
Beberapa hari kemudian, Senja dan ketiga bayinya sudah keluar dari rumah sakit. Kabir dan bundanya Bu Hanin Mazaya sudah menjemput mereka di rumah sakit.
Sedangkan Aliya tidak bisa datang, mengingat kondisinya belum fit mengingat dia masih sering morning sickness.
"Sayang apa kamu baik-baik saja? Apa ketiga cucuku tidak rewel dan nakal?" Tanyanya Bu Hanin yang sudah menggendong baby Gibran.
Senja tersenyum simpul sebelum menjawab pertanyaan dari mama mertuanya.
"Alhamdulillah mereka sangat penurut Bun, untungnya ada daddynya yang selalu siaga menjaga ketiga buah hatinya, aku sangat bersyukur karena suamiku selalu ada menemaniku," imbuhnya Senja.
"Syukurlah kalau putraku tidak meninggalkan kamu walau sekejap saja, tapi ngomong-ngomong kamu mau balik ke rumahnya Oma Clara, bunda atau Bu Aliyah Mama kamu sayang?" Tanyanya Bu Hanin yang entah kenapa setiap melihat wajah dari cucu cowoknya pasti akan nyaman dan tenang.
Kenapa wajahnya cucuku Gibran mirip banget dengan mas Septa Danu Setiadji, semoga saja tidak ada yang mencurigai hal ini jika putraku Kabir bukan anaknya mas Abbas Khair.
Senja melirik sekilas ke arah suaminya sebelum menjawab pertanyaan dari Mama mertuanya itu. Sedangkan yang ditatap hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya itu untuk memberikan ijin untuk berbicara sesuai dengan apa yang diinginkannya dan mereka sudah mendiskusikan tentang dimana mereka akan tinggal.
"Kami akan menetap di rumah kami sendiri Bunda, kebetulan bang Kabir membeli satu unit rumah yang berdekatan langsung dengan rumah Mama Aliya, mengingat Mama yang hamil muda dan aku tidak ingin berjauhan dengan mama jadi aku dan bang Kabir memutuskan untuk membeli satu rumah tepat di samping kanannya," jelas Senja yang tidak enak hati dengan mama mertuanya itu.
Ibu Hanin sedikit kecewa karena dia berharap putra, cucu dan menantunya memilih untuk tinggal bersamanya. Tapi, dia tidak mungkin memaksakan kehendaknya kepada anak menantunya itu.
Bu Hanin menghela nafasnya dengan cukup berat, tapi dia tetap berusaha untuk terlihat tenang dan tersenyum agar anak dan menantunya tidak merasa sedih, kecewa ataupun terbebani dengan kekecewaannya.
"Kalau gitu kita langsung balik saja, kasihan mereka anak-anakmu kalau terlalu lama di rumah sakit," pintanya Bu Hanin.
__ADS_1
Aku yakin bunda pasti sedih dan kecewa, tapi aku tidak mungkin tinggal berjauhan dengan mama dan papa mengingat Mama mual-mual dan ngidamnya cukup berat.
Maafkan aku bunda, aku hanya bisa memilih jalan tengahnya agar Oma dan bunda serta Mama Aliya merasakan keadilan yang sama.
Kabir menatap satu persatu perempuan yang sangat dihormatinya dan disayanginya itu.
Kabir memegangi punggung tangan istrinya itu," aku yakin bunda akan paham dan memaklumi pilihan kita ini, kamu jangan terbebani karena keputusan ini Abang yang sudah memutuskannya, kamu harus nyaman karena asi kamu akan sedikit keluar jika kamu banyak pikiran, Abang yang akan menangani masalah Oma dan bunda," bisiknya Kabir tepat di samping telinganya Senja.
Sedangkan yang bu Hanin sudah berjalan lebih duluan sambil menggendong baby Gibran. Sehingga apa yang dikatakan oleh kedua suami istri itu tidak terdengar hingga ketelinganya.
"Aku hanya berharap semoga Oma dan bunda memaklumi pilihan kita ini, aku tidak ingin gara-gara pilihanku sehingga menyakiti hati mereka bang," cicitnya Senja yang raut wajahnya sendu karena takut pilihannya akan menyinggung perasaannya kedua mertuanya dan keluarga besarnya.
Mereka berebut tempat tinggal Senja dan ketiga anak-anak kembarnya. Oma Clara bersikeras untuk mempertahankan agar Senja tinggal di rumahnya. Sedangkan bu Hanin juga, dia menyarankan agar cucu-cucunya tinggal di rumahnya untuk selamanya.
"Bunda bersikap seperti itu karena masih kecewa pasti itu terjadi, tapi untuk berlama-lama itu tidak mungkin Abang yang akan berbicara padanya, kamu jangan terlalu kepikiran dengan semua ini," bujuknya Kabir agar Senja bisa lebih sabar.
