
Aliya kembali melanjutkan mengetik beberapa kata novel barunya yang sudah hampir dua minggu itu publish. Novel barunya juga itu sudah kontrak dan berharap keberhasilan dan kesuksesan Novel keduanya itu sukses seperti novel perdananya yang masih amburadul dalam segala hal.
"Ya Allah... aku demi masa depan anakku aku akan bersabar menjalani semuanya ini, insya Allah semuanya akan indah pada waktunya," Aliya menekankan bahwa semuanya akan baik-baik saja tanpa harus hidup didampinginya oleh suami.
Rumah yang akan ditempati cukup sederhana tapi, elegan dan bersih. Rumah itu sudah dibersihkan oleh Darwis dengan menyuruh beberapa orang membersihkannya. Bersyukur karena orang yang dipekerjakan sama sekali tidak meminta upah, cukup makan dan rokok saja yang mereka minta.
"Alhamdulillah rumahnya bagus yah Mbak, sepertinya yang punya rumah sangat memperhatikan kebersihan rumahnya, lihat temboknya terawat tanpa ada coretan dan kotoran sedikitpun, bahkan pintunya kokoh banget," pujinya Aliya yang menyukai kondisi sekitar rumah yang nantinya akan disewanya untuk beberapa bulan kedepannya.
"Benar sekali semua yang kamu katakan,kamu terbilang cukup beruntung dek padahal banyak banget orang yang mau tinggal di sini tapi mereka pilih penawaranku yang harganya lebih murah dari penawar lainnya," ungkapnya Darwis.
Aliya tersenyum sumringah bahagia mendengar perkataan dari mulut kakaknya itu," kalau gitu itu rezeki anak sholehah yah kan Mbak," candanya Aliya.
Aliya bersyukur semua novel yang ditulisnya diterima baik oleh semua readers setianya yang membaca karya-karyanya. Aliya juga mencari peruntungan menulis novel di tempat lain platform tetangga. Baginya jika hanya menulis di satu tempat saja, pengalamannya akan hanya itu-itu saja.
Aliya bersyukur karena usaha yang ditulisnya itu berhasil dengan baik sesuai dengan yang diharapkan. Aliya juga membangun usaha kecil-kecilan yaitu membuka toko pakaian baik online maupun bukan.
Aliya bekerja sama dengan satu perusahaan tekstil yang ada di Bandung dan juga yang ada di Jakarta. Aliya menjual langsung di beberapa toko cabang usahanya yang sudah dibukanya itu. Aliya bersyukur karena, berkat ada gaji dari hasil menulis novel online,ia bisa buka usaha sendiri hingga sampai detik berkembang semakin maju dan besar saja.
Sudah ada beberapa cabangnya yang dibuka oleh Aliya dan semuanya mendulang sukses. Berkat dari itu lah Aliya sanggup dan mampu membiayai kehidupan mereka bertiga selama tinggal di Banjar.
Leo sama sekali tidak pernah mendatanginya karena Aliya sama sekali menutup kesempatan untuk diketahui keberadaannya.
Kalimantan Selatan, Banjarmasin.
Delapan tahun kemudian…
__ADS_1
Mesin motor matic berhenti di dalam garasi mobil rumahnya. Dua gadis yang salah satunya memakai hijab duduk di jok motor bagian belakang.
"Kak Mama pasti bahagia dengarnya kalau kita berhasil dapatkan beasiswa kuliah di Jakarta," ucapnya gadis berusia 17 tahun otewe 18 tahun itu.
Gadis lain yang disapa kakak yang duduk di bagian depan kebetulan tidak memakai hijab melepaskan helmnya terlebih dahulu sebelum membalas perkataan dari adiknya.
"Kakak juga yakin bahwa Mama akan sangat bahagia dengan prestasi belajar yang kita raih, ini kan yang selalu mama inginkan dan dambakan," timpalnya gadis yang disapa kakak itu.
Keduanya berjalan ke arah dalam rumahnya itu, tapi ada keanehan karena kondisi rumahnya cukup ramai dibandingkan dengan hari-hari sebelumnya. Keduanya saling bertatapan satu sama lainnya dengan raut wajah mereka yang keheranan.
"Kita masuk saja pasti akan terjawab sudah setelah kita melihat apa yang terjadi di dalam sana," imbuhnya sang kakak.
Betapa terkejutnya melihat siapa yang datang berkunjung ke rumahnya siang hari itu. Seorang pria yang seumuran dengan mamanya itu sudah duduk di dalam ruangan tengah yang dijadikan sebagai ruangan untuk menerima atau menjamu tamunya.
Keduanya memperlihatkan wajahnya yang tidak menyukai kehadiran Salim Kamal di dalam rumahnya itu. Keduanya tidak suka karena selalu menggoda mamanya untuk mengajak Aliya Azizah Humairah untuk menikah. Hal itu lah penyebabnya kedua kakak beradik itu tidak menyukai jika pria yang mengaku sahabat mamanya.
