
Aliya tidak peduli tatapan iba, mencemooh ataupun berbagai macam tatapan mata yang dilayangkan oleh orang-orang yang memperhatikannya ketika masih berada di dalam Mall.
Ini tidak mungkin, dengan mata kepalaku sendiri aku melihat pria yang aku cintai, Pria yang aku hormati tenyata begitu teganya berpelukan dengan perempuan lain di depanku sedangkan perempuan itu sudah aku anggap saudariku sendiri.
Aliya Azizah Humairah ingin sekali berteriak kencang kala, ketika melihat pria yang sangat dipuja-pujanya, dihormati, dicintai, disayanginya, dipercayanya itu dengan segenap jiwa dan raganya menerima segala kekurangan suaminya selama pernikahannya yang sudah masuk usia sepuluh tahun.
Tetapi, hanya dalam sekejap mata saja, semuanya hancur berkeping-keping dan lebur tanpa tersisa setelah melihat langsung dengan kedua pasang matanya, suaminya berpelukan dan bermesraan dengan seorang perempuan yang sangat diketahui siapa perempuan itu.
Aliya menutup rapat pagar rumahnya dibarengi dengan air matanya yang terus menetes. Rumah yang sudah lebih sepuluh tahun ia tempati dengan begitu banyak kenangan yang tercipta di dalamnya.
"Maafkan saya mas Leo, aku hanya wanita biasa yang tak lupuk dari kesalahan, aku hanya berharap agar kalian berdua bahagia biarlah aku yang mengalah demi kebaikan kita bersama," Lirihnya Aliya seraya mengunci dan memasang gembok rumahnya itu.
Beberapa tetangga tanpa sengaja dan melihat apa yang dilakukan oleh Aliya, tetapi mereka tidak ingin ambil pusing dan kepo dengan kehidupan rumah tangganya Aliya sejak dulu seperti itu.
Aliya segera memesan ojek online yaitu taksi, karena tidak mampu membawa beberapa barang bawaannya di atas motornya itu. Aliya menunggu sekitar sepuluh menit, hingga kedatangan mobil taksi yang dipesannya lewat aplikasi yang sudah ada dihpnya tersebut.
Sore menjelang malam itu cukup ramai, hilir mudik pengendara motor dan mobil memadati semua jalan raya ibukota. Aliah memutuskan untuk menyimpan kembali ke dalam motornya, awalnya hendak dibawa juga bersamanya. Tetapi, setelah dipikir-pikir akan menghambat perjalanannya ke luar daerah.
"Saya harus mencari rumah kontrakan yang jauh dari sini, karena aku tidak mungkin membawa kedua anakku ke luar daerah sebelum mengurus semua surat-surat kepindahannya, aku juga tidak ingin balik ke kampung halamannya bapak dengan ibu pasti Mas Leo bisa menemukanku di sana, apa aku sebaiknya mendatangi tempat tinggal Abang Sandi dengan istrinya di pulau Kalimantan Selatan saja, itu daerah cukup jauh dari Jakarta pasti Mas Leo kesulitan menemukan keberadaan kami," cicitnya Alia.
Untungnya Aliyah punya tabungan cukup besar selama menjadi penulis novel online yang sama sekali tidak pernah disentuhnya. Ada juga sedikit uang celengan kedua anak kembarnya serta tabungan yang disisihkannya dari sisa uang belanja bulanan yang diberikan oleh suaminya itu.
"Insya Allah… dengan tabungan yang aku miliki itu insha Allah aku bisa menyambung hidup kami diperantauan,"
Berselang beberapa menit kemudian, Aliya sudah sampai di depan sekolah kedua putrinya itu. Senja dan Jingga tidak banyak tanya dengan kedatangan mamanya itu dengan memakai taksi online. Anak berusia delapan tahun itu hanya melihat raut wajah mamanya sudah sedikit paham dengan apa yang sedang terjadi.
__ADS_1
"Mama," sapa keduanya itu.
"Masuk Nak, kita akan pergi dari sini, kalian tidak keberatan kan kalau beberapa hari ini tidak masuk sekolah dulu sebelum Mama cari sekolah yang cocok untuk kalian berdua?" Ucapnya Aliya.
Untungnya kedua anaknya baru duduk dibangku sekolah dasar kelas empat sehingga tidak menyulitkan untuk mengurus kepindahan sekolah keduanya.
"Kami ikut kata mama saja," imbuh Jingga anak sulungnya.
"Kami tahu pasti ada alasan tersendiri yang Mama miliki sehingga kami pindah sekolah tapi, apapun itu saya dengan kakak Jingga akan menuruti semua perkataannya Mama," timpalnya Senja.
