
Jingga segera berpamitan kepada Papa, paman dan neneknya karena takutnya jika terlalu lama di luar mamanya akan khawatir dan mencurigai apa yang mereka lakukan.
"Apa kamu aku antar langsung pulang ke rumah atau mungkin ada tempat yang ingin kamu datangi lagi?" Tanyanya Abryzan yang setengah berteriak kencang agar suaranya terdengar dari arah depan.
Jingga pun berteriak membalas pertanyaannya Abryz," kita pulang saja, aku capek banget soalnya, ngantuk juga soalnya," balasnya Jingga dengan meninggikan juga suaranya itu.
Abryzam kembali menambah kecepatan laju motornya tersebut, karena tidak ingin membuat gadis yang disukainya terlalu lama terkena angin luar dan terpapar sinar matahari langsung.
Mesin motornya sudah berhenti tepat di depan pintu pagar masuk rumahnya Jingga.
"Alhamdulillah akhirnya sampai juga," gumam Jingga sambil turun dari atas motor bagian belakang.
Jingga segera membuka helmnya itu, dan menyerahkan ke dalam genggaman tangannya Abriz.
"Makasih banyak hari kamu sudah mempertemukan aku dengan papa, nenek dan juga pamanku," imbuhnya Jingga yang tersenyum tulus.
Abrizam menyambut senyuman tulus dari Jingga dengan senyuman pula," tidak perlu sungkan dan berterima kasih padaku, bagiku membantu kamu adalah sebuah kehormatan untukku apalagi kamu adalah perempuan yang aku sayangi, jadi kamu tidak perlu segan untuk berbicara seperti itu padaku," tukasnya Abriz.
Jingga hanya tersenyum tipis menanggapi perkataannya Abriz," aku sudah merepotkan kamu, jadi pastinya aku wajib dan harus berterima kasih kepadamu untuk segalanya yang sudah kamu lakukan untukku hari ini," imbuhnya Jingga.
"Untuk wanita yang tercantik yang paling aku sayangi di dunia ini, tidak akan pernah ada kata merepotkan," tampiknya Abris yang sepertinya seolah tidak mau kalah dengan perkataannya Jingga.
"Sudah ah kalau ladenin kamu mulu gimana aku bisa masuk ke rumahku untuk istirahat, aku capek tidak punya tenaga lagi soalnya untuk berdebat denganmu," ketusnya Jingga yang segera buru-buru berjalan meninggalkan pemuda yang cukup ganteng diusianya yang masih muda itu.
"Ha-ha-ha, iya yah juga sih karena jika berbicara denganmu tidak akan pernah habisnya bahan pembicaraan kita," ucapnya Abris yang masih sanggup terdengar suaranya hingga ke telinganya Jingga.
__ADS_1
Jingga hanya menolehkan kepalanya ke arah belakang dimana Abris yang masih berdiri di atas motornya.
"Aku akan membuat kamu Jingga Aurora Ainah Zain jatuh cinta padaku, bagiku kamu perempuan yang terbaik dari semua gadis yang pernah aku temui di dunia ini, aku hanya berharap semoga kelak kamulah jadi bidadari ku di dunia hingga ke surga kelak dikemudian hari,"
Jingga terus berjalan dan tidak ingin lagi menolehkan kepalanya ke arah belakang. Dia terlalu malu jika kembali bertatapan dengan Abryzan.
"Entahlah apa aku bisa membuka hatiku untukmu, sedangkan jauh di sana ada seorang cowok yang aku rindukan kehadirannya dan kami sudah berjanji kelak akan bertemu jika kuliah kami selesai, aku tidak ingin memberikan harapan palsu padamu Abriz,"
Senja yang sedang merias wajahnya di depan cermin karena harus menghadiri jamuan makan dari dosennya sebagai bentuk kerjasamanya agar nilainya tidak bermasalah segera menghentikan pekerjaannya dan aktifitasnya tersebut setelah pintu kamarnya terbuka.
"Tumbenan pulangnya langsung ke kamarku, biasanya pulang dari luar langsung masuk kamar sendiri ngorok sekarang malah nyempil ke kamarku," guraunya Senja yang melihat kakaknya itu seperti seorang gadis yang lagi gegana.
Jingga merebahkan tubuhnya ke atas ranjangnya Senja sambil merentangkan kedua tangannya seperti seseorang yang pasrah saja.
