
Ya Allah kenapa aku bersikap seperti ini, bukannya sikapku ini sama saja akan menyiksa jalannya mama untuk pergi.
Jingga mengalihkan pandangannya ke arah jalan yang dilaluinya di sepanjang jalan berderet perkantoran dan juga perusahaan yang menjulang tinggi fi depan matanya.
"Sayang,apa kamu sadar apa yang kamu lakukan ini sama saja dengan menyiksa mama, kepergiannya tidak lancar dan mulus, bahkan karena anak-anaknya yang tidak mengikhlaskan kepergiannya akan menjadi siksaan bagi tubuhnya Mama di alam kuburnya," nasehat Guntur yang tidak berhenti untuk mengingatkan Jingga Aurora.
Astaughfirullahaladzim, maafkanlah aku ya Allah yang sudah bersikap bodoh dan tidak menerima kenyataan jika semua mahluk hidup di dunia ini pasti akan mengalami namanya kematian.
Hanya saja waktu kedatangan pada setiap umat manusia hanya berbeda-beda saja, yaitu hanya menunggu waktu yang tepat.
Jingga terbayang-bayang senyuman mamanya tadi pagi ketika akan menelpon nomor ponselnya Senja.
Mama pagi tadi sangat bahagia karena Senja dan ketiga anaknya akan datang menginap di rumah. Tetapi ternyata berakhir seperti ini.
Apakah ini tujuannya Mama meminta khusus pada Senja untuk menginap dirumahnya Mama?
Mama hari ini aku mengetahui aku akan menjadi seorang ibu, tapi disisi lain ibuku meninggal dunia.
Jingga mengelus perutnya yang masih datar ketika teringat dengan kehamilannya yang baru diketahuinya hari ini.
Jingga merasa ini anugrah terindah ditengah kesedihannya, ketika harus mengikhlaskan kepergian untuk selamanya Aliah Aziza Humaira perempuan yang sungguh berjasa besar dalam hidupnya.
Mama insha Allah aku akan bisa sabar dan tabah mengikhlaskan kepergian mama, aku berjanji akan menjaga adikku Ocean Skala Pratama.
Jingga kembali menyeka air matanya yang kembali tumpah ruah membasahi pipinya, apabila harus kembali teringat dengan kegiatannya hari ini bersama dengan mamanya.
Paginya Jingga dengan mamanya membuat beberapa macam kue kesukaan Senja dan Kabir. Mereka membuat kue itu khusus untuk anak dan menantunya.
Tapi,kue itu hingga detik ini tidak disentuh sedikitpun, karena duka mendalam dan cobaan yang mereka alami.
Berselang beberapa menit kemudian, mobil semakin melaju dengan kecepatan yang cukup sedang. Banyak mobil di depannya yang mengikuti kemanapun perginya ambulans yang membawa kepergian jenazah mamanya.
Jingga menatap tajam sambil membulatkan bola matanya itu sehingga Guntur tersenyum tipis.
"Kenapa kamu malah tersenyum?" Tanyanya Jingga yang keheranan melihat sikapnya suaminya itu sambil memutar bola matanya dengan jengah.
"Aku tersenyum melihat kamu menatapku seperti ini," ucapnya Guntur sambil meniru cara pandangnya Jingga padanya barusan.
__ADS_1
Jingga ingin tersenyum, tapi malah menangis ketika tersadar jika hari ini mamanya meninggalkan dunia ini untuk selamanya. Guntur hanya mencelos dan hatinya terenyuh melihat kondisi psikis dari istrinya itu.
Berselang beberapa menit kemudian, rombongan mereka sudah sampai tepat depan rumahnya. Suara sirine ambulan semakin terdengar nyaring bunyinya. Hingga semua orang berdatangan ke arah jalan untuk menyambut kedatangan iringan jenazah yang membawa Aliyah.
Tangis haru duka mendalam terlihat jelas dari semua pelayak yang datang ke rumahnya Alia dan Leo Carlando.
Berita kematian Aliah segera tersebar ke seantero negeri terutama dan khusus untuk keluarga besar, kerabat Aliaya, Leo, Sanders dan Nasution.
Semua orang berbondong-bondong menjemput jenazahnya Aliaya untuk membawanya ke dalam rumah. Segala persiapan untuk pemakaman jenazah almarhumah Aliah sudah selesai.
Semua orang sedih melihat kondisi Aliaya yang sudah meninggal dunia setelah melahirkan anak bungsunya itu.
"Innalilahi wa innailaihi rojiun, selamat jalan Bu Aliah,kami sangat sedih mendengar kabar duka ini,"
"Semoga amal ibadahnya diterima oleh Allah SWT dan segala kesalahannya dan dosa-dosanya diampuni oleh Allah SWT," ucap semua karyawannya yang bekerja di semua toko pakaiannya yang ada di kota Jakarta.
"Ya Allah Bu Aliah masih sangat muda sudah meninggal dunia,"
"Kematian tidak memandang muda atau tua, Bu Aliyah atasan atasan yang sangat baik kepada kita semua pekerjanya," ucapnya yang lainnya.
