
Setelah puas saling bertatapan satu sama lainnya, hingga wajahnya merah merona dan terkena pantulan sinar rembulan malam itu.
"Jingga Aurora Ainah kamu sangat cantik bahkan kecantikanmu mengalahkan indahnya rembulan malam ini," pujinya Guntur sembari menangkupkan tangannya di dagunya Jingga.
Jingga menyandarkan kepalanya ke dada bidangnya Guntur. Dia mendengar dengan jelas detak jantung suaminya itu. Karena dia tidak sanggup untuk membalas tatapan mata suaminya itu.
"Kalau kamu tidak percaya dengan perkataanku,maka dengarkanlah baik-baik detak jantungku, itu bukti bahwa aku sungguh mencintaimu istriku hanya kamu seorang," ucapnya Guntur.
Jingga mendongakkan wajahnya ke arah suaminya itu," tapi, maaf aku belum mencintaimu, apa Abang marah jika hingga detik ini aku masih menganggap Abang sebagai suamiku, partner hidup dan sahabatku, apa Abang tidak mempermasalahkannya atau keberatan dengan apa yang aku katakan barusan?" Tanyanya Jingga yang menatap kedalam manik matanya Guntur yang seperti bak embun pagi.
Guntur tersenyum sambil melingkarkan salah satu tangannya ke pinggangnya Jingga, hingga posisi mereka saling berhadapan satu sama lainnya.
Tubuh mereka saling berhimpitan dan tidak ada jarak yang memisahkan keduanya dibawah sinar bulan purnama malam itu.
Guntur menoel hidung mancungnya Jingga dengan menggunakan tangan kanannya yang bergelantungan bebas tanpa memeluk tubuhnya Jingga.
"Abang tidak pernah mempermasalahkan seberapa lama pun, mau setahun, dua tahun bahkan sepuluh tahun pun abang akan siap menunggu sampai kamu mengatakan cintamu padaku, bahkan jika aku harus menggunakan seluruh sisa waktuku di dunia Aku akan menggunakannya untuk menunggu kau mengatakan jika kamu sudah mencintaiku," ucapnya Guntur dengan penuh keyakinan dan ketegasan di dalamnya.
Jingga tanpa disadarinya saking bahagianya mendengar perkataan dari suaminya itu spontan mendaratkan ciuman di pipinya Guntur.
Cup…
Suara kecupan di pipi kirinya Guntur terdengar begitu jelas, keduanya berdiri di tengah jalan di dalam perumahan kompleks yang cukup elit dan malam ini cukup sepi sehingga keduanya dengan bebas berdiri di bawah hamparan sinar rembulan malam.
Guntur yang mendapatkan perlakuan istimewa yang tiba-tiba semakin membuat jantungnya berdendang ria bak genderang mau perang saja. Jingga hendak pergi setelah mencium pipinya Guntur, tapi tangannya buru-buru ditarik oleh Guntur sehingga Jingga tidak bisa lolos.
"Augh," teriaknya Jingga ketika tubuhnya tertarik hingga berputar dan jatuh kembali ke dalam pelukannya Guntur.
"Hemph, kamu mulai nakal sepertinya yah, Abang akan berikan kamu hukuman yang setimpal dengan apa yang telah kamu perbuat," gurauannya Guntur yang segera menggendong tubuhnya Jingga seperti bak karung terigu saja.
__ADS_1
"Aghh tidak! Turunkan aku bang, enggak enak dilihat orang!" Jeritnya Jingga yang berusaha untuk turun dari gendongan suaminya seraya memukul-mukul pelan punggung lebarnya Guntur.
"Mau ndak enak atau apa kek, aku tidak peduli yang jelasnya aku akan memberikan hukuman yang berat untuk kamu yang sudah membangkitkan si junior," gertaknya Guntur.
Jingga terus berontak untuk turun, tapi Guntur tidak mungkin mengijinkan istrinya bebas begitu saja tanpa mendapatkan apa yang diinginkannya.
Untungnya keadaan rumahnya cukup sepi malam itu sehingga apa yang kedua pengantin baru itu lakukan tidak ada yang menyaksikan langsung.
Guntur membuka pintu kamarnya menggunakan kaki kirinya dan tanpa ragu-ragu langsung menjatuhkan tubuhnya Jingga ke atas tempat tidur.
"Aahh!" Jeritnya kembali Jingga.
Guntur berjalan cepat ke arah pintu dan menguncinya dengan rapat sedangkan Jingga yang sudah paham betul apa yang akan terjadi padanya. Jingga beringsut mundur beberapa gerakan ke arah belakang, hingga punggungnya berbenturan langsung dengan headboard ranjangnya.