Kedua anak kembarnya memang cukup dewasa untuk memaknai dan mengerti kehidupan yang terjadi pada kedua orang tuanya itu.
"Sial! Aku terlalu teledor sampai-sampai tidak memperhatikan sekitar, sehingga istriku Aliya sudah mengetahui keburukan dan kebusukan yang sudah aku perbuat, aku terlalu lemah dan bego dengan keputusan yang sudah aku ambil yang akhirnya aku menyesali keputusan itu!" Umpatnya Leo.
Leo berteriak histeris di parkiran karena, sudah tidak melihat keberadaan istrinya itu. Ia menendang mobil dinas yang dipakai ke mall bersama dengan temannya itu.
Leo sama sekali tidak peduli dengan keadaannya Adinda, ia terus mencari Aliya. Untungnya Arif Rahman Hendrawan sahabatnya yang bersama dengan Adinda istri keduanya sepeninggal Leo.
"Kamu baik-baik saja kan?" Tanyanya Arif yang iba melihat perempuan yang dulunya sangat dicintainya secara diam-diam tapi malah memutuskan untuk jatuh cinta kepada sahabatnya yang sudah jelas-jelas memiliki istri dan dua orang anak.
Adinda berusaha untuk tersenyum walaupun hatinya sedih, kecewa, hancur, malu. Tapi ia berusaha untuk kuat dan tegar menghadapi tatapan mencemooh dan hinaan dari banyaknya orang yang memadati mall tersebut yang menyaksikan langsung kejadian tersebut.
"Mbak tolong dihitung semua total belanjaannya, pakai kartu ini," pintanya Arif yang sangat kasihan melihat Adinda.
"Makasih banyak Mas sudah bantuin,maaf kalau sudah merepotkan, tapi belanjaanku cukup banyak takutnya malah mengusahakan Mas jadi sebagian dibalikkan saja," lirih Adinda.
__ADS_1
Arif tersenyum lebar," kamu tidak perlu berterima kasih karena kamu adalah istri dari temanku, dan tidak perlulah meminta maaf juga karena kamu tidak punya salah sedikit pun padaku, jadi santai saja," imbuhnya Arif dengan senang hati.
Adinda merasa sangat malu dengan kondisinya saat itu," andaikan waktu itu aku tidak menjebak Mas Leo pasti aku tidak akan berada di posisi seperti sekarang ini,"
"Adinda maaf andaikan kau tahu pria yang bersamamu malam itu adalah aku pasti semua ini tidak akan terjadi, tetapi aku terlalu takut untuk mengakui dihadapan kakakmu dan juga Leo,kalau anak yang kamu kandung adalah anakku darah dagingku sendiri," Arif membatin.
"Mas apa aku bisa meminta tolong lagi?" Tanyanya Adinda.
"Tolong diantar ke alamat ini yah, ini ongkos kirimnya," ujar Arif ketika berbicara dengan salah satu karyawan toko tersebut khusus bagian pengantaran barang.
Arif segera berjalan ke arah Adinda yang duduk di kursi tunggu.
"Kamu mau minta tolong apa?"
Adinda berasa segan dan malu untuk mengatakan permintaannya itu, "Apa saya boleh minta mas Arif untuk antar saya pulang?"
Arief sudah mengatur semuanya dengan baik, melupakan keberadaan Leo yang belum balik juga.
"Tanpa kamu meminta pun saya pasti akan membantumu, ingat kamu istrinya Leo dan adiknya Jaka sahabat baikku jadi tidak perlu sungkan untuk meminta bantuan ku, saya dengan senang hati menolongmu, jadi mulai detik ini kamu jika butuh bantuan apapun itu cukup telpon nomorku kamu kan punya nomornya,"
"Iya Mas aku punya kok, kalau semuanya sudah selesai aku mau balik ke rumah, aku butuh istirahat Mas,"
Keduanya sudah berada di dalam mobil menuju ke komplek perumahannya. Sesekali Arif dan Adinda memperhatikan jalan yang dilaluinya,jangan sampai mereka melihat Leo ataupun Aliya. Tapi, hingga mobilnya Arif sudah berada di depan rumahnya, kedua orang itu tidak kelihatan sama sekali.
Adinda melihat ke arah rumahnya Aliya yang keadaan rumahnya cukup gelap. Karena satupun lampunya belum ada yang menyala.
__ADS_1
"Mbak Aliyah kemana, kenapa kondisi rumahnya sangat sepi seperti tidak ada sedikitpun tanda-tanda orang yang berada di dalamnya," Adinda memperhatikan dengan seksama rumah tetangga sekaligus istri pertama dari suaminya itu.