
"Bersiap ....! Hight ....!!" Pak Pendeta memberi aba-aba, tanda permainan atau tanding itu sudah dimulai.
Melian memasang kuda-kuda. Merendahkan tubuhnya, dan tangan kirinya melintang, sedangkan tangan kanan sudah menyilang di depan dada. Ia terlihat sangat tenang. Bahkan seakan tidak bergerak. Tetapi matanya melirik mengawasi gerakan Mei Jing.
Sementara itu, Mei Jing yang sudah dibalut nafsu amarah, karena merasa jengkel dan malu saat teman-teman laki-laki hampir separo kelas, sudah dipukul jatuh semuanya oleh Melian. Maka dalam kesempatan inilah, Mei Jing yang merasa sebagai pelatihnya Melian, yang mengajari cara-cara bermain wushu kepada Melian, tidak terima dan ingin membuktikan bahwa dirinya adalah jago wushu yang paling baik. Apalagi Mei Jing merupakan kesayangan suhu pelatihnya. Pasti ia merasa di atas angin untuk menghadapi orang baru yang dilatihnya itu.
Mei Jing langsung menyerang ke arah tubuh Melian dengan pukulan terbaiknya. Tinju utara dan tinju selatan langsung dikeluarkan untuk menggempur pertahanan Melian.
Melian tidak melangkah. Kakinya masih kokoh di tempat ia memasang kuda-kuda. Hanya tubuhnya yang bergerak ke kanan dan ke kiri, bahkan juga membungkuk ke depan dan meroboh ke belakang, menghindari pukulan-pukulan. Gerakannya sangat lincah dan lentur. Meliak-liuk kian kemari dengan lemah gemulai. Seperti ada per pada tubuhnya. Tidak ada satupun pukulan dari Mei Jing yang mengenai tubuhnya. Bahkan tidak menyentuh sedikitpun.
Tahu kenyataan kalau pukulannya bisa dihindari oleh Melian, Mei Jing semakin gusar. Emosinya semakin bertambah. Ia marah. Maka Mei Jing langsung menyerang membabi buta.
"Hiya ...!! Hiya ...!! Hiya ...!!!" Mei Jing menyerang sambil berteriak. Pukulannya semakin cepat dan mengarah ke berbagai penjuru.
"Hooreee ....!!! Hooreee ....!!! Hooreee ....!!!" sorak sorai teman-teman Mei Jing menyemangati. Tentu mereka beranggapan Melian tidak berkutik menghadapi Mei Jing. Mereka tentu sangat senang, sakitnya akan terbalas.
Tetapi Melian, ia belum mengubah posisi kakinya. Melian tidak membalas ataupun menangkis serangan-serangan Mei Jing. Ia masih tetap menghindar saja. Mungkin menurut Mei Jing Melian tidak bisa melawan. Tetapi sebenarnya, Melian memang tidak mau mencelakai temannya itu, yang sudah dianggap sebagai sahabat, dan lebih dari itu, Melian sudah menganggap Mei Jing sebagai gurunya.
Pak Pendeta yang menjadi juri, sebenarnya menaruh heran pada Melian. Dari awal ia sudah menduga, kalau Melian ini anak yang baik. Apalagi setelah menyaksikan pertarungannya, ia melihat Melian tidak mau membalas, hanya menghindari serangan-serangan dari Mei Jing, itu sudah menunjukkan bahwa Melian sebenarnya tidak ingin melakukan perlawanan. Namun diam-diam, tentu Pak Pendeta itu juga ingin melihat bagaimana kalau Melian membalas menyerang Mei Jing.
Mei Jing menghentikan serangannya. Ia kembali ke tempat awal berdiri, di sisi kanan Pak Pendeta yang menjadi juri. Masih dengan pongahnya ia menantang Melian.
"Melian ...! Mana kemampuanmu ...?! Apa kamu tidak bisa melawanku ...?!" lag-lagi, Mei Jing mengejek Melian.
Bersamaan dengan itu, Sang Suhu datang. Begitu menyaksikan keributan, tentu ia langsung ingin tahu apa yang terjadi.
"Ada apa ini?!" tanya sang suhu.
"Tanding .... Mei Jing bertarung melawan Melian ....!" sahut salah satu anak yang berada dekat dengan posisi suhu.
