
Hem, Leo berdehem sebelum menjawab pertanyaan dari Bu Hanin bundanya Leo.
"Maaf Bu Hanin, bukannya saya menolak permintaan dari Ibu, tapi tidak mungkin saya langsung kembali ke rumah istriku tanpa ada persetujuan sebelumnya dari mamanya Senja Aliah, karena mungkin ibu sudah mendengar apa yang terjadi pada kisah rumah tangga kami, jadi saya minta maaf yang sebesar-besarnya jika saya tidak bisa hadir, kecuali mama dari anak-anakku sendiri yang meminta langsung padaku untuk hadir di acara penting putriku," ungkapnya Leo.
"Tapi Pak Leo Carlando Zain Pratama, pernikahan putri anda selamanya tidak akan sah tanpa kehadiran Anda, kecuali memang Anda tidak diketahui keberadaannya,tapi ini kalian sama-sama berada di Jakarta, dan aku yakin Anda pasti sangat ingin melihat kebahagiaan anak Anda," imbuhnya Bu Hanin.
Leo hanya tersenyum tipis," tebakannya Anda benar sekali, saya sangat ingin bertemu dengan kedua anak-anakku dan juga istriku dan melihat hari bahagianya salah satu anak kembarku, kebahagiaan besar dari orang tua itu adalah melihat anak-anaknya menemukan kebahagiaannya," jelasnya Leo.
"Kalau begitu apa lagi yang Anda tunggu, padahal ini kesempatan terbaik untuk Anda bertemu, berkumpul dan memanfaatkan waktu dan kesempatan ini untuk memperbaiki segala kesalahan Anda di masa lalu untuk kebaikan dan kebahagiaan dimasa depan," ujar Bu Hanin lagi yang masih berusaha untuk membujuk Leo.
Suasana kafe tersebut semakin ramai, dipadati oleh pengunjung terutama anak muda. Asisten pribadinya Bu Hanin duduk di salah satu meja yang tidak jauh dari tempat mereka juga duduk.
Sebenarnya Bu Hanin agak risih dan tidak bebas jika harus terus diawasi dan diikuti oleh anak buahnya. Ini semua pengaturan dari anak semata wayangnya, karena sejak kejadian ada pria pengusaha dari negeri Paman Sam yang terus berusaha untuk mendekatinya. Tapi, Kabir melarang mereka berteman mengingat banyak sekali perbedaan terutama masalah kepercayaan mereka berdua.
"Jadi keputusan anda Pak Leo bagaimana?" Tanyanya Bu Hanin.
"Saya tetap dengan pendirian saya kecuali kalau kedua anak kembarku dan mamanya yang datang langsung menemuiku baru lah aku bersedia hadir di acara anakku Senja," jelas Leo.
"Kalau seperti itu, izinkan saya untuk mengatur segala sesuatu urusan ini sesuai dengan cara dan pengaturanku, Pak Leo duduk manis saja di rumah saya yakin mereka yang akan segera dengan senang hati datang menemui Anda Pak," imbuhnya Bu Hanin lagi.
Asisten pribadinya yang sedari tadi menemaninya segera mendekatinya dan berbisik di telinganya.
"Nyonya Besar ada telpon dari Pak Gabriel Garcia," ucap Juanda sang asisten sembari memperlihatkan layar ponselnya yang tertulis nama sang penelpon.
"Sini saya akan bicara dengannya," pintanya Bu Hanin.
Hanin segera menekan tombol power hijau di layar benda pipihnya itu. Kemudian berpamitan kepada Leo lewat kode saja. Leo hanya tersenyum menanggapi perkataannya Bu Hanin lewat tatapan matanya itu.
__ADS_1
"Alhamdulillah calon mertuanya Senja sangat baik dan saya mengenalnya sejak beberapa tahun yang lalu sebagai pemilik perusahaan, beruntung sekali putriku mendapat calon suami dan keluarga yang cukup kaya raya dan tajir di negara kita ini Indonesia,"
Leo segera membayar bil minuman dan makanan yang dipesannya itu di kasir, tapi ternyata sudah dibayar oleh calon mertuanya Senja.
"Maaf Pak pembayaran meja nomor 11 sudah dibayar atas nama Bu Hanin Mazaya Damian," ucapnya pegawai itu.
"Oh sudah yah, aku pikir belum," balasnya Leo sembari terkekeh.
