
"Mas Irul ..., besok Senin kita ke Semarang. Saya sudah janjian dengan pengusaha perhiasan untuk menawarkan berlian yang Mas Irul mau jual itu." kata pada suaminya, saat berboncengan pulang dari jalan-jalan.
"Harus sama saya, Dek?" tanya Irul yang pasti punya pemikiran lain.
"Iya lah, Mas .... Masak Mas Irul tega melepas istrinya bepergian sendirian. Kan sekarang Indra punya orang yang menjaga keselamatan saya .... Ya, Mas ...." kata Indra yang tentu sambil menempelkan bibirnya di telinga suaminya, agar terdengar jelas.
"Iya .... Jam berapa rencananya?" tanya Irul, yang tentu tidak berani menolak permintaan istrinya. Apalagi kali ini adalah masalah masa depan. Istrinya sudah berusaha maksimal dalam mencari jalan untuk mendapatkan modal, maka Irul sebagai suami harus mendukung dan menemani untuk pergi ke Semarang. Apalagi kalau nanti barangnya yang akan dijual itu benar-benar laku, pasti istrinya akan membawa uang, harus hati-hati kalau naik angkutan umum. Jika sampai kecopetan, malah tidak jadi membuka usaha. Makanya Irul pun berniat untuk mengantar dan menjaga istrinya.
"Usahakan kita sudah sampai di Semarang jam sembilan, Mas .... Agar nanti lebih leluasa untuk berembug. Karena tentunya Pak Andi Ming tidak cuman menunggu kita, tetapi orang-orang kaya biasanya sibuk ngurusi usahanya yang ada di mana-mana." jawab Indra yang tentu sudah mempertimbangkan kesulitan menemui bos toko emas itu.
"Kalau begitu, besok Senin kita berangkat habis subuh. Sekitar jam lima dari rumah. Besokkita naik motor dari rumah, terus motornya kita titipkan di pasar. Kita naik bus Surabaya - Semarang nyegat di depan pasar." kata Irul pada istrinya, yang tentu membuat Indra menjadi lega.
Seperti yang telah direncanakan, hari Senin pagi, setelah subuh, Irul sudah menyiapkan segalanya. Termasuk membawa tas rangsel yang nantinya akan digunakan untuk memasukkan jaket saat bertamu. Sedangkan Indra menyiapkan tas kantoran, yang tentu untuk tempat dompet dan handphone serta keperluan wanita lainnya. Yah, namanya wanita, walaupun wajahnya sudah cantik seperti bidadari, tetap membawa bedak dan lipstik.
Dan setelah berpamitan dengan kedua orang tuanya, mereka pun bersiap untuk berangkat. Tentu orang tuanya agak khawatir, kalau anak dan menantunya itu nantinya tidak akan pulang ke rumah lagi. Namun setelah dijelaskan bahwa perginya ke Semarang hanya untuk mengurusi pekerjaan, dan mengatakan kalau nanti sore sudah pulang, maka orang tuanya, terutama ibunya, bisa menerima kenyataan. Tentu ibu mertua baru sayang-sayangnya dengan menantu yang sudah sangat lama didambakan itu. Dan kini saat menantu itu benar-benar sudah hadir, dengan wajah yang cantik serta rajin dan baik hati, maka ibunya Irul tidak ingin ditinggalkan. Setidaknya, Indra adalah lambang kebanggaan mertuanya.
Irul dan Indra berboncengan, dari rumah mengendarai sepeda motor, yang nantinya akan dititipkan di pasar. Tentu banyak kenalan di pasar. Sudah sangat lama Irul bekerja di Pasar Lasem, makanya banyak yang kenal. Dan itu membuat gampang untuk menitip motor.
"Kang, saya titip motor dulu .... Mungkin sampai sore, karena saya akan ke Semarang ...." kata Irul kepada tukang parkir yang sudah akrab dengannya.
"Lhah, kok sampai sore ...? Kalau saya pulangm bagaimana?" tanya tukang parkir itu.
