
Semua tatapan mata tertuju pada Jingga Aurora Ainah Zain, sedangkan Jingga yang ditanyai tentang mengenai pendapatnya tentang pernyataan cinta dari dua pemuda bule keturunan Indonesia gado-gado nano nano dengan Timur Tengah dan Korea itu hanya menganga dan terdiam melihat ke arah Arsen dan Abrisam.
Sedangkan Daliah dan Delila hanya saling bertatapan satu sama lainnya hingga suara celetuknya Jihan membuat semua orang tercengang.
"Kalau aku secara pribadi mau saling mencintai atau bukan aku akan menerima lamaran pria yang benar-benar mencintaiku, karena itu lebih baik dari pada menikah dengan pria yang kita cintai," celetuk Jihan.
"Betul sekali apa yang dikatakan oleh Jihan, buktinya banyak kok diluaran sana yang bahagia walau awalnya mereka hanya cinta sepihak ataupun menikah karena perjodohan, jadi apa salahnya Tante Jingga untuk menerima lamarannya mereka dan sebaiknya bertanya terlebih dahulu kepada Daliah dan Delila sebelum memutuskan segala sesuatunya," timpalnya Jinan yang sebenarnya sudah bersiap untuk tukar cincin.
Dalia dan Delilah saling bertukar pandang dan tertunduk diam dan membisu. Jingga dan Guntur memang tidak seperti cara mendidiknya Kabir dan Senja yang memberikan kebebasan kepada ketiga anak kembarnya untuk memilih jalan hidup mereka.
Ya Allah kenapa meski mereka datang segala, kalau seperti ini aku bisa-bisa dapat masalah dari papa.
Ya Allah semoga Papa tidak marah dengan ulah mereka, jika tidak kami akan terkena masalah.
Jingga hendak angkat bicara, tapi kedatangan beberapa orang ke dalam rumah itu membuat semua orang semakin dibuat tercengang dengan begitu banyaknya orang yang mendatangi rumah mereka dengan berbagai macam barang-barang yang berada di dalam tangan mereka semua.
Kedatangan rombongannya keluarga besar Kaisan Al-ayyubi Haitam sudah membuat semua orang takjub dengan begitu banyak barang-barang seserahan.
Acara pertunangan antara Ocean Skala Pratama sudah berhasil brtunangan dengan kekasihnya Giska Inayah dan acara selanjutnya adalah pertunangan antara Jinan Ranya Triadji dengan Kaisan tertunda karena kedatangan Ansel dan Abrizam.
"Maafkan kedatangan kami mungkin tidak diharapkan bahkan akan menganggu kenyamanan kalian semua," ucap seorang pria yang sangat dikenal oleh pak Raka dan Septa Danu Triadji.
"Pak Wilson," beonya Pak Septa.
Pak Raka dan Septa segera berjalan ke arah rekan bisnisnya sekaligus sahabatnya itu dengan senyuman.
"Maaf kedatangan sahabatku sendiri tidak disambut dengan baik karena kami sedang menyaksikan keberanian dari dua pemuda yang mengatakan cintanya kepada cucu kami," imbuhnya Pak Septa.
"Tidak masalah sobatku, tapi kedatangan kami juga ini tidak jauh berbeda dengan maksud mereka yaitu hendak melamar salah satu cucu kalian untuk cucu sulungku yang bernama Faiaz Albar Wilson," terangnya Pak Wilson.
Semua menutup mulutnya saking terkejutnya mendengar perkataan dari pria tua yang masih gagah nampak di pandang mata. Terutama Jihan yang menganga lebar mendengar perkataan dari kakek dari pria yang sanggup membantunya melupakan secepatnya dengan mantan kekasihnya itu.
Jihan berjalan ke arah Faiaz dengan tatapan matanya yang sulit diartikan itu.
__ADS_1
"Apa lagi ini yah Allah? Kenapa selama kami berada di London sudah banyak kejadian yang sungguh mengejutkan kami," keluhnya Senja.
"Iya pertama putraku yang menghamili kekasihnya, kedua Jihan dan Jinan yang salah dilamar, ketiga…" Ica tidak sanggup mengatakan selanjutnya.
"Ketiga Oce dan putriku kedapatan berciuman dan aku paksa mereka untuk bertunangan hari ini juga," timpalnya Naysila.
"Dan keempat keponakanku yang cantik ini dilamar dengan cara yang sungguh tak terduga oleh masing-masing pemuda yang katanya mencintai Dalia dan Delila," sahut Vania Larissa.
Jihan dan Senja hanya terdiam mematung tanpa kata di tempatnya berdiri. Sedangkan Jihan terus berjalan ke arah Faiaz.
"Sedang terjadi saat ini adalah Jihan cucuku dilamar oleh sahabat sekaligus relasi bisnisnya suamiku," ucap Bu Hanin Mazaya.
"Apakah ini memang karena Allah SWT yang menakdirkannya sehingga seperti ini ataukah karena kalian sudah berencana untuk melakukan hari ini sekaligus seolah-olah kalian semua tidak ada yang mau mengalah, satunya menikah dan yang lainnya tidak mau kalah dengan saudaranya ingin menikah juga!" Tuturnya Bu Siska Sophia.