Tentu Sang Suhu kaget. Namun begitu melihat di tengah lapangan sudah ada Tuan Pendeta, ia lega. Berarti sudah ada yang bertanggung jawab. Setidaknya melerai jika terjadi hal yang tidak diinginkan. Selanjutnya sang guru pelatih itu mulai mendekat.
"Suhu ...! Kemari ...! Ayo, pimpin pertarungan ini ...!" tiba-tiba Pak Pendeta berteriak, memanggip pelatih wushu itu untuk menggantikannya menjadi jurinya.
Sang Suhu langsung ke tengah lapangan, menjadi juri menggantikan Pak Pendeta. Sedangkan Pak Pendeta yang penasaran ingin tahu kemampuan dan kehebatan Melian, ia ke teras, menyaksikan dari tempat yang nyaman.
"Bersiap ....! Hight ....!!" Sang Suhu memberi aba-aba, agar pertandingan kembali dilanjutkan.
"Hiya ...!! Hiya ...!! Hiya ...!!!" Mei Jing kembali menyerang sambil berteriak-teriak. Pukulannya semakin cepat dan mengarah ke berbagai penjuru. Tidak hanya pukulan tangan, tetapi juga tendangan kaki yang mengarah ke kuda-kuda Melian.
Terpaksa Melian harus mengangkat kakinya, menghindari serangan-serangan sapuan dari kaki Mei Jing yang mengarah ke bawah. Dan lagi-lagi, serangan-serangan Mei Jing semuanya zonks. Tidak ada yang mengenai sasara.
"Hiiyaaaaa ....!!!" tiba-tiba tubuh Mei Jing melayang seperti terbang. Dua tangannya membabat kian kemari. Sulit untuk diprediksi mau memukul ke arah mana.
Melian bingung untuk menghindar. Bingung mencari arah untuk meliukkan tubuhnya. Ia hanya bisa bersalto ke belakang. Mencoba menghindari jatuhnya pukulan. Namun pukulan-pukulan Mei Jing sudah sangat dekat, dan sangat sulit untuk dihindari. Saat bersalto ke belakang itulah pukulan tangan Mei Jing mengenai kaki Melian yang sedang melayang.
Tentu Mei Jing sudah gembira, karena pukulannya akan mengenai kaki, yang pasti akan menjatuhkan musuhnya yang sedang bersalto. Karena saat Melian salto, dan menerima pukulan, pasti akan kehilangan keseimbangan.
Sang Suhu yang menyayangi Mei Jing, bahkan sangat percaya kepada Mei Jing, pasti dalam hatinya juga akan membela Mei Jing, ia juga mempunyai dugaan yang sama dengan murid kesayangannya itu. Pasti Melian akan tersungkur karena kakinya dipukul oleh Mei Jing dengan sangat keras.
__ADS_1
"Wadaaauuuuh .......!!!" terdengar teriakan orang mengaduh kesakitan sangat keras.
Teman-temannya yang menonton kaget. Pasti ada yang terpukul. Dan teman-teman Mei Jing, pasti menganggap pukulan Mei Jing sudah mengenai tubuh Melian.
Namun berbeda dengan penglihatan Pak Pendeta yang menyaksikan dari kejauhan. Meski tidak mendekat, ia tahu siapa yang menjerit kesakitan. Dan nanti akan dibuktikan dengan siapa yang jatuh gelangsaran.
Dan benar. Melian yang melompat salto ke belakang, ternyata lompatan Melian melenting ke udara dua kali, dan membentuk lekukan yang sangat indah, seperti layaknya penari balet yang sedang memperagakan kelihaiannya.
"Tap ...." kaki Melian menapak ke lantai secara sempurna, bahkan hampir tidak menimbulkan suara. Ia berdiri tegar, tepat di tempat semu Melian berdiri. la dan tidak terjadi apa-apa.
Tentu Sang Suhu kaget. Dan saat ia mengamati Mei Jing, murid kesayangannya itu, hal sebaliknya terjadi.
"Glabrught ....!!" suara benturan tubuh yang jatuh di lantai.
Mei Jing terguling di lantai, dan meringis kesakitan.
