Belum Berakhir

Belum Berakhir
Bab. 221


__ADS_3

Azmina tersenyum simpul karena apa yang dilakukannya tidak ditolak oleh kedua orang tua calon suaminya itu dengan mengecup punggung tangan mereka semua secara bergantian.


Semuanya saling melempar pandangan karena tidak mengetahui siapa gadis cantik dan muda itu yang berjalan berdampingan dengan Alif.


Hakim Rahman segera maju beberapa langkah menuju ke arah putra semata wayangnya itu.


Hakim Rahman memegangi lengannya Alief Naufal dengan cengkraman yang cukup kuat.


"Katakan pada ayah,apa alasannya kamu ingin cepat menikahi perempuan itu? Jangan sekali-kali berani berbohong kepada kami semua,jika tidak kamu tahu akibatnya jika berani berbohong pada kami kan," Hakim Rahman menggemelatukkan gigi-giginya itu saking terkejutnya mendengar perkataan dari Raisa.


Raisa dan Jihan saling bertatapan satu sama lainnya dan akhirnya ketakutan dan kekhwatiran mereka menjadi kenyataan juga.


Ya Allah matilah Alif, pasti dia bakal terkena masalah akibat ulahnya sendiri. Resiko apapun itu sudah menjadi tanggung jawab yang seharusnya dihadapi oleh Alief.


Semoga saja Alif enggak dipukuli oleh Paman Hakim Rahman, jika tidak kasihan dengan Alief.


Tapi ini sudah menjadi keputusannya dan konsekuensi dari kelakuannya sendiri untuk memilih jalan yang seperti ini.


Berani berbuat yah harusnya juga berani tanggung jawab. Jangan hanya mau enaknya doang kan gini sudah akibat dan konsekuensinya.


"A-nu a-ku i-tu sa-ya mau menikahi Azmina Meidina besok ayah, ijinkan kami segera menikah besok siang," ijinnya Alief yang tidak berani menatap langsung he arah ke dalam bola matanya Pak Hakim.


"Nak Jihan, katakan yang sesungguhnya kepada paman apa yang terjadi sebenarnya di sini, kenapa anak ini ingin cepat menikah?" Tanyanya Hakim dengan tatapan matanya yang tajam.


Ya Allah semoga saja putraku tidak mengulangi kesalahan yang pernah dulu kami perbuat ketika kami masih muda.


Cukup aku dengan Mas Hakim yang mengalami hamil duluan sebelum resmi dan sah menjadi suami istri.


Icha mulai ketakutan dan naluri seorang ibunya keluar,dia sudah memprediksi bakal terjadi sesuatu setelah ia sampai di London. Karena itu lah selama dalam perjalanan dia merasakan kegelisahan dan mencemaskan keadaannya Alief Naufal anak tunggalnya itu.


Jihan melirik sekilas ke arah Raisa dan Alif secara bergantian dia tidak tahu harus berbicara apa. Takutnya kejujuran yang akan diutarakan membuat mereka semua dalam masalah besar yang cukup pelik dan rumit.


Bu Hanin Mazaya yang melihat kebingungan dan kebimbangan cucu bungsunya itu segera menimpali pembicaraan mereka.


"Nak Hakim, sebaiknya kita istirahat terlebih dahulu sebelum membahas masalah apa yang diminta oleh putramu ini. Kalian pasti kelelahan setelah melakukan perjalanan yang cukup lama dan jauh," bujuknya Bu Hanin.

__ADS_1


"Iya semuanya yuk kita masuk ke dalam duduk dulu sebaiknya kemudian bertanya dan menginterogasi Alif, tapi ingat Tante tidak ingin ada kekerasan dalam menyelesaikan masalah apapun itu, karena Tante sudah mendidik mereka dengan baik. Bu Zaskia menjeda perkataannya itu karena melihat raut wajahnya Alif yang sudah pucat pasi.


"Walau terkadang ada yang melenceng dari nasehat yang selalu aku ajarkan untuk kalian semua," imbuhnya Bu Saskia Sophia yang sudah mengerti apa yang terjadi sebenarnya.


