Belum Berakhir

Belum Berakhir
Bab. 51. Keraguan Senja


__ADS_3

Jingga terduduk lesu di atas sofa ruang keluarganya. Dia tidak menyangka jika mamanya masih berpegang teguh pada prinsip dan pendiriannya. Yaitu belum bisa memaafkan kesalahan dan khilaf suaminya beberapa tahun silam.


"Astauhfirullah aladzim, bagaimana lagi caranya aku untuk membujuk Mama untuk memaafkan papa, kasihan dengan Papa jika harus terus hidup tanpa kejelasan seperti ini, ya Allah Engkau Maha pembolak balik hati setiap hambaMu jadi aku serahkan padamu ya Allah atas segala kehendak dan urusan rumah tangga kedua orang tuaku, aku tetap juga akan berusaha untuk meyakinkan mama dan menyatukan kembali hati mereka seperti dulu lagi."


Aliah Aziza Humaira tidak menyangka jika anaknya akan berkata seperti itu. Padahal selama ini kedua putrinya tidak pernah mendesaknya masalah mengenai bersatu kembali dengan suaminya itu. Karena memang mereka belum ada kata talak diantara mereka.


Air matanya luruh seketika itu mengingat kejadian beberapa tahun yang lalu, ketika dengan mata kepalanya sendiri melihat suaminya berpelukan dengan perempuan lain di depan umum.


Betapa hancur hatinya berkeping-keping ketika mengetahui siapa wanita yang menjadi selingkuhan suaminya. Ia tidak habis pikir, jika suaminya ternyata menikahi perempuan yang sudah dianggapnya adik kandungnya sendiri.


"Ya Allah mungkin aku sudah terlalu egois terhadap hidupku sendiri,tapi hatiku belum bisa melupakan kenangan terpahit dan kelam kala itu, jika aku harus memilih aku tidak ingin sekali mengingat dan mengungkit kejadian itu yang seolah menari-nari di pelupuk mataku dengan sangat jelas,"


Suasana hatinya Aliah awalnya bahagia dan gembira, karena salah satu anak kembarnya akan dipersunting oleh seorang pria yang cukup ganteng, kaya, baik dan penuh tanggung jawab.


"Apa aku boleh meminta kepadaMu ya Allah… aku sangat ingin menghapus dan menghilangkan rasa sedih ini, kecewa,sakit hati dan kenangan pahit itu juga hilangkan semuanya dalam hati dan pikiranku ini ya Allah hingga tak berbekas sedikitpun,"


Alia menengadahkan kepalanya ke arah atas agar air matanya tidak menetes lagi. Ia berharap ada keajaiban yang mampu menghilangkan rasa itu dari dalam hati dan benaknya.


"Ya Allah aku berserah diri padaMu,jika memang papa dan mama masih berjodoh,maka kabulkanlah permintaan aku ini, aku tidak ingin melihat kesedihan papa dan mama, dan semoga kisah cintaku dengan Senja tidak seperti mama yang sangat menutup dirinya untuk dikejar sedang papa sangat terobsesi untuk kembali bersama dengan Mama,"


Jingga menatap satu persatu orang-orang yang hilir mudik di dalam rumahnya yang masih menghiasi rumahnya dengan dekorasi ala lamaran serta tunangan.

__ADS_1


Beberapa anggota keluarganya yang berada di Jakarta pun sudah hadir. Sedangkan yang di luar daerah belum ada rencana untuk mengabari mereka karena belum pasti kapan acara pernikahan mereka resmi dirayakan.


Jingga segera menemui adik kembarnya itu, dia imgit mengajak adiknya ke salah satu salon langganan mamanya.


"Ya Allah apakah Kabir tidak seperti sifatnya papa yang menduakan Mama, walau aku sama sekali tidak pernah marah dengan sikapnya papa,tapi karena mungkin bukan aku yang jalani sehingga aku dengan mudahnya tidak pernah berlarut-larut membenci perbuatan papa,emang sih awalnya benci, kecewa, sedih tapi seiring waktu berjalan aku sudah bisa menikmati dan menerima keadaan ini semua."


Senja yang baru saja rebahan di atas kasurnya segera menyeka air matanya menetes membasahi pipinya sejak tadi. Dia masih ragu dan belum siap untuk menikah. Tetapi tidak punya pilihan lain lagi untuk menolaknya jika tidak maka akibatnya harus mendekam dalam penjara.


