Belum Berakhir

Belum Berakhir
Bab. 182


__ADS_3

Jingga yang sebenarnya belum bisa tidur, karena kesulitan memejamkan matanya tanpa sengaja melihat ke arah suaminya yang berdiri mematung.


Apa yang terjadi padanya, apa dia merasa risih satu kamar denganku yah atau mungkin karena kamarku kecil tidak seperti kamarnya.


Berbagai macam pemikiran yang muncul dan bersilewaran di dalam kepalanya Jingga, tapi dia juga sungkan untuk bertanya kepada suaminya kenapa hanya dia terdiam mematung.


Jingga kembali melakoni aktingnya yang berpura-pura tertidur. Hingga suara bariton seseorang terdengar jelas di telinganya bersamaan dengan ranjangnya yang bergoyang, ketika Guntur duduk di tepi ranjang.


"Jingga, sudah tidur yah?"


Aku mengusap pelan pipi istriku. Aku memberanikan diri untuk menyentuhnya, karena aku takut mendapatkan penolakan lagi seperti beberapa hari lalu ketika di vila milik adik sepupu sekaligus adik iparku Kabir Kasyafani.


Jingga membuka matanya lalu mengerjap-ngerjap kemudian melengkungkan bibir tipisnya.


Jingga terduduk bersila tepat di samping suaminya itu," ada apa Mas. Apa Mas butuh sesuatu?"


Tanyanya perempuan bermanik coklat itu sambil menggenggam ujung selimutnya seperti menutupi seluruh tubuhnya yang memakai piyama tidur yang cukup transparan dan seksi.


Guntur memperhatikan apa yang dilakukan oleh Jingga dengan tatapan yang sulit diartikan itu. Hingga membuat Jingga salah tingkah dan merutuki kebodohannya itu.


Sial!! Ini gara-gara Senja dan Zania Mirzani yang menyuruhku untuk memakai pakaian kekurangan bahan seperti ini. Bahkan parahnya seisi lemariku hanya berisi pakaian yang sangat tipis dan piyama tidur yang sering aku pakai raib entah kemana.


"Tidak, Jingga, aku hanya enggak bisa tidur,"


Jawabku sekenanya saja padahal aku baru saja masuk ke dalam kamar dan belum mencoba untuk memejamkan mataku.


Jingga menatap intens ke arah suaminya itu," Ndak betah yah, Mas?"


Netra beningnya sebening tetesan kristal embun pagi tidak lepas dari wajahku.


"Hemph, bukannya Mas baru saja masuk ke dalam kamar?" Tampiknya Jingga yang membuat suaminya salah tingkah dan gelagapan.


Guntur Aswin memegangi tengkuk lehernya yang tidak gatal itu," aku mau tidur tapi," ucapannya terpotong karena aku segera memotong pembicaraannya.


"Maaf yah, Mas kalau kamarnya jelek dan sempit enggak seperti kamarnya Mas di rumah sana!" Ucapnya Jingga yang segera menyibak selimutnya yang menutupi sebagian tubuhnya hingga dadanya itu.


Guntur semakin dibuat kelimpungan dan kesusahan menelan air liurnya saking terkejutnya melihat bentuk tubuhnya Jingga yang selama ini selalu tertutup pakaian longgar dan hijab.


"Bukan itu maksudku, bukan itu masalahnya Koke, aku nyaman berada disini," jawabku sekenanya saja.


"Mas mau langsung tidur atau,,?" Dia menggantung kalimatnya, tapi wajahnya Jingga kian bersemu merah ketika aku intens memperhatikannya dengan lekat.


"A-ku a-nu sudah ngantuk banget,Jingga. Kita tidur saja yah," balasku ketika dia bertanya padaku.


"Iya Mas," balas Jingga yang mulai kembali merebahkan tubuhnya di sampingku yang masih terduduk.


Jingga mematikan lampu utama mengganti dengan lampu yang remang-remang saja sehingga pencahayaan di dalam sana tidak terlalu jelas.

__ADS_1


Aku harus tetap memenuhi kewajiban dan kebutuhan suamiku. Iya memang aku akui aku belum mencintainya, tapi kewajiban tetap harus dipenuhi.