"Kalau menurut aku sih walau godaan kuat datang, ataupun Mama menjodohkan kamu dengan pria lain kalau kamu memang mencintai pria lain yah fokus saja menunggu Abdil hingga balik ke Indonesia, lagian dua tahun itu sudah tidak terlalu lama loh, daripada membina hubungan karena terpaksa ataupun harus mengkhianati kepercayaan yang diberikan oleh Abdil padamu, tapi semua keputusan ada di dalam genggaman tanganmu karena kamu sendiri yang jalaninya berarti kamu akan mengetahui apa yang seharusnya kau perbuat," nasehat dan saran dari Senja.
Jingga hanya mendebarkan dengan seksama perkataannya Senja adik kembarnya itu.
"Apa yang kamu katakan memang sangat benar adanya, aku harus pintar-pintar mengenali kemauan hatiku sendiri yang tidak boleh terjebak ke dalam dua cinta yang bisa menghancurkan kehidupanku sendiri," gumamnya Jingga.
Senja kemudian berdiri dari duduknya setelah menyelesaikan memasang hijabnya dengan baik dan rapi.
"Aku pamit dulu yah, katakan kepada Mama sempat dicariin bilang saja ada acara kampus yang tidak boleh aku lewatkan," ujarnya Senja kemudian meraih kunci mobil dan tas selempangnya yang tergeletak di atas meja nakas kamarnya.
"Hati-hati," lirihnya Jingga yang melupakan sesuatu hal besar yang seharusnya diungkapkan olehnya di hadapan adiknya saking galau, gelisah dan bingungnya sampai melupakan masalah pertemuannya dengan papa dan keluarga barunya tersebut.
__ADS_1
"Assalamualaikum," ujarnya Senja Starla Airen Zain.
"Waalaikum salam," cicitnya.
Senja segera meninggalkan rumahnya itu setelah berpamitan dengan kakaknya. Dia tidak berpamitan kepada mamanya karena Aliya Azizah Khumaira sedang berada di salah toko pakaiannya yang sibuk mengurusi barang-barang yang baru masuk ke tokonya hari ini.
Jingga segera teringat dengan pertemuannya dengan papanya Leo Carlando Zain Pratama dengan neneknya Bu Sita Marsita serta adiknya Adicandra Bima Satria serta pamannya Lutfi Khaer karena fokus dengan sikapnya Abryzan Abraham Samad yang ternyata dijodohkan dengannya itu.
Jingga menepuk jidatnya itu dengan sekali tepukan," astaauhfirullahaladzim, kenapa aku sampai lupa mengatakan semua yang terjadi hari ini padaku, padahal ini berita terbaru dan terpenting tersebut, sudahlah nanti balik aku akan sampaikan padanya pasti Senja akan bahagia mendengar perkataanku ini,semua ini gara-gara Abriz yang membuat aku melupakan niat awalku," gerutunya Jingga.
Senja segera mengemudikan mobilnya itu yang berwarna putih menuju salah satu hotel bintang lima. Dia segera menghubungi nomor ponselnya dosennya yang bernama Kabir dosen pengganti cukup terkenal killer dan disiplin itu.
"Semoga saja aku belum terlambat sampai di tempat acara jika tidak aku akan dapat omelan yang tidak bermutu lagi," cicitnya Senja yang menghubungi nomor ponselnya Kabir.
Berulang kali menghubungi nomor ponselnya Kabir, tetapi tetap tidak tersambung juga.
"Dimana nih orang kok tidak angkat telpon, apa jangan-jangan lupa lagi dengan janji kami," gerutunya Senja yang semakin kesal karena Kabir sama sekali tidak mengangkat telponnya juga.
Senja terus melajukan mobilnya walau sekalipun Kabir tidak mengangkat telponnya. Senja hanya takut ke acara resepsi pernikahan tersebut,tapi tidak bisa masuk karena tidak punya undangan.
Senja hanya tetap melajukan laju mobilnya itu menuju salah satu gedung hotel bintang lima di jalan XX sesuai dengan petunjuk sebelumnya yang diberikan oleh Kabir.
"Apa disini tempatnya, apa aku bisa masuk ke sana yah tanpa membawa undangan apapun juga, tapi pasti aku akan ditolak kalau gini," Senja mengedarkan pandangannya ke sekeliling gedung tersebut.
Hingga netra hitamnya melihat sosok pria yang sejak tadi dicarinya itu selama perjalanannya.
__ADS_1