Belum Berakhir

Belum Berakhir
Bab. 81. Hemm


__ADS_3

Senja diam-diam tersenyum menanggapi perkataannya sekaligus pujiannya Kabir khusus untuk puding buah kesukaannya Kabir.


"Entah itu karena tulus memuji kue buatanku atau hanya ingin membuat orang-orang berfikiran pernikahan kami ini sungguh sempurna bahagianya."


Tetapi, sejauh ini semuanya berjalan lancar dan sesuai apa yang aku inginkan. Aku sangat bersyukur dan bahagia karena putriku perlahan-lahan bisa menjalankan pernikahannya dengan baik seperti layaknya pernikahan kebanyakan orang di luar sana.


"Putriku menikah muda, tapi ia cukup sangat dewasa dan menjalankan tugasnya sebagai seorang istri, aku bangga padamu istriku karena kamu telah berhasil mendidik dan membesarkan kedua anak kembar kita dengan baik,"


Senja masuk ke dalam kamarnya setelah santap malam. Ia masih kepikiran dengan tanggung jawab dan kewajibannya sebagai seorang istri.


"Ya Allah apakah aku harus menyerahkan segalanya malam ini jika suamiku meminta kepadaku, tapi jika aku menolak pasti aku sangatlah berdosa, jujur saja aku bingung dengan semua ini. Andaikan waktu bisa diputar kembali aku tidak ingin berada di posisi ini,"


Senja memperhatikan pantulan cahaya bayangan dirinya di dalam cermin besar yang terpasang kokoh di tembok kamarnya. Kabir pun masuk ke dalam kamarnya karena sudah pukul sembilan malam.


Kabir memutar kenop pintu kamarnya dan tanpa memperhatikan apa yang sedang dilakukan oleh Senja di depan meja riasnya.


"Pak Kabir kalau mau mandi itu pakaian ganti di atas ranjang sudah saya siapkan, semoga saja suka dengan warna piyama tidurnya," ujarnya Senja yang tidak mengalihkan perhatiannya dari cermin tersebut.


"Makasih banyak," ucap Kabir.


"Tidak perlu berterima kasih juga pak seperti itu. Lagian ini sudah menjadi tanggung jawabku sebagai istrinya bapak," imbuhnya Senja yang membuka handuk penutup kepalanya itu.


Kabir tersenyum mendengar perkataannya Senja ia pun berjalan ke arah meja rias dimana istrinya berada.


"Aku akan mengetes apakah kamu siap dengan hal itu jika aku berpura-pura memintanya langsung. Walau aku belum siap untuk melaksanan dan meminta hakku karena aku tidak ingin melakukannya jika kamu terpaksa tanpa ada cintamu di dalamnya,"


Kabir tersenyum smirk ke arah Senja yang mengurai rambut panjangnya yang masih sedikit basah itu. Kabir kemudian berdiri dan salah satu tangannya bertumpu di atas meja nakas rias tersebut.


Sedangkan tangan satunya memainkan helai demi helai rambut hitam legam panjangnya Senja dengan penuh sensual dan kelembutan.

__ADS_1


"Kamu sungguh cantik malam ini, apakah aku bisa meminta hakku malam ini?" Tanyanya Kabir yang terus mengendus wangi aroma sampo yang sabun dari tubuhnya Senja yang masih jelas tercium harumnya.


Awalnya Kabir hanya ingin mengetes sempai sejauh mana sikapnya Senja padanya jika ia berbicara seperti itu. Tapi akhirnya ia terbawa suasana karena pria normal sehingga dia sulit untuk mengontrol dirinya sendiri.


Senja yang diperlakukan seperti itu cukup merinding kegelian hingga sekujur tubuhnya bergetar hebat. Senja berusaha menutupi rasa gugupnya sendiri agar tidak ketahuan oleh Kabir.


Senja menatap suaminya melalui kaca cermin riasnya," kalau Pak Kabir ingin melakukannya silahkan saja pak, karena aku adalah istrimu,"


Seperti mendapatkan sinyal lampu hijau sehingga Kabir langsung berubah haluan dari tes saja menjadi niat. Kabir menyentuhkan dagunya di pundaknya Senja yang sedikit terbuka, karena memang memakai piyama yang cukup seksi dibandingkan hari-hari sebelumnya sebagai persiapan dirinya untuk unboxing malam ini.


Kabir tersenyum smirk melihat Senja yang pasrah tanpa banyak drama penolakan seperti pengantin kebanyakan di dalam novel jika menikah tanpa dasar cinta.