"Dibawa dulu saja .... Nanti saya ambil di rumahmu." jawab Irul santai.
"Memang ke Semarang ada apa?" tanya tukang parkir itu pada Irul.
"Urusan kerjaan .... Ini, mengantar istri saya .... Terima kasih, ya .... Ini saya mau naik bus." jawab Irul yang langsung menuju pinggir jalan, untuk menyegat bus dari Surabaya.
"Yo, wis ..., ati-ati .... Jangan lupa oleh-olehnya .... Haha ...." sahut si tukang parkir yang rimahnya dekat dengan pasar.
Hanya sebentar Irul dan Indra menunggu bus, yang langsung ada bus lewat. Bus Indonesia Raya. Irul dan Indra langsung naik. Masih ada kursi kosong. Mereka bisa duduk, meski tidak satu bangku, tetap berjejeran. Kebetulan bapak yang ada di sebelahnya Indra orang baik. Ia berpindah bergantian tempat duduk dengan Irul. Akhirnya, Indra dan Irul duduk berjejeran satu bangku.
"Karcis ..., karcis ..., karcis ...." kondektur bus melintas di dekatnya Irul.
Irul langsung merogoh dompet, membayar ongkosnya.
"Semarang, dua orang, Pak ...." kata Irul sambil memberikan uang ongkos.
Tentu kondektur langsung menyobek dua karcis dengan mencoret tulisan Semarang, bukti kalau orang ini nanti akan turun di Semarang.
Indra, yang sudah duduk di samping suaminya, ia langsung merebahkan kepala di pundak Irul. Maklum, hari masih terlalu gelap. Dinginnya AC bus membuat orang harus bersedekap. Dan rasa kantuk masih menggelayut di pelupuk matanya. Maka begitu mendapat sandaran yang nyaman, Indra kembali memejamkan mata.
Berbeda dengan Irul, sebagai suami yang harus bertanggung jawab menjaga istrinya. Maka dalam bus itu, ia tidak mungkin bisa untuk memejamkan mata. Tidak hanya menjaga istrinya, tetapi juga menjaga tas istrinya, meskipun sudah dimasukkan ke dalam jaket, serta menjaga barang berharga yang diharapkan akan menjadi sumber penghidupannya. Meski mengantuk, Irul tetap berusaha terjaga. Apalagi saat penumpang ramai, banyak yang berdiri berdesakan. Biasa para penglaju yang harus berangkat kerja pagi. Tentu kondisi penumpang yang berdesak-desakan ini amat riskan dengan copet. Maka Irul lebih waspada dan hati-hati.
"Kawasan ..., kawasan ..., kawasan ...!" kondektur bus itu berteriak, memberi tahu kalau busnya sudah sampai di kawasan industri, perbatasan antara Demak dengan Semarang, banyak pabrik di kawasan itu.
Bus memperlambat lajunya. Lantas minggir. Banyak penumpang yang turun. Para karyawan pabrik yang bekerja di kawasan industri. Setelah para karyawan pabrik itu pada turun, bus pun kembali lengang. Penumpangnya tinggal sedikit.
"Semarang habis ...! Semarang habis ...!" kondektur itu kembali berteriak. Memberi tahu kepada para penumpang, kalau bus sudah sampai Semarang.
Bus Indonesia Raya itu sudah masuk di Terminal Terboyo. Semua penumpang turun.
"Dek .... Bangun, Dek .... Sudah sampai semarang." kata Irul membangunkan istrinya.
__ADS_1
"Hah ...?! Sudah sampai ...?!" Indra yang dibangunkan malah kaget.
"Iya ..., ayo kita turun." kata Irul yang langsung memegangi tangan istrinya, dan menuntun turun dari bus. Tentu masih terhuyung karena nyenyaknya saat tidur.
"Antar ke belakang dulu, Mas .... Saya mau pipis ...." kata Indra yang tentu sudah tidak tahan menahan seni dalam perjalanan dari Lasem hingga Semarang. Tiga jam lamanya.
