Belum Berakhir

Belum Berakhir
Bab. 126. Ketahuan


__ADS_3

Hakim Rahman terkejut mendengar perkataan dari perempuan yang pernah menghabiskan semalam bersamanya. Mereka sama-sama dalam kondisi dan keadaan yang terpaksa.


"Dokter Hana, aku sudah berbuat kesalahan besar, aku tidak ingin menambah dosaku untuk membuang anak ini, tapi aku meminta kepada kalian dengan sangat tolong jangan katakan pada siapapun juga, jika saya hamil diluar nikah, aku sangat malu jika ketahuan oleh orang lain," ucapnya sendu Icha Khaerunnisa.


Dokter Hana tersenyum simpul," kalau itu sudah menjadi pilihan dan keputusan kamu dalam hidupmu, saya tidak berhak untuk mencampuri urusan pasien atau pekerja di perusahaan Sanders mengingat saya hanya dokter yang ditunjuk oleh Pak Kabir Khasyafani saja, bukan ranahku untuk mengorek informasi tentang kehidupan semua orang," imbuhnya dokter Hana calon adik iparnya Guntur Aswin Nasution.


Hakim Rahman tubuhnya terhuyung ke belakang saking terkejutnya mendengar kejujuran dari perempuan yang diperawinya tanpa sengaja.


Astauhfirullah aladzim ini tidak mungkin,kami hanya melakukannya sekali saja waktu itu. Dan itu juga bukan karena keinginan kami berdua, tapi gara-gara relasi bisnis pak Kabir yang dari Jepang memaksa kami untuk minum satu bulan yang lalu.


Bugh!!


Hakim meninju tembok pembatas klinik tersebut.


"Ahhh!! Ini pasti tidak mungkin, bagaimana jika ayah dan ibu mengetahui kesalahanku ini sedangkan saya sudah dijodohkan dengan anaknya Paman Samad, apa yang harus aku katakan kepada kedua orang tuaku!"


Hakim saking kesalnya sampai-sampai meninju dinding beberapa kali. Fajry Bachan, Senja Starla, Naysila Rahmadani dan Zania Mirzani menautkan kedua alisnya mereka ketika melihat apa yang dilakukan oleh seorang pria yang biasanya nampak sangar itu.


"Hey! Apa yang terjadi padamu! Kenapa kamu bego banget memukuli tembok yang sama sekali tidak berdosa itu!" Ketusnya Fajri.


Hakim menatap tajam ke arah sahabatnya itu," kamu tidak perlu repot-repot mengetahui apa yang terjadi padaku, kamu jangan sok suci di depanku!" Geramnya Hakim sambil berlalu dari hadapan mereka semua.


Fajri terkejut mendengar perkataan dari temannya itu," astaughfirullahaladzim apa jangan-jangan anak itu sudah saraf yah! Tidak seperti biasanya kali ini bertingkah aneh setelah dari dalam ruangan pemeriksan.


"Mungkin lagi pms kali Pak Fajri," candanya Naysila.


"Hahaha! Bukan seperti itu mungkin dia kelaparan sampai-sampai ngomongnya ngelantur, rada-rada gila dan juga seperti orang yang kesurupan,iya gak sih!" Tebaknya Zania yang terkekeh mendengar perkataan candaan dari Zania.


Senja menatap intens ke arah pintu klinik, entah kenapa aku berasa jika Hakim bertingkah aneh karena ada kaitannya dengan Ica, ya Allah apa yang sebenarnya terjadi disini.

__ADS_1


"Kalau gitu kita masuk cek apa yang terjadi pada Ica, lupakan saja apa yang merasuki Pak Hakim," ucap Zania.


Mereka berempat segera masuk ke dalam kamar perawatan klinik perusahaan tersebut. Mereka melihat Icha yang sudah bersiap untuk kembali bekerja.


"Icha gimana keadaan kamu sekarang? Kalau masih sakit kamu istirahat saja, insha Allah tidak akan ada yang komplen dengan kejadian ini," imbuh Senja.


Icha menatap ke arah Hana sebelum menjawab pertanyaan dari Senja, "Tidak apa-apa kok, aku seperti ini karena belum makan saja," kilahnya Ica yang tidak mungkin secara terang-terangan dan gamblang mengatakan jika dia hamil anaknya Hakim.


"Kalau gitu saya permisi dulu, karena masih ada urusan penting di luar, saya tinggal dulu yah Icha, ingat kamu harus banyak istirahat dan makannya harus teratur agar magnya tidak kambuh lagi," nasehatnya dokter Hana sembari memberikan selembar kertas resep obat dan vitamin khusus ibu hamil untuk Icha.


"Makasih banyak dokter atas bantuannya," ujarnya Icha seraya membungkukkan sedikit badannya kehadapannya Hana Aerin Pradipta.


Hana hendak pergi dari dalam ruangan tersebut, tapi segera terhenti ketika pintu ruangan terbuka lebar. Dan masuklah seorang pria muda yang kira-kira seumuran dengan Kabir yang tersenyum lebar melihat Hana.


