
Keakraban yang terlihat dari keduanya begitu real ,alami tanpa ada paksaan yang terlihat. Mereka seolah seperti adik kakak kandung saja.
Adinda tertawa terbahak-bahak mendengar candaan Aliah, "Mbak Aliya pinter juga ngelawak sampai-sampai perutku kram gara-gara ketawa," balasnya bercanda pula.
"Sudah aah kamu duduk yang cantik di sana yah, sambil nungguin Mbak mau tebus obatmu," pintanya Aliya sambil mengantar Adinda ke tempat kursi panjang khusus untuk penunggu.
Aliya menyodorkan sebuah bungkusan plastik kecil ke depannya Adinda, "Obat dan vitaminnya untuk baby dan kamu sudah di tangan, saatnya kita ke mall, tapi kamu enggak capek kan?" Aliya memperhatikan ke arahnya Adinda.
"Kalau capek pasti lah Mbak, enggak mungkin aku bilang nggak juga tapi karena Mbak Aliya yang temani aku jadi rasa lelah dan capeknya terobati," ucapnya Adinda.
"Apa mau istirahat sebentar mungkin atau langsung otw saja ke Mall terdekat dari sini?" Aliya mengelus puncak perutnya Adinda yang sudah semakin membuncit itu.
Adinda tersenyum tipis ke arahnya Aliya yang merasa nyaman disaat perutnya disentuh, "Kita langsung saja jalan Mbak,kalau ditunda lagi takutnya Senja dan Jingga balik dari sekolah lagi, kasihan mereka tidak ada yang jemput kan," ujarnya Adinda.
"Kedua anak kembarku hari ini ikut les karate, ngaji juga jadinya agak sorean baru balik dari sekolahnya, kau tidak perlu mengkhawatirkan keduanya mereka itu anak perempuan tapi sudah seperti anak jagoan ku saja, kalau gitu let's go kita berangkatnya ke mall, kamu persiapkan saja isi dompet kamu harus tebal karena belanja kita kemungkinan besarnya akan banyak," Aliya masih mengelus dengan lembut perut buncitnya Adinda.
__ADS_1
"Aliya Azizah Humairah andaikan aku bisa bersikap seperti Mbak, aku pasti sangat bahagia karena mas Leo tidak akan berpaling dariku,tapi apa boleh buat, apalah dayaku Mbak lebih berhak dan punya kelebihan yang pasti akan semakin membuat mas Leo jatuh cinta berkali-kali lipat kepada Mbak," batinnya Adinda.
Keduanya memutuskan untuk duduk beberapa menit sebelum meninggalkan area rumah sakit. Awalnya sudah hendak pulang. Tetapi tiba-tiba bayi dalam perutnya Adinda bergerak ketika disentuh oleh Aliya. Dia sangat bahagia bisa merasakan gerakan dari bayi perempuan lain. Dia juga sudah pernah ngalamin hal seperti itu,tapi rasa dan sensasinya jelas sangat berbeda.
"Mbak kalau tahu siapa aku sebenarnya apakah Mbak masih bersikap seperti ini padaku? Aku sangat takut jika tahu-tahu Mbak akan marah dan meninggalkan aku apabila sudah terbongkar siapa aku dan hubunganku dengan Mas Leo," Adinda kembali resah dengan keadaannya.
Aliya mengubah posisi duduknya sambil berhadapan langsung dengan Adinda, "Hey! Bayinya gerak loh, apa dia rasakan kalau auntynya yang sentuh jadi dia respon cepat apa yang aku lakukan," tuturnya dengan antusias.
Adinda sedikit menyadarkan punggungnya ke sandaran kursi, "Bayiku pasti senang punya aunty seperti Mbak makanya ia perlihatkan kebahagiaannya itu langsung, walau dia masih dalam perutku Mbak," timpalnya Adinda yang juga bahagia melihat kegembiraannya Aliya.
Adinda kelabakan dan mulai panik karena tidak tahu harus jawab apa, takutnya salah jawab lagi.
"Aku senang dengarnya Mbak,kalau Mbak bahagia dengan kehadiran anakku, tapi kalau masalah papanya dia sangat sibuk Mbak ia bekerja di luar daerah," kilahnya Adinda yang kembali harus berbohong.
"Ohh gitu pantesan mbak tidak pernah lihat suamimu, kalau gitu kita lanjut perjalanannya, takutnya nanti kita kemalaman pulangnya,kadang juga hujan turunnya gak kasih aba-aba segala," sarannya Aliya.
__ADS_1
"Tapi, Mbak kita cari makan dulu yah aku sama babyku sepertinya sudah kelaparan," ucapnya Adinda yang mengelus perutnya.
"oke, mungkin kamu punya rekomendasi restauran atau punya tempat makan yang dekat dari sini yang ingin kamu singgahi?"
"Dari Mbak saja, aku makan apa saja, tidak kenal banyak restoran dekat sini juga Mbak,"
Aliya melanjutkan perjalanannya menuju ke arah parkiran.
"Kalau gitu kita makan di mall saja kebetulan tempatnya juga tidak terlalu jauh dari sini, bagaimana menurut kamu?" tanyanya Aliya.
"Aku serahkan semuanya pada Mbak, karena selama kehamilan aku ini aku tidak pernah permasalahkan apapun itu asalkan enak, bersih dan halal itu sudah cukup, aku tidak ada ngidam soalnya," balasnya Adinda.
Mereka tidak ada lagi yang berbincang-bincang, mereka berdua sudah duduk di atas motor matic nya Aliya. Hari ini terpaksa Aliya harus libur ngetik dulu novel online. Untungnya baru hari ini liburnya, jadi masih bisa bersantai.
Ya Allah begitu baik hatinya Mbak Aliya, Sedangkan aku begitu tega merebut suaminya Mas Leo dan mengganggu serta mengusik ketenangan kehidupan rumah tangga kecilnya mereka. Tapi, apakah aku salah jika juga mencintai Mas Leo Carlando Zain Khalid dan berharap bahagia bersamanya hingga akhir waktuku.
__ADS_1