
Sudah dua minggu lebih kepergiannya, tapi sudah tiga hari ini sama sekali tidak memberikan kabar padaku.
Senja bolak balik membuka layar ponselnya dan memeriksa serta mengecek berulang kali pesan singkat chat yang dikirim oleh Senja untuknya.
Mungkin pak Kabir sibuk bekerja, apalagi dia ada diluar negeri di Sidney Australia.
Kabir kembali berjalan ke arah meja kerjanya,ia segera meraih gedjetnya yang tergeletak dia atas meja.
Aku akan menelpon istriku, sudah dua minggu lebih nih libur. Tapi takutnya aku mengganggu aktifitasnya.
Kabir kembali mengurungkan niatnya itu, ia menunggu agar Senja sendiri yang berinisiatif untuk menelponnya terlebih dahulu.
Nanti sajalah, Senja mungkin akan segera menelponku setelah melihat ruangan khusus yang kubuatkan untuknya.
Kabir melonggarkan dasi yang sejak pagi tadi melingkar di lehernya. Ia menelpon anak buah kepercayaannya yang ditugaskan untuk selalu mengawasi apa yang dilakukan oleh Senja selama mereka menikah.
Fajri Bachan adalah asisten pribadinya yang menjadi penyambung tangan dan lidahnya Kabir untuk memberikan yang terbaik kepada Senja khusunya dan juga kepada temannya Senja.
Tut… tuut…
"Assalamualaikum," sapanya Kabir ketika sambungan teleponnya tersambung.
"Waalaikum salam Tuan Muda," balasnya Fajri.
Kabir membuka layar ponselnya yang satu yang sering dipakai untuk orang-orang terdekatnya dan paling spesial dalam hidupnya. Nomor ponsel yang di samarkan sehingga nomor ponselnya tidak bisa di call ulang karena tidak terdaftar di log panggilan masuk.
"Gimana dengan tugas yang aku berikan untukmu?" Tanyanya Kabir dengan memandangi foto nikah dan prewedding nya.
Kabir mengelus wajahnya Senja dengan jari jemarinya yang lentik itu bak jari perempuan saja.
"Alhamdulillah semuanya sudah beres Tuan Muda, sesuai dengan petunjuk dari Tuan Muda," tuturnya Fajri Bachan.
Fajri memperhatikan apa yang dilakukan oleh Senja di dalam ruangan kantornya itu sembari menjawab pertanyaan dari CEO perusahaan tempat ia bekerja.
"Ingat jangan sampai ada yang memerintahkan apapun itu kepada istriku, saya tidak ingin mendengar ada yang mengusik ketenangan istriku apalagi mempergunakannya dengan semena-mena karena ia anak magang," jelas Kabir yang selalu tersenyum melihat wajah cantik nan ayu alami istrinya tanpa make up yang diambilnya ketika Senja terlelap dalam tidurnya.
"Siap Tuan Muda masalah seperti itu tidak akan terjadi, jadi Tuan Muda fokus dengan pekerjaannya saja," tukasnya Fajri Bachan.
"Oke, insha Allah besok pagi saya balik ke Indonesia Jakarta, tapi jangan sampai istriku mengetahui apabila besok saya balik ke tanah air," terangnya Kabir yang tak jemu memandangi wajahnya Senja.
"Siap Tuan Muda," jawabnya Fajri.
Fajri segera berjalan ke arah pintu luar, entah kenapa setelah melihat hasil cctv ada seorang perempuan yang menemani Senja membuatnya cukup penasaran.
"Kenapa aku merasa jika anak magang itu adalah gadis yang pernah menolongku ketika aku mabuk,"
Fajri berjalan ke arah ruangan divisi Humas,dimana Zania Mirzani berada. Ia ingin mengucapkan ucapan terima kasih karena sudah ditolong beberapa hari yang lalu.
Fajri berjalan ke arah ruangan humas, tapi karena terlalu fokus dengan perempuan itu hingga dia tidak menyadari jika dari berlawanan arah ada perempuan yang membawa beberapa tumpukkan kertas dalam genggaman tangannya yang menumpuk seperti gunung Sinabung saja.
"Awas!!"
Bugh!!
__ADS_1
"Ahhh!!"
"Jatuh! To-long!!"
Pekiknya Zania yang tubuhnya tertabrak hingga beberapa berkas dalam genggaman tangannya terjatuh berhamburan ke atas lantai seperti hujan kertas saja.
Zania terduduk di atas lantai dengan beberapa kertas terjatuh tepat ke atas pangkuannya.
"Hiks… hikks… sakit," ratapnya Zania sambil mengelus bokong dan kakinya itu.
Fajri sang pelaku segera membantu gadis yang mengeluh kesakitan itu, dia tidak menduga jika kali ini dalam hidupnya harus ceroboh dalam berjalan.
Fajri dengan gerakan secepat kilat membantu Zania yang terduduk di atas lantai keramik.