"Iya .... Ayo ...." sahut Irul yang langsung mengantar istrinya, dan tentu Irul pun juga harus buang seni. Tentu sambil cuci muka. Lantas menunggu istrinya di luar kamar kecil. Ya, kalau perempuan pasti agak lama.
Setelah istrinya keluar, ia sudah melepas jaketnya. Bahkan sudah terlihat lebih fresh dan cantik. Tentu sudah memakai bedak dan lispstik. Baju yang dikenakan pun seperti baju kerja di kantoran. Dalamnya mengenakan baju putih dengan luarnya mengenakan blezer. Terlihat sangat anggun.
"Mas ..., jaketnya dilepas. Masukkan ke tasnya Mas Irul, ya .... Nah, Mas Irul pakai baju lengan panjang begini lebih terlihat keren, seperti anak muda." kata istrinya yang menata pakaiannya Irul. Kemeja biru muda polos, lengan panjang dimasukkan dalam celana warna hitam. Beruntung kemarin waktu menikah dibelikan sepatu pantofel oleh Pak Jamil. Sekarang ia kenakan. Benar-benar tampan ternyata di Irul. Lantas rambutnya disuruh membasahi sedikit air dan disisir rapi.
"Sudah, Dek?" tanya Irul pada istrinya.
Indra tidak menjawab. Hanya tersenyum sambil memandangi suaminya yang benar-benar terlihat keren.
"Kita naik taksi, Mas Irul .... Biar nyaman dan cepat." kata Indra pada suaminya.
"Hah ..., naik taksi ...?! Gak mahal, Dek ...?" tanya Irul yang tentu khawatir dengan ongkosnya yang mahal.
"Kalau naik angkot, susah, Mas .... Harus gonta-ganti .... Dan lama .... Kita buru waktu, Mas ...." kata Indra yang sudah mengajak suaminya keluar ke halaman terminal terboyo.
"Taksi, Mas ...? Taksi, Cik ...?" kata sopir taksi yang mangkal di halaman terminal.
"Iya, Pak .... Antar ke Kranggan, ya ...." sahut Indra yang langsung mengikuti sopir taksi itu menuju mobilnya.
Irul yang tidak paham dan belum pernah naik taksi sama sekali, hanya membuntuti istrinya. Ia menurut saja. Dua orang itu langsung masuk ke taksi yang sudah dibuka pintunya oleh sang sopir.
"Ke mana, Cik ...?" tanya sopir itu sambil mengeluarkan taksi dari parkiran.
"Siap ...." sahut sang sopir yang langsung menginjak gas, menuju arah dalam kota. Kawasan Kranggan di sebelah selatan Pasar Johar.
Tidak lama. Hanya sekitar dua puluh menit, taksi itu sudah berhenti di depan Toko Emas Kranggan. Tepat jam sembilan pagi. Kalau naik angkot, bisa jadi satu jam belum sampai. Itulah keuntungan naik taksi. Bisa lebih cepat, nyaman dan aman.
Setelah membayar ongkos taksi, Indra turun bersama suaminya. Lantas menuju toko perhiasan yang cukup besar dan ramai. Tentu yang melayani pembelian juga banyak. Dan tentunya saat Indra dan Irul masuk ke toko itu, pelayan pun langsung menghampiri.
"Mau cari apa ya, Cik ...? Gelang ..., kalung ..., atau cincin ...?" tanya pelayan itu.
"Maaf, Mbak .... Kami mau ketemu Pak Andi Ming bisa? Dari Cik Indra .... Kemarin sudah janjian." kata Indra pada pelayan toko emas itu.
"Tunggu sebentar ya, Cik ...." kata pelayan itu yang tentu langsung masuk untuk menyampaikan kepada bos-nya.
Dan sebentar kemudian, "Halo ..., halo ..., halo .... Cik Indra, pengantin baru ..., bagaimana kabarnya?" seorang laki-laki setengah baya, bertubuh gemuk, kulit putih dan matanya sipit, mengenakan kalung emas besar di lehernya, juga memakai kelang mirip rantai juga dari emas. Hanya mengenakan kaos oblong warna putih dan celana pendek. Itulah bos toko perhiasan di Kranggan.
