
Senja menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskan nafasnya dengan cukup pelan pula.
"Baiklah mungkin sebaiknya kita makan dulu, masalah menjelaskannya urusan belakangan, mungkin sambil makan sambil berbicara boleh kan pak Fajri," pintanya Senja yang terkekeh melihat raut wajah dan tampang ketiga sahabatnya yang sudah nampak tegang.
Tiba-tiba suara perut keroncongan terdengar jelas di tengah ketegangan.
Krucuk..
Kruyiuk..
Semua orang mengarahkan pandangannya ke arah Icha Khaerunisa, sedangkan yang ditatap bukannya tersenyum seperti biasa malahan menangis tersedu-sedu karena ditatap oleh banyak orang.
Suara isak tangisannya terdengar jelas, hingga semuanya kembali mengerutkan keningnya saking terkejutnya melihat Icha yang tiba-tiba menangis hanya karena orang menatapnya.
Senja segera berjalan ke arah sahabatnya itu," Ica apa yang terjadi padamu?" Tanyanya Senja dengan lemah lembut.
Hakim Rahman memperhatikan apa yang terjadi pada Ica. Apa yang terjadi padanya? Semoga saja kejadian malam itu sudah dilupakannya, jika tidak aku akan sangat malu.
"Iya Cha kamu kenapa sayang, kamu baik-baik saja kan?" Tanyanya Zania Mirzani.
"Iya kamu kenapa bisa menangis seperti ini? Kami hanya tertawa dan tersenyum saja kok enggak memarahi kamu, tapi kenapa kamu bersikap seperti anak kecil manjanya luar biasa," candanya Naysila Haruka.
Icha menatap satu persatu ke arah ketiga sahabatnya dan juga ke arahnya Fajri Bachan serta Hakim Rahman.
Ica terus menatap intens ke arah Hakim, air matanya semakin menetes membasahi pipinya itu. Bukannya menghentikan suara tangisannya itu, malahan semakin mengeraskan suara tangisannya. Ica segera berlari cepat ke arah luar setelah bertatapan dengan Hakim.
"Orang-orang tidak boleh mengetahui apa yang terjadi padaku, aku sangat malu dengan ketiga sahabatku," lirihnya Ica yang sudah memelankan langkahnya ketika melihat tangga darurat.
Senja hendak berlari tapi segera dicegah oleh Fajri dan Hakim," Nyonya Muda stop! Anda itu sedang hamil, jangan ikut berlari mengejar temannya, Anda cukup berjalan saja,"
"Kalau terjadi sesuatu pada calon penerus kelurga Sanders,kami berdua yang akan menanggung akibat dari kemarahannya tuan muda Kabir Kasyafani," ucapnya Fajri.
Zania menghentikan langkahnya setelah mendengar perkataan dari Fajri dan Hakim.
"Senja apa maksud dari ucapan pak Fajri dan pak Hakim?" Tanyanya Zania sambil berjalan ke arah Senja yang baru saja hendak keluar dari dalam ruangan kerjanya.
__ADS_1
Senja akhirnya mau tidak mau harus jujur dan berterus terang kepada sahabatnya itu.
Senja memegangi kedua pundaknya Zania dan perlahan membuang nafasnya dengan cukup keras, "Apa yang kamu dengar barusan adalah benar adanya, saya dan pak Kabir adalah suami istri, kami akan segera memiliki seorang bayi. Insya Allah enam bulan lagi," ungkapnya Senja yang tidak berniat menutupi kenyataan apa yang terjadi sebenarnya.
"Astaughfirullahaladzim apa kamu seriusan!? Pantesan banyak banget yang berubah dari dirimu, Alhamdulillah ternyata temanku ini adalah istri sultan, bisa-bisa ketiban emas nih kalau berteman dengan istri CEO," tanggapannya Zania.
Senja segera menutup mulutnya Zania dengan mengunakan telapak tangannya sendiri sembari menolehkan kepalanya ke arah kanan kiri dan sekitarnya.
"Augh, le-pas-kan ta-ngan-mu," cicitnya Zania yang mulutnya masih tertutup rapat oleh telapak tangannya Senja.
"Kamu jangan berteriak seperti ini, kecilkan suaramu, kalau tidak semua orang akan mengetahui kalau aku menikah dengan pemilik perusahaan ini," bisiknya Senja.
Zania berhasil melepaskan tangannya Senja dari atas bibirnya itu.
"Senja, tapi kamu enggak bohong kan? Jangan sampai saya terlalu gembira tapi, kenyataannya kamu hanya berbohong padaku lagi!" Ketusnya Zania.
"Kalau enggak percaya besok pagi kita ke rumah mertuaku saja, kebetulan besok rencananya saya akan nginap di rumah orang tuanya suamiku," ajaknya Senja.