"Tapi apakah Kabir, bisa terbebas dari sikap pria yang sering gonta-ganti pasangan dan koleksi perempuan? ataukah Pak Kabir bisa menghindari kedepannya godaan dari wanita atau gadis yang lebih cantik, lebih baik dari segala-galanya dariku, apakah dia sanggup untuk tidak berpaling dariku, inilah yang sulit aku terima dan selalu membuat aku ragu,"


Senja menarik nafasnya dalam-dalam lalu kemudian menghembuskannya dengan cukup kasar. Ia tidak menyangka jika dalam hitungan jam lagi,ia akan berstatus sebagai calon istri dari pria yang bernama Kabir Kasyafani.


Pria berusia 29 tahun itu bekerja sebagai CEO perusahaan terkenal dan juga bekerja sampingan sebagai asisten dosen khusus di kelasnya saja Senja.


Suara ketukan pintu terdengar dari arah luar, Senja segera bangkit dari rebahannya karena tidak ingin membuat kakaknya menunggunya terlalu lama menunggu.


"Apa kamu sudah siap?" Tanyanya Jingga dari arah luar.


"Iya, tunggu aku bersiap dulu ketiduran tadi soalnya," balasnya Senja dari arah dalam kemudian segera berjalan ke arah dalam kamar mandi.


Sedangkan di tempat lain, awalnya Kabir yang ingin menemui Leo calon mertuanya, tapi Bu Hanin bundanya Leo mencegahnya. Karena kebetulan Leo adalah anak buahnya atau karyawan di salah satu perusahaannya.

__ADS_1


Bu Hanin segera menyusun rencana pertemuan dengan Leo Carlando Zain Pratama calon besannya. Bundanya Kabir segera mengadakan pertemuan khusus untuk Leo. Karena persyaratan untuk melamar dan meminang Senja adalah harus hadir juga Leo sebagai wali nikahnya Senja.


Seorang pria sesekali melihat ke arah jarum jam yang terpasang pada tangan kanannya. Bergantian ke arah pintu depan yang letaknya tidak terlalu berjauhan dari tempat duduknya tersebut. Di atas meja sudah terdapat secangkir kopi yang asapnya masih mengepul serta sepiring makanan cemilan menemani Leo menunggu calon besannya.


"Alhamdulillah makasih banyak ya Allah sudah ada pria yang serius menikahi salah satu putriku, ini satu kebanggaan tersendiri bagi kami sebagai pria yang sering disapa Papa,walau saya tidak mendampingi kedua anak kembarku tapi saya bersyukur mereka bisa menjaga diri dan kehormatannya masing-masing,"


Leo menyesap kopinya yang masih hangat itu di dalam sebuah kafe yang siang hari itu cukup ramai dipadati oleh pengunjung dari berbagai kalangan dan usia. Karena memang kafe tersebut diperuntukkan untuk segala umur.


Hingga suara seruan seseorang mampu mengalihkan perhatiannya dari secangkir kopi yang sudah dinikmatinya itu yang masih berada di dalam genggamannya.


"Assalamualaikum Pak Leo, maaf saya terpaksa datang terlambat karena ada beberapa yang harus aku kerjakan terlebih dahulu sebelum ke sini," ucapnya Bu Hanin Mazaya sebelum menarik kursi mendudukkan dirinya di atas salah satu kursi cafe.


Leo segera berdiri dari posisi duduknya dan meletakkan cangkir kopi yang sedari tadi dipegangnya.


"Baru juga nyampe kok Nyonya Hanin, jadi tidak perlu sungkan seperti ini," tukasnya Leo.


"Syukur alhamdulilah kalau besan mengerti dengan macetnya jalan ibu kota Jakarta," imbuhnya Bu Hanin sambil tersenyum simpul.


Mereka pun berbincang-bincang santai siang hari itu hingga keduanya masuk ke dalam inti alasan yang menjadi pertemuan mereka.


"Jadi apakah Anda siap datang nanti malam di acara pertemuan dua keluarga besar Sanders dan Pratama untuk membicarakan masalah rencana pernikahan kedua putra dan putri kita?" Tanyanya Bu Hanin.

__ADS_1


Leo tersenyum sebelum menjawab pertanyaan dari Ibu Hanin atasannya itu sekaligus pemilik perusahaan tempat ia mencari nafkah.


__ADS_2