
Irul bersama Indra masuk ke bank pemerintah yang berkantor di Lasem. Bank dimana namanya tercantum dalam lembar pengumuman yang menempel di rumah Babah Ho, yang menyatakan kalau rumah itu sudah disita oleh bank. Irul memang awam dengan urusan bank. Tetapi seluk beluk rumah milik Babah Ho itu, sedikit banyak dia tahu. Termasuk saudara Babah Ho yang sempat menjadi majikannya, saat mengambil alih kios Babah Ho yang ada di Pasar Lasem. Dan saudaranya itulah yang sering menempati rumah itu setiap kali mereka ke Lasem.
Urusan bank, yang paham memang Indra, yang pernah menjadi karyawan bank, meskipun bank swasta. Tetapi sistem perbankan mestinya mempunyai tata aturan yang mirip. Maka Irul pasrah sepenuhnya pada istrinya untuk menanyakan masalah penyitaan itu.
Begitu masuk ruang bank itu, Indra yang bersama suaminya langsung menemui orang yang duduk di kantor bank itu, yang langsung berhadapan dengan pintu masuk. Di bank itu tidak ada tulisan-tulisan seperti di tempat kerjanya Indra dulu. Hanya di bagian paling kiri, yang tertutup kaca, ada tulisan "Kasir". Kalau di bank tempat kerja Indra kala itu ada bagian-bagiannya yang diberi tulisan, seperti, Teller, Customer Service, Staff Back Office, Account Officer , Sales Officer, Funding Officer dan Auditor. Tetapi di bank ini yang jelas terlihat hanya tulisan kasir, yang kalau di tempat Indra dulu dinamakan teller. Indra bertanya kepada petugas yang langsung berpapasan dengan orang masuk, yang berada di sebelah kasir bank itu.
"Maaf, Pak ..., untuk bagian yang menangani masalah sitaan agunan di mana, ya?" tanya Indra pada petugas tersebut.
"O, itu .... Kepada bapak yang gemuk itu, yang menangani masalah kredit macet." jawab orang yang duduk di sebelah kasir itu menunjukkan orang yang menangani kredit macet.
"Terima kasih, Pak ...." kata Indra, yang kemudian langsung berpindah ke laki-laki gemuk yang ditunjuk tadi.
"Monggo ..., silahkan duduk .... Ada yang bisa saya bantu?" kata laki-laki gemuk itu yang langsung menghadapi Indra. Padahal sebelumnya hanya main game di komputer. Kalau di banknya Indra dulu, pasti sudah dimarahi oleh pimpinannya.
"Maaf, Pak .... Ini saya mau tanya masalah rumah yang di sita, rumahnya Babah Ho yang ada di daerah Gedongmulyo. Kalau kami lihat di pengumuman yang tertempel, bank yang menangani itu bank pemerintah seperti yang di bank Bapak ini. Apakah kami boleh tahu ke mana untuk mengurus masalah rumah yang disita itu?" tanya Indra kepada petugas bank tersebut.
"Ooh, masalah rumah yang disita itu .... Itu langsung ke kantor cabang yang ada di Rembang kota. Kalau di kantor unit tempat kami tidak berwenang menangani sitaan maupun lelang. Walau hutangnya di sini, tapi untuk urusan sita dan lelang langsung ke kantor cabang. Silahkan Cacik-e ke Rembang, ditanyakan di kantor cabang." jawab laki-laki gemuk yang langsung main game lagi.
Indra langsung mengajak suaminya ke Rembang. Akan ke bank yang ditunjukkan oleh pegawai tadi. Naik motor berboncengan. Tidak lama. Paling hanya sekitar lima belas menit.
Sesampai di kantor bank itu, Irul pun mengikuti istrinya masuk. Lalu oleh satpam ditanya urusannya. Satmpam itu menunjukkan untuk menghadap ke Customer Service. Di tempat Customer Service, ada perempuan setengah baya, kira-kira berusia empat puluh tahun. Indra dan Irul langsung duduk menghadap perempuan itu.
"Maaf ..., kami ingin menanyakan masalah bangunan yang disita bank. Tadi kami dari kantor bank ini yang ada di Lasem, oleh pegawai yang di Lasem kami disuruh menanyakan ke sini." kata Indra pada petugas Customer Service tersebut.
"Ya kalau memang tidak membayar angsuran ya mesti disita ...." kata petugas itu tanpa senyum.
"Bukan itu, Bu .... kami ada masalah dengan milik orang lain. Maaf, suami saya tidak suka berurusan dengan bank .... Apalagi masalah kredit, suami saya orangnya tidak mau utang." kata Indra yang tersinggung dengan kata-kata pegawai bank yang tidak ramah itu.
"Lalu apa ...? Anda mau apa ...?" tanya pegawai itu.
