Belum Berakhir

Belum Berakhir
Bab. 214


__ADS_3

Icha serba salah karena disaat ingin berkata jujur, tapi malah dihentikan oleh sahabat-sahabatnya.


Kalau suami-suami kami tahu pasti kami semua kena marah. Tapi, sudahlah karena aku juga enggak seorang diri yang nantinya kena marah.


Berselang beberapa menit kemudian, mereka sudah sampai di bandara internasional Soekarno Hatta. Mereka semuanya bahagia karena akan melakukan perjalanan ke luar negeri.


Senja mulai gemetaran, ketika akan menaiki satu persatu undakan tangga. Kabir segera memegangi tangannya Senja yang mulai berkeringat dingin di sekujur tubuhnya.


"Kamu akan baik-baik saja, ingat saja wajah bahagianya anak-anak kita ketika melihat kamu datang ke London," cicitnya Kabir yang terus memegangi tangan istrinya itu agar Senja bisa melewati masa traumanya itu.


Senja pun tersenyum membalas perkataannya Kabir, dia berharap besar kepada Allah SWT dan dirinya sendiri untuk membantunya segera terlepas dari trauma yang dideritanya selama kurang lebih lima tahun belakangan ini.


Ya Allah.. aku meminta tolong padaMu untuk membantuku melewati masa kritis ini, aku tidak sanggup jika aku harus gagal total hd Inggris menemui ketiga anak kembarku.


Canda tawa senda gurau bersama ke lima orang terdekatnya mampu membuatnya akhirnya bisa duduk di atas pesawat terbang dengan tenang dan nyaman.


"Bagaimana apa kamu baik-baik saja kan?" Tanyanya Kabir yang duduk tepat di hadapannya.


Senja hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum simpul menanggapi perkataannya dari Kabir.


"Alhamdulillah kalau gitu kita akan segera berangkat ke Inggris dan menemui Gibran, Jinan dan Jihan anak kembar kita," ucapnya Kabir sembari mengusap punggung tangannya Senja berulang kali.


"Syukur alhamdulilah, dek kamu sudah bisa tenang padahal kakak sangat khawatir ketika melihatmu gemetaran,tapi ketika pesawat sudah mulai tinggal landas aku perhatikan kamu tenang, diam dan tidak menjerit histeris seperti yang telah lalu-lalu," ucapnya Jingga yang mengambil tempat duduk tepat di sampingnya Senja adiknya.


"Iya kak alhamdulilah, aku juga tidak menyangka dan ternyata kehadiran kalian semua dan perhatian serta kasih sayang kalian sungguh mampu membuat aku bisa melewati semua ini dengan baik," ujarnya Senja yang akhirnya bisa bernafas lega.


"Makasih banyak ya Allah Engkau telah menolong sahabat kami, hari ini kami sangat bahagia karena akhirnya mendapatkan sahabat kami yang seperti dulu lagi," ujarnya Zania Mirzani yang kemudian ikut duduk di samping kirinya Senja.


Semua orang bersuka cita atas kesembuhannya Senja Starla,tapi mereka tidak menduga jika para suami mereka sebenarnya ikut ke luar negeri, hanya saja belum muncul untuk memperlihatkan batang hidungnya satu persatu.


Mereka bersembunyi di suatu tempat yang tidak diketahui oleh siapapun kecuali Kabir dan awak pesawat lainnya.


Sedangkan di belahan bumi lainnya, tepatnya di negeri Ratu Elizabeth. Beberapa gadis cantik sedang berbincang-bincang sambil menyantap santapan siang mereka di salah satu kafe restoran siap saji. Mereka menunggu sahabat sekaligus kakak sepupunya itu.

__ADS_1


Mereka semua sudah janjian akan nonton bareng di bioskop film action Jawan yang dibintangi oleh aktor senior dari India Shahrukh Khan. Mereka ingin bersantap siang terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam teater bioskop untuk menonton film.


Sebenarnya mereka bisa saja menontonnya lewat televisi dengan membeli kaset originalnya. Tetapi, mereka beralasan jika lebih seru dan asyik serta menegangkan apabila mereka menonton bersama dengan masyarakat lainnya.


Jinan, Jihan, Giska Inayah, Delila, Dania, Raisa Andriana, Asriel, Alif Naufal dan juga Iqbal. Sedangkan Ocean Skala Pratama serta Gibran belum muncul juga.