"Baik, Om .... Ini suami saya, dulu yang mengelola usahanya Babah Ho di Lasem ...." kata Indra yang menyalami bos itu, dan langsung mengenalkan suaminya. Irul pun ikut menyalami bos itu.
"Ayo masuk ...." bos toko perhiasan itu mengajak Indra dan suaminya masuk ke ruang dalam. Ya, tentunya juga ruang kerja. Karena bagi orang-orang keturunan Cina ini, tidak ada tempat yang boleh kosong. Semua harus dimanfaatkan untuk usaha.
"Mi ...! Ini ada tamu yang kemarin saya cerita .... Cik Indra, mantan pegawai bank yang dulu Papi sering ketemu ...." kata Om Andi Ming pada istrinya.
"Oh, iya .... Saya juga pernah lihat di bank .... Silahkan di minum, ini teh botol ...." kata istrinya Om Andi Ming yang sambil memberikan minuman teh botol.
"Katanya waktu pesta nikah ramai banget, ya ...? Ada barongsai-nya segala yang meramaikan ...." kata bos perhiasan itu.
__ADS_1
"Kok Om Andi tahu?" tanya Indra.
"Itu, teman-teman Cik Indra yang kerja di bank pada cerita .... Wah, sayang ..., saya gak diundang ...." kata bos itu.
"Maaf, Om Andi .... Terlalu jauh tempatnya ...." kata Indra, yang tentu tidak mengundang semua orang, apalagi yang belum begitu kenal.
"Ini berarti, Cik Indra sudah tidak lagi bekerja di bank?" tanya bos itu.
"Tidak, Om .... Maklum, Lasem itu kota kecil, belum ada cabang bank kita .... Makanya, Om, ini kami mau cari modal untuk usaha di sana ...." jawab Indra.
"Ooo ..., seperti itu, ya .... Lha terus, rencana mau buka usaha apa?" tanya bos perhiasan itu.
"Buka kios sembako, Om .... Tapi terus terang modal kami kurang .... Makanya kami kemari mau minta tolong sama Om Andi untuk bantu membeli batu permata kami." kata Indra yang terlihat memelas karena butuh dana.
"Kok tidak mengajukan kredit saja? Mantan pegawai bank kan punya fasilitas ...." kata bos perhiasan itu, yang tentu heran, pegawai bank tidak mau kredit di bank.
"Suami saya yang tidak mau hutang. Takut kalau jadi beban hidup kami." jawab Indra.
"Boleh saya lihat barangnya? Permata yang akan dijual ...." tanya bos perhiasan itu pada Indra.
Indra langsung menoleh ke suaminya, tentu meminta barang yang akan dijual itu. Lantas Irul merogoh kantongnya. Mengambil dompet perhiasan. Mengeluarkan bungkusan kain sutra berwarna putih yang ada di dalam dompet perhiasan itu. Dua buah batu permata sebesar telur puyuh. Yang satu berwarna putih bening, sedangkan yang satu lagi berwarna merah muda keunguan.
"Seperti ini, Om Andi ...." kata Indra menyerahkan dua batu permata di atas secuil kain sutra itu.
"Wao .... Ini benar-benar luar biasa .... " kata laki-laki bos perhiasan itu yang langsung memegang satu batu dengan ibu jari dan telunjuk, lantas didekatkan ke penglihatannya.
"Bagaimana, Om ...?" tanya Indra yang terus mengamati laki-laki putih gemuk yang terlihat sangat terkesima tersebut.
"Ini berlian, Cik Indra .... Semakin besar carat berlian ini, tentu harga berlian juga semakin mahal. Selain carat atau ukuran dan beratnya, harga berlian juga dipengaruhi oleh potongannya, yang dalam istilahnya sana disebut cut, kemudian kejernihannya atau clarity, serta colour atau warnanya. Dua berlian milik Cik Indra ini sangat langka dan benar-benar istimewa .... Saya tidak sanggup membayarnya, Cik .... Ini butuh uang segudang ...." kata bos perhiasan itu, tentu sambil manggut-manggut karena sangat terkesima dengan keindahan dua batu permata yang dibawa Irul.
