
"Kenapa mama panik seperti ini, apa yang terjadi padamu Ma?" Tanyanya Jingga.
Aliyah mengarahkan pandangannya ke semua orang satu persatu. Dia tidak mungkin berkata jujur pada anaknya. Sedangkan anak-anaknya sudah menerima kehadiran calon adiknya mereka. Baginya Aliyah cukup dia dan suaminya saja yang mengetahui hal besar ini.
Aliya tersentak mendengar pertanyaan yang dilayangkan oleh Jingga," eh a-nu, itu saya ehh mama sepertinya..." lidahnya Aliyah tiba-tiba keluh seketika itu juga.
Dia kehabisan kata-kata untuk kembali menutupi kenyataan yang telah terjadi. Alia dan Leo Carlando mengetahui tentang berita bahagia dan menggembirakan itu. tetapi Leo tidak mengetahui jika Aliya merahasiakannya dari seluruh anggota keluarganya jika dia hamil.
"Mama beristirahat saja yah, kalau ada yang mama butuhkan tidak perlu sungkan untuk mengatakan kepada kami,ada Bu Minah juga yang siap sedia membantu Mama, jadi Mama perbanyak istirahat saja dulu untuk beberapa hari, masalah persiapan pernikahannya kakak Jingga serahkan padaku,ada bang Kabir serta yang lain insha bisa menghandle segala sesuatu kebutuhan dan persiapan pernikahannya," pintanya Senja yang meminta kepada mamanya.
"Ya Allah putriku,mama ini hanya pusing kepala biasa saja Nak bukan penderita penyakit kronis, jadi Mama akan kembali beraktifitas seperti biasa, masalah toko pakaiannya mama juga besok pagi openingnya jadi tidak mungkin Mama hanya rebahan dan duduk manis disini," tampiknya Aliyah yang sangat tidak ingin kehamilannya terekspos atau pun ketahuan oleh orang lain.
Bi Sri yang mendengar perkataan dari anak mantunya yang baru saja datang kembali ke dalam kamarnya Aliaya segera menimpali percakapan mereka.
"Kamu memang tidak sakit,tapi kamu itu sedang hamil calon cucu ketiganya Mama, jadi kamu lebih baik banyak-banyak istirahat saja, pikiran kamu harus rileks dan tenang, tidak perlu repot-repot memikirkan banyak hal," ucapnya Bu Sri Indrawati.
Apa yang dikatakan oleh perempuan paling dituakan di rumah itu membuat Senja dan mamanya terkejut bukan main.
Aliyah meremas ujung badcover yang dipakainya,dia mulai nampak gelisah dan raut kepanikan jelas terlihat di air mukanya.
Ya Allah berarti semua orang sudah mengetahui berita kehamilanku ini, tapi kenapa mereka diam saja, terutama kedua putri kembarku. Apa dia tidak berkata jujur agar aku tidak malu dengan berita kehamilan ini.
Berbagai macam pemikiran berkecamuk di dalam dadanya Aliah, dia reflek menundukkan wajahnya karena dia sungguh malu dengan kenyataan itu.
"Maksudnya Mama apa?" Tanyanya Aliaya yang berpura-pura tidak paham dan mengerti dengan maksudnya Bu Sri.
__ADS_1
Bu Sri yang tidak mengetahui apa yang terjadi semakin sumringah melihat reaksinya Aliyah yang seolah belum mengetahui berita kebenaran jika dia telah hamil usia kehamilannya sudah tiga bulan lebih.
Bu Sri memegangi tangan anak menantunya itu dengan seulas senyuman tulusnya.
"Nak Mama sangat gembira mendengar kamu akan memiliki calon anak ketiga kamu dengan putraku, ini adalah kesempatan pertamanya Mama untuk melihat, menjaga kamu selama kehamilan kau ini, ingatkan dulu ketika kamu hamil anak pertamamu, Mama bekerja menjadi TKI di Malaysia, tapi kali ini semuanya sudah berubah dan Alhamdulillah Alloh SWT memberikan mama kesempatan besar itu," ujarnya Bu Sri panjang kali lebar sama dengan luas.
Bu Sri menarik tubuh menantunya kedalam dekapan hangatnya yang sungguh sangat veri very excited akan kabar bahagia dan berkah serta anugerah amanah yang diberikan oleh Allah kepada pasangan suami istri itu yang bernama Aliyah Azizah Khumaira dengan suaminya yang bernama Leo Carlando Zain Pratama.
Aliyah membelalakkan matanya saking terkejutnya mendengar perkataan dari mama mertuanya. Dia menyangka bahwa mertuanya, apabila mengetahui tentang kebenaran akan kandungannya itu, akan marah, komplen dan protes dengan pilihan suaminya yang menyarankan padanya untuk berhenti memakai alat kontrasepsi berupa spiral yang selama ini dipakainya.
