Belum Berakhir

Belum Berakhir
Bab. 88. Di Luar Dugaan


__ADS_3

Kematian selalu menyisakan luka yang mendalam bagi setiap orang. Terlebih saat keluarga atau orang-orang terdekat telah menemui ajalnya, tentu hal ini menjadi peristiwa yang sangat memilukan. Sebagai manusia yang masih diberi kesempatan untuk hidup, sudah seharusnya selalu mendoakan orang yang sudah meninggal agar diberi tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Kuasa.


Jingga yang melihat kedatangan pria yang menjadi pusat perhatian orang-orang di dalam rumah duka segera menundukkan kepalanya. Jingga tidak ingin kedatangannya dilihat oleh kakak sepupu dari adik iparnya.


"Kenapa pak Guntur datang juga ke sini, apa hubungannya dengan mas Abdil bukannya mereka tidak ada hubungan apapun, apa sebaiknya saya bertanya kepada Tante Dena mengenai kedatangan pria itu saja?" Jingga terus berusaha untuk bersembunyi agar tidak ketahuan oleh Guntur.


Tapi, ternyata diam-diam Guntur lebih duluan melihat Jingga di dalam sana tepat di dekatnya Bu Dena ibundanya Abdil atau mantan calon mertuanya Jingga.


"Apa itu istrinya Kabir yah? Katanya Kabir Senja pakai hijab? Mana mungkin di tomboi urakan dan bar-bar itu berada disini dengan memakai hijab. Menurut kata Kabir saudari kembarnya Senja tidak memakai hijab, nantilah setelah acara pemakamannya Abdil barulah aku pertanyakan,"


Guntur memperhatikan gerak-gerik Jingga yang dianggapnya Senja sejak kedatangannya. Entah kenapa perhatiannya selalu tertuju pada Jingga. Sedangkan gadis yang diperhatikan oleh Guntur tidak menyadarinya, karena menurutnya Guntur sudah keluar dari dalam ruangan tersebut.


Jenazah Abdil Pramudya sudah dimandikan dan dikafani dengan baik ketika berada di New York City Amerika Serikat atas bantuan Guntur. Sehingga yang wajib anggota keluarganya lakukan adalah menshalati jenazahnya Abdil.


Penghormatan yang terakhir kalinya untuk Abdil Pramudya, Jingga mengecup keningnya Abdil sebagai salam perpisahan untuk selamanya.


Jingga berusaha untuk menahan air matanya itu yang hanya menunggu waktu tepat akan jatuh membasahinya pipinya yang putih mulus. Abdil Pramudya lahir di Bandung tapi besar di daerah Banjar Kalimantan Selatan.


Sejak mereka masih memakai seragam putih abu-abu sudah mulai menjalin hubungan asmara hingga Abdil memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya di luar negeri. Ditahun terakhir Abdil harus menghembuskan nafasnya yang terakhir kalinya di negeri Paman Sam.


"Mas Abdil, makasih selama ini kamu sudah menjadi pria yang selalu mencintaiku hingga nafas terakhirmu, entah apa aku sanggup untuk melupakan semua kenangan yang pernah kita lalui bersama, tujuh tahun bukan waktu singkat tapi aku akan berusaha untuk tabah dan mengikhlaskan kepergian mas Abdil untuk selamanya, tenanglah mas di alam sana, kami akan ikhlas dan sabar menerima cobaan dan takdir ini," ungkapnya Jingga sebelum jenazah Abdil dishalatkan.


Jedeer…


Der…


Guntur yang duduk tidak terlalu jauh di belakangnya Jingga yang memang sengaja megambil tempat duduk di lokasi area itu. Sengaja untuk mengetahui dan mencari informasi apakah hubungan Jingga dengan Abdil Pramudya pria yang mendonorkan kornea matanya dengan cuma-cuma untuknya.


