
Aliya Azizah Humairah dan kedua anak kembarnya sudah sampai di bandara internasional Soekarno Hatta Jakarta Selatan. Ketiganya tidak bisa menyembunyikan perasaan bahagianya ketika akhirnya mereka bisa kembali lagi ke Jakarta setelah delapan tahun tidak balik ke Jakarta.
Jingga Aurora Zain merentangkan kedua tangannya sambil menghirup udara yang pastinya tidak segar karena terkontaminasi oleh polusi udara dari berbagai jenis kendaraan roda empat maupun roda dua. Dan juga dari asap pabrik sebagai penyumbang utama dan terbanyak polusi di Ibu kota Jakarta.
"Alhamdulillah welcome Jakarta, saya balik lagi ke sini, saya berjanji akan mencari papa dan bertanya kepadanya kenapa mereka berpisah, aku harus mencari tahu kebenarannya,"
Jingga karena mamanya tidak gamblang menjelaskan penyebab kepergian mereka ke Banjarmasin Kalimantan Selatan.
Senja memperhatikan senyuman yang terus tersungging di bibirnya Aliya Mama kandungnya itu, "Mama saya akan menyatukan kalian berdua, bagaimana pun caranya saya akan lakukan itu, saya cukup sering melihat mama menangis dalam sujud dan doa-doanya yang selalu mendoakan yang terbaik untuk suaminya seorang," Senja berkeyakinan kuat dan percaya jika mama dan papanya bisa kembali dipertemukan.
Sebenarnya, setiap bulannya Senja dan Jingga mendapatkan biaya hidup dari papanya Leo Carlando Zain. Tetapi, karena Aliya menyimpan rapat-rapat di dalam lemari di rumah lamanya sedangkan Leo sama sekali tidak mengetahui hal itu. Leo bahkan tidak pernah sekalipun dalam sebulan tidak mentransfer sejumlah uang untuk anak dan istrinya. Bagi Leo uang yang dia kirim pasti dipakai oleh kedua anak kembarnya tanpa mencari tahu kebenarannya apa uang itu dipakai atau tidak.
"Mama apa kita balik ke rumah lama atau Mama punya rumah lain?" Tanyanya Jingga setelah sudah berada di dalam mobil yang dipesan sebelumnya melalui driver onlinenya salah satu aplikasi ojek online dari hpnya itu.
Aliya yang sedang memeriksa ponselnya segera mengalihkan pandangannya ke arah Jingga anak sulungnya itu.
"Mama sudah membeli satu unit perumahan yang letaknya tidak jauh dari tempat kuliah kalian, mama milih disana agar kalian pergi dan pulangnya tidak kerepotan dan jaraknya tidak terlalu jauh, berita bahagianya lagi komplek perumahan itu cukup aman dan ramai, Mama juga sudah merenovasi beberapa bagian dan insya Allah hari ini kita bisa langsung huni rumah kita, gimana apa kalian bahagia," tanyanya balik Aliya yang kebetulan duduk di bagian kursi belakang berdampingan dengan Senja sedangkan Jingga duduk dibagian jok kursi terdepan.
"Alhamdulillah kami pasti bahagia dengan pilihan mama apapun itu, apalagi mama sudah bekerja keras untuk membiayai kehidupan kami berdua, menjaga dan mendidik kami dengan baik itu sudah rezeki dan anugerah terindah dalam kehidupan kami berdua," ujarnya Jingga yang duduk di samping pak supir taksi online tersebut.
Aliyah tersenyum penuh bahagia mendengar perkataan dari anak-anaknya,"kalian sudah tumbuh semakin besar, tidak lama lagi akan meninggalkan Mama jika kalian sudah menikah dan punya pasangan masing-masing, mama pasti akan hidup seorang diri,ya Allah itu pasti terjadi karena tidak mungkin aku menahan selamanya anak-anakku,"
__ADS_1
Tidak lama perjalanan yang mereka tempuh yang hanya sekitar setengah jam saja waktu jarak tempuhnya.
"Alhamdulillah akhirnya kita sampai juga di rumah, inilah rumah kita kedepannya yang akan kita tempati, semoga kalian menyukai rumah ini," ujarnya Aliya.
Senja memperhatikan dengan seksama kondisi perumahannya," ini besar dan cantik loh Ma, bahkan rumah itu ini lebih besar dari pada rumah kita yang ada fu Banjar loh," pujinya Senja sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling rumah itu.
