
Aliya terus mengemudikan motornya menuju rumahnya. Hatinya sangat sedih, sakit dan hancur setelah bertemu kembali dengan suaminya yang status mereka dipertanyakan.
Hatinya Aliya Azizah Humairah semakin sedih mengingat jika Leo Carlando Zain Pratama ternyata sudah memiliki putra kecil yang kemungkinannya adalah anaknya bersama dengan Adinda.
Alia segera berjalan cepat menuju ke dalam rumahnya dengan terlebih dahulu mematikan mesin kendaraan roda duanya itu. Ia mempercepat langkahnya menuju ke arah dalam saking tidak kuasanya lagi menahan air matanya.
Aliya membuang tubuhnya ke atas ranjang king size-nya itu, ia menangis tersedu-sedu meratapi nasibnya yang begitu malang sungguh di luar kendalinya.
Ya Allah kenapa Engkau pertemukan aku lagi dengan mantan suamiku mas Leo? Aku tidak ingin melihatnya lagi apalagi mendengar kabarnya bersama Adinda.
Alia memukul-mukul kasurnya dengan sekuat tenaganya itu. Dia tidak peduli dengan apa yang terjadi di sekitarnya. Banyak tatapan mata dari orang-orang yang kebetulan melihat apa yang terjadi padanya dengan Leo. Aliyah menangis tersedu-sedu dan histeris di dalam kamarnya. Untungnya kedua anak kembarnya belum pulang dari kampusnya sehingga tidak melihat dan mengetahui apa yang telah terjadi pada mamanya.
Sedangkan Leo masih berlutut di bawah sinar matahari yang sungguh sangat terik siang hari itu. Seorang anak kecil memeluknya dari belakang.
"Ayah Leo bangun dong,apa ayah nggak capek berlutut seperti ini terus menerus," bujuknya Adicandra anaknya bersama dengan istri keduanya.
Leo segera menyeka air matanya itu yang sedari tadi menetes membasahi pipinya,ia baru tersadar jika ada putra kecilnya yang seharusnya dijemput pulang dari sekolahnya dan akan diantar ke salah satu tempat les mengaji setelah pulang dari sekolah.
Leo mengarahkan pandangannya ke arah Candra, Leo berdiri dari posisi berlututnya sambil menengadahkan kepalanya ke arah anaknya yang berusaha tersenyum walaupun hatinya sangat sedih, kecewa dan sakit atas penolakan Aliya terhadapnya.
Leo memegangi pundaknya Candra," maafkan ayah yah Nak,kamu sudah capek berlarian mengejar ayah, itu tadi Mama Aliya yang setiap hari kamu tanyakan keberadaannya, hari ini kita sudah bertemu dengan Mama mulai hari ini kamu harus bantuin ayah yah untuk mendapatkan mama Aliya lagi, apa kamu bisa janji?" Ucapnya Leo sambil menatap ke arah kedalam netra hitam milik putranya itu.
Candra segera menganggukkan kepalanya dengan antusias dan gembira karena perempuan yang selama ini ditunggu kedatangannya dan kehadirannya akhirnya pulang juga ke Jakarta.
__ADS_1
"Candra janji akan bantuin ayah agar mama Aliya bisa berkumpul bersama dengan kita lagi seperti dulu," imbuhnya Chandra yang sangat senang karena akhirnya akan memiliki seorang Mama seperti teman sekolahnya yang lain.
Leo memeluk tubuhnya Candra dengan erat dan penuh kelembutan dan kasih sayang, "Alhamdulillah kamu memang putranya ayah yang paling terbaik dan pengertian yang selalu mengerti dengan keadaannya Ayah Nak, jadilah jagoannya ayah,"
Candra tersenyum kegirangan sambil menunjukkan jari jempolnya itu.
"Candra berdoa semoga ayah dan mama Aliah bisa bersatu kembali menjadi suami istri seperti dulu lagi, jadi Candra juga akan dapat Mama yang akan menyayangi Candra setulus hati," ucapnya anak kecil berusia sepuluh tahun lebih itu.
Beberapa hari kemudian, Leo terus mencari keberadaannya Aliya dan kedua anaknya itu setelah balik dari kantornya.
