
Adinda melihat ke arah rumahnya Aliya yang keadaan rumahnya cukup gelap. Karena satupun lampunya belum ada yang menyala. Ia tidak menduga jika rumah yang sederhana yang selalu membuatnya betah berlama-lama di dalam rumahnya harus dia tinggalkan untuk selamanya.
"Maafkan aku yang tidak becus menjaga keharmonisan dan ketentraman rumah tanggaku, aku tidak bisa hidup berbagi suami dengan perempuan lain, tapi aku sangat sulit untuk membenci mereka," lirih Aliya yang menarik koper kecilnya dan beberapa tas milik kedua anak kembarnya.
"Mbak Aliyah kemana, kenapa kondisi rumahnya sangat sepi seperti tidak ada sedikitpun tanda-tanda orang yang berada di dalamnya," Adinda memperhatikan dengan seksama rumah tetangga sekaligus istri pertama dari suaminya itu.
Aliyah sudah berusaha untuk kuat dan tegar menghadapi ujian dalam rumah tangganya itu, tapi kembali lagi dia hanya manusia biasa yang punya keluh kesah dan kekurangan.
Leo frustasi mencari keberadaan Istrinya Aliya Azizah Humairah. Leo memukul-mukul setir kemudi mobilnya, hingga berulang kali. Sudah berulang kali, Leo menghubungi nomor hpnya Aliya, tapi selalu saja gagal. Nomor hpnya Alia tidak aktif.
"Aku memang suami yang paling bego di dunia ini, punya istri yang cantik, sholehah, setia,baik hati, tapi entah setan apa yang pengaruhi ku waktu itu, sehingga dengan bodohnya aku ikut minum malam itu, padahal aku tidak pernah menyentuh minuman beralkohol, tapi hingga detik ini aku masih meragukan jika memang benar-benar diriku lah yang tidur dengan Adinda, karena malam itu aku benar-benar tidak mengingat apapun yang aku lakukan pada Adinda, bahkan saat itu yang bisa aku rasakan dan ingat sampai detik ini adalah hanya sakit kepala saja," gumamnya Leo.
Leo menyandarkan kepalanya ke belakang headboard mobilnya itu sambil memijit pelipisnya. Leo kembali memutar kenangannya yang terjadi sekitar kurang lebih sembilan bulan lalu itu.
"Astaghfirullah aladzim, saya harus balik ke rumah aku yakin Aliya balik ke rumah, semoga saja Aliya tidak melakukan hal-hal yang tidak baik, aku sangat khawatir dengan kondisinya ya Allah…" cicitnya Leo yang segera menyalakan mesin mobilnya dan melajukan ke arah jalan raya.
Leo mengemudikan mobilnya dengan ugal-ugalan hingga hampir saja menabrak pengendara sepeda motor yang tiba-tiba muncul berlawanan arah dengan arah kedatangan mobilnya. Leo secepat kilat merem mendadak mobilnya itu.
Leo mengeluarkan kepalanya ke jendela yang hendak mengatai dan memaki-maki pengendara motor itu, tapi belum saja dilakukannya. Pria itu buru-buru kabur karena takut pastinya.
"Sial!! Kalau belum lancar bawa motor jangan ke jalan raya tapi ke lapangan sana bawa motornya pasti aman!" Kesalnya Leo.
__ADS_1
Berselang beberapa menit kemudian, mobilnya Leo Corlando Zain terparkir di depan pagar rumahnya. Tanpa menunggu lama, ia segera bergegas turun dari mobilnya dengan terburu-buru. Tapi, apa yang diinginkannya ternyata tidak sesuai dengan harapannya. Ternyata pagar rumahnya tergembok dengan rapat.
"Kenapa belum terbuka, tidak biasanya seperti ini, jangan-jangan Aliya belum pulang, apa aku sebaiknya menunggunya sampai pulang saja," gumamnya Leo.
Leo memeriksa saku celananya mencari keberadaan kunci rumahnya yang sering dibawahnya setiap kali pulang terlambat. Berulang kali ia cek dan periksa tapi, ternyata tidak menemukan kunci itu.
