
Satu minggu kemudian, malam sebelum akad nikahnya Jingga. Malam harinya Jingga duduk termenung di balkon kamarnya. Setelah mendengar suara muadzin dari toa-toa masjid yang mengumandangkan lafadz adzan, Jingga gegas melaksanakan shalat isya.
Jingga berjalan gontai menuju ke dalam kamar mandi untuk mengambil wudhu. Setelah ia melaksanakan shalat isya, ia mengambil mushaf Al Quran dan membaca surah Yasin untuk dikirimkan kepada almarhum Abdil Pramudya.
Bulir bening akhirnya tumpah ruah juga membanjiri wajahnya, air yang terasa asin itu membasahi pipinya di sela doa-doanya yang dipanjatkan khusus untuk mendiang almarhum kekasihnya itu.
Jingga segera berjalan ke arah balkon kamarnya setelah selesai melaksanakan kewajibannya menyembah Sang Maha Suci.
Laa Ilaha illallah Muhammadarrasulullah, tidak ada Tuhan selain Allah, Nabi Muhammad utusan Allah.
Sesekali Jingga mengucapkan kata itu, jika dadanya seolah terasa terhimpit oleh beban berat dimana esok hari,dia akan menikahi pria yang sama sekali belum dicintainya itu.
Ya Allah aku bimbang dan ragu untuk menikah dengan pak Guntur, hatiku masih sangat sulit untuk mencintainya.
Aku takut esok aku sudah menikah dengannya tapi hati ini masih tertulis namanya mas Abdil.
Ampuni aku yah Allah aku sudah sangat bersalah dan berdosa telah berlarut-larut dalam kesedihan dan duka nestapa.
Aku merasa ini semua tidak adil, jika aku melanjutkan rencana pernikahan kami ini, sedangkan dengan hatiku belum mampu menerimanya dan menyayanginya ataupun mencintainya.
Tok… tok…
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunannya itu, Jingga segera mengusap air matanya dengan punggung tangannya itu.
"Jingga ini Mama sayang, apa Mama boleh masuk, Nak?" Tanyanya Aliya yang sedikit meninggikan volume suaranya itu.
Jingga bergegas bangkit dari posisi duduknya dan berjalan menuju ke arah pintu. Ia sesekali membuang nafasnya dengan cukup keras.
Jingga bercermin di layar ponselnya sebelum membuka pintu kamarnya. Dia memindai wajahnya apakah tidak terlalu kentara, apabila dia barusan menangis.
Matanya yang memerah, sembab dan hidungnya sudah mengeluarkan cairan bening yang terasa asing itu.
__ADS_1
Dia tidak ingin kegundahan dan kegelisahan hatinya tercium dan diketahui oleh mamanya.
"Maafkan aku ma, tadi ketiduran jadi enggak denger baik suaranya Mama," kilahnya Jingga yang tidak tahu harus beralasan gimana agar Mamanya tidak mencurigai ya.
Aliya langsung mengalungkan tangannya ke lengannya Jingga putri sulungnya itu dan berjalan beriringan ke dalam kamar putrinya. Aliyah sangat mengerti dengan apa yang terjadi pada putrinya itu.
"Sayang apa Mama enggak gangguin kamu nih?"
"Tidak apa-apa kok Ma, aku tidak pernah merasa terganggu kok." Balasnya Jingga yang paham betul jika mamanya dalam mode seperti ini ada maksud terselubung dibalik niatnya Aliah.
Jingga mengajak mamanya duduk di salah satu sofa yang kebetulan ada di dalam kamarnya Jingga. Aliah dan Jingga sama-sama mendudukkan bokongnya ke atas sofa buludru berwarna cokelat susu itu.
Aliah meraih kedua tangan putrinya dan tersenyum simpul dengan wajahnya yang teduh menatap kedua manik matanya Jingga yang masih kemerahan.
Aliyah membelai lembut puncak hijab instan yang dipakai oleh putrinya yang berwarna merah bata itu.
"Mama sangat paham apa yang sebenarnya kamu rasakan, tapi boleh tidak Mama meminta kamu untuk tidak terpaksa menerima pinangannya Nak Guntur dan jangan sekali-kali kamu setengah hati menerima lamarannya," imbuhnya Jingga.
Entah kenapa hatiku sangat sedih dan terluka melihat anakku menangis. Tapi, aku tidak mungkin membatalkan rencana pernikahan mereka yang esok hari sudah akad nikahnya.
Jingga gegas mengusap air matanya dengan menggunakan punggung tangannya, dan tetap menundukkan kepalanya menghindari tatapan dengan netra kecoklatan milik Mamanya.
Ya Allah kedua anak kembarku menikah dua-duanya tanpa ada rasa cinta. Tapi, melihat Senja yang sungguh bahagia dengan suaminya Nak Kabir, aku juga berharap dan bermimpi agar pernikahan Jingga dan nak Guntur sakinah mawadah warahmah.
