
Sebenarnya Aliyah juga ragu dan bimbang untuk melangkah ke jenjang pernikahan, kedua anaknya hanya menjadi alasan untuk menghindar saja. Aliyah tidak ingin penolakannya membuat hubungan keduanya jadi renggang dan bermasalah apalagi Salim adalah salah satu produsen beberapa model pakaian ke dalam tokonya.
Salim berusaha untuk menyentuh punggung tangannya Aliah tapi ia segera memindahkan tangannya ke atas pahanya yang awalnya berada d atas meja, "Oke aku akan menunggu keputusanmu sebelum kau ke Jakarta, saya berharap kamu bilang ya atas lamaran ku,"
"Tunjukkan saja kepada anakku jika Abang memang layak menjadi calon papanya kedua anak kembarku, karena aku tidak mungkin bilang ya jika mereka tidak setuju dan saya harap kedepannya Abang tidak kecewa dan sakit hati jika anakku menolak keinginannya Abang," ujarnya Aliah yang sebenarnya berusaha untuk memupuskan harapannya Salim secara tidak langsung.
Karena itulah Aliya menerima tawaran dan keinginan kedua anaknya itu untuk berangkat ke Jakarta dan akan menetap kembali di Jakarta sesuai janjinya delapan tahun yang lalu ketika memilih jalan untuk mengalah dan meninggalkan suaminya dengan istri barunya.
Aliya sudah mendapatkan seseorang yang bisa dipercaya untuk mengelola usahanya itu. Yaitu istri dari kakak sepupunya yaitu Halimah yang cukup handal dan mampu untuk mengelola ke empat cabang tokonya Aliah.
Tiga orang juga yang memang sejak awal bisa dipercayai untuk menangani masalah keuangan dan segalanya. Sehingga Alia hanya menerima laporan pengeluaran, pemasukan dan perkembangan tokonya setiap minggunya melalui website email-nya saja. Tapi, rencananya Alia akan bolak balik cek semuanya ke Banjarmasin sewaktu-waktu tanpa anak buah kepercayaannya ketahui. Hal ini dilakukan untuk mengetahui apa mereka bisa dipercaya atau sama sekali tidak sanggup menjalankan amanah yang diberikan oleh Aliya.
Aliya membersihkan dan membereskan ruangan tamunya sepeninggal Salim Kamal Rahmani di rumahnya.
Alia menatap ke arah luar, "Ya Allah… aku tidak mungkin bisa menghapus namanya Mas Leo Carlando Zain direlung hatiku yang paling terdalam, karena sejujurnya aku masih sangat mencintainya walaupun dia pernah menyakitiku selama ini, tapi hatiku ini masih murni untuknya, bukannya saya mengulur waktu dan memberikan harapan kosong php kepada Abang Salim, hanya saja saya tidak ingin gara-gara penolakanku dia marah dan benci karena saya sudah menganggapnya saudaraku sendiri," gumamnya Aliya.
Aliya hendak berjalan ke arah dapur tapi, tanpa sengaja mendengar kedua anaknya saling curhat sama lainnya mengeluarkan uneg-unegnya itu. Aliya berjalan mengendap-endap menuju ke arah pintu kamarnya Senja.
"Senja sampai kapanpun saya tidak akan mengijinkan mama untuk menikah dengan pria manapun sekaya, sebaik apapun, setampan apapun pria itu kalau bukan papa aku tidak akan ijinkan Mama bahkan aku lebih baik pergi dari sini jika mama menikah lagi!" Tegasnya Jingga sambil membanting bonekanya ke atas ranjangnya.
__ADS_1
"Saya juga tidak sudi dan rela kok kak, amit-amit jabang bayi punya papa orang lain selain papa Leo, walau pun papa sampai sekarang tidak mencari keberadaan kita berdua, tapi saya tidak mau melihat mama menikah lagi dengan pria lain! Jika Mama menikah dengan paman Salim maka saya akan meminta kepada mama untuk memilih saya hidup atau paman Salim menjadi suaminya mama!" Ancamnya Senja.
Alia terkejut dan terperangah mendengar perkataan dari mulut kedua putrinya. Ia tidak menyangka jika seperti ini tanggapan dan keinginan mereka berdua yang selama ini tidak pernah secara langsung dan gamblang mengatakan penolakannya itu.
"Mama tidak mungkin menerima Salim sebagai suaminya mama jika kalian tidak setuju dan merestui hubunganku dengannya, karena saya juga tidak sanggup untuk menggantikan Mas Leo dari dalam hatiku, segenap jiwaku selalu hanya untuk Mas Leo, walau mungkin aku sudah tidak disayangi oleh papa kalian,"
Satu minggu kemudian, ketiganya bertolak dari Banjarmasin Kalimantan Selatan menuju ibu Jakarta. Untungnya Aliya jauh-jauh hari sudah mempersiapkan segala sesuatunya sehingga memudahkannya untuk meninggalkan kota Banjar Kalsel.
Aliya masih berdiri di depan pintu masuk kamar kedua putri kembarnya itu. Air matanya menetes membasahi pipinya. Ia tidak menyangka jika sikap penolakannya yang selalu ditunjukkan dengan gerak dan gestur tubuhnya mereka tanpa ada yang berbicara langsung untuk mengutarakan perasaannya dan keinginannya juga.
