
Bu Clara Diana yang mendengar perkataan dari cucunya serta sanggahan dari anaknya sendiri, semakin membuatnya pusing.
Tubuhnya luruh ke atas kursi saking terkejutnya mendengar perkataan mereka. Dia sulit untuk membedakan mana yang benar dan mana yang salah.
"Kabir, please Aunty mohon hentikan semua perdebatan ini, apa kamu tidak kasihan melihat Oma kamu!?" ucapnya Henny Marsha saudari kembarnya Bu Hanin.
Bh Henny membantu ibunya untuk duduk fi atas sofa sedangkan Hanin Mazaya semakin mengeraskan suara tangisannya itu.
"Kabir, papa minta sama kamu Nak bukan saatnya untuk membicarakan masalah ini, kita harus cari waktu baik," bujuknya pak Abbas papa sambungnya Kabir.
"Maafkan saya Bunda, Papa hari ini semua orang harus tahu jika di dalam tubuhku ini bukan darah dari keturunan Sanders, tapi milik Danu Triadji, pria yang disangka kakek Oesman adalah pemuda gembel, gelandangan tapi ternyata dia adalah pewaris tunggal dari Triadji Cooperation, aku bukannya sengaja memamerkan hal ini kepada kalian sehingga aku sengaja mengatakannya, hanya saja aku ingin secara terang-terangan menyapa papiku dimanapun kami berada," tegasnya Kabir.
Senja segera berjalan ke arah suaminya dan memeluk Kabir,agar Kabir tidak emosional menghadapi keras kepalanya pak Abbas dan bundanya. Sedangkan Pak Sapta yang sedari tadi menjadi alasan perdebatan anggota keluarganya Kabir malam itu setelah acara masuk rumahnya.
"Papa, stop aku mohon berterus terang saja pada kami, sudahi semua kebohongan besar ini yang tidak ada gunanya," pintanya Kabir yang memohon pada papanya.
Pak Septa pun bangkit dari duduknya dan tanpa diminta ataupun didesak, langsung bersujud.
"Nyonya besar Clara pasti Nyonya masih mengingat pemuda yang datang ke rumah Anda 31 tahun lalu, pemuda yang berniat untuk mempersunting salah satu putri kembar Anda, tapi malah ditolak dan pulang dari sana ditangkap oleh anak buah suami Anda dan hendak dibunuh dengan cara dilempar ke dalam laut,tapi Allah SWT berkata lain dan memperlihatkan bukti kebesaranNya." Pak Septa menghentikan sejenak ucapannya dan menyeka air matanya yang sedari tadi ditahannya jika kembali teringat kembali kejadian itu.
__ADS_1
Pria yang masih kelihatan awet muda dan gagah padahal usianya sudah lima puluh tahun lebih. Pria yang memutuskan melajang sampai detik ini, karena cintanya pada Bu Hanin Mazaya yang sungguh besar dan suci.
Kabir hendak membantu papinya berdiri, tapi segera dicegah oleh Pak Septa. Sedangkan Bu Hanin Mazaya tak henti-hentinya menangis. Aliyah dan Leo memperhatikan dengan seksama apa yang mereka lakukan.
Semuanya duduk diam dengan mendengarkan serta melihat kebenaran rahasia yang baru terkuak hari itu. Guntur dan Jingga serta Bu Henny Marsha, suaminya Pak Lionel Richie, Raka Bumi dengan istrinya Bu Maya Vivian serta Gilang Arfian dengan istrinya Hana Aerin. Mereka tidak ada yang berani ataupun berniat untuk berkomentar karena ini masalah pribadi.
Bu Henny dan Bu Maya membantu mamanya agar tidak semakin defresi dan kalut di atas sofa ruang tengah milik Senja. Sedangkan Jingga dan Senja membantu mama mertuanya.
Pak Septa melanjutkan perkataannya,"Dimalam itu, saya diselamatkan oleh seorang kakek, Alhamdulillah aku bersyukur karena di tengah hujan deras itu masih ada orang yang berbaik hati menolongku hingga aku selamat dari maut, tapi aku koma selama dua bulan lebih, hingga aku bertemu dengan Papa kandungku hingga detik ini aku masih hidup dan meminta hakku sebagai papa kandungnya Kabir, aku hanya ingin diakui tidak ada maksud lain aku datang ke sini," ungkapnya pak Sapta panjang lebar.