"Maafkan saya tidak sengaja menabrak tubuh Anda Mbak," ucapnya dengan sesal dari Fajri Bachan.
"Tidak perlu minta maaf Pak sudah terjatuh juga, sakit tahu terjatuh seperti ini,"gerutu Zania tanpa berniat untuk memandangi wajahnya Fajri.
Beberapa orang yang berjalan melewati lorong yang dilaluinya itu segera berjalan tergesa-gesa untuk membantu Zania.
"Mbak baik-baik saja kan, mana yang sakit?" Tanyanya seorang pria berkemeja biru berdasi abu-abu itu dengan penuh kelembutan.
"Makasih banyak tapi tidak perlu membantuku, karena saya enggak mau memiliki hutang budi dengan orang lain apalagi dengan orang yang sama sekali tidak aku kenal!" Sarkasnya Zania yang berusaha untuk berdiri.
Fajri tersenyum simpul melihat siapa perempuan yang berbicara jutek dan judes tersebut. Perempuan yang menjadi alasan kenapa dia menabrak tubuh orang lain.
Zania berusaha untuk berdiri sendiri dan memang dia menghindari untuk bersentuhan langsung dengan pria. Karena tubuhnya akan merespon sehingga tubuhnya gemetaran.
Zania segera menepis tangan pria yang sedari tadi memegangi lengannya itu dengan tubuhnya semakin gemetaran. Karena terlanjur bersentuhan dengan Ariel Anjasmara.
Zania berpegangan pada sudut meja karena tidak mungkin berpegangan langsung ditubuh pria yang bukan mahramnya, apalagi mengingat alerginya yang muncul kapan saja.
Hingga tanpa sengaja kakinya tergelincir ketika berusaha untuk mencoba berdiri, karena menginjak kertas yang tercecer yang belum sempat di pungutnya.
Fajri Bachan yang melihat apa yang dialami oleh Zania reflek menarik tangannya Zania, walaupun tadi ditolak dengan cukup kasar,tapi Fajri tidak perduli. Yang paling penting Zania selamat hanya itu tujuan dan harapannya.
"Auh aku jatuh lagi!" Teriaknya kembali Zania yang cukup nyaring hingga membuat kerumunan orang-orang berdatangan untuk menolongnya dan juga ingin melihat langsung kejadian yang terjadi barusan.
Zania karena tidak ingin terjatuh segera menyambut tangannya Fajri hingga tubuhnya Zania ketarik ke depan sampai menabrak dada bidangnya Fajri. Apa yang keduanya lakukan bersamaan dengan kedatangan Senja dan beberapa karyawan perusahaan Sanders Company.
"Apa yang terjadi disini!? Kenapa saya dengar sangat ramai dengan suara gaduh yang menganggu kegiatan pegawai lainnya!" Ketusnya Hakimi Rahman.
Fajri dan Zania yang tanpa sadar berpelukan itu segera melerai dan melepaskan pelukan mereka hanya sebagai jalan keluar terdesak, agar tidak terjatuh untuk kedua kalinya ke atas lantai keramik.
Zania terheran-heran dengan apa yang terjadi, karena dengan Fajri Bachan tubuhnya tidak merasakan gemetaran sedangkan dengan Arif ia akan gemetaran seperti lagi di dalam kulkas lemari pendingin saja.
Zania menatap intens ke arah Fajri karena respon tubuhnya sangat berbeda dengan apa yang dirasakannya dengan dua pria yang memegangi tangannya tapi reaksinya berbeda.
Kenapa dengan Arif pasti tubuhku akan gemetaran sedangkan dengan pria yang entah namanya siapa, aku lebih santai dan enjoy tubuhku merasa nyaman di dekatnya.
"Zania kamu baik-baik saja kan beb?" Senja sangat khawatir melihat sahabatnya itu.
Zania tersenyum simpul sambil menggelengkan kepalanya tanda dia baik-baik saja.
__ADS_1
Hakim melihat ke arah Fajri Bachan ia segera menundukkan kepalanya dengan hormat kepada atasannya itu.
"Bapak tidak apa-apa kan? Apa ada yang membuat bapak Fajri Bachan kerepotan di sini?" Tanyanya Hakim.
Berarti pria yang aku tabrak ini adalah pria yang lebih berkuasa dari Pak Hakim, tapi kira-kira apa jabatannya disini dan ngomong-ngomong wajahnya kok mirip seseorang yang pernah aku bantuin beberapa hari yang lalu.
Kejadian yang terjadi antara Fajri Bachan dengan Zania Mirzani telah selesai. Mereka sama-sama saling memaklumi dengan kejadian yang barusan terjadi.
Sedangkan Senja kembali mengerjakan pekerjaannya sesuai dengan arahan dari Fajri langsung. Senja sangat cepat menerima pembelajaran setiap yang diberikan oleh Fajri.