"Semua totalnya empat ratus ribu sudah lunas jadi Anda tidak perlu membayar lagi, kecuali Anda mau menyumbangkan uangnya saya senantiasa menerimanya om," timpalnya pelayan kasir itu.
Leo mengerutkan keningnya karena keheranan dengan perkataan dari perempuan muda seumuran dengan anak-anaknya.
"Kamu kenal saya?" Tanyanya balik Leo.
"Tentu saja, om kan papanya Jingga," pungkasnya Mawar teman satu kampusnya Jingga.
"Silahkan Om, hati-hati yah Om," ucap Mawar lagi.
Leo pun segera berjalan meninggalkan area lokasi cafe tempat janjiannya bersama dengan calon besan putrinya itu.
"Ya Allah aku sangat sedih sebenarnya karena istriku tidak menyampaikan kepadaku mengenai rencana pernikahannya Senja, tapi aku tidak mungkin memaksakan kehendak aku sendiri yang akan berakibat jika Aliya akan semakin marah padaku, aku hanya berharap ada mukjizat dan hal yang baik terjadi pada kami kedepannya,"
"Assalamualaikum Bang," sapanya seorang perempuan dari seberang telpon.
Pria yang disapa Abang itu segera berhenti sejenak dari rutinitas kegiatannya Du kantor.
"Waalaikum salam Sasmita, ada apa dek?" Tanyanya Luthfi Khaer yang membalas sapaan calon istrinya itu.
__ADS_1
"Apa Abang Lutfi ada waktu enggak malam ini temani aku ke acara salah satu sepupunya Papa, karena Mama dan papa ke luar kota sehingga tidak sempat hadir di acara lamaran sekaligus pertunangan adik sepupuku," ajaknya Sasmita Larasati.
"Apapun yang kamu inginkan akan aku penuhi, kemanapun perginya kamu akan aku antar ke Italia pun aku siap tak masalah," candanya Luffy yang sengaja bercanda untuk menghilangkan rasa penat seharian berkutat di depan layar komputernya.
"Haha Abang bisa saja, kalau begitu aku tunggu Abang jemput di rumah yah sebelum shalat isya kita berangkatnya ke sana," terangnya Sasmita Larasati sebelum menutup telponnya tersebut.
"Siap honey bany sweetie dan calon bidadari surgaku di dunia maupun di akhirat hanya kamu yang aku cintai," ujar Lutfi yang semakin mulai cerewet saja.
"Ya Allah Abang biasa saja kali, selalu saja ngegombal tapi berharap sih semoga hanya aku yang Abang gombal bukan wanita lain," tampiknya Sasmita.
"Katanya tadi telponnya sudah mau dimatikan, ini malah semakin melanjutkan pembicaraan saja," pungkas Lutfi yang sebenarnya sangat menyukai kehadiran Sasmita walau hanya lewat telpon saja.
"Haha iya yah kalau gitu assalamu alaikum, jangan lupa entar malam yah,"
"Waalaikum salam siap pujaan hatiku ummuaach,kissbay dulu sekali-kali kan berjauhan kalau dekat mana berani," ucapnya Lutfi sebelum nada beep tut tut pertanda telpon sudah putus.
Keduanya hanya tersenyum masing-masing di tempatnya itu. Keduanya kembali melanjutkan pekerjaannya masing-masing. Sasmita memberikan les tambahan kepada salah satu muridnya sedang Luthfi kembali memeriksa beberapa dokumen penting di layar laptopnya tersebut.
Senja dan Jingga sudah sampai di salah satu salon terkenal langganan Mama dan teman-teman arisannya.
"Jingga apa menikah itu bagus yah?" tanyanya Senja sebelum turun dari dalam mobilnya.
Jingga yang sedang melepas sabuk pengamannya menatap intens ke arah adik kembarnya itu sembari menautkan kedua alisnya.
"Kalau kata teman katanya bagus sudah ada yg jagain, ada yang temani tidur, ada yang cariin uang juga,tapi katanya lagi sudah ada teman beradu argument seperti berdebat mungkin."
"Terus kenapa kamu juga tidak menikah saja seperti saya?" tanyanya lagi Senja.
__ADS_1
Jingga yang mendengar pertanyaannya Senja dibuat tak sanggup berkata-kata lagi. Ia juga kebingungan untuk menjawab pertanyaan dari adik bungsunya itu sekaligus adik semata wayangnya.