
Kematian selalu menyisakan luka yang mendalam bagi setiap orang. Terlebih saat keluarga atau orang-orang terdekat telah menemui ajalnya, tentu hal ini menjadi peristiwa yang sangat memilukan. Sebagai manusia yang masih diberi kesempatan untuk hidup, sudah seharusnya selalu mendoakan orang yang sudah meninggal agar diberi tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Kuasa.
Bruk…
Suara benda jatuh terdengar begitu nyaring, ketika dokter mengatakan jika Aliah tidak bisa diselamatkan.
"Mertuaku tidak mungkin meninggal dunia, pagi tadi masih bersama kami dan bercanda bersama jadi aku yakin ada kesalahpahaman yang terjadi di sini," sanggahannya Kabir.
"Tidak! Itu mungkin! Dokter pasti salah aku yakin itu!" Teriaknya Senja yang tidak ingin mempercayai apa yang terjadi pada mamanya.
"Mama tadi pagi masih baik-baik saja dan meminta kami untuk dinner di rumahnya, jadi dokter pasti salah kan?" Tanyanya Senja yang sedikit meninggikan volume suaranya itu di depan langsung dokter tanpa ragu.
Semua orang membelalakkan matanya saking tidak ingin mempercayai semua kenyataan yang telah terjadi.
"innalilahi wa innailaihi rojiun, alfatihah selamat jalan Nyonya Besar," cicitnya Bi Minah.
"Kasihan banget Nyonya Aliah, saya tidak menyangka jika Nyonya Aliah sudah pergi meninggalkan kita untuk selamanya," lirihnya Pak Abdul Aziz.
"Maafkan kami Bu, kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi Allah SWT lebih berkehendak dari segala-galanya Di dunia ini, aku minta padamu untuk tetap tegar dan bersabar karena Allah SWT lebih menyayangi Mama kalian," ujarnya dokter yang kebetulan mengenali Senja.
Jingga dan Leo sudah dilarikan ke dalam unit gawat darurat yang jaraknya terlalu berjauhan dengan ruangan operasi.
"Jingga, Abang mohon bangunlah jangan seperti ini, please sadarlah," ucap Guntur yang berusaha untuk menyadarkan istrinya yang terjatuh pingsan dalam pelukannya.
Sedangkan Leo tubuhnya ambruk ke atas lantai keramik ketika mendengar jika istrinya telah tiada.
"Leo! Putraku bangunlah Nak, Mama mohon bangunlah hiks… hiks.. tolong kakakmu Lutfi dia pingsan!" Jerit Bu Sri Indarwati yang sudah terduduk memangku tubuhnya Leo yang sudah tidak sadar.
"Suster tolong tangani mereka yang pingsan dan bawa ke dalam UGD untuk segera mendapatkan penanganan, dan sebagian tolong lihatlah mayatnya Bu Aliah serta bayinya kasihan di dalam menangis terus sepertinya lapar." Pintanya dokter Maryam Nurhaliza.
Senja segera melerai pelukannya itu dari berjalan tertatih ke arah dalam ruang operasi. Sedangkan Pak Septa, Bu Hanin Mazaya,Bu Henny Marsha dengan suaminya Pak Bayu Wardana, Bu Clara serta pak Raka dan istrinya Bu Siska setelah mendengar berita jika Aliah dilarikan ke rumah sakit gegas ke rumah sakit untuk menyusul mereka semua.
Semua orang terkejut melihat apa yang terjadi di depan ruang operasi, mereka sudah bisa mengambil kesimpulan apa yang telah terjadi.
"Putraku apa yang terjadi?" Tanyanya pak Abbas bersamaan dengan pak Septa.
__ADS_1
Kabir mengusap air matanya yang beranak sungai itu, "Mama Aliya telah meninggalkan dunia setelah melahirkan buah hatinya Pah," jelasnya Kabir Kasyafani.
Semua orang menutup mulutnya saking kagetnya mendengar perkataan kabar duka itu.
"Innalilahi wa innailaihi rojiun, kenapa bisa terjadi cucuku? Kenapa mertuamu mengalami hal yang seperti ini, padahal setahu kami beliau baik-baik saja ketika hamil anak bungsunya?" Tanyanya Bu Clara yang sulit mempercayai kenyataan yang ada.
"Katanya Jingga Mama Aliyah berteriak meminta tolong dan kondisinya sangat kritis dan tidak dalam keadaan yang baik-baik saja, sehingga mereka segera melarikan ke rumah sakit, dan akhirnya Mama harus menghembuskan nafasnya untuk terakhir kalinya," jelasnya Kabir.
Bu Hanin segera berjalan ke arah rombongan beberapa dokter dan perawat yang berjalan ke arah mereka.
"Maaf dokter saya ingin bertanya, bagaimana kondisinya Bu Aliyah dan apa yang terjadi padanya sehingga dia meninggal dunia, apa karena kehilangan banyak darah atau apa penyebabnya,kalau bisa dokter jelaskan pada kami," pintanya Bu Hanin.
"Salah satu penyebabnya itu Bu Aliyah kekurangan banyak darah, usia tua untuk hamil itu rentang terjadi masalah seperti konflikasi ketika persalinan terjadi, ketiga kemungkinan besarnya adalah Nyonya Aliya terjatuh sehingga semakin memperparah keadaannya," ungkapnya dokter.