Giska menyimpan gelasnya ke atas meja dengan sedikit kasar hingga menimbulkan bunyi.


Prang!


"Kemana nih perginya Gibran dengan Ocean? Kenapa sampai sekarang gak nongol-nongol juga," gerutunya Giska Inayah.


"Iya nih, tersisa lima belas menit lagi pintu teater dibuka,tapi kedua orang itu masih belum datang," kesalnya Delila.


"Aku sudah telpon nomor ponselnya mereka tapi, semuanya tidak ada yang aktif, entah kenapa mereka bersikap seperti ini!?" Cercanya Jinan yang mulai ikutan emosi juga.


"Apa sebaiknya kita duluan masuk saja, kita tunggu mereka di dalam saja," usulnya Jihan.


"Itu baru usulan yang bagus, daripada jadi ikan teri di sini nungguin mereka lebih baik let's go," ucap Dania.


"Kamu saja yang menunggu mereka, kami mau pergi saja," cercanya Raisa.


Semua orang berjalan ke arah dalam bioskop tapi, baru saja beberapa langkah kakinya mereka semua melangkah. Suara teriakan dari seseorang mampu menghentikan kegiatannya mereka semua.


"Hey tunggu!" Teriaknya Ocean.


Semua orang menghadap ke arah belakang dan melebarkan mata mereka melihat tiga orang pria yang baru saja datang.


"Ansel Alfarizi Albert!" Beonya Delila.


Dania menunjuk ke arah Ansel,"bukannya dia pria tengil yang kemarin menabrak motor adikku!" Kesalnya Dania.


"Iya benar sekali, tapi ngomong-ngomong kenapa ia bisa bersama dengan pria bajingan itu?" Sahutnya Jihan.

__ADS_1


"Semuanya akan terjawab setelah mereka sampai disini dan saat itulah kita akan menyerbu mereka untuk berbicara," timpalnya Jihan.


Alif membisikkan kata-kata di telinganya Asriel," Apa yang terjadi dengan mereka, kenapa sangat kesal bahkan mereka seperti sangat membenci Ansel."


"Iya, apa mereka sudah saling kenal satu sama lainnya, tapi kalau seperti ini aku yakin ada yang tidak beres," balasnya Asriel dengan berbisik pula seperti yang dilakukan oleh Alif.


"Ansel, aku yakin pasti gara-gara kamu sehingga saudaraku ini terlambat datangnya," tebaknya Iqbal Maulana.


Ansel terus memandangi wajahnya Delila seolah-olah mereka seperti barusan melihat wajah cantik.


Delila menjentikkan jarinya itu langsung di depan wajahnya pria yang terus berjalan ke arahnya Delila hingga keduanya saling bertatapan dan terpisah beberapa jarak saja.


"Kamu lagi! Kenapa bisa pria seperti dia ikut bersama dengan kakak Gibran dan uncle Oce!?" Kesalnya Delila.


Gibran dan Oce saling bertatapan satu sama lainnya dengan kedua alisnya saling bertautan.


"Apa jangan-jangan kalian sudah saling kenal," terkanya Oce.


Delila dan Ansel langsung menjawab pertanyaan dari Ocean secara bersamaan.


"Tidak mungkin kami saling kenal!" Teriak keduanya serentak.


"Benar, itu tidak mungkin mereka saling kenal! Kalau aku amit-amit  kenal pemuda macam dia," sarkasnya Jinan.


"Iya, buang-buang waktu kalau harus kenalan dengan pria seperti modelan dia lah!" Cibirnya Delila.


"Kalau gitu kita segera masuk, karena pintu teaternya sudah terbuka," ajaknya Gibran.


Jinan menarik tangannya Gibran kakaknya itu sebelum masuk ke dalam ruangan bioskop,"Kakak, apa kalian mengenal Ansel Alfarizi Albert?"


Gibran menghentikan langkahnya itu, kemudian menjawab pertanyaan dari adik keduanya itu.


"Dia teman satu kelasnya kakak," jawabnya singkat Gibran.

__ADS_1


Semua orang segera masuk ke dalam dan seperti menjauhi Ansel yang bagaikan kuman, bakteri atau penyakit menular lainnya yang sangat berbahaya.


__ADS_2