Semua orang menuruti dari perkataan kedua wanita paruh baya yang sangat mereka hormati dan sudah dianggap kedua orang tuanya itu.


Baru beberapa detik mereka duduk, tiba-tiba Alif berlutut dan bersimpuh di hadapan kedua orang tuanya itu.


"Maafkan Alif ayah, bunda aku sudah melakukan kesalahan yang sangat besar, aku ingin bertanggung jawab atas perbuatanku terhadap kekasihku yang bernama Azmina Meidina Johan," ungkapnya Alif.


"Apa! Apa maksud dari perkataanmu!? Apa kamu menghamili anak perawan orang Nak?" Tanyanya Hakim Rahman yang spontan berdiri dari duduknya itu.


"Alif putraku apa ini balasan yang kamu berikan kepada kami nak? Ayahmu mati-matian mencari duit untuk kamu bisa kuliah di Luar negeri agar kehidupan dan masa depan kamu lebih baik dari kami, tapi ternyata kamu malah bertindak diluar batas dan tak terkendali!" Teriaknya Icha yang mulai tersulut emosinya itu.


"Icha tenanglah Beb, semua anak itu pasti pernah melakukan kesalahan tapi jangan terlalu menghakimi mereka," nasehatnya Senja.


Icha menyeka air matanya dengan kasar, "Tapi Sen, aku tidak habis pikir anakku yang sholeh ternyata berbuat diluar batas kesabaran kami sebagai orang yang telah melahirkannya!" Geramnya Icha.


"Mungkin kami tidak becus mendidik kamu nak sehingga kamu seperti ini atau karena ini hukuman dan karma yang aku dapatkan setelah melakukan perbuatan seperti ini juga dengan istriku," sesalnya Hakim Rahman yang merasa sangat sedih dan hancur dengan pengkhianatan anak kandungnya sendiri.


"Aunty, Uncle ini bukan salahnya kakak Alif, tapi aku juga ikut andil terus mengiyakan permintaannya kak Alif. Kami berdua yang telah berdosa dan salah. Bukan kalian berdua hiks… hiks…," ratapannya Asmina yang ikut berlututnya di depan semua orang dewasa yang menatap mereka dengan tatapan yang berbeda-beda.


Ya Allah berita ini sudah menggemparkan kelurga ku, bagaimana jika mereka mengetahui jika aku akan menikah juga dengan orang sini.


Apakah mereka juga akan murka dan menentang rencana lamarannya Pak Kaisan Al-ayyubi Haitam atau malah… entahlah aku tidak mau menerka-nerka takutnya kecewa.


"Alif, tidak ada satupun dari kami yang membenarkan apa yang kamu sudah perbuat, tapi kami juga pernah melakukan kesalahan-kesalahan dalam hidup kami. Ayah dan bundamu mungkin hanya shock dan dikejutkan oleh berita yang cukup membuat jiwa mereka terguncang. Uncle yang akan menasehati mereka dan meminta mereka untuk merestui kalian," ungkapnya Kabir Kasyafani.


Perkataan dari Kabir mampu membungkam semua orang yang hadir disana. Memang selama ini hal baik apapun yang diputuskan dan dipilih oleh Kabir,satupun dari mereka tidak ada yang berani menentang, memprotes ataupun menolaknya.


"Kalian pasti kecewa, sedih itu wajar terjadi. Saya pun jika berada diposisi kalian sekarang ini akan mengeluarkan segala kegundahan hatiku, tapi nasi sudah menjadi bubur. Mau tidak mau Alif harus mutlak bertanggung jawab." Sahutnya Jingga yang tidak ingin melihat perdebatan mereka menimbulkan perpecahan persaudarannya.


"Iya Mas Hakim, kasihan mereka jika tidak segera dinikahkan, pasti tentu saja kalian tidak ingin melihat mereka terus berbuat dosa kan? Jadi solusi dan jalan keluar yang paling tepat adalah menikahkan mereka," timpalnya Guntur Aswin.


