
Seperti yang telah disampaikan oleh bapaknya Irul, pernikahan antara Irul dan Indra akan diramai-ramaikan di Lasem. Jamil siap membantu semuanya. Tetapi bagaimanapun juga namanya orang sudah dewasa dan berfikiran dewasa juga, maka Cik Indra tidak bisa begitu saja pasrah pada Pak Jamil serta istrinya. Setidaknya Cik Indra yang sudah dianggap menjadi bagian dari keluarga Jamil, tetap berusaha untuk memenuhi kebutuhan pernikahannya.
"Pak Jamil, mohon maaf, ini ada sedikit uang untuk kebutuhan pernikahan saya dengan Mas Irul ...." kata Cik Indra yang menyerahkan amplop agak tebal berisi uang. Pasti itu hasil tabungan dari kerja Cik Indra.
"Lho ..., Cik Indra ini bagaimana ...? Saya kan sudah bilang, pernikahan Cik Indra dengan Mas Irul itu akan saya biayai. Tidak usah repot. Yang penting kebutuhannya tercukupi." kata Jamil yang berusaha menolak pemberian uang dari Cik Indra.
"Tapi, Pak Jamil ...." kata-kata Indra terpotong.
"Tidak pakai tapi-tapian .... Itu uangnya Cik Indra mending disimpan, ditabung, untuk keperluan berumah tangga nanti. Sudah, pokoknya beres .... Tidak usah khawatir .... Cik Indra ini sudah saya anggap sebagai mbakyunya Melian, jadi jangan rikuh dan pekewuh ...." sahut Jamil yang langsung nerocos untuk menolak uang dari Cik Indra.
"Iya, Cik Indra .... Kok seperti dengan siapa saja .... Waktu kami susah, Cik Indra yang bingung membantu kami .... Kini giliran kami yang harus membalas baik budi Cik Indra ...." tambah Juminem.
"Saya jadi malu, Pak Jamil ..., Mbak Jum ...." tentu Cik Indra tersipu malu karena niatnya untuk memberi uang biaya pernikahan ditolak.
"Iya, Cik Indra .... Nggak usah khawatir .... Pokoknya nanti kita bersama-sama meramaikan pernikahan Cik Indra di rumahnya Mas Irul .... Ya, Pak ..., ya Mak ...." timpal Melian.
"Iya ...." jawab ibunya.
"Terus ..., besok kalau sudah nikah, Cik Indra sama Mas Irul tinggal di mana?" tanya Melian tiba-tiba, yang tentu ingin tahu rencana mereka berdua.
"Terserah Mas Irul .... Kalau Mas Irul mau ngajak tinggal di Lasem, saya juga siap. Kan istri harus menurut suami." jawab Cik Indra.
"Iih .... Kok tinggal di Lasem ...?! Terus nanti yang ngantar sekolah Melian siapa ...?" protes Melian.
"Lha kalau di Juwana, mau tinggal di mana ...? Rumahnya Mas Irul kan di Lasem ...." jawab Cik Indra.
"Iih ..., jangan Cik .... Tinggal di sini saja .... Kamar mandinya Mas Irul berada di luar rumah, dekat sumur .... Kalau malam pasti menakutkan .... Tinggal di Juwana saja ya, Cik ...." Melian terus merajuk.
"Iya, Cik Indra .... Ramai di sini, kan ada di tengah kota .... Kalau di rumahnya Mas Irul sepi .... Nanti tinggal di rumah belakang pabrik itu, yang sekarang ditempati Mas Irul. Nyaman, kok .... Kamarnya saja ada tiga. Sudah ada peralatan dapur .... Tinggal nanti ditambahi apa-apa yang jadi kebutuhan lain." Juminem juga menyarankan.
"Masalahnya saya kan harus punya kegiatan, bekerja, Mbak Jum ..., Melian .... Kalau saya harus tinggal di pabrik, bagaimana nanti para karyawan di sana. Tidak baik untuk dijadikan tontonan. Apalagi nanti kalau ada karyawan yang mau istirahat atau mau makan, kan mereka merasa sungkan. Nanti malah suasana karyawan di perusahaan Pak Jamil menjadi tidak sehat." jelas Cik Indra.