"Terus ..., saya harus bagaimana, Om ...? Terus terang kami butuh uang untuk modal. Tolonglah kami, Om ...." kata Indra yang mengiba.
"Kalau saya tawarkan ke oranglain, bagaimana?" tanya bos perhiasan itu.
"Kalau kami tidak kenal, saya tidak bisa melepas barang ini, Om ...." tiba-tiba Irul bersuara, yang tentu keberatan kalau permata itu sampai ke orang yang tidak dia ketahui.
"Iya juga, sih .... Karena ini barang mahal .... Begini saja .... Saya mau membantu, tapi saya juga cari untung. Maaf, karena saya pedagang. Saya jualan harus ada untung." kata bos perhiasan itu, yang tentu tidak mau rugi.
"Bagaimana, Om ...?" tanya Indra.
"Begini, Cik .... Saya beli satu permata ini, yang merah keunguan ..., dengan kesepakatan harga satu milyar. Soal nanti saya jual ke kolektor laku berapa, itu keuntungan saya .... Bagaimana?" kata bos perhiasan itu yang sudah berani menawar satu milyar.
Indra memandangi Irul, tentu meminta persetujuan dengan suaminya. Irul hanya menganggukkan kepalanya, tanda setuju. Bagi Irul, mendengar kata-kata satu milyar, itu sudah sangat mengagetkan jantungnya. Bukan jumlah uang yang sedikit. Tetapi itu kalau dibawa ke Lasem, sudah bisa digunakan untuk membangun pasar.
"Uang satu milyar saya itu nanti kalau sudah jadi batu permata ini, belum tentu dua tiga bulan sudah kembali. Terus terang kami butuh kolektor yang uangnya juga besar, Cik Indra .... Kalau memang setuju, kita langsung ke bank. Uangnya saya transfer. Oke, ya ...?" kata bos perhiasan tersebut yang tentu juga sangat tergila-gila dengan batu permata dari Irul. Tapi memang itu uang dalam jumlah yang sangat besar untuk tahun 2005.
"Begini, Om Andi Ming .... Saya dan suami sudah sepakat, setuju dengan harga itu. Dan tentu setuju untuk ditransfer. Tapi terus terang saya minta tambahan untuk beli oleh-oleh buat mertua. Bisakah saya diberi tambahan sedikit uang cash?" kata Indra yang memang piawai dalam berembug.
"Oke .... Tidak masalah. Nanti saya tambah uang transport dan oleh-oleh." kata bos perhiasan tersebut.
"Terima kasih, Om Andi Ming .... Om Andi sudah banyak membantu kami." kata Indra yang tentu sangat senang sudah dibantu oleh pengusaha itu.
"Saya juga berterima kasih .... Permata yang merah ungu saya simpan. Yang putih beling ini, tolong disimpan kembali. Hati-hati bawanya. Kita ke bank bersama. Tapi pesan saya sama Mas Irul dan Cik Indra, mohon berlian yang bening itu jangan dijual ke orang lain .... Besok kalau yang ini sudah laku terjual, yang itu akan saya beli. Hehe ...." kata bos perhiasan itu, yang tentu tertawa senang, karena sudah mendapatkan barang istimewa dan sangat langka. Di pasar internasional, pasti akan laku dengan harga lebih dari dua kali lipat.
__ADS_1
Mereka pun menuju bank. Tempat di mana Cik Indra dulu pernah bekerja. Pasti di sana sangat ramai, karena kedatangan Indra, sang pengantin baru yang pasti akan digojlok oleh teman-temannya.
Namun yang jelas, Indra dan Irul sangat gembira. Karena modal usahanya sudah ada di genggamannya. Mereka berdua, kini benar-benar ber-uang.