"Oke, baiklah dengan senang hati saya akan ke sana hitung-hitung akan makan gratis sepuasnya dan pastinya makanan enak-enak kan," tuturnya Zania dengan penuh senang dan eksaitik banget.
"Hakim Rahman! kamu pergi susul kedua sahabatku itu,saya dengan Fajri dan Zania akan santap siang terlebih dahulu, kalian nyusul nanti saja,babyku sepertinya sudah kelaparan," pintanya Senja.
Sepeninggal Hakim, ketiga orang itu menyantap makanannya. Mereka makan bersama seperti layaknya anggota keluarga sendiri dan juga seperti di rumahnya.
"Kamu kalau masalah makan pasti seperti ini lajunya pake banget! enggak mau kalah," gerutunya Fajri.
Senja melihat ke arahnya Fajri sedangkan Zania melototkan matanya ke arah Fajri yang membuka rahasia besar mereka berdua.
"Mak-sudnya a-pa? Apa hubungan kalian sebenarnya?" Tanyanya Senja yang menarik piringnya Zania dari hadapannya itu.
Zania menjadi salah tingkah, begitupun juga dengan apa yang terjadi pada Fajri.
Ya Allah tamatlah riwayatku, jika Senja mengetahui jika kami akan menikah bulan depan, pasti Senja akan marah padaku.
Pasti akan disangkanya saya sengaja mendesak untuk ia jujur padaku, tapi melainkan saya yang main rahasia juga.
__ADS_1
Pintu terbuka lebar dan masuklah tergesa-gesa Naysila yang wajahnya nampak pucat pasi. Peluh keringat bercucuran membasahi sekujur tubuhnya dan pipinya itu.
Nafasnya memburu, tersengal-sengal dan ngos-ngosan saking berlari cepatnya.
"Sen-ja, Za-nia," lirihnya Naysilla.
Keduanya segera menyelesaikan acara makannya itu dan berjalan cepat ke arah Naisila.
Zania bernafas lega ketika melihat pintu terbuka lebar, Alhamdulillah untungnya Naysila segera datang, jika tidak rahasiaku akan terbongkar saat ini juga.
Sania mengelus dadanya dibalik hijab tutorial pashmina sifon motif bunga-bunganya itu.
"Nay! Apa yang terjadi padamu? Kenapa harus berlari cepat?" Tanyanya Senja yang mulai nampak khawatir dan mencemaskan salah satu sahabat terbaiknya itu.
Naysila menunjuk ke arah tangga dimana Icha sahabatnya pingsan tak sadarkan diri lagi.
"Ada apa di sana Nay!? Bicaralah jelaslah kepada kami!" Tanyanya Senja sembari menggoyangkan tubuhnya Naysilla.
"Ica jatuh pingsan di atas tangga," jawabnya Nay yang berteriak kencang ketika berbicara sehingga semua orang terkejut mendengar suara teriakannya Naysila yang cukup menggelegar bagaikan petir di siang bolong.
"Apa!? Kenapa bisa terjadi seperti itu!" Pekik Zania.
"Kalau kamu hanya banyak bicara di sini,kamu enggak akan mengetahui apa yang terjadi sebenarnya pada temanmu itu," kesalnya Fajri yang terheran-heran dengan sikap dari calon istrinya itu.
Senja dan Zania serta Fajri segera berjalan tergesa-gesa ke arah tempat yang ditunjuk oleh Naysila.
Astaughfirullahaladzim apa yang terjadi pada Ica sebenarnya, sedari tadi seperti orang yang linglung banyak masalah.
Semoga saja Ica baik-baik saja, kasihan kedua orang tuanya tinggal di Makassar. Aku tidak ingin terjadi sesuatu pada sahabatku itu ya Allah.
Semuanya segera berjalan mengekor di belakangnya Hakim yang sudah menggendong tubuhnya Ica ke arah klinik perusahaan.
"Kenapa bisa seperti ini, kenapa Ica bisa pingsan?" Tanya Senja yang sangat mengkhawatirkan kondisi dari Ica.
Zania mengelus lengannya Senja," Senja Starla Airen Zain kamu itu sedang hamil jangan bertingkah seperti ini,jaga kesehatan kamu juga kalau terjadi sesuatu pada bayimu apa yang akan kamu katakan pada pak Kabir nantinya," nasehatnya Zania yang lebih mengkhawatirkan kondisi dan keadaannya Senja daripada Ica karena merasa Ica baik-baik saja.
__ADS_1
"Apa Senja hamil!?" Jeritnya Naysila.
Senja dan Zania bersamaan menutup mulutnya Naysila yang saking kagetnya dan saking gemesnya melihat reaksinya Naysila yang berlebihan itu.