Ya, pada saat Mei Jing melakukan pukulan kepada Melian, yang saat itu Melian bersalto, sebenarnya bukan Mei Jing yang memukul kaki Melian. Tetapi yang terjadi adalah kaki Melian yang menendang tangan Mei Jing. Bahkan tidak hanya menendang tangan, tetapi Melian sudah menginjak tangan Mei Jing untuk dijadikan pijakan dalam bersalto. Dan pada saat itu, kaki yang satunya sudah mendorong tangan Mei Jing ke belakang. Itulah sebabnya, maka Mei Jing terpental ke belakang dan jatuh gelangsaran, serta pergelangan tangannya mengalami kesakitan.
Sang Suhu langsung berlari menghampiri Mei Jing yang masih tergeletak.
"Kamu kesakitan?" tanya pelatihnya yang berusaha membangunkan Mei Jing.
Mei Jing diam. Hanya memegangi pergelangan tangan kanannya yang terasa sangat sakit. Tetapi ia langsung maju lagi, ke tempat semula, kembali berhadapan dengan Melian.
Melian tersenyum. Tapi senyum itu dianggap sebagai penghinaan bagi Mei Jing. Maka Mei Jing pun kembali bersiap akan melawan lebih gigih.
"Kalian sudah siap ....?! Hight ...!!" teriak sang pelatih itu kembali memulai pertarungan Mei Jing melawan Melian.
Kali ini Melian tidak diam saja. Beberapa kali ia mengangkat kakinya. JUga menggerakkan ke dua tangannya. Melian sudah bosan membiarkan temannya yang tidak tahu diuntung itu. Kini, Melian ingin memberi pelajaran kepada temannya.
"Hiyaaa ...!!" teriak Melian, sambil melayangkan tangannya ke kaki Mei Jing yang menyerang.
Tubuh Mei Jing terhuyung dan hampir jatuh. Lantas kembali menyerang Melian, dengan gerakan-gerakan jurus mematikan.
Melian melompat kian kemari. Seakan terbang di udara, menghindari serangan-serangan lawannya. Dan di saat tertentu, kaki Melian sudah menendang bokong Mei Jing.
"Glabrught ....!!" lagi-lagi Mei Jing terjerembab jatuh di lantai.
Tentu Sang Suhu yang menganggap Mei Jing murid kesayangannya itu adalah murid paling hebat, merasa kaget saat berkali-kali Mei Jing bisa dijatuhkan oleh musuhnya. Maka karena sayangnya dengan muridnya itu, sang pelatih mencoba turun tangan, ingin meladeni Melian yang sudah mengalahkan Mei Jing.
"Hiyaaa ...!!" teriak Sang Suhu yang tiba-tiba melompat menyerang Melian.
Pak Pendeta yang melihat hal itu langsung kaget. Ia pun langsung meloncat ke tengah lapangan. Tetapi tidak melarai, hanya mengawasi. Dan tentunya akan menjadi juri pertandingan yang sudah berganti antara suhu dengan muridnya itu.
"Rasakan pukulanku, murid durhaka ...!!!" terjang Sang Suhu.
Melian mengelak, menghindari pukulan-pukulan dari gurunya. Ia tidak melawan. Hanya menghindar agar tidak terkena pukulan.
Tentu Sang Suhu merasa malu saat melihat murid kesayangannya dikalahkan oleh Melian. Tetapi hal yang sebenarnya ia tidak tahu, ada masalah apa antara kedua murid itu. Yang penting bagi Sang Suhu saat ini, ia ingin membuktikan kalau wushu didikannya adalah wushu yang terbaik. Muris kesayangannya tidak bisa dikalahkan oleh siapa saja.
__ADS_1
"Hiyaaa ...!!! Hat ..., hyat .... haaat ....!!" teriak Sang Suhu itu sambil melompat menyerang Melian.
Kali ini, tangan Melian berkelebat. "Plak ....!!!" tepat mengenai muka Sang Suhu.
"Glabrught ....!!" suara benturan tubuh yang jatuh di lantai. Sang pelatih itu gelangsaran, jatuh di dekat Mei Jing yang sudah berdiri.
Mei Jing membantu suhunya. Lantas dua orang itu kembali bersiap, akan mengeroyok Melian.
"Heheheh .... Heheheh ...." Pak Pendeta tidak melerai. Tetapi justru tertawa terkekek-kekek. Pasti Pak Pendeta ini ingin menyaksikan pertarungan yang lebih hebat.