Saya tidak menyukai siapapun pria yang ingin menggantikan posisi papa dan pengen menjadi papa sambungku. Senyuman diwajahku langsung memudar. Aku berharap mama kali ini tidak terbujuk rayuan dan termakan hasutan oleh pria bujang lapuk itu.
"Dari dulu dan sampai kapanpun, papaku Leo Carlando Zain adalah suami mamaku kami tidak akan biarkan siapapun yang menggantikannya sampai kami matipun," tekad dan sumpahnya kedua anak kembarnya Aliya.
"Assalamualaikum warahmatullahi wa barakatuh," salam keduanya secara bersamaan.
Aliya yang melihat kedatangan kedua putrinya segera bangkit dan menyudahi sementara waktu perbincangan keduanya karena kedatangan anak kesayangan dan kebanggaannya Aliya.
"Waalaikum salam, Senja, Jingga putrinya Mama, kok pulangnya agak lambat sayang apa acara perpisahan di sekolahnya lancar-lancar saja?' tanyanya Alia yang sekedar berbasa-basi saja.
__ADS_1
Aliya memeluk satu persatu dari kedua putrinya itu sambil membisikkan sesuatu ditelinga kedua anaknya secara bergantian.
"Tolong jangan buat kekacauan sayang," bisiknya Aliya.
Senja dan Jingga saling bertatapan satu dengan lainnya tidak mengerti dengan apa maksud dari perkataan mamanya itu. Jingga langsung masuk ke dalam kamarnya tanpa bertegur sapa dengan Salim pria yang menyukai mamanya itu. Sedangkan Senja meraih tangannya Salim seperti biasanya untuk dia cium punggung tangannya itu.
Aliya menatap tajam ke arah punggung putri sulungnya itu, sambil menggelengkan kepalanya melihat sikap keras kepalanya Jingga.
"Ya Allah… sampai kapan anakku keras kepala seperti ini, kenapa sampai sekarang belum bisa memberikan jalan dan merestui hubunganku dengan Salim sedangkan mas Salim itu baik dan bertanggung jawab," batinnya Alia yang sedih melihat anak pertamanya.
"Maaf yah Paman, kakak capek banget pulang dari sekolah soalnya di sekolah tadi banyak banget kegiatan, jadi tidak mood menyapa paman," kilahnya Senja.
"Maafkan Jingga yah Abang tidak menyapa Abang, mungkin benar sekali yang dikatakan oleh Senja kalau kakaknya itu kecapean dari sekolahnya, karena hari ini adalah hari perpisahan di sekolahnya, abang enggak marah kan?" Tanyanya Aliyah yang kembali duduk di hadapan pria yang hendak melamarnya itu.
"Tidak apa-apa kok Alia biasa anak-anak remaja masih sering labil pemikirannya, aku sangat memakluminya, aku hanya meminta kamu untuk memberikan aku jawaban sebelum kalian ke Jakarta," pintanya Salim.
Salim berharap agar Aliah segera menerima lamarannya dan bisa meyakinkan kedua putrinya atas lamarannya yang sudah berulang kali dilakukannya itu. Tapi, Alia sebenarnya masih ragu untuk menjawab permintaan sekaligus pertanyaan dari Salim. Padahal hubungan mereka sekitar lima tahun lalu itu sudah terjalin dengan baik dan akrab. Tetapi Aliya belum yakin dengan hati dan perasaannya sendiri.
Sudah delapan tahun mereka berpisah tanpa ada status perceraian. Aliya masih sangat berharap ia bersatu kembali dengan suaminya itu. Tapi, Leo sendiri seolah sudah cukup bahagia dengan Adinda istri keduanya sehingga sama sekali tidak pernah mencari keberadaan mereka bertiga.
"Maaf Abang saya tidak mungkin mengambil keputusan sendiri, kamu tahukan segala sesuatu yang ada di dalam kehidupanku selama kami tinggal di Banjar pasti saya bicarakan dan tidak rundingkan terlebih dahulu dengan kedua putriku bagaimana baiknya, jadi aku mohon bersabar yah semoga saja mereka bisa merestui hubungan kita dan menerima lamarannya Abang," imbuhnya Aliyah.
Sebenarnya Aliyah juga ragu dan bimbang untuk melangkah ke jenjang pernikahan, kedua anaknya hanya menjadi alasan untuk menghindar saja. Aliyah tidak ingin penolakannya membuat hubungan keduanya jadi renggang dan bermasalah apalagi Salim adalah salah satu produsen beberapa model pakaian ke dalam tokonya.
Aku tidak akan menyerah walaupun kedua putri kembarmu tidak setuju aku akan melakukan segala cara, karena sudah terlalu banyak yang aku lakukan untuk kalian bertiga.
__ADS_1
Maafkan saya mas Salim saya tidak sanggup dan tidak mampu menggantikan suamiku Mas Leo Carlando Zain Pratama didalam hidup dan hatiku. Mungkin sebaiknya aku jujur saja kepada Abang Salim agar tidak selalu berharap pada hubungan kami ini.