"Aku sedih karena kehilangan sosok ibu di dalam diri Bu Aliaya, bos kita ini sangat baik pada kita semua tanpa memandang siapa kita ini,"
Kabir dan Guntur masing-masing memapah tubuh istrinya berjalan ke arah dalam. Semua orang yang telah bersiap sedari tadi menjemput jenazah Aliah.
"Cepat mandikan Bu Aliyah,jangan menunda-nundanya lagi," perintah salah seorang ibu-ibu pengajian yang akan mengurusi semua prosesi pemakaman, pemandian, hingga pengshalatan jenazahnya.
Senja dan Jingga tidak menjauh dari mamanya hingga proses pemakaian kain kafan pun tak luput dari perhatian dan penglihatan kedua anak kembarnya. Hingga bunyi dering ponselnya Kabir dan Guntur bersamaan membuat semua orang mengarahkan tatapannya ke arah kedua pria ganteng itu.
"Kenapa kamu menelpon, apa yang terjadi di rumah sakit?" Tanyanya Kabir yang berjalan ke arah luar sembari mengangkat telponnya.
Guntur tidak mengangkat telponnya Hakim Rahman karena pasti info yang mereka sampaikan pasti jawabannya sama.
"Apa!? Itu tidak mungkin!" Teriaknya Kabir disertai dengan ponsel berlogo apel sepotong digigit itu terjatuh ke atas lantai.
Bu Hanin Mazaya yang melihat putranya dalam keadaan marah dan kaget segera mendekati Kabir.
Bu Hanin menyentuh pundak putranya itu," putraku apa yang terjadi, kenapa kamu seperti ini?"
__ADS_1
Kabir hanya meneteskan air matanya itu tanpa mampu menjawab pertanyaan dari bundanya. Lidahnya tiba-tiba keluh seketika tak mampu berkata-kata walau hanya sepatah katapun.
Kabir menolehkan kepalanya ke arah bundanya yang sudah memegangi kedua pundaknya Kabir. Semua orang berjalan satu persatu ke arahnya Kabir yang tak berbicara apapun. Hanya suara tangisannya yang terdengar hingga semua kerabatnya mendekatimu.
"Nak, apa yang terjadi padamu? Katakan pada Nenek? Sedari tadi kamu ditanya oleh bundamu tapi kamu hanya menangis!" Tegasnya Bu Clara.
Guntur yang sudah berbicara dengan Hakim Rahman karena melihat adik sepupunya yang hanya terdiam saja, ia segera menelpon balik nomor ponselnya Hakim sang asisten pribadi Kabir.
Tubuhnya Guntur terhuyung beberapa langkah saking terkejutnya mendengar berita duka kembali untuk kedua kalinya menyelimuti keluarga besar istrinya.
Astauhfirullah aladzim,ya Allah cobaan apa lagi ini yang Engkau berikan kepada kami?
Aku sungguh tidak sanggup untuk menenangkan istriku, jika dia mengetahui apa yang terjadi pada Leo.
"Kabir katakan pada Aunty apa yang terjadi pada kamu Nak? Kenapa kamu seperti orang bisu saja!" Tanyanya ibu Henny adik kembarnya Bu Hanin Mazaya.
"Papa Leo," ucapnya Kabir yang terhenti sejenak karena Senja sudah berdiri tepat di sampingnya.
Semua orang menolehkan wajahnya ke arah Senja yang tiba-tiba datang sehingga Kabir menghentikan ucapannya itu.
"Abang katakan padaku apa yang terjadi pada Papaku!? Aku mohon jangan seperti ini! Tidak ada gunanya untuk tutup mulut, tapi melihat air matanya Abang pasti ada yang tidak beres," ketusnya Senja.
"Nak Senja,kamu harus kuat, sabar kalau kamu seperti ini ketiga anak-anak kembarmu akan terpengaruh juga, kasihan mereka masih sangat kecil dan butuh kamu," nasehatnya Bu Henny.
"Iya Nak setidaknya kamu pikirkan mereka kalau kamu tidak peduli dengan kesehatan kamu, karena jika kamu terguncang dan tidak tenang tak terkendali maka asi kamu juga akan tengganggu," timpalnya Bu Siska maminya Guntur yang ikut menimpali percakapan mereka.
"Senja kamu harus sabar dan tenang, karena Papa Leo telah meninggal dunia," ungkapnya Guntur.
Ucapannya Guntur yang membuat semua orang yang berada di dekat mereka kembali tercengang, terkejut dan tidak percaya jika dalam sehari dua orang yang meninggal di dalam rumah megah dan besar itu.
"Tidak!! Itu tidak mungkin! Aku yakin papaku masih hidup!" Jeritnya Senja.
"Kalian pasti salah dengar saja, pasti ada kekeliruan di dalam informasi itu! Abang Guntur katakan jika Abang salah paham saja," kesalnya Jingga yang sebenarnya sangat marah dan sedih.
Senja menarik-narik tangannya Kabir yang masih membisu," katakan padaku jika Abang itu bohong!"
"Senja maaf Papa sudah meninggal dunia baru saja," cicitnya Kabir.
__ADS_1
Setelah dimandikan almarhumah Aliah, kabar duka kembali mengguncang jiwa, hati, perasaan semua orang yang hadir untuk memberikan penghormatan terakhir kepada Aliaya Azizah Khumaira.