Belum Berakhir

Belum Berakhir
Bab. 66 Pertemuan Dengan Papa


__ADS_3

Senja menuruni undakan anak tangga satu persatu dengan perasaan yang bahagia. Ia masih sering teringat dengan apa yang barusan di dengarnya dari bibirnya calon suaminya sendiri.


Senja melihat sudah banyak anggota keluarganya sanak saudara dan kerabatnya yang berdatangan memenuhi rumah mamanya. Mereka berdatangan dari dalam kota Jakarta, dari luar daerah, propinsi maupun ada yang dari luar pulau Jawa.


"Senja," cicitnya Aliah yang berdiri menyambut kedatangan putri kandungnya itu.


Senja cukup penasaran dengan tamu spesial yang dimaksud oleh tantenya Bu Aisyah.


"Mama," balasnya Senja yang mempercepat langkah kakinya menuju ke arah mamanya berada.


Seorang pria yang mendengar suaranya Senja segera berdiri dan menolehkan kepalanya ke arah kedatangan Senja. Ia langsung tersenyum menyambut kedatangan putrinya itu.


"Senja," ucapnya orang itu.


Senja yang mendengar seruan dari seseorang segera mendongakkan kepalanya ke arah sumber suara. Senja membelalakkan matanya saking terkejutnya melihat siapa orang yang berdiri di depannya itu dengan senyuman khasnya.


"Papa Leo!" Teriaknya Senja seraya segera berlari cepat ke arah papanya.


Sosok pria yang sejak sebelas tahun yang lalu tidak pernah bertemu dengannya. Bahkan berbagi kabar dan informasi lewat telpon ataupun media sosial sama sekali tidak pernah dia dapatkan.


Senja memeluk tubuh pria yang sangat dihormatinya, disayanginya itu bahkan sedikitpun tidak pernah marah,benci ataupun dendam kepada papanya. Meski papanya itu menyakiti hati mamanya dengan berselingkuh dengan tetangganya sendiri yang sudah dianggapnya adik kandungnya.


Bagi Senja dan Jingga itu urusan kedua orang tuanya karena bagaimanapun juga mereka tetap kedua orang tua kandungnya. Selamanya tidak akan pernah berubah walau banyak masalah ataupun kejadian yang terjadi di dalam keluarganya.


Senja memeluk erat tubuh papanya itu seraya menangis tersedu-sedu saking bahagianya bisa dipertemukan kembali dengan papanya setelah sekian lamanya.


"Papa kenapa baru sekarang datang menemui kami? Apakah papa tidak pernah merindukan Senja, Jingga dengan Mama," ucapnya sendu Senja.


Leo membalas pelukan putri keduanya itu," sayang putrinya Papa, maafkanlah papa yang sudah membuat kamu sedih dan kecewa, pasti hidup kalian sulit selama kita berpisah, Papa sangat bersyukur karena kalian berdua masih menyayangi Papa hingga detik ini, papa sungguh bahagia karena kalian masih memberikan kesempatan kepada Papa untuk kembali berkumpul bersama dengan kalian semua," ujarnya Leo yang air matanya terus menetes membasahi pipinya sejak melihat anak bungsunya.


Alia dan yang lainnya yang hadir di dalam ruangan tersebut ikut menangis tersedu-sedu dan sedih serta terharu melihat pertemuan kembali ayah dan anak itu. Jingga pun tidak mau tinggal diam saja melihat adiknya berpelukan dengan papanya itu.

__ADS_1


"Semoga kalian bahagia dan bisa berkumpul seperti dahulu lagi," Bu Aisyah menyeka air matanya menetes membasahi pipinya itu.


"Ya Allah ternyata pilihan aku ini sangat tepat untuk memanggil kembali papanya bertemu dengan Senja, apakah memang selama ini aku saja yang terlalu egois sehingga tidak pernah memikirkan keinginan dari kedua putriku," Alia pun tidak menyangka jika pertemuan antara anak dan suaminya begitu mengharu biru.


"Senja Starla Airen apakah hanya papamu saja nak yang kau peluk? Sedangkan nenek sejak tadi dicuekin oleh kalian saking bahagianya bertemu," candanya Bu Marsita ibunya Leo.


Senja segera mengalihkan perhatiannya ke arah perempuan paruh baya yang sudah berdiri merentangkan kedua tangannya untuk menyambut cucu keduanya itu.


Senja menatap ke arah papanya seolah meminta persetujuan dengan raut wajah yang keheranan. Karena seumur hidupnya baru kali ini melihat wanita tua itu dalam hidupnya.


Aliyah berjalan ke arah putri kembarnya itu, terutama kepada anak bungsunya yang memang nampak dengan jelas tidak mengenal dan mengetahui siapa Bu Masitah Marsita.


Aliah mengelus punggung putrinya itu, "Putriku beliau ini adalah nenek kamu dia Nek Masitah beliau baru balik dari Malaysia Kuala Lumpur, jadi selama ini kamu tidak pernah bertemu dengannya," imbuhnya Alia lagi.


"Kamu sangat cantik cucuku kalian berdua sangat mirip dengan papa kalian dan cantiknya seperti mama Aliah," pujinya Bu Masitah.