Aliyah menangkupkan tangannya dibawah dagunya Jingga dan menatap intens ke dalam netra hitamnya Jingga,"Nak pernikahan itu adalah ibadah yang tidak ada putusnya dan masih mama berharap kamu menerima pinangannya Nak Guntur karena bentuk ibadahmu kepada Allah SWT, Mama sangat mengerti dengan apa yang kamu rasakan, tapi orang yang meninggal dunia tidak akan pernah bangkit dan kembali lagi ke dunia ini, kewajiban kita yang masih hidup adalah melanjutkan kehidupan dan doa yang tak putus untuk almarhum Abdil," nasehatnya Aliyah panjang lebar.
Jingga mendengarkan dengan seksama nasehat mamanya itu dengan tidak berniat untuk menyela sedikitpun perkataannya.
"Mama juga awalnya tidak mencintai papa dulu,mama malah hanya sekedar berteman biasa saja dengan papamu awalnya, tapi lambat laun seiring berjalannya waktu Alhamdulillah hingga detik ini kami saling mencintai dan menyayangi hingga tak terpisahkan dan dalam waktu dekat akan segera dianugerahi kepercayaan yaitu seorang bayi lagi di tengah-tengah biduk pernikahan kami," ucapnya Aliaya dengan sumringah.
Jingga pun tersenyum tipis menanggapi perkataannya Aliyah jika dia bercerita tentang kehamilannya. Mereka berbincang-bincang menghabiskan waktu senggang mereka malam itu. Dan sesekali terdengar canda tawa mereka disela perbincangan hangat tapi terbilang santai.
__ADS_1
"Nak pesannya Mama,bangunlah setiap hari sebelum suamimu bangun dan anggota keluarganya yang lain, penuhilah kewajiban kamu dengan setulus hati dan jangan sekali-kali melakukannya dalam keadaan terpaksa, ingatlah surga balasannya Nak," Aliya menoel hidung mancungnya Jingga seperti yang kerap kali Aliya lakukan ketika Jingga masih kecil.
Aliya segera bangkit dari duduknya setelah melihat jarum jam yang terpasang di dinding kamarnya Jingga sudah menunjukkan pukul sebelas malam.
"Kamu bisa mencintainya dengan sesuai kemampuan kamu dan perlahan-lahan saja, janganlah terlalu memaksakan diri, karena cinta akan datang dan muncul seiring berjalannya waktu," ucapnya Aliah.
Alya menyentuh pundak putrinya itu," beristirahat lah Nak, kamu tidurlah kamu butuh istirahat cukup karena esok pagi kamu akan menikah dan menjadi seutuhnya miliknya Guntur Aswin Nasution,"
Jingga menyeka air matanya yang sudah beranak sungai menggunjing ujung jarinya itu.
"Insha Allah aku akan berjanji untuk mencintai pak Guntur," Lirihnya Jingga kemudian memeluk kedua lututnya dan membenamkan wajahnya kedua kakinya itu.
Suara isak tangisannya semakin terdengar saja, padahal sudah berusaha untuk menangis diam-diam. Nafasnya tercekat ketika menyebut nama kekasihnya yang telah tiada lebih duluan itu.
"Mas Abdil Pramudya,restui aku untuk menikah dengan pria pilihan kedua orang tuaku," lirih Jingga.
Keesokan harinya, acara akad nikah yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Pernikahan antara Guntur Aswin Nasution dengan Jingga akan terlaksana hari ini.
Kedua belah pihak sudah hadir di dalam area pelataran masjid An-Nur sebagai tempat pelaksanaan akad nikah kedua calon mempelai pengantin.
"Masya Allah kakakku sungguh sangat cantik, hingga aura kecantikannya tak ada yang bandingannya," pujinya Senja seraya memeluk tubuh kakaknya itu.
Jingga melerai pelukannya dan membalas pujiannya Senja,"kau juga cantik, semakin hari semakin cantik saja bahkan perutmu yang semakin gede tidak mampu menutupi pancaran aura kecantikan seorang bumil muda," candanya Jingga.
Senja berpura-pura marah kepada kakaknya," iya silahkan hina aku sesuka hatinya kakak, karena cepat atau lambat kakak juga akan seperti saya," balasnya kelakar Senja.
Aliyah yang kebetulan berjalan ke arah kamar pengantin mendengar perkataan dari kedua anak kembarnya itu tersenyum penuh kegembiraan.
"Kalian berdua sama-sama cantik dan seksi karena kalian adalah putrinya Aliyah Azizah Khumaira dengan Leo Carlando Zain sehingga kecantikan kalian tak terbantahkan," Aliyah ikut memuji dirinya sendiri dan juga buah hatinya itu.
Aliya merangkul kedua putrinya dalam dekapan hangatnya sehingga posisi mereka, Aliya berada di tengah-tengah.
__ADS_1
Leo dan Bu Sri Indarwati tanpa sengaja melihat interaksi ketiganya, ikut menitikkan air mata bahagianya.