
"Dady! Maksudnya nak?" Tanyanya Bu Clara.
"Aku akan katakan apa maksudnya perkataanku Oma,tapi ijinkan pak Septa duduk dulu," imbuhnya Kabir yang berjalan ke arah pria yang disapanya sebagai papanya itu.
"Bi Tia, tolong barang bawaan yang dibawa Pak Septa di bawah ke dalam kamarnya si kembar, nanti aku yakin akan mengatur segalanya," pintanya Senja.
"Baik Nyonya Muda," balasnya perempuan 35 tahun itu.
Semua asisten rumah tangganya Senja adalah keponakan dan cucu keponakannya dimiliki oleh bibi Minah. Sehingga Kabir dan Senja lebih santai untuk menjaga anak-anaknya karena, mereka bekerja dengan menggunakan hati yang tulus dan ikhlas.
"Pak Septa silahkan duduk bersama kami disini," pintanya pak Abbas papa sambungnya Kabir Kasyafani.
Pak Septa diam-diam memperhatikan gerak geriknya Hanin Mazaya perempuan yang sampai detik ini masih disayangi hingga dia memutuskan untuk tidak menikah setelah putus hubungan dengan Hanin Mazaya ketika mereka masih sama-sama muda.
Hanin Mazaya dan pak Septa saling bertatapan satu sama lainnya. Mereka sama-sama menyelami rasa yang ada. Yaitu kembali ke tiga puluh tahun silam.
Seorang perempuan muda berjalan tergesa-gesa memasuki ruangan kelas, saking terburu-burunya sampai-sampai dia tidak menyadari dia salah masuk kelas.
"Hemm,maaf sepertinya kamu salah kursi dan kamu bukan siswa kelas kami," ucapnya seorang anak muda yang duduk tepat di sebelahnya.
Hanin muda segera menolehkan kepalanya ke arah pria muda siapa lagi kalau bukan Septa yang masih tidak percaya, jika gadis cantik itu masih salah masuk kelas untuk kesekian kalinya.
"Maksudnya saya salah masuk?" Tanyanya Hanin sembari menunjuk ke arah dadanya sendiri saking terkejutnya dan tidak percaya dengan apa yang terjadi di depan matanya langsung.
Septa menganggukkan kepalanya itu dengan seringai licik terbit dari sudut bibirnya itu seraya menunjuk ke arah tulisan yang bertuliskan di papan. Hanin segera mengarahkan penglihatannya hingga ke papan yang bertuliskan kelas A.
Hanin membelalakkan matanya saking tidak percayanya dengan kejadian yang barusan terjadi. Hanin menepuk jidatnya dengan ulahnya sendiri.
"Astaughfirullahaladzim kenapa aku salah masuk lagi! Ih kesel banget, ini semua gara-gara kakak Raka yang terlambat mengantar ke kampus," sungutnya Hanin.
"Ini yang ketiga kalinya Anda salah masuk kelas, bukannya kamu kelas sebelah tapi kenapa sampai kesini lagi?" Ketusnya Septa sambil memperbaiki kacamata bacanya itu yang sedikit tebal.
__ADS_1
Hanin tidak menggubris perkataannya Septa karena terlalu malu dan langsung kabur dari tempat tersebut sembari menundukkan kepalanya saking malunya, karena dia diperhatikan oleh banyak mahasiswa dan mahasiswi.
Gadis cantik tapi sedikit aneh. Septa diam-diam terus memandangi kepergian perempuan cantik yang cukup populer di kampusnya tahun itu.
Disitulah awal pertemuannya Septa dengan Hanin muda. Mereka sering bertemu tanpa sengaja. Septa juga sering memberikan pelajaran khusus untuk Hanin, jika dia membutuhkan bantuan. Septa akan selalu ada disaat Hanin membutuhkannya.
Dari hari ke hari cinta itu mulai tumbuh seiring berjalannya waktu karena pertemuan mereka yang semakin intens dan setiap saat. Hingga papinya Hanin tuan besar Nasution mengetahui hubungan mereka.
"Hanin! Kita itu keluarga terpandang, kaya, ningrat dan berdarah biru sedangkan anak muda itu hanya pekerja biasa saja bahkan kelurganya adalah orang miskin! Apa yang kamu harapkan dari pria yang tidak jelas asal usulnya!" Teriaknya Pak Nasution suatu malam.
Hanin yang tidak terima jika dirinya diminta untuk meninggalkan Septa kekasihnya terus berusaha untuk mempertahankan hubungannya dan membujuk papinya.
"Aku sangat mencintainya Papi, aku tidak bisa hidup tanpa dirinya, kami saling menyayangi dan mencintai, aku mohon jangan paksa aku untuk meninggalkan Septa Papi!" Ujarnya Hanin yang tidak mau jika diminta untuk meninggalkan Septa cinta pertamanya.
"Papi tidak peduli dengan semua itu yang jelasnya kamu tidak boleh berhubungan lagi dengan pria yang bernama Septa Danu Triadji! Jika kamu terus bertemu dengannya maka papi tidak akan segan-segan untuk memisahkan kalian! Ingat baik-baik perkataannya papi!" Ancamnya Pak Nasution kepada salah satu anak kembarnya itu.