Bu Hanin bangkit dari posisi duduknya karena apa yang dijelaskan oleh pria yang hingga detik ini masih disayanginya itu setulus hatinya. Ya menunjuk langsung ke wajahnya Sapta dengan air matanya yang masih menetes.
"Berhenti! Aku mohon jangan berbicara yang tidak-tidak tentang Daddy Oesman, kamu itu hanya mengada-ada dan berbohong. Tidak mungkin Daddy berbuat jahat padamu!" Ucapnya Bu Hanin yang meninggikan suara beberapa oktaf saking marahnya karena pria yang disegani dan dihormatinya itu dituduh berbuat kejahatan.
Ibu Henny menatap tajam ke arah Pak Septa papa kandungnya Kabir. Mereka semua yang tidak mengetahui kebenaran yang sesungguhnya menentang perkataannya Pak Septa.
Pak Raka Bumi berjalan ke arah papinya Kabir yang masih berlutut di hadapan Bu Clara Diana. Dia menarik tangannya Pak Septa dan hendak melayangkan pukulan ke wajahnya pria yang dicintai oleh adiknya.
"Brengsek, kamu sudah datang ingin menghancurkan kehidupan adikku dan keponakanku sekarang malah menuduh papi kami adalah orang jahat, apa kamu sadar dengan perkataan kamu ha!!" Tangannya sudah siap untuk memukul wajahnya Pak Septa tapi segera dicegah oleh Guntur Aswin yang sigap mencegah papinya untuk tidak bertindak anarkis.
__ADS_1
"Papi, aku mohon jangan bertindak gegabah seperti ini, papi seharusnya mendengarkan perkataan dari Oma juga, karena aku yakin Oma pasti mengetahui apa yang terjadi 30 tahun yang lalu," nasehatnya Guntur yang berusaha untuk menghentikan papinya.
Sedangkan Pak Sapta segera dibantu oleh Kabir agar tidak dipukuli oleh unclenya. Pak Septa mampu membalas ataupun menghindari, tetapi dia tidak peduli dengan semua itu yang paling penting dia bisa mendapatkan haknya sebagai orang tua.
Sabrina memeluk tubuh pamannya,"Uncle, aku minta padamu jangan sekali-kali untuk bertindak kasar, sebaiknya dirundingkan baik-baik semuanya, karena aku yakin ada kesalahpahaman yang terjadi disini," bujuknya Sabrina putrinya Bu Henny.
Semua orang panik dan gempar melihat kericuhan yang terjadi di dalam sana.
"Bu Mina, Mbak Lia tolong dijaga ketiga anakku jangan biarkan gara-gara ini mereka terbangun," titahnya Senja yang khawatir melihat situasi yang sudah tidak kondusif dan damai.
Bu Clara menepis tangannya putri dan anak menantunya,dia mengusap air matanya dengan gusar menggunakan ujung jarinya yang mulai keriput. Bu Clara berjalan sempoyongan sehingga dia dipapah oleh kedua anaknya.
"Mama hati-hati," ucap Bu Maya.
"Iya, kondisi Mama masih lemah dan kepala mama juga kan masih pusing," cegah Bu Henny.
"Aku tidak apa-apa kok, Mama masih sanggup untuk berjalan," tolaknya Bu Clara yang melanjutkan langkahnya walau tertatih.
"Hentikan!! Raka, Guntur berhenti mama mohon berhentilah saling menyalahkan, karena semua yang dikatakan oleh pria itu adalah memang benar adanya, Daddy kamu dulu lah yang mengerahkan anak buahnya untuk menangkap kekasih adikmu dan merencanakan pelenyapan dengan berkedok kecelakaan maut, semua ini salah suamiku,hiks… aku mewakili almarhum mendiang kakeknya Kabir meminta maaf padamu, Oma juga ikut andil dalam kejadian beberapa tahun silam, maafkan aku," ujarnya Bu Clara yang menangis tersedu-sedu dalam penyesalannya.
__ADS_1
Pak Raka membulatkan matanya saking terkejutnya mendengar perkataan dari mamanya sendiri. Karena selama ini dia mengetahui jika,papanya adalah pria yang paling bijaksana, baik hati dan menyayangi anak-anaknya.
Tapi, hari ini semuanya berbeda dengan apa yang didengarnya dan dilihatnya langsung. Karena dulu dia menghabiskan waktu mudanya di luar negeri.