Belum Berakhir

Belum Berakhir
Bab. 39. Senyuman Kebahagiaan


__ADS_3

Jingga tidak menyangka jika acara arisan yang dihadirinya akan berbuah manis dan berujung dengan pertemuannya dengan Papa dan serta keluarga baru yang ditemuinya selama hidupnya.


Alhamdulillah akhirnya putraku bisa bernafas lega dan tersenyum bahagia karena telah bertemu dengan cucuku salah satu anak kembarnya. Semoga kedepannya Leo bisa kembali rujuk dengan istrinya Aliya Azizah Khumaira.


Harapan Bu Sita Marsita terhadap pernikahan anaknya itu. Adicandra dan pamannya Luthfi Khaer sangat bersyukur dan gembira melihat pertemuan kakaknya dengan anak sulungnya.


Alhamdulillah makasih banyak ya Allah atas pertemuan mereka hari ini, sungguh hal yang sangat menggembirakan buat kami sekeluarga karena kasihan dengan Abang selama sepuluh tahun lebih hidup menderita dalam penyesalannya yang terus mencari tanpa henti anak dan istrinya.


Akhirnya Chandra bisa lihat ayah tersenyum, bunda Adinda kamu tenang di alam sana yah. Mama Aliyah dan ayah Leo akan secepatnya berkumpul seperti dulu lagi.


Candra janji mereka akan menikah kembali sesuai permintaan bunda sebelum meninggalkan Candra untuk selamanya.


Anak kecil berusia sepuluh tahun lebih itu menitikkan air matanya dikala kembali mengingat permintaan bundanya sebelum menghembuskan nafas terakhirnya sekitar empat tahun yang lalu.


Candra menerawang dan mengingat momen perpisahannya dengan ibu kandungnya saat itu.


"Candra putranya bunda, apa bunda boleh meminta satu hal padamu nak?" Tanyanya Adinda yang sudah tersendat dan gagap dalam berbicara.


"Bunda apapun itu saya akan penuhi keinginannya bunda,tapi sekarang bunda harus banyak istirahat, jangan banyak bicara dulu yah," pintanya Candra yang membujuk Adinda.


"Tidak Nak, mungkin hari ini hari terakhir bunda ada di dunia ini, tolong Candra temukan Mama Aliah dengan kedua saudarimu yang bernama Senja Starla dan Jingga Aurora Zain Pratama mereka putri kembarnya ayahmu Nak," pintanya Adinda.


"Bunda saya akan penuhi keinginannya bunda tapi harus isti…," ucapannya Candra kecil terhenti karena melihat bundanya yang sudah kejang-kejang dan kesulitan untuk bernafas.


Sejak Adinda berhasil melahirkan putra tunggalnya itu, kesehatannya sudah tidak membaik. Hampir setiap bulan Adinda keluar masuk rumah sakit.


Hal ini lah yang membuat Leo Carlando Zain Pratama tidak banyak memiliki waktu luang untuk mencari keberadaan istri dan kedua putri kembarnya tersebut.

__ADS_1


Leo merasa iba dan kasihan melihat kondisi Adinda yang setiap hari semakin lemah. Ditambah harus menjaga putra sambungnya itu yang masih bayi.


Sedangkan kakak satu-satunya yang dimiliki oleh Adinda seperti angkat tangan dengan biaya dan perawatan Adinda di rumah sakit.


Enam tahun bukan waktu singkat, untungnya ketika usianya Candra dua tahun. Mamanya Leo sudah kembali dari luar negeri sebagai tenaga kerja Indonesia TKI dari Qatar. Sehingga pekerjaan Leo sedikit terbantu untuk merawat dan menjaga Adinda, walau saat itu Leo dan Adinda sudah resmi bercerai.


Tetapi,rasa kemanusiaan, belas kasih keluarga Leo bahu membahu membantu merawat Adinda dan putra semata wayangnya. Kematian Adinda sangat disayangkan oleh Leo. Karena semua anggota keluarganya seperti enggan dan tidak mau membantu mereka.


Hingga Leo mengambil keputusan untuk merawat bayi malang yang tidak berdosa itu dengan ibunya yang sudah semakin menderita.


Suatu hari diusianya Adicandra delapan tahun, barulah terungkap jika Candra bukanlah anak kandungnya. Kala itu Chandra mengalami kecelakaan maut, dia ditabrak sepeda motor ketika pulang dari sekolahnya.


Karena saat itu, dengan butuhkan banyak kantong darah sedangkan yang tersedia hanya ada beberapa saja. Sehingga mau tidak mau Leo sebagai papanya segera ingin mendonorkan darahnya, tapi kenyataan pahit menampar wajahnya.