"Sepertinya ini memang sudah menjadi garis tangan mereka dan tentunya semua ini tidak akan pernah terjadi jika Allah SWT tidak menggariskan di tangan mereka dengan kisah hidup seperti saat ini," terangnya Kabir Kasyafani.
"Bagaimana nak Jihan apakah kamu bersedia menikah dengan cucuku?? Masalah kapan waktunya itu terserah kamu saja yang paling penting saat ini kamu menerima lamarannya cucu sulungku Faiaz," terangnya Pak Willson pria asli Inggris yang sudah fasih berbahasa Indonesia itu.
Semua orang menyaksikan langsung sungguh ajaib hari ini bagi mereka.
"Kenapa, apa salahnya yang terjadi sekarang ini. Bukannya semua ini hal baik. Kenapa meski diperdebatkan hal baik yang diberikan oleh Allah SWT. Ini rezeki nomplok loh, Jihan terima saja Nak," Mike Andres berbicara mengeluarkan pendapatnya itu.
"Benar sekali kalau hal baik kenapa ditunda dan ditolak kedatangannya. Allah SWT itu memberikan hal terbaik dalam hidup kita semua, lamaran boleh bersamaan tapi kan akad nikahnya dari sang calon pengantin saja," Hakim Rahman pun berpendapat.
"Bagaimana Jihan Yuanni Ulli apakah kamu setuju menerima lamaran ku dan kita menikah tergantung kapan kamu siapnya saja," tuturnya Faiaz sambil memegangi kedua tangannya Jihan.
Jihan menatap ke arah Daddy dan mommy nya dan keduanya yang ditatap tersenyum sambil menganggukkan kepalanya itu. Kabir dan Senja saling berdiri berdampingan.
"Bismillahirrahmanirrahim saya bersedia menikah dan bertunangan hari ini dengan Faiaz Albar Willson hari ini juga tapi saya berharap akad nikahnya setelah saya kembali ke Jakarta," tanggapannya Jihan yang membuat Faiaz dan rombongannya tersenyum bahagia.
"Alhamdulillah,bawa semua masuk barang seserahan lamaran dan pertunangan cucuku!" Perintah Tuan Wilson.
"Mami, kami sebenarnya saling mencintai dan aku setuju untuk menerima lamarannya Ansel," ucap Delila.
__ADS_1
"Kami juga saling menyukai Pih, kami memang tidak pacaran tapi kami saling menghargai satu sama lainnya, jadi aku mohon padamu untuk merestui hubungan kami berdua," pinta Daliah yang sudah bergandeng tangan dengan Abrizam.
Jihan yang melihat suaminya seperti kehabisan kata-kata sehingga mau tidak mau Jingga berbicara untuk menentukan selanjutnya.
"Aku setuju untuk menikahkan keempatnya," putusnya Jingga.
Jingga mengelus lengan suaminya itu dan berharap untuk memuluskan rencana mereka.
"Kalau gitu kita tunggu apalagi,apa kalian punya cincin pengikat cinta kalian," tanyanya Guntur yang tidak mungkin menentang dan melawan keputusan putri-putrinya itu.
Dia menekan egonya karena pria yang melamar anaknya dari kalangan keluarga yang biasa saja tidak sama dengannya. Semua menganggukkan kepalanya sambil mengeluarkan sebuah kotak buludru yang berisi dua buah cincin tunangan.
"Syukur alhamdulilah makasih banyak kalian memberikan padaku kesempatan berbahagia ini," ucapnya Faiaz.
"Alhamdulillah, kalau gitu kalian duduklah di setiap kursi dengan pasangan masing-masing," pintanya Bu Hanin.
Acara pun selanjutnya dilaksanakan pada sore hari itu, yaitu pertunangan keempat cucu kembarnya Aliah Aziza Humaira dengan Leo Carlando Zain Pratama.
Semua orang tersenyum penuh bahagia dan kegembiraan yang berlipat-lipat. Semuanya silih berganti saling memasangkan Cincin tunangan ke dalam jari jemarinya perempuan yang mereka cintai.
Kedua orang tuanya Ansel dan Abryzan sudah datang dan tersenyum gembira ketika melihat kebahagiaan dari wajah putra mereka masing-masing.
"Alhamdulillah semoga kalian langgeng hingga ke tahap pernikahan," ucapnya Bu Hanin Mazaya sembari menyeka air mata bahagianya itu.
"Ya Allah bahagiakan cucu-cucuku bersama dengan pasangan masing-masing," harapnya Bu Siska.
"Semoga kalian bahagia, restu kami menyertai kehidupan baru kalian," ucap Kabir dengan penuh harapan.
"Berbahagialah putriku, kalian pantas mendapatkan kebahagiaan," ucapnya Hana Aerin.
Guntur Aswin tersenyum bahagia karena anak-anaknya pun bahagia dengan pertunangan hari ini.
Kebahagiaan itu tidak dilihat dari segi materi atau banyaknya harta yang mereka dapatkan dan punya. Tetapi dimana anak-anak mereka tersenyum penuh kegembiraan itu adalah hal yang paling penting bagi kedua orang tua.
__ADS_1
Mampir baca juga novel baruku dengan judulnya Terpaksa Menjadi Orang Ketiga.
...********TAMAT********...