"Ini tidak mungkin!? Berarti dia kekasihnya Abdil gadis yang harus aku nikahi karena amanah dari Abdil atau jangan-jangan aku hanya salah dengar saja. Sebaiknya untuk memastikan bahwa dugaanku benar atau tidak adalah bertanya langsung kepada Tante Dena Rachman dan Om Bayu ayahnya Abdil,"


Hingga ucapan dari ibu-ibu semakin menguatkan keyakinannya dan dugaannya, apabila Jingga adalah calon tunangannya Abdil Pramudya.

__ADS_1


"Ya Allah gadis itu sangat cantik yah,dia sangat cocok untuk bersanding dengan almarhum Abdil, sayangnya Abdil telah tiada." Ucapnya ibu-ibu berbaju hitam itu.


"Betul banget apa yang ibu Ani katakan, padahal mereka akan menikah lima bulan lagi loh,tapi apa mau dikata,apa boleh buat nasib dan takdir berkata lain, mereka tidak berjodoh padahal mereka itu pacarannya sangat lumayan lama loh," jelasnya ibu-ibu yang memakai hijab hitam bunga-bunga putih itu.


Guntur semakin yakin dan percaya sekaligus kepo untuk menanyakan masalah itu. Hingga tanpa terduga dan disadarinya perkataannya meluncur begitu saja dari bibirnya. Saking penasarannya dengan siapa Jingga itu.


"Hemmph, maaf ibu-ibu apa ibu mengenali gadis yang tadi memeluk almarhum kalau boleh tahu, dia itu adiknya Abdil yah Bu?" Tanyanya Guntur yang akhirnya bertanya juga karena tidak tahan dengan rasa penasarannya.


"Ohh gadis cantik dan ayu itu?" Tunjuknya Ibu Jamila sambil menunjuk ke arah Jingga.


"Itu Jingga Aurora Ainah Zain Pratama, dia itu adalah tunangannya sekaligus pacarnya almarhum Abdil Pramudya, tapi sayangnya semua itu tinggal rencana dan kenangan saja karena semuanya harus pupus dan berakhir, karena ajal lebih duluan menjemput Abdil Pak," ungkapnya Bu Diana yang mendahului Bu Ani dan Bu Jamila untuk berbicara seolah ia takut didahului oleh orang lain saja.


Tubuhnya Guntur sedikit terhuyung dari posisi duduknya ke arah belakang. Ia tidak menyangka jika hal itu terjadi dalam hidupnya. Perempuan yang sudah dua kali berdebat dengannya adalah gadis yang diamanahkan kepadanya untuk dinikahinya.


"Ini tidak mungkin!" Cicitnya Guntur.


"Maaf Pak apa maksud anda ini tidak mungkin!?" Tanyanya semua orang yang duduk di sampingnya Guntur.


"Ehh tidak apa-apa kok Bu, itu lihat mungkin jenazahnya Abdil akan segera dishalatkan," kilahnya Guntur yang menunjuk ke arah dimana orang-orang sudah berdiri.


Jingga tak henti-hentinya menitikkan air matanya,ia dan kedua Mama dan kakaknya Abdil saling menguatkan satu sama lainnya. Mereka semakin histeris menangis tersedu-sedu ketika Abdil selesai dishalati.


"Mas Abdil kamu akan selalu dihatiku, bagiku kamu adalah pria yang paling baik yang pernah aku temui, bahkan kau pria terkuat yang pernah aku kenal, bayangkan lima tahun kamu sakit tanpa mengatakan kepada kami penyakitmu ini," lirihnya Jingga.


"Jingga kamu sabar yah, mungkin ini yang terbaik untuk kalian berdua, Mbak juga tidak habis pikir jika adikku ternyata punya penyakit kronis yang sangat berbahaya tapi tetap menjalani perkuliahan dan kehidupannya di luar negeri, adikku memang yang paling kuat dan sabar," ungkapnya Andara.


Jingga memeluk tubuh kakaknya Abdil," insha Allah Mbak,maaf kalau selama ini saya banyak salah, mungkin setelah dari pemakaman saya dan lainnya langsung balik ke Jakarta, karena hari ini adikku akan melaksanakan resepsi pernikahannya jadi tidak mungkin aku tidak balik secepatnya, insya Allah kalau ada waktu senggang aku akan berziarah ke makamnya mas Abdil," terangnya Jingga.