Bu Hanin mendiamkan Kabir dan Senja. Mereka pulang ke rumah barunya Senja dan Kabir memakai satu mobil. Kabir sudah mencari asisten pembantu rumah tangga yang bekerja sebagai baby sitter untuk ketiga anaknya.
Kabir mencari baby sitter sesuai dengan arahan dari bi Minah. Mereka menyerahkan sepenuhnya kepada bibi Minah untuk mencarikan baby sitter yang bisa dipercaya dan diandalkan.
Senja duduk di sampingnya Bu Hanin tanpa ada yang berbicara sepatah katapun. Bu Hanin hanya mengajak berbicara cucunya yang kebetulan, terbangun dari tidurnya.
Kabir yang duduk dibalik kemudi mobilnya hanya sesekali memperhatikan interaksi keduanya. Kabir hanya tersenyum mengamati apa yang mereka lakukan.
__ADS_1
Sungguh kalian anak menantu dan mertua sifatnya hampir sama, yaitu sama-sama keras kepala, egois tapi baik hati rela melakukan apapun demi kebahagiaan keluarga mereka.
Senja memegangi tangannya Bu Hanin,"Bunda, maafkan aku bukannya sengaja untuk menyakiti, menyinggung perasaannya bunda ataupun ingin mengecewakan bunda, tapi aku janji kalau di akhir pekan sesekali kami akan datang menginap di rumahnya bunda agar bunda enggak terlalu merasa kesepian, putra putriku juga akan mendapatkan kasih sayang yang melimpah," imbuhnya Senja yang berharap perkataannya diterima oleh Bu Hanin.
Bu Hanin yang mendengar perkataan dari anak mantunya itu segera mendongakkan kepalanya ke arah Senja.
"Apa kamu serius akan sesekali datang berkunjung ke rumah dan membawa mereka untuk menginap di rumahnya bunda?" Tanyanya untuk memastikan apa dia tidak salah dengar saja.
Matanya Bu Hanin berbinar-binar terang saking bahagianya mendengar perkataan dari Senja.
"Apa kamu serius dengan apa yang kamu katakan Nak?" Tanyanya Bu Hanin yang ingin memastikan hal tersebut.
Senja menganggukkan kepalanya dengan bibir atasnya melengkung pertanda dia tersenyum,"Insha Allah bunda, gimana kalau bunda pindah ke rumah kami saja, jadi bunda Ndak perlu repot-repot untuk menemui cucuku malah bunda bebas setiap hari setiap waktu menemui ketiga cucunya bunda, gimana menurutnya bunda? Semoga saja bunga berkenan dengan apa yang aku katakan ini,"
"Bunda sangat bahagia, mendengar perkataanmu Nak,kalau gitu bunda akan segera menghubungi nomor ponselnya Ardian agar segera datang ke rumah kamu dan mengurus barang-barang penting bunda, ya Allah aku sungguh senang banget mendengar kamu menginginkan bunda tinggal bersama kalian, ini berita yang sungguh luar biasa, Kabir bunda sangat senang," ujarnya Bu Hanin yang terus menghujani ciuman wajahnya Gibran yang hanya terdiam tanpa rewel sedikitpun.
"Sayang apa semua sudah siap, kamar bayi kembar kita, kamarnya bunda dan yang lainnya juga sudah siap gak Sayang?" Tanyanya Senja sambil memberikan asi eksklusif kepada putrinya Jinan.
"Semuanya sudah beres bahkan nanti malam akan ada acara masuk rumah yang dan beberapa acara ritual adat istiadat masuk rumah sesuai adat istiadat author di Makassar, dan juga abang juga mengundang beberapa ibu-ibu majelis taklim dan ustad yang akan mengisi acara kita nanti malamnya," balasnya Kabir yang tatapannya masih terus fokus pada jalanan sepanjang perjalanan yang dilaluinya.
"Kamu memang menantu bunda yang paling terbaik dan tidak akan ada gantinya kamu selamanya menantuku tak akan tergantikan dengan alasan apapun. putraku memang tidak salah memilih istri," puji Bu Hanin.
"Aku hanya berfikir gimana caranya aku tidak menyakiti perasaan bunda Hanin, Mama Aliah dan Oma Clara agar kalian sama-sama bisa melihat tumbuh kembangnya anakku," harapnya Senja.
__ADS_1
"Masalah Oma, bunda akan membujuk Oma kau itu untuk menerima keputusan kalian, lagian keputusan kalian ini sudah tepat dan benar, jadi ingat jangan terbebani dengan pilihan kalian, jadi santai dan terutama untuk Senja kamu harus nyaman dan bahagia karena jika kamu sedih akan berpengaruh terhadap anakmu juga."