menemui kepala sekolah. Aliya sudah menelpon teman sekolahnya dulu apa alasan yang membuatnya harus pindahkan anaknya sekolah ke tempat yang cukup jauh.


Aliah berjalan santai ke ruangan kelas empat di SD itu. Ia bersyukur karena pengurusan kepindahan anaknya dengan berbagai alasan, akhirnya prosesnya terbilang cukup cepat juga.


"Assalamualaikum," sapanya Alia ketika melihat sahabatnya itu duduk di depan mejanya sambil memeriksa begitu banyaknya tumpukan buku siswanya untuk diperiksa hasil tulisan tugas mereka.


Bu Fatimah melihat ke arah tepatnya pintu dimana suara berasal, Bu Fatimah tersenyum tipis menanggapi perkataan dan sapaannya Aliya.


"Waalaikum salam, mari masuk Mbak saya sedari tadi sudah nungguin kedatangan kalian loh, mari silahkan duduk dulu," sapanya Bu Fatimah dengan senyuman ramahnya.


"Makasih banyak Bu guru," balasnya Jingga dan Senja yang ikut duduk di samping mamanya itu.

__ADS_1


Bu Fatmah mencari keberadaan berkas milik kedua anak didiknya itu yang akan meninggalkan sekolahnya tidak lama lagi, "Alhamdulillah untungnya kepala sekolah sudah tanda tangan sebelum berangkat ke luar daerah," imbuhnya Bu Fatimah.


"Alhamdulillah kalau sudah selesai, saya sangat berterima kasih kepada kamu dan juga semua yang sudah membantu anak-anakku," timpalnya Alia.


"Ini berkasnya untungnya ada beberapa teman dan kenalan yang membantu untuk mempercepat prosesnya sehingga tidak perlu butuh waktu lama untuk menunggunya dan kebetulan banget kepala dinas pendidikan provinsi dan juga semua jajarannya yang menangani surat ini Alhamdulillah mereka semuanya hadir kemarin di kantor sehingga memudahkan saya membantu Mbak untuk mengurusnya, andaikan hanya sebagian yang datang paling cepat selesai ada bulan depan," Jelasnya panjang lebar Bu Fatmah yang murah senyum itu karena selalu tersenyum simpul.


Alia sangat bersyukur dan gembira mendengarnya sambil menyentuh punggung tangannya Fatimah," Alhamdulillah kalau seperti itu, aku sangat berterima kasih sudah dibantu, lagi-lagi kamu membantuku Fatimah," pungkasnya Aliah.


"Kamu tidak perlu berterima kasih kepadaku, apa kamu lupa dulu kamu sudah sering membantuku dan hanya kamu dulu yang mau berteman denganku sedangkan yang lain mereka enggan, jadi sudah sepatutnya saya membantu Mbak Aliyah," ungkapnya Bu Fatimah.


"Ya Allah itu sudah lama berlalu, bahkan aku sudah melupakan itu yang paling aku ingat adalah ketika ada anak baru yang katanya jatuh cinta padamu, kami sahabatmu berasa bersyukur ada yang suka sama kamu tapi sayangnya kamu menolaknya dengan alasan mau fokus sekolah pacaran urusan belakangan," jelas Aliyah yang mengingat masa lalu keduanya ketika duduk di bangku sekolah menengah atas dan memakai seragam putih biru itu.


Fatimah terkekeh karena kembali teringat dengan masa lalunya, "Hahaha itu sudah terjadi hampir sepuluh tahun lamanya, tapi kamu masih saja mengingatnya," tukasnya Fatimah Az-Zahra.


Berselang beberapa menit kemudian, mereka sudah balik pulang ke kontrakannya. Aliya segera memesan tiket pesawat penerbangan sore hari itu. Ia memeriksa aplikasi ponselnya untuk mencari tiket pesawat yang bagus, murah tapi terpercaya dan aman tentunya.


Jam sudah menunjukkan pukul sebelas siang. Niat awalnya ingin langsung balik ke rumah kontrakan sementara waktunya, tapi segera dicegah dan diingatkan oleh kedua anaknya itu ketika melewati sebuah mall yang cukup besar di daerah yang kebetulan dilewatinya itu.


"Ma kita singgah ke mall dulu beli perlengkapan sekolahnya kami, pakaian kami juga hanya sedikit kita bawa, jangan sampai di saja barang-barang di sana cukup mahal," usulnya Jingga.