"Suamiku cepat selidiki, kenapa bisa Bu Aliyah terjatuh apa semua ini murni karena kecelakaan atau kah karena ada campur tangan dari orang lain sehingga Bu Alia terjatuh," perintahnya Bu Hanin.
Pak Septa segera menghubungi asisten pribadinya itu untuk menyelidiki beberapa hal, kenapa bisa Bu Aliyah terjatuh sehingga menyebabkan kematian.
Jingga dan Leo segera dilarikan ke dalam ruangan unit gawat darurat dan segera mendapatkan penanganan medis dengan serius.
"Itu sudah pasti Nek, saya adalah suaminya yang bertanggung jawab penuh atas apapun yang terjadi pada istriku," sahutnya Guntur Aswin Nasution yang sedari tadi duduk di samping bangkar ranjangnya Jingga.
Sedangkan beberapa dokter masih memeriksa secara detail kondisinya Jingga yang masih belum sadarkan diri. Kabar kematian Aliyah segera tersebar ke seluruh anggota keluarganya,sanak famili dan kerabat dekat maupun jauh sudah mendapatkan kabar tersebut.
Pak Abbas mengurus persiapan menyambut kepulangan jenazah dari Aliyah besannya itu. Perempuan yang dikenal baik, lemah lembut, suka membantu dan menolong siapapun itu telah berpulang ke Rahmatullah untuk selamanya.
Setiap jiwa dan raga yang hidup di dunia ini pasti akan merasakan yang namanya meninggal dunia. semua yang hidup pasti akan mengalami namanya kematian. Hanya waktu dan tempat yang membedakan dari setiap manusia.
Kabir segera mengurus segala sesuatu yang berkaitan dengan kepulangan dari Mama mertuanya itu, sedangkan bayinya belum bisa dibawa pulang mengingat kondisinya ketika dilahirkan.
Senja berjalan sempoyongan ke arah dalam kamar khusus bayi. Di setiap sudut penjuru ruangan itu terdapat box bayi khusus bayi prematur.
Oek..
Owek..
__ADS_1
Suara tangisan dari beberapa bayi terlihat begitu jelas dari arah dalam ruangan tersebut. Air matanya tak henti-hentinya mengalir, tapi secepat itu pula dia menghapus jejak air matanya itu.
Senja melihat seorang perawat sedang memeriksa beberapa bayi, Senja pun berjalan ke arah perawat itu karena ingin bertanya bayinya mamanya alias adik semata wayangnya itu.
"Sore Mbak Sus, maaf saya mau tanya bayinya pak Leo Carlando Zain Pratama dengan ibu Aliya Azizah Khumaira yang mana yah?" Tanyanya Senja dengan ramah.
"Bayinya Bu Aliah ini Mbak yang bertuliskan namanya Ocean Skala Pratama," jawabnya perawat itu.
Senja tergugu dan hatinya mencelos ketika suster itu menyebut nama adiknya yang sudah mendapatkan nama yang begitu cantik dan indah.
"Ocean Skala Pratama," beonya Senja.
Senja kembali melangkahkan kakinya kemudian berjalan perlahan menuju box bayi yang di dalamnya terdapat bayi yang sangat kecil, bayi yang lahir prematur karena memiliki bobot tubuh yang cukup kecil dibandingkan bayi normal lainnya.
Senja hanya melihat adiknya tanpa sepatah katapun, hanya air matanya yang menyiratkan jika hatinya sangat sedih dan hancur.
Mama aku akan menjaga adik Ocean Skala Pratama, Mama tenanglah diperistirahatan terakhirnya Mama.
Semua sahabatnya Senja yaitu Zania Mirzani, Nayla Latifah, Icha Khaerunnisah dan pasangan masing-masing pun sudah mendatangi rumah sakit.
"Bibi Minah dan Mang Abdul aku titip adikku, tolong dijaga, karena saya dan yang lainnya akan segera pulang untuk mengurus segala sesuatu keperluan pemakamannya Mama," titah Senja ketika berpamitan sebelum balik ke rumahnya.
"Pulanglah Non Senja, serahkan pada kami baby Ocean, Anda urus saja prosesi pemakaman Nyonya Aliah saja, masalah baby kami akan mengatur segalanya," sahutnya Bi Minah.
Semua orang kembali ke rumah duka dalam keadaan yang tidak dalam keadaan stabil sedangkan Jingga dan Guntur masih Du rumah sakit.
Guntur segera berjalan ke arah dokter setelah memeriksa kondisi kesehatannya Jingga yang sudah sadarkan diri.
"Bagaimana dengan kondisi istriku Dok?" tanyanya Guntur yang keringat dingin bercucuran membasahi sekujur tubuhnya itu.
Dokter itu melengkungkan bibirnya hingga senyumannya terlihat begitu indahnya dan teduh sebelum menjawab pertanyaan dari Guntur.
"Alhamdulillah, selamat Pak Guntur Anda akan segera mendapatkan calon bayi secepatnya," balasnya Bu dokter Paramitha yang menangani kondisi kesehatannya Jingga beberapa hari terakhir ini.
Tubuhnya Guntur terhuyung ke belakang saking terkejutnya mendengar perkataan dari dokter kenalan papanya itu.
__ADS_1