"Aku akan buktikan padamu malam ini jika aku sangat mencintaimu dan akan memperlakukan kamu dengan begitu baik dan penuh kelembutan,"


Kabir segera menggendong tubuhnya Senja dan memangkunya. Mereka bertukar posisi. Awalnya Senja yang duduk di kursi sekarang Kabir yang memangku tubuhnya Senja di kursi tersebut.


Senja yang mendapatkan perlakuan seperti itu reflek menundukkan kepalanya, karena malu jika mereka bertatapan langsung.


Jemari tangannya yang lentik itu memainkan ujung rambutnya Senja, turun perlahan ke pipi hingga hidung mancungnya Senja. Hingga mendarat ke bibirnya Senja yang mungil dan merekah merona bak buah delima. Kabir seolah belum puas memainkan bibirnya Senja hingga ke dagu lancipnya Senja.


"Jangan menundukkan kepalamu, karena Abang ingin melihat kamu dalam busana seperti ini," imbuhnya Kabir yang berbicara tepat di ujung telinganya Senja.


Senja reflek mengangkat wajahnya hingga keduanya pun saling bertatapan satu sama lainnya.


"Abang sangat menyukai penampilan kamu seperti ini, tapi Abang minta mohon dan minta padamu jangan pernah sekali-kali untuk berpakaian seksi di hadapan pria lain selain Kabir Kasyafani Sanders,ingat itu baik-baik,"


Senja hanya menganggukkan kepalanya dan tidak berani menentang apapun yang dikatakan oleh suaminya itu. Kedua bulu mata lentik nya Senja tak berkedip sedikitpun.


"Abang suka kamu yang penurut seperti ini, kamu tahu tidak kamu adalah perempuan yang pertama aku sukai di dunia ini, sejak pertama kali aku masuk ngajar di kelasmu, hari itu aku putuskan untuk mendapatkan kamu dengan cara apapun dan setiap sujudku aku selalu berdoa kepada Allah SWT agar kelak kita berjodoh di dunia hingga ke akhirat,"

__ADS_1


Senja membelalakkan matanya mendengar perkataan dari suaminya itu," aku tidak boleh tertipu dengan apa yang dikatakan oleh Pak Kabir, tidak masalah aku berikan mahkotaku hanya untuk pak Kabir seorang tapi hatiku aku belum bisa karena aku takut jika rumah tanggaku kedepannya seperti Mama dan papa yang terpisah karena orang ketiga,"


Kabir mulai mendekatkan wajahnya ke arah wajahnya Senja hingga kedua hidung mancung mereka saling bertabrakan satu sama lainnya.


Senja spontan menutup kedua kelopak matanya itu dan menatap menunggu hingga Kabir melakukan hal yang diinginkan oleh Kabir di atas tubuhnya itu.


Tok.. tokk…


Hingga suara ketukan pintu mampu membuyarkan lamunannya Senja. Yang sudah berfikiran macem-macem sedangkan suaminya itu sedang membersihkan sekujur tubuhnya di dalam kamar mandi. Kabir mandi dengan air hangat karena sudah pukul sembilan malam.


Senja tersenyum menertawai dirinya sendiri yang sudah membayangkan hal-hal aneh. Ia menepuk keningnya, karena tidak menduga jika apa yang dilihatnya barusan adalah hanya angan-angan semata saja. Bukanlah seperti yang diimpikannya.


"Senja kamu sudah tidur nak?" Teriak seorang dari arah balik pintu.


Senja segera meraih jaket sweater hoodienya dan juga hijab rumahannya itu.


"Tunggu Ma," balasnya Senja.


Senja segera berjalan terburu-buru ke arah pintu, Senja membuka pintunya hanya sebagian saja dia tidak ingin ada orang lain yang melihat dia berpakaian yang buat cukup merinding dan buat dia akan malu jika ada yang mengetahui keadaannya sekarang.


"Ini ada titipan dari Mama mertuamu katanya pakaian khusus untuk Kabir suamimu. Ini kiriman dari bundanya Kabir Bu Hanin Mazaya," ucap Bu Aliyah sambil menyerahkan paper bag tersebut ke dalam tangannya Senja.


"Makasih banyak Ma," balas Senja yang sedikit meninggikan suaranya itu juga.


Aliya memperhatikan gerak gerik putri keduanya itu dengan seksama. Hingga senyuman terbit dari sudut bibirnya itu melihat sepintas pakaian yang dipakai oleh putrinya itu


"Alhamdulillah semoga ini awal dari hubungan baik mereka ya Allah,"


Yang berhak dapat give away kecil-kecilan yaitu khusus pembaca yang setiap hari Like, Komentar, baca novel aku.

__ADS_1


Tiga syarat terpenuhi barulah dapat ga. jadi jangan mau ketinggalan yah.


__ADS_2