Ada desiran aneh yang muncul di dalam hatiku ketika melihat pakaian yang dipakainya itu. Jingga bukannya tidur, tapi malah kembali terduduk di sampingku.


Perempuan berambut panjang itu mendekatiku dan duduk semakin mendekatiku. Jantungku seperti hendak melompat dari dalam singgasananya,takkala tanpa sengaja pandangan kami saling bertemu dan bertaut.


Jingga tersenyum malu-malu, membuatku laju darahku kian cepat serta memanas. Baru kali ini aku melihatnya bertingkah seperti ini sedangkan kesehariannya terlihat tangguh, jutek, tomboi dan cuek.


Jingga menggerai rambutnya sebelum mengikatnya, aku melihat leher jenjangnya yang putih mulus itu.


Aku berusaha untuk membenarkan posisi dudukku. Rasanya ada yang aneh, dan aku belum pernah merasakan hal semacam ini sebelumnya. Jingga mampu membuatku kalang kabut hanya melihatnya berpakaian tembus pandang.


Aku semakin kesulitan mengontrol diriku sendiri. Ya Allah apa seperti ini yang dirasakan oleh setiap pengantin baru di malam pertamanya.


Jingga semakin dibuat salah tingkah saja dengan apa yang dilakukan oleh Jingga yang hanya memperbaiki ikatan rambutnya saja.


"Aku bobok dulu, Mas kalau butuh sesuatu katakan saja padaku, enggak perlu sungkan," ujarnya Jingga yang berpamitan untuk tidur sambil kembali menarik selimutnya bedcover itu.


"I-ya, Jingga. Silahkan!" Ucapku dengan tergagap.


Astaughfirullahaladzim, ah! Kenapa malah seperti ini. Mengapa aku menjadi kaku seperti ini berada di dalam kamar berduaan dengan istriku sendiri. Padahal biasanya dengan klien atau sekretarisku aku tidak pernah secanggun dan segrogi kayak gini.


Guntur menyusul istrinya, ia merebahkan tubuhnya tepat di sebelahnya Jingga sambil menatap langit-langit kamar pengantinnya yang masih berhiaskan dengan dekorasi ala pengantin baru.


Tadi sudah benar-benar mengantuk, sekarang aku malah terjaga. Aku melirik Jingga yang sudah terlelap dalam tidurnya. Aku mulai menatap wajahnya yang cantik yang polos tanpa make up apapun yang menghiasi kecantikan alaminya.


Aku pun membaca doa sebelum tidur. Berusaha untuk memejamkan mata meski tidak bisa.


Aku sudah bolak-balik tubuhku, tapi masih tetap kesulitan untuk tertidur. Entah karena ini pertama kalinya dalam hidupku seranjang dengan orang yang berjenis perempuan yah.


Aku pun membaca doa dalam hati berharap, aku juga ikut terlelap dalam buaian mimpi seperti yang dilakukan istriku.


Aku merasakan ranjang di sebelahku bergoyang, aku segera memejamkan mataku berpura-pura tertidur agara Jingga tidak mengetahui apa yang terjadi padaku. Aku sungguh sangat malu jika dia mengetahui apa yang terjadi padaku.


"Jangan berpura-pura tidur Mas Gun, aku tahu kok kalau Mas kesulitan untuk tertidur,iya kan benar tebakanku," ucapnya Jingga yang membuka percakapan mereka.


Guntur pun membuka kelopak matanya dan mengarahkan pandangannya ke arah Jingga hingga kedua netra hitam kecoklatan mereka saling bertemu dan beradu pandang.


Entah keberanian dari mana yang dimiliki oleh Guntur dan langsung mengecup sekilas bibirnya Jingga tanpa aba-aba. Sedangkan Jingga hanya melototkan matanya saking terkejutnya melihat apa yang dilakukan oleh suaminya itu.


Aku melihat Jingga melotot ketika aku mengecup bibirnya aku pun segera meminta maaf kepada istriku.


"Maafkan mas aku sudah terlalu lancang melakukannya tanpa meminta izin terlebih dahulu padamu," ucap sesalnya Guntur.