Dan benar. Guru dan murid kesayangan itu akhirnya menyerang Melian secara bersama-sama. Serangannya lagsung dahsyat. Pukulan-pukulan keras disertai tendangan-tendangan dahsyat dilancarkan dua orang itu ke arah Melian. Wajah dua orang itu kelihatan beringas, memendam amarah yang sangat menakutkan. Tentu serangan mereka berdua kali ini bukan sekadar serangan wushu, tetapi sudah berniat ingin menghabisi Melian.
Melian yang tahu kalau guru dan sahabatnya itu sudah memendam amarah, maka ia semakin waspada. Walau harus melawan, tetapi ia tidak ingin melukai guru maupun sahabatnya itu. Maka Melian lebih banyak menghindar dari pada menyerang.
Namun rupanya, dua orang yang sudah dikuasai nafsu jahat itu, tidak tahu kalau sudah diberi hati oleh Melian. Mereka justru menyerang secara beringasan. Mengeroyok tanpa perhitungan.
"Rasakan pukulanku ini, anak babu ....!!!" teriak Mei Jing yang melompat menendang Melian.
Mendengar kata-kata Mei Jing, tiba-tiba saja hati Melian jadi terusik. Untuk yang ke sekian kalinya temannya itu sudah menghina ibunya. Saat itu juga keluar amarah dari diri Melian. Dan seketika itu, raut muka Melian berubah kaku, tangannya langsung mengepal, siap memukul musuh-musuhnya.
"Hiyaaaaa ........!!" Melian berteriak, sambil semngangkat tubuhnya berputar ke udara, menyambut kedatangan Mei Jing bersama gurunya.
"Dueshk ....! Dueshk ....!" suara hantaman tangan Melian memukul Mei Jing dan Sang Suhu.
"Glabrught ....!! Glabrught ....!!" suara benturan tubuh Mei Jing dan Suhu yang jatuh di lantai.
Mei Jing gelangsaran dan cukup lama terdiam. Demikian juga sang pelatih, gelangsaran dan meringis kesakitan. Keduanya jatuh berdekatan, dan tentunya sama-sama kesakitan.
"Heheheh .... Heheheh .... Heheheh .... " Pak Pendeta itu tertawa kegirangan, sambil mendekati Melian.
Melian membungkukkan badannya, menarik satu kakinya ke belakang, menaruh dua tangannya di depan dada, menghormati Pak Pendeta yang berdiri di depannya.
"Sudah aku duga .... Kamu anak baik, pasti yang akan menang .... Heheheh ...." kata Pak Pendeta itu sambil mengangkat tangan kiri Melian yang mengenakan gelang giok indah tersebut.
"Terima kasih, Pak Pendeta ...." lagi-lagi Melian memberi hormat.
"Berhati-hatilah dengan gelang giokmu ini ...." kata Pak Pendeta untuk yang kedua kalinya memesan kepada Melian untuk menjaga gelang giok yang dikenakannya.
"Terima kasih, Pak Pendeta ...." Melian kembali berterima kasih.
Mei Jing dan guru kesayangannya sudah bangkit berdiri. Dua orang itu bergegas kembali ke tempat Melian berdiri. Mereka kembali bersiap ingin melawan Melian. Mereka langsung memasang kuda-kuda dan ingin kembali menyerang.
"Sudah, cukup .... Tidak baik mengumbar hawa nafsu. Yang salah harus kalah, dan menerima kesalahan itu serta meminta maaf. Bukankah hidup itu akan tenteram dan damai kalau mau saling memaafkan ...?" kata Sang Pendeta mencegah perlawanan dari dua orang yang sudah harus mengakui kekalahannya itu.
Akhirnya, Mei Jing dan sang pelatih itu membungkukkan badannya memberi salam hormat kepada Sang Pendeta. Tetapi tidak mau memberi hormat pada Melian.
"Pulanglah .... Tidak baik membawa nafsu jahat di tempat ibadah. Kalau kalian ingin berdiam di sini, buanglah nafsu duniawi kalian, berserahlah pada Sang Maha Kuasa." kata Sang pendeta menasehati semua yang ada di tempat itu.
"Jangan sombong, kamu Melian ...." kata Mei Jing saat akan pulang, yang menyempatkan menghampiri Melian. Tetapi tidak minta maaf, melainkan masih menaruh rasa benci.
__ADS_1
"Mei Jing ..., nanti saat sampai di rumah, kamu akan tahu ..., siapa yang menghamili babu ...." kata Melian melepas kepergian Mei Jing.