Belum Berakhir

Belum Berakhir
Bab. 27. Mencari Asisten Rumah Tangga


__ADS_3

Jingga memilih jurusan studi ekonomi manajemen, karena sejak masih kecil ia bercita-cita sebagai manajer perusahaan, tapi paling anti jadi sekretaris sedangkan Senja memilih menjadi calon dokter anak.


"Hari ini jika urusan di kampus sudah selesai aku akan pergi mencari Papa, untungnya aku ambil kunci cadangan rumah lama jangan sampai papa tinggal di rummengampkjkkkah lama," gumamnya Senja.


Jingga membelokkan motornya di depan ujung jalan, karena fakultas mereka berbeda. Walaupun sama-sama dalam area lokasi universitas yang sama.


Jingga membunyikan klakson motornya untuk memberikan tanda kepada adiknya jika ia sudah bersiap membelokkan arah motornya itu. Senja tersenyum menanggapi apa yang dilakukan oleh kakaknya itu.


Sedangkan Aliya, berjalan sekitar taman bunga mininya. Ia memeriksa beberapa kondisi bunga yang cukup indah itu. Dia membungkukkan tubuhnya untuk beberapa daun yang berceceran di atas tanah.


"Bunganya cantik-cantik tapi, apa Bu Nia tidak menyiram bunganya padahal sudah aku jelaskan padanya agar setiap hari memeriksa bungaku," gumamnya Aliyah yang tidak menyangka tamannya akan seperti ini penampakannya.


Aliah mengomel sambil terus merapikan dan membersihkan daun-daun yang hampir memenuhi semua tanahnya taman itu.


"Apa aku sewa tukang kebun juga, hari ini kan mau cari orang yang bisa aku suruh bersihkan rumah, masak sama mencuci pakaian, katanya Bu Widya ada di jalan xx orang yang bisa membantu mencarikan art yang bisa dipercaya, kalau gitu aku ambil dompet sama kunci motor enggak mungkin aku ke sana jalan kaki segala," cicitnya Aliah.


Aliya segera berjalan ke arah dalam kamar mandi bagian belakang untuk mencuci tangannya dengan air sebelum ia berangkat. Alia cukup sibuk dan tidak punya banyak waktu untuk mengurusi segalanya sehingga membutuhkan dua orang yang bisa membantunya mengurusi segala-segalanya.


Aliya mengendarai motornya sambil menyalakan GPS di layar ponselnya untuk mencari alamat sepasang suami istri yang direkomendasikan oleh Bu Widya yang bisa dipekerjakannya di rumahnya itu.


Aliya menghentikan laju kendaraan roda duanya tepat di depan rumah orang yang nantinya akan bekerja di rumahnya.

__ADS_1


"Ibu Widya katanya sudah menghubungi ibu Anna dan suaminya pak Harto, semoga saja ada di rumah," gumamnya Alia sambil mematikan mesin mobilnya.


Alia berjalan ke arah dalam rumah Bu Anna yang tidak memakai pagar pembatas rumahnya.


"Rumahnya cukup kecil, katanya punya enam anak, gimana caranya mereka tinggal dan hidup dengan rumah sekecil ini, kasihan sekali, dinding rumahnya hanya terbuat dari anyaman bambu apalagi bambunya sudah lapuk dan hampir roboh, aku kira kehidupan aku dengan Mas Leo dulu lebih memprihatinkan dari pada kehidupan orang lain, disini lah makna dan harus selalu bersyukur dan menghargai kehidupan yang sudah ada kita jalani dengan baik dan selalu mawas diri," Aliya terus berjalan selangkah demi selangkah menapaki jalan yang masih beralaskan tanah liat itu yang berdebu.


Seorang anak kecil membuka pintu yang terbuat dari triplek itu yang sama sekali tidak dicat warna apapun, dua orang anak kecil berlarian ke arah luar rumah sederhana itu.


"Adek Arif kembalikan pensilku, saya mau kerja tugas kakak!" Teriak seorang anak perempuan yang memakai hijab abu-abu mengejar anak laki-laki yang disapa adik Arif.