Jingga segera menetralkan perasaannya ketika mendapatkan ciuman yang begitu tiba-tiba. Wajahnya langsung bersemu merah. Walaupun dalam keremangan malam yang minim pencahayaan,tetapi aku cukup jelas melihat kedua pipi istriku semakin memerah dan membuatku semakin bern*fsu dan berg*irah melihatnya yang seperti anak kecil saja.


Kami saling berpandangan, hingga akhirnya aku kembali memberanikan diri untuk mencium pipinya, mendaratkan bibir ini di tempat yang sama seperti semula.

__ADS_1


Aku pun mengatakan bahwa aku ingin meminta hakku sebagai seorang suami, tepat di telinganya yang tidak tertutupi hijab malam itu.


Jingga hanya tersenyum simpul sambil menganggukkan kepalanya, pertanda aku sudah mendapatkan ijin dan tidak mendapatkan penolakan sedikitpun.


Awalnya aku terkejut karena aku mengetahui jika Jingga sama sekali belum mencintaiku,tapi malam ini dia sukarela menyerahkan sepenuhnya kepadaku dirinya seutuhnya.


'Bismillahi Allahumma jannibnaassyyaithaana wa jannibi syaitoona maarazaqtanaa.'


Aku membaca doa dalam hati sebelum melakukannya.


"Mas!" Jingga mendorong lembut dada bidangku.


Guntur menautkan kedua alisnya mendengar perkataan dari Jingga.


"Kenapa?" Tanyaku dengan suara serak menahan gelora di dadaku yang semakin bergelora.


Dia menggeleng pelan, dan mengigit bibir bawahnya, aku melihat matanya sudah dipenuhi dengan berkaca-kaca.


Hemph, apa dia belum siap menyerahkan sepenuhnya kepadaku?


Wajahnya tertunduk di depanku, aku melihat ada sesuatu yang ingin disampaikan oleh Jingga padaku.


Aku menghalau anak rambutnya yang tergerai menutupi wajahnya itu, "Apa kamu belum siap, Jing? Kalau kamu belum siap aku tidak akan memaksa kau walau aku sangat menginginkannya." Aku menghentikan aktifitasku.


"Mas katanya sakit kalau gitu," ujarnya dengan malu-malu.


"Aku tidak akan pernah menyakiti kamu Jingga Aurora Ainah Zain, kita akan melakukannya dengan sangat hati-hati dan pelan-pelan saja kok," balasku dengan mataku yang sudah sayu karena berusaha untuk menahannya.


Jingga menganggukkan kepalanya, lalu kucium penuh kasih sayang dan kelembutan ujung rambutnya. Entah kenapa kami tidak merasakan hingga seluruh p*kaian kami sudah berhamburan dan tercecer di atas lantai keramik yang bertaburan kelopak bunga mawar merah.


"Kamu tahan yah sayang, awalnya memang sangat sakit tapi lama-lama kamu akan ket*gihan kok, mas akan memulainya dan kalau sakit kamu tinggal ngomong saja padaku," ucapnya Guntur.


"Nggak apa-apa kok Mas, sudah kewajiban aku ini, kalau ditunda juga rasanya tetap sama nantinya.


Jingga dan Guntur kembali saling merapatkan tubuhnya hingga kembali menghadirkan gelenyar aneh dalam hati dan tubuh kami berdua.


Suara de saa haann dan peluh keringat bercucuran membasahi sekujur tubuh kedua pasutri itu yang pertanda mereka sudah sama-sama saling menyalurkan kasih sayang mereka dalam ikatan tali suci pernikahan.


"Augh… aagh, sakit!" Teriaknya Jingga suaranya yang tertahan karena dia perlahan mengigit bibirnya.


Guntur melihat istrinya seperti kesakitan ketika dia berhasil membobol pertahanan pertama hingga ketiga yang dimiliki oleh Jingga.


"Tahan sayang sedikit lagi, aahhh!"


Jeritnya yang cukup panjang Guntur pertanda apa yang mereka lakukan sudah mencapai klimaksnya di tengah malam buta itu.


"Aku sangat mencintaimu Jingga Aurora Ainah, aku tidak bisa hidup tanpamu," tuturnya Kabir sebelum tumbang di sampingnya Jingga.

__ADS_1


Jingga hanya membalas senyumannya perkataannya Guntur yang sudah tumbang tak berdaya.


__ADS_2