"Betul pakai banget apa yang kamu katakan, rumahnya sangat bagus dan kalau menurut saya ini sangat bagus ma, semua yang Mama pilih untuk kami pasti kami akan menyukainya karena selalu jadi yang terbaik," ucapnya Jingga seraya mengikuti langkah kakinya Alia yang sudah masuk ke dalam halaman rumah barunya itu.
"Jadi rumahnya perlu dibersihkan atau sudah siap dihuni ma dan perabot rumah dan furniture nya apa sudah lengkap?" Tanyanya Senja dengan antusias.
"Semoga saja Paman Salim tidak bakalan menemui kita dan mama lagi, aku tidak ingin mengijinkan pria manapun yang menganggu hubungannya mama dan papa," harapan Jingga.
"Mama harus bisa hidup lebih baik di Jakarta, paling aku harapkan paman Salim selamanya tidak akan muncul di depan kami untuk selamanya, saya sudah cukup muak melihat pria itu," batinnya Senja.
Aliya berjalan mendahului kedua putrinya itu," Alhamdulillah ada orang yang Mama suruh untuk jaga dan bersihkan rumah kita ini sebelum pulang ke sini dari Kalsel, Alhamdulillah ibu-ibu itu bisa dipercaya karena satupun perkakas yang sudah ada di dalam rumah kita ini sama sekali tidak berkurang dan saya meminta keponakannya itu memeriksa semuanya dengan baik," tuturnya Aliah seraya memutar kunci rumahnya kedalam handle pintunya itu.
Senja dan Jingga seolah saling memburu dan berlomba untuk lebih duluan masuk ke dalam kamarnya masing-masing seperti yang sering dilakukannya selama ini sejak mereka masih anak-anak dulu.
"Silahkan kalian masuk dan cek dari kamar kalian masing-masing, ingat dipintu kamarnya itu ada tulisan nama kalian masing-masing jadi tidak bakalan tertukar," ucapnya Aliya yang sedikit berteriak karena kedua anaknya sudah semakin menjauh.
Aliyah hanya menggelengkan kepalanya melihat sikap dan tingkah laku kedua anaknya yang masih seperti dahulu, belum ada yang berakhir bahkan menghilangkan kebiasaan itu, padahal mereka sudah cukup dewasa untuk melakukannya.
__ADS_1
Senja dan Jingga seolah saling memburu dan berlomba untuk lebih duluan masuk ke dalam kamarnya masing-masing seperti yang sering dilakukannya selama ini sejak mereka masih anak-anak dulu.
"Silahkan kalian masuk dan cek dari kamar kalian masing-masing, ingat dipintu kamarnya itu ada tulisan nama kalian masing-masing jadi tidak bakalan tertukar," ucapnya Aliya yang sedikit berteriak karena kedua anaknya sudah semakin menjauh.
Satu minggu setelah tiba kembali ke Jakarta, Jingga Starla dan Senja Aurora sudah mendaftarkan diri fakultas sesuai dengan yang sudah mereka bidik beberapa tahun silam sebelum mereka lulus di bangku sekolah menengah atas.
"Mama, kami berangkat dulu yah," pamitnya Senja sambil meraih tangan mamanya itu.
Aliyah tersenyum melepas kepergian anaknya karena hari ini adalah hari pertamanya masuk kuliah.
"Apa Mama antar kalian saja?" Usulnya Alia sesudah kedua putrinya mengecup punggung tangannya.
"Tidak usah Ma, kami akan naik motor saja lagian jaraknya juga dekat kok, kecuali kalau hujan mungkin Mama harus antar kami berdua," pungkas Jingga.
"Kalau gitu kalian hati-hati yah, Ingat kabari mama kalau kalian sudah nyampe di kampus," pintanya Aliah lagi.
Jingga dan Senja menaikkan ibu jari jempol nya ke arah mamanya itu.
"Siap Mamaku tersayang," balasnya keduanya.
Jingga dan Senja masing-masing menaiki motor mereka yang berbeda warnanya. Jingga dengan Scoopy injeksi berwarna merah putih yang mencerminkan karakternya berani,tomboi sedangkan Senja model keluaran terbaru milik pabrikan dengan logo garpu talanya si biru berwarna biru putih. Pabrikan yang beberapa tahun silam menjadi tempat pembalap MotoGP Valentino Rossi.
__ADS_1
"Hati-hati Nak," ucapnya Aliya sebelum masuk ke dalam area pekarangan rumahnya itu sebelum menarik kembali pagar besi rumahnya itu yang cukup berat.
Jingga dan Senja melajukan kendaraan roda duanya itu menuju kampus tempat selanjutnya untuk melanjutkan pendidikannya. Keduanya memilih jurusan kuliah yang berbeda.