"Mama tidak mungkin menerima Salim sebagai suaminya mama jika kalian tidak setuju dan merestui hubunganku dengannya, karena saya juga tidak sanggup untuk menggantikan Mas Leo dari dalam hatiku, segenap jiwaku selalu hanya untuk Mas Leo, walau mungkin aku sudah tidak disayangi oleh papa kalian,"
Satu minggu kemudian, ketiganya bertolak dari Banjarmasin Kalimantan Selatan menuju ibu Jakarta. Untungnya Aliya jauh-jauh hari sudah mempersiapkan segala sesuatunya sehingga memudahkannya untuk meninggalkan kota Banjar Kalsel.
Tetapi, kasih sayang kedua anaknya itu tidak pernah berkurang dicurahkan untuk kedua orang tuanya yang harus terpaksa hidup berpisah tempat tinggal tanpa ada komunikasi yang menghubungkan silaturahmi diantara mereka.
"Ya Allah… apakah aku sudah salah karena sudah memisahkan anak-anakku dengan papa kandungnya, apa aku terlalu egois dan emosian sehingga kehidupan kami seperti ini, ya Allah… jika aku sudah salah dan keliru maafkanlah aku yang sudah memutuskan hubungan anak dan suamiku,tapi mas Leo juga tidak mencari keberadaan kami hingga detik ini, aku tidak sanggup menghadapi kebohongan suamiku, kalau boleh jujur jika suamiku waktu itu jujur padaku untuk menikah lagi aku sanggup untuk menerima keputusannya dengan sabar, ikhlas dan lapang dada, tapi mereka sudah masuk ke dalam kehidupan kami dengan santainya bahkan tanpa merasa bersalah sedikitpun."
Aliya semakin tidak kuasa menahan tangisannya itu,ia menutup mulutnya saking tidak sanggupnya menahan kesedihan dan kepedihan hatinya itu. Ketika mendengar dan melihat kedua putri kandungnya shalat berjamaah ashar dan mendengungkan doa-doanya hingga Aliyah mampu mendengar doa mereka.
__ADS_1
Aliah berjalan ke arah dapurnya untuk menyimpan cangkir dan teko minumannya bekasnya Salim Kamal Hasan. Pria yang beberapa tahun lalu sering dan kerap kali mengatakan secara jelas maksudnya mendekati Alia. Walau Aliah sama sekali tidak pernah membalas cintanya Salim,tapi pria itu terus memperlihatkan bahwa dia serius untuk menjalin hubungan dengan Aliya dan menjadi papa sambungnya Jingga Aurora Zain dan Senja Starla Zain.
"Mama tidak akan pernah menerima pinangannya Abang Salim Nak maka dari itu kita harus berangkat secepatnya ke Jakarta agar aku ada alasan untuk menolak lamarannya,"
Satu minggu kemudian, ketiga perempuan itu duduk bertolak ke Ibu kota Jakarta. Mereka berangkat dengan perasaan yang berbeda-beda. Aliyah masih trauma jika harus kembali mengingat kejadian delapan tahun itu, dimana kedua matanya melihat suami yang selalu Ia banggakan, percaya dan sayangi setulus hati jiwa raganya.
Tapi, dalam sekejap mata pria itu menghancurkan semuanya dan segalanya tanpa tak tersisa. Tapi, dalam hatinya Aliya dia tidak mampu dan kuasa untuk membenci keduanya yaitu suaminya dengan Adinda perempuan yang sudah dianggapnya sahabatnya sendiri bahkan lebih dari itu. Aliyah menganggap Adinda sebagai adik kandungnya sendiri.
"Ya Allah… semoga kenangan pahit itu tidak menjadikan aku manusia yang tidak tahu bersyukur akan atas nikmat yang selalu Engkau berikan padaku selama hidupku, berikanlah aku kekuatan untuk menghadapi kenyataannya jika esok kami kembali dipertemukan dengan mas Leo Carlando Zain," Aliya buru-buru menyeka air matanya yang sudah menetes membasahi wajahnya itu.
"Ya Allah… betapa bahagianya diriku bisa balik ke Jakarta, jika aku sampai di Jakarta aku akan mencari Papa, aku terlalu merindukan papa, aku tidak sanggup lagi menahan kerinduanku ini padanya,papa maafkan kami yang sudah pergi ke Kalimantan Selatan tanpa berpamitan kepada Papa," gumam Jingga.
Berniat menyenangkan pasangan juga jadi bagian dari adab serta tata cara berhubungan suami istri sesuai Sunnah dan syariat Islam.
Istri yang baik dalam Islam adalah dia yang berniat menyenangkan suaminya dalam segala hal yang dilakukannya, termasuk saat bercinta.
Dalam Islam membahagiakan suami itu penting karena surga istri ada di bawah kaki suaminya. Suami pun juga harus memperlakukan istrinya dengan baik.
Karena hubungan intim suami istri tentu dilandasi dengan niat untuk saling memberi kesenangan pada diri sendiri dan juga pasangan.
__ADS_1