"Seingat tadi pagi Aliya sempat berikan kunci itu,tapi kok enggak ada yah? Apa ada di sadel motorku?" Leo kembali memukul kemudi mobilnya saking jengkelnya dengan keadaan yang dialaminya hari itu.
Leo berusaha untuk memanjat tembok pagar rumahnya,tapi baru selangkah kakinya melangkah ke atas tembok. Kegiatannya kembali terhenti dengan suara interupsi dari seseorang yang menghentikan langkahnya itu.
"Pak kenapa harus manjat rumahnya sendiri, apa Bu Aliah tidak simpan kunci atau bapak Leo yang lupa bawa kunci ketika keluar rumah?" Tanyanya ibu-ibu yang berambut pendek.
Leo menjadi salah tingkah,ia semakin panik setelah ibu-ibu menjelaskan apa yang terjadi kepada Aliya.
"Ya Allah… Aliya istriku kamu pergi kemana? Kenapa kau tega banget tinggalkan mas seorang diri?" Lirihnya Leo.
Leo tidak menggubris perkataan dari kedua ibu-ibu itu, ia hanya langsung bergerak cepat dan melompati pagar rumahnya yang tingginya lebih satu meter itu.
Sedangkan Aliya sudah mendapatkan rumah kontrakan rumah sementara sebelum berangkat ke daerah Kalimantan Selatan.
Leo masuk ke dalam rumahnya dan berusaha membuka pintu rumahnya dengan cara mendobraknya.
__ADS_1
"Saya harus cek langsung apa benar yang dikatakan oleh ibu-ibu tadi kalau Alia sudah pergi bersama kedua anakku, jika Aliya benar-benar pergi aku tidak akan peduli lagi dengan Adinda,mau melahirkan atau enggak bukan urusanku, walaupun anak yang didalam rahimnya adalah anakku karena gara-gara dialah yang menyebabkan aku harus menderita seperti ini," geramnya Leo yang melupakan jika bukan hanya Adinda yang bersalah dan keliru disini tapi, mereka berdua yang salah besar.
Leo tidak menyerah sekuat apapun pintu itu, ia tetap membuka paksa pintu rumahnya.
"Saya tidak boleh kehilangan istri dan anak-anakku, ini semua salahku memang telah larut dalam kehidupan yang diciptakan oleh Adinda, tapi mulai detik ini saya berjanji tidak akan peduli lagi dengan Adinda, jika anaknya lahir saya akan segera menjatuhkan talak tiga langsung untuknya," kesalnya Leo.
Dengan kesabaran, pintu kayu berdaun dua itu akhirnya terbuka juga dengan keadaan yang sudah rusak.
Bruk!!!
Prang!!
Suara pintu yang terjatuh kea atas lantai menimbulkan suara yang cukup bising dan nyaring hingga membuat keributan. Adinda yang baru saja ingin beristirahat,ia dibuat terkejut dengan suara yang bersumber dari dalam rumahnya Aliya.
Adinda segera bangun dari baringnya,ia melupakan untuk memakai sendal rumahannya yang sering dipakainya itu.
"Apa itu Mbak Aliya yang baru pulang, tapi kenapa bisa ribut banget? Ya Allah semoga saja Mbak Aliya baik-baik saja, tapi apa Mbak Aliya dan mas Leo bertengkar lagi," berbagai macam pertanyaan yang muncul di dalam benaknya.
Adinda memeriksa jendela kamarnya yang kebetulan berdekatan dengan pintu masuk rumahnya Aliya. Tetapi, Adinda tidak melihat siapapun yang berada di depan teras rumahnya Aliya. Adinda meraih pakaian hangatnya karena ketakutan jika terjadi sesuatu pada Aliya dan Leo.
"Aku sangat tahu jika terjadi sesuatu kepada mereka, bagaimana jika mereka saling emosi sehingga mereka bertengkar, adu mulut dan cekcok hingga saling bertindak kasar, itu tidak boleh terjadi aku sadari jika semua masalah bersumber dariku, aku akan mengakhiri hubunganku dengan Mas Leo yang penting Mas Leo dan Mbak Aliya bahagia," cicitnya Adinda.
__ADS_1