"Apa aku ke rumah lama saja yah, jangan sampai hari ini dapat informasi yang lebih bagus dari sebelumnya," gumamnya Leo yang segera menghabiskan sarapan paginya itu.
"Bi Diah Sari tolong masukin juga makanan seperti ini ke dalam kotak bekal makanannya Candra yah Bi," pintanya Candra.
Bahkan dengan hal itu banyak anak sebayanya sekaligus teman sekolahnya mengolok-oloknya yang menganggap dan menyebut Candra anak manja anak rumahan dan anak cengeng dan anak laki-laki lemah. Padahal tidak seperti dugaan mereka, Candra malah sering kali diikut sertakan dalam perlombaan olahraga dan mati-matika karena kepintarannya yang dimiliki oleh Candra.
"Baik den Candra," balasnya Bi Diah.
"Cucunya Nenek apa sudah mau berangkat sekolah?" Tanyanya Bu Sita ibunya Leo yang selama menikah dengan Aliya berada dalam luar negeri sebagai TKI di Malaysia Kuala Lumpur.
Bu Sita Masitah adalah janda beranak dua yang kebanyakan kehidupannya di habiskan di luar negri. Tetapi, mengingat usianya yang sudah lansia dan tua dan desakan dari kedua anaknya itu sehingga ia harus mau tidak mau wajib mengakhiri kontraknya itu.
"Iya Nek,tapi katanya ayah engga bisa antar jemput hari ini banyak kegiatan dan kerjaannya ayah dari kantor baru," jelasnya Candra.
__ADS_1
Bu Sita membantu artnya untuk membereskan beberapa piring, gelas, sendok serta peralatan makan lainnya yang sudah dipakai oleh anak-anak dan cucunya itu.
"Kalau gitu kamu diantar sama paman Luthfi saja Nak, pamanmu kebetulan hari ini masuknya agak siangan jadi bisa antar kamu dulu," usulnya Bu Sita.
Candra segera melihat ke arah pamannya adik kandung dari ayahnya itu," Paman bisa enggak tolongin Candra antar ke sekolah? Ayah katanya berhalangan antarin Chandra."
Lutfi Hatem Zain Pratama menolehkan kepalanya ke arah keponakan satu-satunya cowok di dalam anggota keluarganya itu sambil menyesap beberapa kali kopi hangatnya itu.
"Kalau Paman tidak masalah apalagi ada Bu guru cantik di sekolahnya yang bisa paman lihat jadi tidak masalah kok," tukasnya Lutfi
Lutfi Hatem pria dewasa berusia 28 tahun itu berbeda sebelas tahun usianya dengan kakaknya yang berumur 39 tahun ini.
"Iya paman cepat gaek Bu Sasmita karena kemarin aku lihat ada anak muda yang cakep membonceng Ibu Sasmita ke sekolah," ucapnya Candra sambil mengingat-ingat kejadian beberapa hari yang lalu itu.
Lutfi segera menghentikan kegiatannya menyesap kopinya itu dan sedikit terkejut mendengar penuturan dari keponakannya itu.
"Kamu serius Nak ganteng? Apa jangan-jangan kamu hanya salah lihat saja," paniknya Lutfi.
Lutfi mulai panik mendengar jika perempuan idamannya didekati oleh seorang pria yang kemungkinannya akan menjadi saingannya kedepannya untuk mendapatkan hatinya Sasmita.
Bu Sita yang mendengar percakapan kedua pria berbeda usia itu dengan tersenyum simpul.
"Kalau suka jangan menunda lebih lama lagi untuk melamarnya, karena pria sejati itu lebih baik kalau langsung dengan cara dipinang daripada mendekatinya dengan berbagai gombalan, rayuan dan pujian yang terkadang membuat seorang perempuan ilfil dengan sikapmu," ungkapnya Bu Sita yang ingin melihat anak bungsunya mengakhiri masa dudanya itu yang sudah hampir lima tahun itu.
__ADS_1
Insya Allah akhir bulan akan ada dua pembaca setia yang dapat give away kecil-kecilan dari saya. Syaratnya baca setiap hari, like dan komentar mulai dari bab awal.