Dahi Aliya berkerut saking keheranan dengan tanggapan dari mertuanya yang sungguh berbeda dengan beberapa hari belakangan ini yang selalu ditakutkan dan dicemaskannya.
"Mama senang dan tidak marah dengan keputusan mas Leo untuk memiliki anak lagi?" Tanyanya Alia yang seperti pertanyaan orang linglung dan bego saja.
Senja cukup kaget dengan penuturan dari Neneknya itu, dia gembira dan happy banget karena kehamilan mamanya tidak menimbulkan masalah yang sangat serius seperti yang dia pikirkan.
Alhamdulillah kehadiran adik kami ditengah-tengah kami kelak semoga membawa kebahagiaan dan keberkahan yang tidak terkira jumlahnya.
"Hemm, berarti anak-anakku nanti bakal punya teman bermain, pasti seru dan menggemaskan jika kelak mereka telah lahir," ucapnya Senja yang ikut memeluk tubuh mamanya itu.
"Nenek juga masih terkadang percaya atau enggak, soalnya mama berharap nimang cucu dari paman kamu Lutfhi tapi, hingga kini istrinya belum hamil juga, Nenek yakin Lutfi Khaer pamanmu pasti sudah mendamba keturunan di dalam rumah tangganya, mereka sudah hampir setahun menikah tapi tidak ada tanda-tanda akan segera diberikan kepercayaan momongan," ucap Bu Sri dengan sendu
Senja dan Aliya memeluk erat tubuh renta Bu Sri yang sebenarnya masih segar dan kuat diusianya yang sudah senja dan uzur.
Ya Allah aku sangat senang saking bahagianya mendengar perkataan dari mertuaku, jika beliau sama sekali tidak mempermasalahkan aku hamil diusiaku yang sudah masuk kepala empat.
__ADS_1
Padahal satu bulan ini, aku sungguh sangat khawatir, kecemasan berlebihan yang aku rasakan hingga membuatku kesulitan untuk tidur setiap malamnya.
Mas Leo bakal bahagia setelah mengetahui berita baik ini, makasih banyak ya Allah aku mendapatkan keluarga yang begitu tulus mencintaiku dan memiliki anak-anak yang sangat baik dan sholehah.
Aliya menitikkan air matanya saking terlalu bahagianya mendengar dan melihat langsung sikap anggota keluarganya yang membuka tangan dan hati mereka menerima kenyataan jika dia hamil lagi untuk kedua kalinya selama dalam hidupnya mengingat usianya yang tidak muda lagi pastinya.
"Kalau gitu Mama bedrest saja dulu, masalah pernikahannya kakak Jingga yang seminggu lagi kami akan yang akan tangani, insha Allah banyak asisten pribadinya bang Kabir suamiku yang bisa membantu kita semua," imbuhnya Senja yang tersenyum lebar.
Perbincangan mereka menjalar kemana-mana tanpa terasa sudah malam. Senja menaiki tangga menuju kamarnya, tubuhnya cukup kelelahan karena seharian beraktifitas.
"Alhamdulillah masalah mama sudah teratasi, semoga saja kedepannya tidak bakal ada lagi masalah yang cukup berarti yang datang di keluargaku," lirihnya Senja yang berjalan perlahan-lahan.
Kabir yang sedang sibuk mengerjakan pekerjaan tidak merasakan kehadiran istrinya. Senja mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamarnya hingga sudut netra hitamnya melihat sosok pria yang begitu berkarisma menekan tombol laptopnya secara bergantian.
Dari sudut manapun orang memandangi parasmu suamiku, orang pasti akan kagum dan klepek-klepek melihat ketampanan paripurna yang kamu miliki.
Entah sejak kapan aku mulai merasakan cinta itu untukmu, aku pun tidak mengerti, kenapa aku terlalu begitu mencintaimu hingga keegoisanku muncul dan mendoktrin aku untuk tidak ingin berbagi dirimu, cintamu dan rasa sayangmu padaku.
Senja kembali menutup pintu kamarnya dengan sangat hati-hati, karena dia tidak ingin menganggu aktifitas suaminya itu. Dia hendak berjalan ke arah dapur untuk membuat makanan dan minuman yang disukai dan paling cocok sebagai teman lembur kerja suaminya.
Sepertinya kue puding cokelat dan kopi paling nikmat disantap bersama dengan rutinitas suamiku yang padat.
Senja tersenyum simpul seraya menuruni anak tangga yang hendak berjalan ke arah dapur. Ia sudah membayangkan masakannya disukai oleh suaminya itu.
Setelah pintu tertutup rapat, Kabir segera menolehkan kepalanya ke arah kepergian istrinya itu. Kabir celingak-celinguk sembari segera membuka laci meja kerjanya, dia ingin menelepon nomor ponsel seseorang tanpa ingin diketahui oleh istrinya itu.
__ADS_1