
Sebaiknya aku tunda dulu untuk bertanya apa hubungannya dengan perempuan hamil itu, karena aku ingin hari ini adalah khusus hari untuk kami berdua.
Masalah perempuan itu aku kesampingkan sementara waktu, tapi aku akan tetap bertanya nantinya.
Senja mengurungkan niatnya untuk bertanya mengenai perempuan hamil itu, menurutnya bukan waktu yang tepat untuk bertanya.
Senja yang melihat suaminya tertawa terbahak-bahak segera memajukan wajahnya sehingga semakin terkikis sudah jarak keduanya.
Senja langsung mendaratkan ciumannya di bibirnya Kabir yang terbuka lebar. Senja menarik tengkuk lehernya Kabir dan memegangi kuat leher suaminya itu.
Senja tanpa ragu kembali memperdalam ciumannya itu hingga tanpa ragu meee luuu maat bibirnya Kabir. Dia ingin mendominasi permainan yang sedang mereka lakukan.
Kabir sangat bahagia karena Senja semakin tertantang untuk meladeni Senja, tapi baru saja menikmati ciuman itu. Tangannya Kabir mulai menjalar kemana-mana, di dalam gamis yang dipakai Senja.
Suara klakson berbunyi dan berdengung saling bersahut-sahutan, ketika mobilnya Kabir masih tidak bergerak sama sekali padahal lampu hijau sudah menyala.
Pip…
Bip..
Suara klakson semakin menggema hingga memekakkan telinga saking besarnya suara klakson dari semua mobil yang berada di belakang mobilnya Kabir.
Seorang pria menyembulkan kepalanya ke arah luar jendela mobilnya," hey!! Pak kenapa mobilnya belum jalan juga!! Kami bisa-bisa terlambat menikahi kekasihku kalau seperti ini!" Teriaknya seorang pria dengan suara yang cukup menggelegar.
"Mas aku tidak kuat lagi aku akan sepertinya melahirkan di jalan," keluhnya seorang perempuan hamil.
"Sabar yah, saya akan keluar ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi kenapa masih macet," ucapnya suaminya.
Pria itu yang berkumis itu segera keluar dari mobilnya, Senja dan Kabir segera tersadar dari apa yang dilakukannya setelah mendengar ketukan dari pintu kaca jendela mobilnya.
Tokk..
__ADS_1
Tok..
Senja melihat kedatangan pria berkumis yang raut wajahnya nampak sangat cemas dan takut itu, sehingga dia segera mendorong tubuhnya Kabir dan spontan memperbaiki posisi duduknya itu.
Astaughfirullahaladzim apa yang terjadi padaku, kenapa aku semakin tidak bisa mengendalikan diriku sendiri.
Senja merasa dalam keadaan yang sangat canggung, kedua kalinya dalam sehari ini dia memperbaiki posisi pakaiannya yang sedikit berantakan itu.
Kabir mengerang keras saking kesalnya karena kedua kalinya kegiatannya yang sudah nyaman dan enak kembali tengganggu.
Sial!! Kenapa aku merasa selalu tidak bisa berduaan dengan istriku!
Reader ampuni Kabir yah saking kangennya terhadap istrinya sampai kehilangan akal.
Kabir segera menurunkan kaca jendela mobilnya itu, Senja tersenyum kikuk karena cukup malu kepergok sedang bermesraan dengan suaminya itu. Kabir tersenyum terpaksa karena, masih sangat kesal dengan orang yang dianggapnya menganggu kesenangannya.
"Halo!! Pak lampunya sudah hijau sejak tadi, Jadi kami mohon jalankan mobilnya soalnya istriku bisa-bisa melahirkan di dalam mobilku jika menunggu lebih lama lagi," ujarnya pria berkumis itu.
"Tidak apa-apa Bu, tapi tolong minta suaminya untuk segera menyalakan mesin mobilnya dan segera mengemudikan mobilnya," perintahnya pria itu lagi.
"Maafkan kami sekali lagi Pak, kami akan segera pergi tapi tolong sampaikan kepada istrinya bapak jika kami tidak berniat untuk menghambat perjalanan kalian," imbuhnya Senja yang sangat malu karena gara-gara ulahnya yang memancing suaminya itu sehingga terjadilah hal-hal yang tidak diinginkan.
Pria itu hanya menggelengkan kepalanya dan Kabir segera mengemudikan mobilnya dengan kecepatan yang cukup tinggi. Dia sebenarnya malu dan tidak enak, karena sudah cukup membuat kacau lalu lintas dan membuat perjalanan orang yang terhambat.
Senja mengelus punggung tangan suaminya itu dan tersenyum untuk menenangkan hatinya Kabir.