Yaitu pihak dokter RS yang akan menangani operasi Candra mengatakan dan menjelaskan secara rinci dan detail jika Candra Bima Satria adalah bukan darah dagingnya atau bukanlah anak kandungnya sendiri.


Candra menyeka air matanya menetes membasahi pipinya itu jika harus kembali mengingat kisah perjalanan hidupnya yang mengharukan.


Candra memeluk tubuh pamannya dengan erat dan malah semakin mengeraskan suara tangisannya yang tersedu-sedu melihat pertemuan ayah dan kakaknya.


Lutfi mengerti dan paham apa yang sudah terjadi kepada keponakannya sambungnya itu.


"Kamu bahagiakan melihat kakakmu?" Tanyanya Lutfi.


Candra menganggukkan kepalanya sambil menatap intens ke arah kakak dan ayahnya yang masih berpelukan itu melepaskan kerinduan sepuluh tahun tidak bertemu.


"Sangat bahagia lah paman, bersyukur karena Allah SWT telah mempertemukan ayah dengan Mbak Jingga, moga mama Alia juga segera berkumpul dengan kita, bunda Adinda pasti melihat kita dari surga dan pasti ikut senang dan tersenyum juga," harapnya Candra dan juga keinginannya yang paling terbesar dalam hidupnya.

__ADS_1


Bu Sita berjalan ke arah kedua anak dan cucunya itu, "Jingga cucunya nenek apa kau tidak ingin memeluk nenek Nak?" Ujarnya Bu Sita Marsita yang sudah merentangkan kedua tangannya menyambut pelukan hangat cucunya itu.


Jingga segera menolehkan kepalanya ke arah perempuan paruh baya yang memakai hijab rumahan yang berwarna hijau toska di setiap hari-harinya berpenampilan seperti itu.


Jingga tanpa ragu secepatnya melangkahkan kakinya dengan tergesa-gesa ke arah wanita yang disapa nenek ibu kandungnya Leo Carlando Zain Pratama.


"Nenek!" Teriak Jingga yang sangat senang karena akhirnya juga memiliki seorang nenek.


Bu Sita menyambut pelukan hangat dari cucunya itu, "Cucuku kamu sudah besar nak, maafkanlah nenek yang baru bisa bertemu dengan kamu hari ini," ujarnya penuh sesal Bu Sita.


"Hari Nenek Jingga sangat bahagia karena bertemu dengan Papa Leo, Nek Sita, ada paman dan juga dede Candra, aku yakin Mama dan Senja akan bahagia mendengar berita ini," tuturnya Jingga dengan antusias yang masih memeluk tubuh renta neneknya.


Tak henti-hentinya Leo mengucap Alhamdulillah karena pertemuan mereka yang tidak terduga dan tak disangkanya. Padahal Leo sudah hampir menyerah dengan keadaan setelah pertemuannya beberapa bulan lalu dengan Aliya istrinya itu.


Luffy Khaer menatap ke arah Abrizam Abraham Samad pria muda yang sangat dikenalinya itu. Lutfi mengerutkan keningnya sambil mengerahkan jari telunjuknya ke arah pria yang lebih dikenal dengan nama panggilannya Abryz si ketua tingkat yang selalu tidak akur dengan seorang gadis cantik yang ternyata dijodohkan dengannya.


Yang paling baru diketahuinya adalah keponakan dari teman kakaknya sendiri. Abryz tersenyum sumringah melihat tatapan matanya Lutfi yang mengisyaratkan jika banyak pertanyaan yang timbul dalam benaknya.


"Ngomong-ngomong sebaiknya kita ajak mereka masuk, Jingga sini bareng papa Nak," Leo mengulurkan tangan kanannya agar bergandengan tangan bersama putrinya itu ke arah dalam rumahnya seperti yang sering dulu mereka lakukan jika bersama.


Jingga tanpa ragu secepatnya menyambut uluran tangan pria yang sudah menjadi papanya itu dengan penuh semangat.


Maafkanlah papa Nak yang sudah mengorbankan masa kebersamaan kita selama ini.


Papa terlalu lemah,bego dan tolol telah menyia-nyiakan istri dan anaknya papa. Kalian harus tumbuh besar tanpa ada Papa mendampingi kalian setiap harinya.


Aku berharap putriku yang satu tidak akan marah padaku yang telah menelantarkan kehidupan mereka dengan menukar kebahagiaan putraku.

__ADS_1


__ADS_2