"Tidak usah dipikir, Cik .... Biarkan saja para karyawan mau ngomong apa ...." kata Melian yang tentu belum paham masalah organisasi perusahaan.
"Ee ..., tidak boleh begitu, Melian .... Kalau suasana karyawan tidak nyaman, nanti akan berpengaruh pada banyak hal. Bisa saja karyawan jadi tidak betah, karyawan merasa sungkan yang akhirnya kerjanya menjadi ogah-ogahan. Kalau sudah seperti itu, produktivitas pabrik akan berkurang. Berarti penghasilannya juga berkurang. Sementara karyawan minta gaji yang sama. Akhirnya perusahaan akan bangkrut. Kan kasihan Pak Jamil ...." jelas Cik Indra yang sudah berpengalaman bekerja di bank swasta, yang selalu dituntut produktivitasnya.
"Wuah ..., Cik Indra ini memang pintar. Tidak hanya cantik, tetapi juga pandai dalam masalah cara menangani perusahaan. Saya harus belajar banyak pada Cik Indra ...." Jamil tentu kagum dengan penjelasan Cik Indra.
"Memang harus begitu, Pak Jamil .... Biar perusahaannya tidak bangkrut ...." tandas Cik Indra.
"Ya sudah .... Masalah itu kita bahas besok. Yang penting sekarang, kita harus mempersiapkan masalah pernikahannya dahulu." kata Jamil yang tidak mau berlarut-larut membahas masalah tempat tinggal.
*******
__ADS_1
Pagi itu, seperti yang diminta oleh Jamil, Irul pulang ke rumah orang tuanya. Naik sepeda motor, berboncengan dengan Indra, yang boleh disebut calon istrinya. Baru kali ini Cik Indra dan Mas Irul berboncengan motor dan bahkan akan pergi ke tempat yang cukup jauh. Pasti ini merupakan pengalaman terindah pertama yang dialami oleh mereka berdua. Pasti Indra yang membonceng akan memeluk tubuh Irul yang menyetir sepeda motor.
Betapa nikmatnya Irul di pagi itu. Ada bidadari yang menemani perjalanannya pulang kampung. Bukan sekadar membonceng, tetapi mendekap erat tubuhnya. Terus terang, baru pertama kali ini Irul didekap perempuan seperti itu. Tentu ada rasa yang sangat istimewa dalam hidupnya. Maka Irul tidak berani berjalan kencang dalam menyetir kendaraan. Ia justru lebih meninkmati enaknya naik motor berboncengan dengan wanita yang betul-betul sangat cantik luar biasa. Sampai Irul sendiri heran, apa yang menarik dalam dirinya, sehingga orang secantik Indra bisa jatuh cinta padanya, bahkan mengorbankan pekerjaannya demi ingin menikah dengan Irul.
"Dek ..., nanti kita mampir pasar, beli oleh-oleh untuk Mak-e, ya ...." kata Irul pada Indra.
"Iya, Mas Irul .... Tadi saya juga kepikiran begitu .... Masak pulang kampung tidak membawa oleh-oleh ...." sahut Indra yang masih tetap mendekap tubuh Irul. Sangat mesra. Baru kali ini mereka terlihat mesra seperti itu.
"Enaknya dibelikan apa, Dek ...?" tanya Irul lagi, yang tentu tidak paham masalah oleh-oleh.
"Yang jelas harus beli jajanan untuk keponakan .... Terus, Ibu dibelikan kebutuhan dapur." jawab Indra yang sambil menempelkan bibirnya di telinga Irul, biar bisa mendengar.
"Ya, pokoknya aku ngikut aja ...." sahut Irul.