"Jangan seperti ini bang, kita disini posisinya yang bersalah jadi wajarlah mereka marah, jengkel dan komplen dengan sikapnya abang dan juga terhadapku.
Kabir mendengarkan perkataan istrinya dan merasa apa yang dijelaskan oleh istrinya itu benar adanya.
"Aku mengalah kali ini karena memang aku yakin jika aku yang memang salah,tapi ingat jangan sekali-kali pernah menghindar lagi jika aku menginginkan dirimu," tuturnya Kabir.
__ADS_1
Kabir segera mengemudikan mobilnya dengan sangat pelan karena ingin menikmati perjalanannya berdua hanya berdua saja bersama dengan istrinya tercinta.
Senja menoel hidung mancungnya Kabir," siap suamiku apapun yang kamu inginkan selama tidak mengganggu ketiga calon anak kembar kita,"
"Sumpah! Kamu seriusan akan melakukan apapun yang aku inginkan yang paling penting aku bahagia?" Tanyanya Kabir yang tersenyum smirk.
Senja kembali bergidik ngeri saking takutnya melihat senyuman dan tatapan penuh artinya Kabir.
"Kalau apapun sepertinya enggak bisa kalau nyuruh yang aneh-aneh dan tidak sesuai dengan ajaran agama kita maaf aku tidak bisa, tapi kalau hal itu berhubungan dengan hal yang baik kenapa enggak suamiku satu-satunya di dunia ini," imbuhnya Senja yang meyakinkan Kabir.
Kabir segera menepikan mobilnya ke pinggir badan jalan trotoar agar memudahkan mereka berbincang-bincang. Kabir juga sengaja memperlama perjalanannya, karena apartemen yang akan didatanginya bersama dengan Senja untuk pertama kalinya itu belom selesai didekorasi seperti yang dia inginkan untuk memberikan surprise kepada istrinya itu.
Aku ingin melewati hari-hari kita kedepannya dengan canda tawa dan penuh bahagia. Aku berjanji tidak akan pernah membuat kamu menitikkan air matamu lagi.
Aku sudah pernah sekali memutuskan untuk pergi dari dirimu untuk selamanya,tapi pada kenyataannya aku tak sanggup. Aku tak mampu untuk melakukannya.
Tiga bulan bagiku seperti tiga tahun, aku tidak sanggup bernafas normal tanpa dirimu disisiku.
Kabir mengelus wajahnya Senja dengan jari-jemarinya itu dengan memainkan hidung mancungnya istrinya itu dan juga bibir merah merona bak merah delima yang merekah.
"Okey, baiklah saya akan menagih janji kamu kali ini, tapi jika tidak memenuhi apapun yang aku inginkan aku tidak akan segan-segan untuk pergi dari sini untuk selama…" ucapannya Kabir terpotong karena Senja menaruh jari telunjuknya ke depan bibirnya Kabir.
"Jangan pernah katakan hal ini lagi suamiku aku tidak sanggup untuk mendengarkan perkataan yang tidak baik dari bibirmu, selama ini aku sudah tersiksa hidup tanpa Abang, setiap saat setiap jam aku harus melewati hari-hariku tanpa kehadiran abang,"
Kabir terdiam menunggu Senja meyelesaikan perkataannya sehingga tidak berniat untuk menyela ataupun menyanggah sedikitpun apapun itu yang diucapkan oleh Senja. Kabir tak berkedip sedikitpun mendengarkan perkataan dari istrinya.
Senja mengecup punggung tangannya Kabir berulang kali," abang aku tidak ingin seperti itu lagi, aku berharap Abang tidak akan marah padaku lagi kedepannya dan tidak akan pernah meninggalkan aku lagi karena aku tidak akan sanggup jalani hidupku dengan baik tanpa kehadiran laki-laki yang paling aku cintai dalam hidupku,"
"Kalau aku pergi untuk selamanya dari dirimu apa yang akan kamu lakukan?" Kabir kembali memainkan bibir mungilnya Senja dengan tatapan matanya yang tidak pernah berhenti menatap Senja.
Senja bukannya menjawab pertanyaan dari suaminya itu, tapi malah menitikkan air matanya tanpa ragu dan sungkan. Bibirnya bergetar, hidungnya sudah memerah karena menangis. Kabir ingin melihat istrinya terus menangis sambil mengeuarkan segala yang ada di dalam hati dan pikirannya.
__ADS_1
Tetapi, Kabir Kasyafani teringat akan pesan dari dokter kandungan yang pernah bertemu dengannya. Jika seorang ibu hamil tidak boleh banyak pikiran, sedih, prustasi, terbebani dengan kejadian yang tidak baik, apalagi stres akan berbahaya bagi kesehatan dan keselamatan calon bayinya.