"Saya juga mau kerjakan tugas kakak, kalau nungguin kakak selesai pasti masih butuh waktu lama," balasnya anak kecil yang hanya terpaut sedikit saja beda ukuran tingginya dengan anak perempuan satunya.


Aliya hanya terdiam memperhatikan apa yang dilakukan oleh kedua anak kecil tersebut.


"Jangan berlarian adek, nanti kalian terjatuh, gantian saja pakai pensilnya dek nanti kalau ibu sama bapak punya uang baru dibelikan!" cegahnya seorang anak perempuan yang kira-kira berusia dua belas tahun memakai hijab seperti adiknya tadi.


Aliya terus memperhatikan apa yang dilakukan oleh ketiga anak tersebut, hingga suara gemuruh langkah kaki menapaki lantai rumah yang masih terbuat dari tanah itu.


Tiga anak yang berlarian bersamaan kearah luar dengan postur tubuh yang hampir sama tinggi dengan wajah yang sama dan persis. Kemungkinannya mereka adalah anak kembar.


"Ya Allah… sungguh kasihan kehidupan kalian, semoga dengan bekerja di rumah kehidupan kalian bisa lebih baik lagi hal seperti ini tidak terjadi lagi,"

__ADS_1


Aliya segera berjalan ke arah mereka sehingga ke enam anak itu langsung menghentikan kegiatan mereka saling berkejaran.


Ketiganya menatap dari ujung hijabnya hingga ujung sendalnya Aliya,"assalamualaikum Ibu, maaf cari siapa?" Tanyanya anak perempuan yang paling besar dari kelima adiknya.


Aliyah mengelus puncak hijab anak tersebut, "Waalaikum salam, saya mau bertemu dengan ibu Anna apa beliau ada?" Tanyanya Aliya.


"Ibu ada kok, emangnya kenapa cari Ibuku?" Tanyanya anak yang dipanggil adek Arif tadi.


"Adek kok ngomongnya seperti itu sama orang yang lebih tua? Ibu ada, saya panggilkan dulu yah, Nyonya boleh masuk dulu di rumah sambil nungguin saya panggilkan ibu," ucapnya anak gadis berusia sekitar tiga belas tahun atau dua belas tahun itu.


Aliya duduk melantai di atas tikar plastik yang sudah usang tapi, bersih dan mengkilap. Rumah itu kumuh kebersihannya tidak diragukan. Aliya memuji kebersihan dari dalam rumah itu, walaupun perabot rumahnya hanya sedikit tapi tertata rapi.


"Adek Anni kamu suguhkan teh untuk tamu kita yah,kakak mau panggil ibu di kebun dulu," pintanya anak perempuan satunya lagi.


"Siap kakak Annisa," jawabnya Anni.


Sedangkan keempat anak lainnya duduk di sekitar tikar yang diduduki oleh Aliah dengan tenang dan tertib. Aliya hampir melupakan barang-barang yang sempat dibelinya tadi sebelum datang setelah mendengar dari ibu Widya, jika bu Anna itu punya tiga buah hati yang sudah sekolah,tapi sayangnya tidak membeli perlengkapan tulis menulis.


"Adek, boleh bantuin Tante ambil kantongan plastik kresek di motornya Tante, ada tiga kantongan itu berwarna putih kamu bawa masuk semuanya itu hadiah untuk kalian yang sangat patuh," ujarnya Aliya sambil menunjuk ke arah motornya yang terparkir di pinggir jalan belum sempat memasukkan motornya.


Semuanya langsung berdiri dan berjalan tergesa-gesa ke arah luar untuk memenuhi permintaannya Alia. Mereka nampak senang setelah mendengar jika semua barang belanjaan yang ada di dalam kantong kresek plastik putih itu adalah milik mereka.

__ADS_1


"Ya Allah… kasihan sekali kehidupan mereka, punya anak lima dengan kehidupan yang pas-pasan pasti akan merasa bagaimana gitu, kalau saya diposisinya Ibu Anna pasti akan kelimpungan menghadapi kelima anak itu apalagi kalau bersamaan merengek meminta sesuatu,tapi uang tidak ada,"


__ADS_2