Senja segera meraih punggung tangannya ibu Masitah kemudian menciumnya penuh dengan takzim. Senja pun memeluk tubuh neneknya itu dengan tatapan matanya bahagia.


Semuanya kembali duduk untuk berbincang-bincang mengenai persiapan pernikahannya Senja. Adicandra yang awalnya ngambek karena seolah tidak dihiraukan kehadirannya sekarang tidak mau pisah jauh-jauh dari kedua kakaknya.


Perbincangan mereka sudah panjang kali lebar hingga dari ujung barat hingga ujung timur pembahasan yang mereka perbincangkan sore hari itu.


Lutfi Khaer bersama dengan ibu guru cantiknya sebagai calon istrinya itu pun sudah datang meramaikan acara ngumpul sore mereka. Sasmita Larasati bersama kedua orang tuanya dari pihak Aliya bukan datang berkunjung karena Lutfi melainkan karena Aliya dengan papanya Sasmita adalah sepupu sehingga pasti mereka juga hadir.


Perbincangan hangat mereka terganggu ketika Jingga histeris berteriak kencang saat mendengar berita dan kabar duka cita yang mengatakan bahwa kekasihnya yang kuliah di luar negeri dinyatakan meninggal dunia dalam kecelakaan.


"Tidak Bang Abdil Pramudya!" Jeritnya Jingga Aurora yang sudah menjatuhkan ponselnya bersamaan dengan terkulai lemas tak berdaya tubuhnya ke atas lantai.


Aliya, Leo dan Senja dan lainnya ikut berlari ke arah Jingga yang tidak sadarkan diri setelah berteriak dengan suara yang cukup tinggi dan nyaring.


"Jingga putriku!" Pekik Aliah yang sudah memeluk tubuh putrinya itu.

__ADS_1


"Kak Jingga bangun dong," ucapnya Senja sambil menepuk-nepuk pipinya Jingga


Nampak dengan jelas raut wajahnya Aliah, Leo,Senja dan anggota keluarganya melihat raut wajahnya Jingga yang pucat pasi keringat dingin bercucuran membasahi pipinya Jingga. Ketakutan, kecemasan dan rasa khawatir sudah bercampur aduk menjadi satu bagian.


"Leo cepat gendong putrimu ke dalam, jangan biarkan berlama-lama dalam keadaan seperti ini," perintahnya Bu Sita.


"Aku akan segera menelpon dokter Dian Ma," ucapnya Senja yang berdiri dari posisi duduknya.


"Astaughfirullahaladzim apa yang terjadi pada putriku, kenapa tiba-tiba pingsan?" Ratapnya Alia yang sudah membantu putrinya untuk berbaring dua atas ranjangnya.


"Senja apa dokter Dian sudah kemari?" Tanyanya Bu Sita.


"Alhamdulillah beliau sudah dijalan nek," balasnya Senja yang membantu Jingga mengoleskan minyak kayu putih ke hidung dan tengkuk lehernya Jingga.


"Nyonya Alia ini ponselnya Non Jingga sedari tadi berbunyi terus tidak mau berhenti," ujarnya Bi Idah asisten rumah tangganya Aliya yang baru bekerja di rumahnya.


Senja mengambil alih hpnya Jingga dan untungnya Senja menghafal kode pin kunci layar gawainya Jingga kakak kembarnya.


"Astaughfirullahaladzim banyak sekali pesan chat whatsappnya dan juga panggilan tidak terjawab dari beberapa orang, tapi yang satu ini kalau enggak salah ibunya bang Abdil Pramudya, apa yang terjadi dengan pacarnya Jingga di luar negeri sana," gumamnya Senja yang segera menelpon balik papanya Abdil.


Aliya masih berusaha untuk membantu anaknya agar segera sadar," Nak bangunlah, katakanlah pada Mama apa yang terjadi padamu, insha Mama akan penuhi semua keinginannya kamu asalkan kamu segera siuman," ucapnya sendu Aliyah yang kembali menangis.


"Assalamualaikum Tante Biah, aku lihat Tante menelpon nomor ponselnya kak Jingga, ngomong-ngomong ada apa?" Tanyanya Senja yang duduk di salah satu sofa di rumahnya itu tidak lagi berada di dalam kamarnya Senja.


Bu Biah bukannya menjawab pertanyaan dari Senja malah menangis tersedu-sedu dan terisak.


"Tante aku mohon tenanglah dan katakan padaku apa sebenarnya yang terjadi?" Tanyanya Senja yang mulai khawatir dan juga ketakutan.


"Abdil putraku meninggal dunia dalam kecelakaan di luar negeri, katanya kabar terakhir yang aku dapatkan sudah meninggal dua minggu yang lalu baru tadi pagi ketahuan oleh temannya dan paling parahnya Abdil sebelum meninggal dunia ia mendonorkan matanya kepada orang lain," ungkapnya Bu Biah yang semakin mengeraskan suara tangisannya itu yang terdengar menyayat hati.


Senja menutup mulutnya saking terkejutnya mendengar perkataan dari mulutnya mama kekasihnya kakaknya itu.

__ADS_1


"Innalilahi wa innailaihi rojiun, alfatihah untuk Abang Abdil semoga saja Jingga bisa bersabar," lirihnya Senja.


__ADS_2