Belum Berakhir

Belum Berakhir
Bab. 38 Tangis Bahagia


__ADS_3

Senyuman langsung terukir di wajahnya Jingga melihat tubuh pria yang selalu dirindukannya itu," Papa Leo!" Teriaknya Jingga yang hanya berdiri mematung di tempatnya setelah berteriak cukup lantang dan melengking tinggi.


Semua orang mengalihkan pandangannya dan perhatiannya ke sumber suara. Leo Carlando Zain Pratama segera menoleh ke arah belakang. Ia tercengang melihat siapa gadis bergaun selutut dengan ikat rambutnya yang hanya satu itu.


Leo melempar ke sembarang arah tas dan kunci mobilnya saking bahagianya dan terkejut melihat putrinya itu, "Jingga putrinya Papa," ucapnya Leo Carlando Zain Pratama yang segera berlari ke arah dimana putrinya berada.


Leo Carlando Zain Pratama yang mendengar namanya dipanggil dan disebut dengan lantang oleh seseorang segera mengarahkan pandangannya ke sekiranya terutama ke arah gadis bergaun selutut berwarna peach blossom itu.


Leo segera berlari ke arah putrinya berada. Memang mereka sudah berpisah sepuluh tahun lebih, tapi Leo tidak mungkin salah mengenali salah satu putri kembarnya.


Ibu Sita Marsita dengan Adicandra yang saling bertatapan dan tercengang melihat gadis remaja berusia 20an memanggil Leo sebagai papanya.


Leo memeluk erat tubuh anaknya yang sudah lebih sepuluh tahun tidak dilihatnya. Bukan tanpa alasan Leo tidak mencari keberadaan anak dan istrinya itu.


Leo sudah berusaha untuk mencari keberadaan Aliyah tapi hasilnya selalu nihil dan tidak berhasil. Sehingga membuat terkadang Leo hampir menyerah mencari mereka.

__ADS_1


Keberadaan Aliah dan kedua putri kembarnya seperti bak ditelan bumi saja ketika itu. Hingga setitik keterangan yang mengatakan keberadaan mereka sama sekali tidak ada.


"Putrinya Papa, Jingga Papa sangat merindukan kalian nak," ucapnya sendu Leo yang masih memeluk tubuhnya Jingga.


Sedangkan kee empat orang, yaitu Bu Sita, Candra, Abryzan Abraham Samad, Mamang Beno hanya berdiri melihat langsung apa yang keduanya anak bapak itu lakukan.


Apa jangan-jangan itu salah satu cucu kembarku?


Alhamdulillah aku yakin itu Mbak Jingga karena wajahnya mirip banget dengan Mbak Senja Starla hanya saja Mbak Senja pakai hijab.


Abryzan tersenyum simpul dan terharu melihat pertemuan dua orang itu ayah anak. Mereka saling menyalurkan rasa sedih, rasa rindu bertahun-tahun mereka berpisah karena kesalahannya Leo sendiri.


Leo berulang kali mengecup pipi dan keningnya Jingga dengan air matanya yang terus menetes membasahi pipinya. Ia sangat bahagia dan juga menyesali semua yang dilakukannya selama ini pada keluarga kecilnya itu.


"Maafkanlah papa nak, semua ini gara-gara Papa yang sudah menelantarkan kalian bertiga, Papa sangat bersalah nak, kesalahan papa sungguh terlalu besar pada kalian bertiga, bahkan kesalahan papa sangat sulit untuk dimaafkan," ratapnya sendu penuh sesal Leo.

__ADS_1


"Hiks… hikss.. Papa tidak punya salah apapun pada kami lagian kalaupun papa salah, kami sudah memaafkan kesalahannya Papa," balasnya Jingga.


Bu Sita, Candra dan Abryzan serta pak Beno menangis tersedu-sedu melihat pertemuan mereka yang sungguh mengharukan. Sepuluh tahun lebih perpisahan antara anak dan ayah itu.


Tapi, keduanya tidak ada yang merasa benci, jengkel ataupun marah. Hanya Leo yang sedih melihat putrinya yang besar tanpa dia ada di samping anak-anaknya.


"Alhamdulillah akhirnya Engkau pertemukan mereka ya Allah yah Robbi… saya sangat bersyukur dan gembira melihat anak sulung dan cucuku bisa bertemu kembali seperti dulu lagi."


"Makasih banyak ya Allah atas kembalinya Mbak Jingga, akhirnya aku sudah punya kakak dan Mama seperti teman-teman lainnya di sekolah," senyuman senangnya Chandra tersungging di sudut bibirnya itu.


Ketiga orang itu berjalan ke arah keduanya yang masih berpelukan saking bahagianya dengan pertemuan kali ini. Pertemuan yang sering mereka harapkan, impikan dan cita-citakan akhirnya terwujud juga.


"Abang yakin kamu akan bahagia kedepannya bersama dengan keluarga lengkap kamu,"


Abrizam adalah adik dari sahabatnya Lutfi Khaer adik semata wayangnya Leo yang seorang duda itu. Abriz sering kali datang berkunjung ke rumah itu. karena penghuni rumah tersebut selalu menyambutnya dengan hangat, penuh suka cita dan rasa gembira yang teramat sangat.

__ADS_1


__ADS_2