Dan meski berjalan pelan dalam mengendarai motor, akhirnya Irul sampai juga di Pasar Lasem. Sebelum ke rumahnya, Irul dan Melian berbelanja kebutuhan yang akan diberikan kepada orang tuanya. Beruntung Irul itu orangnya hemat dan setiti. Uang bayarannya dikumpulkan dan ditabung, sehingga kini ia punya uang yang cukup banyak untuk persiapan menikah nanti. Setidaknya, kalau besok ingin beli motor sendiri sudah punya tabungan.
Dan saat masuk pasar, tentu orang-orang pasar yang masih ingat dengan Irul langsung pada menghampiri. Menyalami, bahkan ada yang memeluk dan menciumi. Maklum, mereka sudah lama tidak ketemu Irul.
"Mas Irul ........ Piye kabare?"
"Lupa sama saya tidak ...?"
"Wah, sudah jadi orang terus lupa sama teman-temannya ...."
"Ini istrimu ...?"
"Jangan sombong, Mas Irul ...."
Tentu orang-orang yang ketemu, orang-orang yang dulu pernah bersama di pasar, semua pada mengerubung Irul. Terutama saat tahu kalau Irul bersama nonik cantik. Pasti mereka pada heran.
"Kabar saya baik .... Pokoknya yang penting sehat, seger kewarasan, tidak sakit-sakitan .... Ini calon istri saya .... Besok kalau mantenan, sampeyan tak undang semua .... Pada datang lho, ya ...." kata Irul yang langsung mengenalkan calon istrinya pada orang-orang pasar.
"Tenan, lho .... ojo ngapusi ...!" orang-orang yang masih mengerubungnya langsung menuntut.
"Iya .... Wong cuma lima menit saja sampe kok ...." jawab Irul.
"Wis, pokoke tak tunggu undangannya ...!"
"Eh, ini warung Babah Ho kok sudah ganti orang lagi?" tanya Irul yang kaget.
"Walah, Rul .... Ludes semuanya .... Warungnya sudah dijual .... Rumahnya Babah Ho itu disita bank. Itu saudaranya memang keterlaluan ...." kata tetangga kios.
"Yo wis, ini kami butuh belanja, buat Mak-e ..., tolong pilihkan yang bagus." kata Irul pada tetangga kios zaman dulu, saat Irul masih jadi pelayannya Babah Ho.
__ADS_1
"Sini, Cik .... Apa saja yang kira-kira mau dibelikan untuk calon mertua ...? Hehe ...." kata penjual itu.
Cik Indra langsung membelanjakan kebutuhan yang akan dibawa ke orang tua Mas Irul. Tentu lumayan. Ada gula, kopi, teh, sirup, susu, kecap dan beras serta berbagai bahan dapur lainnya. Lantas memilih aneka jajanan, yang nanti akan diberikan kepada keponakan-keponakan Irul. Dan tentunya membawa oleh-oleh serta belanjaan yang pantas untuk diberikan kepada orang tua. Setelah cukup, mereka pun melanjutkan perjalanan, untuk menuju rumah.
"Masih jauh, Mas ...?" tanya Indra.
"Paling sekitar lima menit .... Kenapa? Sudah capek?" sahut Irul.
"Tidak .... Cuman pengin tahu saja, kok ...." jawab Indra.
"Eh, Dek .... Itu beneran, Dek Indra keluar dari pekerjaan?" tanya Irul yang justru baru bertanya.
"Iya, Mas .... Memang kenapa? Saya tidak mau kalau kita menikah, tetapi berjauhan .... Sia-sia, Mas ...." jawab Indra.
"Ya, nggak papa .... Cuman saya khawatir kalau Dek Indra nanti nganggur, apa tidak jenuh?" kata Irul.
"Enaknya cari kerja apa, Mas ..., kalau di Juwana ini bingung .... Kotanya kecil ...." jawab Indra.
"Kalau misalnya dagang, gimana ...? Saya dulu pelayannya Babah Ho, yang tokonya paling besar se Pasar Lasem. Mungkin kita bisa memulai lagi ...." tanya Irul.
"Kita bahas besok, Mas ..., setelah menikah saja. Yang penting sekarang ini kita konsen di pernikahan." kata Indra.