"Alhamdulillah kamu cukup cepat tanggap menerima setiap apa yang saya ajarkan padamu hari ini, padahal kau anak magang dan hari pertama kerja juga, tapi saya patut mengacungkan jempol padamu good job," ucapnya Fajri sambil menunjukkan jempolnya ke arah Senja.
Senja tersenyum penuh kebahagiaan karena, dia mampu memenuhi tantangan dari suaminya itu untuk membuktikan kepada anggota keluarga besar Sanders jika dia sanggup memenuhi tantangan dia bisa bekerja tanpa ada koneksi ataupun dari jalur belakang.
Memang pantas jadi istrinya tuan muda Kabir Kasyafani Sanders, dia perempuan yang baik, cantik, masih muda dan sholehah tentunya.
Senja tersenyum penuh arti," Aku akan tunjukkan pada pak Kabir apa yang aku dapatkan hari ini. Menagih hadiah dari tantangan yang diberikan padaku, apalagi pak Kabir lagi di Sydney Australia bisa minta sama dia hadiahnya yang tidak ada di Jakarta.
Fajri diam-diam memperhatikan apa yang dilakukan oleh Senja yang tersenyum penuh dengan maksud. Fajri segera berjalan meninggalkan Senja yang tersenyum lebar dengan senyuman penuh tanda tanya.
Sepertinya mereka punya urusan penting yang hanya keduanya yang mengetahui. Lihat saja senyumannya Senja seperti mengandung banyak maksud tertentu.
Kalau gitu cabut saja dari sini, biarkan mereka menyelesaikan urusan peranjangan ehh maksudnya urusan suami istri.
Senja segera meraih ponselnya yang dia simpan di dalam laci meja kerjanya," tapi ngomong-ngomong apa yah yang hanya ada di Australia? Masa kangguru tidak mungkin kan, cokelat Australia di Jakarta juga banyak penjual cokelat, tapi pasti beda rasanya, ehh terserah pak Kabir saja hadiahnya apa kalau aku terima saja karena selama ini hadiahnya selalu bagus mewah dan buat aku bahagia.
Senja segera mengirimkan pesan chat melalui aplikasi yang berlogo hijau itu. Ia mengajak ketiga sahabatnya untuk makan bersama di salah satu kantin kantor.
Zania, Icha dan Naysila segera membalas pesannya Senja Starla Airen. Mereka bergegas menuju tempat pertemuan mereka. Senja segera memutar kenop pintu ruangannya itu. Tapi, upayanya segera terhenti, karena seseorang telah membuka pintu ruangannya.
"Selamat siang, apa benar Anda yang bernama Senja Starla Airen Zain Pratama?" Tanyanya seorang pria yang memakai topi berwarna hitam dan jaket berwarna hijau sesuai dengan aplikasi tempat ia bekerja.
Senja menautkan kedua alisnya mendengar perkataan pria itu, "Benar sekali saya adalah Senja, kenapa emang Pak?" Tanyanya balik Senja.
Kurir itu mengangkat sebuah paper bag berisi beberapa kotak makanan ke hadapan wajahnya Senja, "Ini ada paket khusus untuk Nona Senja dari orang yang bernama Kabir Kasyafani Sanders," terangnya kurir itu lagi.
"Paket untuk saya, makasih banyak kalau begitu," ucapnya Senja yang segera mengambil alih paper bag berwarna cokelat itu.
"Sama-sama Non Senja," ucapnya pria itu lagi.
Kurir itu segera berbalik badan dan segera meninggalkan Senja, tapi baru beberapa langkah kakinya melangkah sang kurir paket itu kembali memutar tubuhnya untuk kembali berjalan ke arah Senja yang ingin hendak menutup pintu ruangannya kembali.
"Ehh tunggu Non Sen, ada lagi pesannya Tuan Muda Kabir,katanya selama Non ada di perusahaan ini, setiap jam makan saya akan datang mengantarkan makanan sesuai dengan pilihannya Non Senja, jadi ngomong-ngomong bisa nomor ponselnya non Senja agar memudahkan pekerjaan saya," usulnya kurir itu.
Senja segera menengadahkan tangannya ke arah kurir itu," sini hpnya saya akan masukkan nomor ponselku ke kontak hpmu Pak,"
Pria itu segera memberikan hpnya tanpa ragu dan Senja tanpa ragu memberikan nomor ponselnya lengkap dengan namanya. Senja juga melakukan panggilan telepon seluler ke nomor ponselnya sendiri yang bertujuan untuk menyimpan nomor ponsel sang kurir.
"Maaf Pak namanya siapa?" Tanyanya Senja.
"Faizal Pratama Non Senja,"
Senja segera mensave nomor dan mamanya Faizal Pratama sang kurir pilihan suaminya.
__ADS_1
"Untungnya ketemu dengan pak Kabir, jadi saya dapat uang tambahan selain bekerja sebagai karyawan baru di bagian security, tapi juga jadi kurir khusus untuk istri pemilik perusahaan."
Jam lima sore sudah, Senja dan ketiga sahabatnya sudah bersiap untuk pulang.