__ADS_1


"Iya juga hampir saja Mama lupa lagian kita masih ada waktu sekitar lima jam sebelum pesawatnya berangkat, pak supir stop di depan yah!" Aliya segera menuruti perintah dan ide bagus dari anak sulungnya itu.


Aliya membelikan pakaian seragam sekolah untuk kedua anaknya itu dengan tiga ukuran dan tiga stelan seragam putih merah. Cokelat khusus untuk pakaian Pramuka dua seragam, tas sepatu serta perlengkapan lainnya.


Aliya juga ke salah satu toko pakaian untuk membeli beberapa potong pakaian untuk dirinya dan juga untuk anak-anaknya. Hingga sampai jam setengah tiga mereka menyelesaikan shoping mereka. Aliya meminta seseorang untuk packing belanjaan mereka yang belum bisa dipakainya hari itu juga.


Sesekali Aliya menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskan nafasnya dengan cukup panjang. Ia terhimpit dengan keadaan yang menuntutnya harus pergi sementara waktu dalam kurung waktu yang tidak ditentukan pula.


"Selamat tinggal Jakarta, maafkan aku Mas Leo ini jalan yang terbaik untuk kita berdua semoga kamu bahagia sakinah mawadah warahmah dengan Adinda itu doaku untuk kalian berdua, biarkan aku yang mengalah demi kebaikan dan kelangsungan hubungan kalian, maafkan aku yang sudah banyak kekurangan-kekurangannya selama menjadi istrimu," gumam Aliya.


Mas Leo aku tahu kamu masih sangat mencintaiku, begitupun dengan diriku yang tidak bisa berpaling dari hatimu tapi aku tidak mungkin hidup berbagi suami dengan perempuan lain andaikan kamu dulu jujur aku mungkin bisa pertimbangkan untuk menerima hubungan kalian,tapi kalian cukup baik untuk membohongiku selama hampir setahun ini.


Ketiganya sudah berangkat ke bandara tanpa sepengetahuan Leo yang sibuk mengurus bayinya Adinda yang tepaksa lahir dengan kondisi yang cukup memprihatinkan. Bayi malang itu harus lahir belum cukup umur, sehingga harus terlahir dengan prematur dan hidup dengan bantuan inkubator.


Leo pun belum sempat membuka pesan chat terakhir dari istri pertamanya itu, karena semua waktunya tersita mengurus bayi laki-laki itu.


Pesawat mereka meninggalkan bandara internasional Soekarno-Hatta Cengkareng Jakarta dengan hati yang begitu rapuh, hancur berkeping-keping perasaannya hingga ia tidak kuasa hidup di daerah yang sama dengan suaminya dan selingkuhan suaminya itu.


"Papa selamat tinggal, Senja sangat ingin bertemu dengan papa sebelum kami pergi, tapi itu tidak mungkin aku lakukan pasti aku akan melukai hati dan perasaannya Mama," Senja menititkan air matanya sambil menatap ke arah luar jendela.

__ADS_1


"Papa Leo, maafkan Jingga yah Pa, harus pergi ke Banjarmasin Kalimantan Selatan tanpa pamitan dengan papa, pasti Jingga akan sangat merindukan Papa Leo, papa dimanapun kami berada kamu Leo Carlando Zain tetaplah papa terbaik untuk kami berdua," lirih Jingga sembari menyeka air matanya itu secara diam-diam karena tidak ingin mamanya melihat kesedihannya itu.


"Maafkan saya mas, saya sudah mengkhianati janji kita untuk selalu bersama dalam suka dan duka dan apapun yang terjadi,tapi andaikan bukan Adinda istri kedua Mas mungkin aku masih bisa menerimanya dengan ikhlas dan siap berbagi karena perempuan itu tidak aku kenal,tapi ini perempuan yang sudah aku anggap saudariku sendiri ternyata istri keduanya Mas itulah yang membuat aku sakit hati sesakitnya, kecewa yang terlalu dalam dan besar, tapi dengan kepergian ku ini semoga Abang bisa hidup lebih baik dari sebelumnya, maafkan aku yang terlalu egois, selamat tinggal Mas Leo Carlando Zain Pratama." Aliya diam-diam menitikkan air matanya saking sedihnya dengan masalah dan kisruh rumah tangganya itu.


__ADS_2