"Siang,maaf saya sudah menganggu pekerjaan dokter," ujar pria muda itu.


Senja yang seperti mengenali suara orang yang berbicara itu segera mengarahkan pandangannya ke arah pria itu.


Hana dan laki-laki yang baru saja muncul disapa oleh Senja mengarahkan pandangannya ke arah Senja. Hana menautkan kedua alisnya melihat Senja yang belum pernah dilihatnya sama sekali sedangkan Adnan Hamesh tersenyum ramah.


"Ehh kakak ipar, saya kira siapa perempuan cantik yang menyapaku! Ngomong-ngomong gimana dengan kondisi calon ponakanku, apa dia baik-baik saja?" Tanyanya Adnan yang berjalan ke arah Senja.


Apa jadi dia adalah kakak iparnya mas Adnan, tapi aku perhatikan dia adalah anak magang disini.


Afnan merangkul pinggangnya Hana dengan posesif,"Perkenalkan ini adalah calon istriku Hana Aerin dan dia adalah Senja menantu kesayangannya Aunty Hanin Mazaya, istrinya abang Kabir," terangnya Adnan yang memperkenalkan keduanya tanpa peduli dengan tatapan keheranan dari Naysila dan Ica.


"Kamu bisa saja, tunangannya dokter ini paling pinter ngegombal loh dibandingkan dengan ketiga sepupunya yang lain, Guntur Aswin dan abang Kabir Kasyafani suamiku tidak seperti dia loh," ucap Senja yang sengaja berkata seperti itu untuk melihat apakah Hana tipe perempuan yang cemburuannya tinggi.


"Hahaha, ternyata memang benar jika calon suamiku ini selalu pintar ngerayu semoga saja hatinya hanya untukku seorang tidak akan ada yang lain baik kedua atau perempuan ketiga lainnya," ungkapnya Hana yang blak-blakan berbicara mengenai kisah asmara keeduanya itu.

__ADS_1


Semua orang tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan dari Hana, semua cepat akrab. Walaupun berbincang-bincangnya saking bahagianya sampai-sampai mereka berdiri saja sedari tadi.


"Apa Senja Starla Airen Zain Pratama kamu hamil!" Teriaknya Naysila dan Icha bersamaan.


Zania kembali memukuli pundak kedua sahabatnya itu secara bergantian.


"Ya Allah apa kalian kalau kaget itu bicaranya pakai volume satu saja, tidak perlu juga harus mengeraskan suara kalian seperti ini!" Gerutunya Zania yang bergantian menepuk pundaknya Naysila dan Ica.


"Kenapa emang kalau kami ribut dan orang-orang mengetahui kondisi kamu yang hamil! Tapi ngomong-ngomong apa benar-benar kamu sudah menikah?" Tanyanya Naysila yang masih tidak percaya dengan apa yang didengarnya itu.


Semua orang menganggukkan kepalanya kecuali Hana dan Senja. Mereka spontan mengangguk mendengar pertanyaan dari Naysila.


Naysila langsung menarik tubuhnya Senja kedalam pelukannya," selamat yah cinta kamu akan segera menjadi seorang ibu dari anak-anaknya pak Kabir, semoga kamu hamilnya lancar dan sehat selalu hingga melahirkan bayi kembar yang sehat,"


"Amin ya rabbal alamin," jawab mereka semua tanpa terkecuali.


"Kakak ipar saya permisi dulu yah, calon istriku sepertinya sudah selesai bekerja, saya mau ajak cek pakaian gaun pengantin kami dulu," pamit Adnan.


"Hati-hati yah dokter Hana, bahaya loh jalan dengan dia entar dokter Hana digigit lagi," guraunya Senja.


Adnan menghentikan langkahnya ketika berada di depannya Senja. "Kakak ipar bisa saja, saya pinjam dulu dokter cantiknya, insha Allah agak sore baru antar kesini lagi, oiya apa bang Kabir akan balik minggu depan untuk hadiri pernikahan kami atau enggak Mbak Senja?" Tanyanya Afnan.


Senja terdiam dan tidak tau harus jawab apa sedangkan dia sudah sebulan lebih tanpa ada komunikasi apapun yang terjadi di antara kedua pasangan suami istri itu.


Ya Allah aku harus jawab apa sedangkan aku sama sekali sudah tidak pernah berkomunikasi dengan Abang Kabir.


Entah kenapa aku sangat sedih dengan perpisahan ini, padahal aku sendiri yang memutuskan untuk berpisah.


Tapi, ngomong-ngomong penyakitku Alhamdulillah sudah sebulan lebih juga tidak aku rasakan selama beberapa hari ini.

__ADS_1


Padahal aku sudah stop minum obat selama aku hamil anak pertama kami. Apa sebaiknya besok aku ke rumah sakit saja untuk mengecek kembali kesehatanku.


__ADS_2