Tapi, itu sudah terlambat karena hubungan mereka sudah melebihi dari sekedar teman atau kekasih biasa saja. Hingga suatu hari, Septa mengalami kecelakaan maut yaitu motornya terjatuh ke dalam sungai ketika mengalami kecelakaan tengah malam di sebuah jembatan.
"Hanin, apa yang papi kamu katakan benar adanya, apa kamu kira hanya dengan saling mencintai hidup akan bahagia nak? Itu tidak mungkin bisa terjadi, pemuda yang kamu cintai itu adalah pemuda yang asal usulnya tidak jelas, ibunya adalah hanya seorang pembantu dan ayahnya adalah pria yang tidak diketahui keberadaannya siapa orangnya, jadi mami mohon berhentilah untuk berulah konyol dan bertingkah bego," nasehatnya Bu Clara kala itu.
"Aku tidak peduli dengan semua itu! Intinya aku akan tetap mencintainya hingga nafas terakhirku dalam hidupku!" Tegasnya Hanin.
Perdebatan mereka setiap hari seperti itu, karena Hanin keras kepala dan tidak ingin dipisahkan dengan kekasih pujaan hatinya.
Hubungan mereka bukannya berhenti atau tidak saling bertemu, tetapi setiap hari semakin dekat saja. Hingga suatu malam, di bawah hujan lebat keduanya melakukan hubungan yang terlarang hubungan yang semestinya tidak boleh terjadi.
Kemarahan Pak Nasution semakin menjadi setelah dengan kepala matanya sendiri, melihat putri pertamanya berboncengan dengan mesra dengan seorang pria muda yang tidak lain adalah kekasihnya.
Sejak pertemuan itu, Hanin pun tidak pernah lagi bertemu dengan pria yang sangat tulus dicintainya dan mencintainya sepenuh jiwa dan raganya.
Jingga kabar kematian dari kekasihnya membuatnya terguncang hebat ketika mengetahui jika pemuda itu telah meninggal dunia dalam kecelakaan.
__ADS_1
"Tidak!" Teriaknya Bu Hanin.
Tepukan pelan di lengan kanannya Bu Hanin membuat dia tersadar dan kembali ke dunia nyata. Matanya berkaca-kaca hingga tanpa disadarinya air bening nan asing menetes membasahi pipinya itu.
Bu Hanin segera menyeka air matanya dengan menggunakan ujung jarinya itu secara diam-diam. Apa yang dialaminya sekarang tidak boleh diketahui oleh orang lain siapapun itu.
"Bunda baik-baik saja kan?" Tanya Senja yang keningnya berkerut melihat apa yang terjadi pada ibu mertuanya itu.
"Bun-da tidak apa-apa kok sayang, bunda ingin ke kamar kecil soalnya," kilahnya Bu Hanin yang menutupi apa yang terjadi padanya.
Senja dan Kabir sekitar dua bulan lalu mengetahui jika papanya Abbas Khaer bukanlah papa kandungnya sendiri dan hanya papa sambung sedangkan papa kandungnya adalah pria yang sudah sejak beberapa tahun lalu menjadi penanam modal di perusahaan yang baru dirintisnya itu.
Pak Septa melihat gelagat aneh dari perempuan yang hingga hari ini masih begitu dicintainya dan hari ini dia menuntut haknya sebagai papa biologisnya Kabir Kasyafani.
Aku akan membongkar rahasia besar antara kita selama ini, aku ingin dipanggil kakek oleh ketiga cucuku.
Sudah cukup mantan suamimu yang selalu dianggap papanya anak semata wayangku dan aku akan menikahimu apapun yang terjadi seperti janjiku padamu tiga puluh tahun lalu.
Cintaku padamu belum berakhir.
Pembahasan bulan madunya Guntur Aswin dengan istrinya Jingga Aurora Ainah terpaksa terhenti sesaat karena kedatangan papa kandungnya Kabir.
"Tolong katakan pada kami yang sejujurnya,apa maksud dari perkataanmu barusan yang menyebut tuan Septa adalah Daddy kamu? Lihatlah ke sana pria yang memakai baju coklat itu, bukannya dia papamu Nak?" Tanyanya bu Clara ketika semuanya sudah duduk saling berdampingan.
Hanin menatap intens ke arah putra semata wayangnya itu sambil menggelengkan kepalanya. Bu Hanin sudah yakin benar jika Kabir sudah mengetahui jika Septa adalah papa kandungnya yang selama ini ditutupinya itu.
Ya Allah semoga saja Kabir tidak membongkar rahasia kami, aku tidak ingin semua orang kecewa padaku yang telah berbohong. Walaupun mas Abbas mengetahui sesungguhnya tentang siapa Kabir Kasyafani putraku.
Kabir tersenyum simpul sembari mengalihkan pandangannya ke arah pria yang seperti fotocopy nya itu.
"Oma maafkan Kabir semua ini harus aku ungkap di depan kalian, karena Kabir merasa jika tidak ada gunanya untuk terus ditutupi dan lambat laun pasti akan ketahuan juga," jelasnya Kabir.
__ADS_1
"Maksudnya Nak?" Tanya Bu Clara.
"Pak Sapta Danu Triadji adalah papa kandungku, pria yang telah ditolak lamarannya oleh kakek tiga puluh tahun yang lalu, pria yang dikabarkan telah meninggal dunia ternyata dia masih hidup dan berada di tengah-tengah kita sekarang," ungkapnya Kabir.