__ADS_1
"Begini, Bu .... Terus terang saya ingin menanyakan rumah Babah Ho yang disita oleh bank." Irul langsung bicara, tentu karena ingin tahu masalah rumah Babah Ho yang disita tersebut.
"Kalau memang kreditnya macet ..., kalau memang angsurannya tidak pernah dibayar .... Ya, pasti jaminannya akan di sita .... Kami sudah melakukan langkah-langkah sesuai prosedur. Setelah dua kali pihak bank memberi surat peringatan dan pihak debitur masih saja mengabaikan semua surat peringatan yang sudah dikirimkan oleh bank, maka pihak bank akan melakukan tindakan tegas kepada debitur, yakni dengan melakukan penyitaan aset." kata perempuan itu.
"Saya mau tahu .... Siapa yang menjaminkan rumah itu untuk utang ...?!" tanya Irul yang tentu ingin tahu.
"Kamu itu siapa ...?!" perempuan itu balik menanya.
"Saya pegawainya Babah Ho. Saya sangat lama ikut Babah Ho, sejak lulus SMP. Yang saya tahu Babah Ho sudah tidak punya ahli waris, selain Melian, satu-satunya cucu yang masih hidup. Keluarganya sudah tidak ada semua. Kok bisa tanah dan bangunan itu dijadikan agunan ...?! Siapa yang menjaminkan ke bank ...?! Kalau mau disita, kenapa ahli warisnya tidak diberi tahu ...?!" kata Irul yang mencoba mengusik masalah penyitaan.
"Maaf, Pak .... Saya tidak tahu tentang ini ...." kata perempuan itu pada Irul.
"Lhoh ..., kok bisa tidak tahu ...?!!!" Irul emosi.
"Maaf, Bu .... Begini, Bu ..., kami ke sini ingin tahu, bagaimana caranya untuk mengambil kembali rumah Babah Ho yang ada di Gedongmulyo, Lasem." kata Indra menyela, agar suaminya bisa berhenti bicara untuk mengendalikan emosinya.
Perempuan setengah baya itu berdiri, lalu katanya, "Mari ikut saya ...." kata perempuan itu yang mengajak Indra dan Irul masuk ke bagian dalam. Menemui atasannya. Mungkin bagian kredit bermasalah. Lalu datang laki-laki lain yang langsung ikut nimbrung pembicaraan di situ. Tetapi perempuan bagian Customer Service tadi justru pergi.
"Betul, Pak .... Kami dari Lasem. Masalah bangunan dan tanah milik Babah Ho yang ada di daerah Gedongmulyo Lasem, itu tertempeli tulisan disita bank. Kami sudah menanyakan ke kantor bank yang ada di Lasem, tetapi dari pihak sana kami disuruh kemari. Apakah kami masih bisa menutup utang untuk membebaskan sitaan tersebut?" kata Indra yang menjelaskan permasalahannya.
"Sertifikat tanah dan bangunan atas nama siapa?" tanya laki-laki petugas itu, yang didampingi oleh pegawai lain yang membantu mencari datanya.
"Babah Ho, Desa Gedongmulyo." jawab Irul yang hafal.
"Ini .... Ya ..., sebenarnya kreditnya tidak banyak .... Hanya yang bersangkutan tidak membayar sama sekali. Kami sudah ke sana, untuk menanyakan permasalahan ini, tetapi rumah itu kosong, tidak ada yang menempati. Dan informasi dari warga, yang punya rumah itu sudah meninggal semua. Tentu kami kebingungan. Ini sertifikatnya dijaminkan di bank kami." jelas laki-laki petugas bank tersebut.
"Maaf, Pak .... Babah Ho dan istrinya itu sudah lama meninggal, sekitar enam belas tahun yang lalu, karena kecelakaan ambulan yang membawa ke rumah sakit. Dan saya yang ngurusi semuanya. Saya yakin Babah Ho tidak mengajukan kredit. Karena saya pegawai yang sudah seperti keluarganya sendiri. Saya tahu presis tentang Babah Ho. Jadi, saya tidak percaya dengan hutang ini." kata Irul yang meragukan masalah kredit bank itu.
"Maaf, Pak ..., apakah saya boleh tahu, siapa sebenarnya yang mengajukan kredit dengan agunan sertifikat tanah Babah Ho?" tanya Indra yang juga menyelidik.
__ADS_1
"Sebentar, ya ...." teman yang satunya mencari data. Lalu katanya, "Ini, Pak, Bu .... Yang mengajukan kredit memang bukan Babah Ho .... Namanya Hartono. Mungkin saudaranya Babah Ho ...?" kata orang itu.
"Hartono ...?" Irul mengingat-ingat nama itu.
"Iya ..., Hartono, pengusaha keturunan Cina, ber-KTP di Semarang .... Ini foto orangnya .... Seperti ini." kata petugas itu yang membuka berkas pengajuan utang.