"Sayang bersiaplah, karena malam ini Abang ingin meminta hakku kembali dan berharap semoga penerusnya Guntur Aswin Nasution bibit unggul bisa hadir di dalam rahimmu Istriku," ucap Guntur sebelum mematikan lampu utamanya di dalam kamarnya menggunakan lampu remang-remang.
Guntur dan Jingga melakukan tanggung jawab mereka masing-masing. Yaitu tanggung jawab untuk saling membahagiakan pasangannya.
"Alhamdulillah baby Gibran dengan Jihan ikut pulas menyusul Jinan, Mbak Inah tolong dijaga mereka yah, aku mau istirahat soalnya," ucapnya Senja yang memerintahkan kepada salah satu baby sitter anak kembarnya.
"Siap Nyonya Muda, perintah siap dilaksanakan," balasnya bibi Imah.
Bibi Diah yang mendengar perkataan dari majikannya pun ikut menyahut dari pembicaraan keduanya.
"Nyonya Muda beristirahat saja, serahkan pada kami siap selalu menjaga baby Nyonya," ucapnya Bu Diah.
Satu minggu kemudian...
"Saya terima nikah dan kawinnya Hanin Mazaya binti Nasution dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan emas 24 karat seberat 119 gram dibayar tunai!" Tegasnya Pak Septa Papa kandungnya Kabir.
__ADS_1
Pak Penghulu yang sering disapa Pak Fajar tersenyum tipis sambil menjabat tangannya pak Septa Pria yang masih kelihatan awet muda di usianya yang sudah kepala lima itu.
Pak Fajar mengedarkan pandangannya ke sekeliling masjid yang hanya berukuran kecil yaitu 20 x 10 cm.
"Bagaimana para saksi apakah sah?!" Tanya pak Fajar yang penglihatannya mengelilingi setiap sudut mesjid tersebut.
"Sah!" Balasnya semua saksi.
"Syukur alhamdulilah, akhirnya Daddy dan bunda menikah juga, semoga kalian bahagia selalu," cicitnya Kabir seraya mengusap air matanya yang terus menerus menetes membasahi pipinya.
Bu Clara menyeka air matanya yang menetes membasahi pipinya itu," Alhamdulillah, Mama yakin kalian pasti akan bahagia, apalagi kalian sudah memiliki tiga orang cucu, pasti kebahagiaan akan selalu menaungi kehidupan rumah tanggamu putriku," Bu Clara memeluk tubuh putri keduanya itu.
Pernikahan Bu Hanin Mazaya dengan Pak Septa Danu Triadji diselenggarakan secara private dan hanya keluarga inti dan sanak saudara yang dekat saja yang diundang ke acara sakral suci pernikahan dan akad nikah keduanya.
Semua orang merasa bersyukur atas pernikahan keduanya. Segala ucapan selamat dan doa setulus hati mereka haturkan dan panjatkan kehadirat Allah SWT untuk kebaikan dan keberkahan rumah tangga yang baru mereka bina.
Pak Raka enggan untuk merestui hubungan baru yang dibina oleh salah satu adiknya itu. Dia menurunkan egonya karena demi kebahagiaan salah satu adik kembarnya itu.
"Selamat kamu sudah menikah, aku harap kamu bisa hidup lebih baik dan rumah tangga kalian lebih bahagia dan damai tidak seperti yang telah lalu," ucap Pak Raka yang pandangan matanya tertuju pada pak Abbas mantan suaminya Hanin papa sambungnya Kabir.
Pak Abbas Khaer yang ditatap seperti itu, hanya mengalihkan perhatiannya ke arah lain. Dia tidak enak hati, dengan kesalahan di masa lalunya.
"Apa Pak Raka tidak memberikan ucapan padaku? Seperti mungkin ucapan selamat," candanya Pak Septa seraya merentangkan kedua tangannya di depan Pak Raka rekan bisnisnya selama bertahun-tahun lamanya itu.
Pak Raka tersenyum simpul," kamu memang jago membuat kami untuk yakin dan menerima lamarannya kamu brotha," ujarnya Pak Raka yang akhirnya merestui hubungan adik dan sahabatnya itu sembari menepuk punggung kokoh adik iparnya.
"Alhamdulillah karena aku sangat paham betul bagaimana menundukkan kakak dan keluarga dari perempuan sangat aku cintai," tuturnya pak Sapta yang tersenyum penuh arti.
Pak Abbas sedih dan kecewa karena kesempatan untuk kembali rujuk dengan mantan istrinya tertutup rapat.
__ADS_1
Aku harus ikhlas dan sabar melepas kepergianmu dari dalam hidupku. Aku hanya bisa mendoakanmu Hanin, dimanapun kamu berada, agar kamu selalu bahagia.