"Iya, lah .... Ayuk, kita lanjutkan pulang .... Sebentar lagi kita sampai." kata Irul yang mulai menjalankan motornya lagi.
Dan benar. Tidak ada sepuluh menit, mereka sudah sampai. Irul langsung memasukkan sepeda motornya ke halaman rumah, bahkan langsung diparkir di teras rumah.
"Assalamualaikum ...... Mak-e ...!" teriak Irul di depan pintu rumahnya.
"Waalaikumsalam ........ Sebentar, Nang ...!" terdengar suara dari dalam rumah, ibunya menjawab salam dari Irul.
Irul langsung mendorong pintu, membuka pintu kayu yang tidak dikunci. Ia langsung mengajak Indra masuk ke rumah. Bersamaan dengan itu, ibunya sudah keluar. Lantas ibunya Irul yang terlihat masih gluprut karena dirinya baru bekerja di dapur, langsung menyalami Indra, calon menantunya yang cantik. Indra pun menyambut salaman itu dan mencium tangan calon mertuanya. Tentu langsung ikut menuju dapur sambil membawa belanjaan yang dibawanya.
"Walah .... Apa ini, Nik ...? Kok banyak sekali ...." kata calon mertuanya itu yang tahu bawaan Indra sangat banyak.
"Yang ini untuk Ibu. Kebutuhan dapur, Bu .... Terus yang ini jajanan, nanti untuk keponakan-keponakan ...." kata calon menantunya yang menunjukkan barang-barang bawaannya.
"Walah .... Terima kasih ya, Nik .... Wis, sana ..., duduk di kursi luar saja .... Biar ini Mak-e yang mberesi." kata ibunya Irul, yang tentu tidak mau dibantu oleh calon mantunya yang cantik itu. Cantik-cantik tidak pantas kerja di dapur. Begitu pemikiran ibunya Irul.
Tapi Indra tetap tidak beranjak. Dia tetap ikut membantu calon mertuanya itu yang sedang masak-masak di dapur. Tentu kodrat sebagai seorang wanita yang punya perasaan, tidak ingin dikatakan pemalas atau tidak mau membantu orang. Makanya, kebiasaan Indra yang selalu berbuat baik itu tetap menempel pada dirinya. Walau kondisi dapur di tempat keluarganya Irul masih dapur desa yang berantakan, belum ada lantainya, bahkan juga ada tungku dari kayu. Namun bagi Indra, justru itu merupakan hal menarik yang harus dicoba.
Di kursi ruang tamu, Irul sudah ngobrol dengan bapaknya. Tentu membahas masalah pernikahannya. Intinya Irul mengikuti apa yang akan dilakukan oleh bapaknya beserta dengan keluarga besarnya. Maklum orang desa, satu kampung hampir semuanya bersaudara. Makanya kalau dibilang keluarga besar, berarti menyangkut orang satu kampung.
"Saya sama Dek Indra, pasrah dan ngikut saja, Pak .... Tapi kalau bisa acaranya hari Minggu. Masalahnya kalau hari-hari biasa, banyak yang kerja. Kasihan kalau harus membolos hanya gara-gara rewang atau kondangan. Dan saya juga tidak enak dengan Pak Jamil kalau tidak hari Minggu. Beliau itu kan orang repot, ngurusi karyawan, ngurusi pabrik .... Jadi saya mohon kepada Pak-e dan semua keluarga di Mbabagan ini, kalau acaranya diusahakan hari Minggu saja." kata Irul yang berharap orang tuanya bisa memahami usul anaknya.
__ADS_1
"Oh, ya .... Yo wis nek ngono .... Ki ngko tak golek dino .... Paling-paling nanti yang baik ya, Minggu Legi .... Yo wis .... Ini kan sudah mau Minggu Legi, dua minggu lagi .... Ya sudah, tolong sampaikan pada bos-mu, kita ramai-ramainya Minggu Legi." kata bapaknya Irul yang akhirnya memilih hari untuk pernikahan Irul dan Indra.
Bagaimana nanti pesta pernikahan Irul dan Indra? Kita tunggu kelanjutannya.