"Ooo ..., iya, ini Koh Han .... Iya ..., saya tahu .... Itu katanya saudara Babah Ho, yang memaksa saya untuk mengelola tokonya Babah Ho di Pasar Lasem, tapi keuntungannya untuk dia semua. Tokonya juga sudah dijual." kata Irul yang ingat saudara Babah Ho dari Semarang yang mengambil alih semua milik Babah Ho. Koh Han panggilannya.
"Apakah kami bisa mengambil kembali, Pak?" tanya Indra lagi, yang tentu dalam prosedur bank tidak ada perdebatan saudara atau bukan.
"Penyitaan ini dilakukan untuk mengamankan aset sebagai jaminan atas utang yang belum dilunasi oleh debitur. Tindakan ini pada dasarnya bukanlah penyitaan, namun bentuk pengamanan yang dilakukan oleh pihak bank terhadap aset, di mana aset tersebut akan diawasi hingga proses pelunasan utang debitur bisa terlaksana dengan baik. Tapi kalau memang tidak dilunasi ..., ya kami akan mengambil langkah lebih lanjut." kata petugas bank yang lebih menguasai permasalahan.
"Itu yang hutang atau kredit kan Pak Hartono .... Bisakah kalau kami mengambil alih permasalahan ini, melunasi semua tanggungan, untuk menyelamatkan aset yang disita itu?" tanya Indra pada dua orang petugas tersebut.
"Kedudukan Bapak dan Ibu ini sebagai apa dalam masalah ini?" tanya petugas yang ada di situ.
"Kami saudaranya Babah Ho, dalam hal ini saya mewakili Melian, cucunya Babah Ho, sebagai satu-satunya ahli waris yang masih hidup. Kebetulan tinggal bersama orang tua angkat di Juwana. Terus terang anak itu tidak ingin rumah keluarganya jatuh ke tangan orang lain. Ia meminta agar rumah ini tetap menjadi milik pewaris. Saya khawatir, nanti kalau sampai proses lelang dan bangunan itu dibeli oleh orang lain, tentu pemilik yang sebenarnya akan sedih." kata Indra yang langsung memberi gambaran tentang rumah itu.
Mendengar penjelasan dari Indra, tentu dua orang itu percaya. Wajah dan kulit Indra, serta matanya yang sipit, sudah menunjukkan kalau ia memang masih kerabat dengan pemilik bangunan. Yaitu dari kelompok minoritas keturunan Cina.
"Ya ..., bisa .... Yang jelas syaratnya pelunasan utang terselesaikan. Kalau tidak, ya menunggu saat aset itu akan dilelang." kata petugas bank itu. Pasti mereka adalah pegawai yang menangani masalah kredit macet.
"Kami akan lunasi semuanya. Mohon dibuatkan rinciannya, berapa yang harus kami bayar untuk melunasi, agar kami bisa mendapatkan kembali hak atas tanah tersebut." kata Indra yang tentu bersiap untuk membayar. "Iya, Bu .... Maaf, tunggu sebentar, biar kami hitungkan rinciannya dahulu." kata orang itu, yang kemudian mengamati layar komputernya. tentu untuk memperoleh rincian tanggungan utang yang harus dilunasi. Termasuk bunga yang menjadi beban.
"Maaf, Bu .... Ini hitungan seluruhnya, termasuk bunga dan denda, itu mencapai nilai tiga ratus juta. Karena orang ini tidak membayar sama sekali .... Padahal nilai obyek yang diamankan, NJOP-nya hanya dua ratus juta .... Apa Ibu dan Bapak tidak sayang uangnya untuk melunasi utang orang lain? Kalau di lelang paling tidak laku tiga ratus juta." Kata petugas bank itu kepada Irul dan Indra.
"Maaf, Pak .... Kami bukan masalah harga atau berapa yang harus kami tanggung, tetapi ini warisan leluhur yang harus kami kembalikan kepada pemiliknya ...." kata Irul yang ingin memahamkan kepada pegawai bank tersebut.
"Betul, Pak .... Ini amanah. Berapapun akan kami usahakan bisa membayarnya." tambah Indra yang tentu baru merasakan, betapa kejamnya dunia perbankan itu. Ia baru sadar, apa yang pernah disampaikan oleh suaminya tentang larangan hutang, ternyata terbukti di sini. Hutang seratus, bisa menjadi tiga ratus. Jangan sekali-sekali urusan dengan utang. Indra yang pernah bekerja di bank, jadi ngeri menyaksikan kenyataan ini.
__ADS_1
Tetapi Irul dan Indra sudah berjanji, akan mengurus rumah itu untuk dikembalikan kepada Melian. Maka berapapun beban hutang yang harus ditanggung, akan dilunasi semuanya. Dan mereka pun minta agar prosesnya bisa dipercepat.