"Kalau menurut kami semua, itu adalah solusi yang paling benar dan tidak ada yang tersakiti kedepannya, dan semoga ini menjadi pelajaran untuk yang lainnya," sahut Zania Mirzani.

__ADS_1


Icha dipeluk oleh Senja yang terus saja menangis tersedu-sedu, sedangkan Hakim semua sahabatnya berusaha untuk menenangkannya. Hakim Rahman menghela nafasnya dengan cukup kasar.


"Baiklah, besok malam kalian akan menikah setelah ba'da shalat magrib. Tapi,ingat mulai detik ini Ayah akan menghentikan uang belanja kamu setiap bulannya,kami akan membayar biaya kuliahnya kamu saja dan mengenai uang jajanmu kamu berusaha sendiri dan mungkin bang Kabir bisa menerimanya magang di perusahaannya bang untuk membiayai kehidupan dan biaya persalinan istrinya nanti." Putusnya secara final Hakim.


"Sudah diputuskan oleh semua orang yang hadir di sini. Galang dan Hana kamu kan punya teman desainer di kota London, cepatlah suruh mereka untuk buat pakaian gaun pengantin untuk mereka harus selesai sebelum acara akad nikahnya dimulai," titahnya Pak Septa Danu Triadji.


Hakim Rahman dan istrinya terkejut mendengar perintah dari papa atasannya itu. Dia sungguh tidak menduga jika mereka akan melakukan hal ini, padahal mereka hanya pekerja saja di bawah naungan perusahaan putranya yaitu Sanders Company.


"Bunda yang akan mengurusi semua masalah catering dan tempat nikahnya. Aku pinta pada Fajri Bachan mungkin masih punya kenalan yang bisa dimintai untuk menikahkan mereka dan kamu Nak Mike Andres bisa bantu mereka untuk mengurusi segala sesuatunya masalah administrasi di kedutaan besar Republik Indonesia dan pasti mereka akan membantu memberikan petunjuk untuk meminta ijin menikah," perintah Bu Hanin Mazaya.


"Kami siap melakukan yang terbaik untuk Alif dan semoga kesalahannya Alif menjadi pengalaman dan hal berharga dalam hidup kalian semua," cercanya Mike Andreas.


"Kami para emak-emak akan membantu kalian para bapak keren, Iya kan?' ucapnya Vania Larissa.


"Hemp, tapi ngomong-ngomong gimana dengan ulang tahunnya Gibran, Jinan dan Jihan Ma?" Celetuknya Raisa Andriana yang sedari tadi ingin berbicara mengeluarkan pertanyaannya.


Jihan melirik sekilas ke arah Raysa dengan melototkan matanya itu. Raisa hanya tersenyum cekikan.


"Kami akan menggelar acara akad nikah Alief terlebih dahulu kemudian acara surprise party untuk ketiga cucuku tersayang," balasnya Bu Hanin.


Mungkin ini bukan waktu yang tepat untuk membicarakan masalah rencana lamarannya, tapi jika tidak mengatakan sekarang kapan lagi. Ya Allah aku sungguh bingung untuk memulai bicara dari mana dulu.


Jihan mulai gelisah dan kebingungan dan juga tidak percaya diri untuk berterus terang di depan sanak saudaranya.


"Mah, Pah besok adalah.. ," ucapannya Raisa terhenti karena kakinya segera diinjak oleh Jihan.


"Augh," keluhnya Raisa.


Jihan menggelengkan kepalanya itu agar Raisa tidak berbicara tentang lamarannya.


"Kalian Kenapa, ada apa putriku?" tanyanya Naysila.


"Hem, aku tidak apa-apa kok mah," kilahnya Raisa yang mendapatkan ancaman melalui lewat tatapan matanya Jihan.


Semua orang menatap mereka satu persatu dengan menautkan kedua alisnya mereka semua melihat sikap aneh keduanya.

__ADS_1


Hazel milik Kaisan


__ADS_2