Semua rombongan keluarga besar yang mengantar kepergian Abdil ke rumah peristirahatan terakhirnya. Mereka berbondong-bondong ke tpu setempat yang tidak terlalu jauh dari rumah kakeknya Abdil.


Gundukan tanah dengan nisan yang bertuliskan nama Abdil Pramudya Sungkar lahir pada hari Kamis, tanggal 17 Juli 1998. Semua sanak saudaranya menabur bunga untuk yang terakhir kalinya sebagai melepaskan kepergian Abdil untuk selamanya.

__ADS_1


"Mas Abdil beristirahatlah dengan tenang, kami sudah ikhlas melepas kepergianmu, alfatihah untukmu," lirihnya Jingga.


Guntur pun segera memegangi nisannya Abdil," makasih banyak engkau telah berjasa besar padaku, berkat bantuan dan pertolonganmu Alhamdulillah aku masih bisa melihat indahnya dunia ini termasuk gadis yang ada di depanku,"


Berselang beberapa menit kemudian,semua orang satu persatu meninggalkan pemakaman setempat. Begitu pun juga dengan Guntur Aswin Nasution, karena harus menghadiri acara pesta resepsi pernikahan antara Kabir Kasyafani Sanders dan juga Senja Starla Airen Zain Pratama.


Jingga masih berlama-lama di tempat itu, ia ingin melihat dengan jelas dan lebih lama rumah peristirahatan kekasihnya untuk selamanya.


"Semoga kelak kita akan bertemu di salah satu surgaNya Allah SWT, doaku akan selalu aku kirimkan untukmu Mas Abdil kau akan selamanya hidup di dalam sanubariku tak akan terganti dengan laki-laki manapun,di relung hatiku kamu adalah pria yang terbaik yang pernah aku kenal hanya kamu, walau kelak aku menemukan cinta lain tapi kamu adalah yang pertama dan selalu dihatiku,"


Beberapa jam kemudian, mereka sudah berangkat meninggalkan kota Bandung menuju Jakarta. Adik sepupunya Abdil yang pertama menyetir mobil yaitu Abdul Fatah, sedangkan Jingga dan Latifah tidur di jok kursi belakang.


Sebelum shalat dzuhur mereka sudah bertolak dari kota B menuju Jakarta. Sekitar tiga jam perjalanan, Jingga menggantikan posisinya Abdul posisi duduk mereka pun bergantian.


Jingga dan Latifah di depan sedangkan Abdul sudah rebahan bahkan sudah ngorok di jok kursi panjang. Baru sekitar beberapa meter perjalanan mungkin sekitar tiga kilometer.


Jingga menghentikan laju kendaraannya ketika melihat ada seseorang yang memeriksa kendaraannya yang kemungkinannya mogok sedangkan di daerah itu tidak ada satupun bengkel. Mobil yang dikendarai Jingga pun berhenti,ia ingin berniat membantu pemilik mobil.


"Maaf Pak mobilnya kenapa?" Tanyanya Jingga yang belum mengetahui siapa orang yang telah mengerjakan mobilnya itu di tengah jalan.


Sedangkan Latifa dan Abdul sama sekali tidak terusik dengan kendaraan yang sudah berhenti itu. Pria tersebut saking terburu-burunya hingga tanpa sengaja kepalanya terantuk di kap mobilnya sendiri.


Bruk!!


"Auhh!" Keluhnya Guntur.


Guntur memegangi kepalanya itu yang cukup sakit terbentur besi kap mobilnya.


"Maaf pak saya tidak sengaja mengagetkan Anda," sesalnya Jingga.


Hingga tawanya Jingga dengan suara cemprengnya tidak bisa ditahannya.

__ADS_1


"Hahaha, ahaaha!!"


Jingga terpingkal-pingkal melihat wajahnya pria yang memakai kemeja hitam itu dengan celana cinos berwarna cokelat. Jingga berusaha menahan tawanya seraya menunjuk ke arah wajahnya Guntur yang hampir penuh dengan oli.


__ADS_2