GELANG GIOK BERUKIR NAGA

GELANG GIOK BERUKIR NAGA
Chapter 161: JURAGAN SEMBAKO


__ADS_3

    Setelah membeli rumah, tentunya Indra dan Irul langsung mencari tukang, untuk merenovasi rumah diubah menjadi toko sembako. Meski bangunannya masih bagus, tetapi bangunan itu desainnya untuk rumah tempat tinggal, bukan untuk toko. Ada ruang tamu dan kamar-kamar. Tentu untuk dijadikan toko harus ada yang dikorbankan, untuk dibuka agar ruangannya lebih luas.


    "Mas ..., aku pengin, kita nanti tidak hanya jual eceran ..., tapi kalau bisa juga jadi agen di Lasem sini." kata Indra pada suaminya, saat ada di rumah yang baru dibeli itu, bersama tukang untuk memberi pengarahan apa yang akan dilakukan oleh tukang nantinya.


    "Walah ..., jadi agen? Terus, kita ngedropi ke warung-warung, begitu ...?" tanya suaminya, yang tentu kaget dengan rencana istrinya. Tiba-tiba saja Irul akan menjadi bos sembako di Lasem.


    "Iya, Mas .... Makanya ruang tamu ini dijebol dengan yang kamar depan. Nanti pintu ini diganti dengan rolingdoor, yang bisa dibuka lebar secara leluasa. Terus yang kamar depan itu, tembok yang ke ruangan ini di jebol juga. Jadi nanti tokonya akan besar dan leluasa. Mudah untuk menaruh barang, yang belanja juga leluasa, dan kita yang menjuali juga gampang untuk mengambilkan barang-barang. Jadi ..., yang belanja merasa nyaman, dan yang menjuali juga enak. Tidak ribet. Yang kamar belakang dengan dapur dan kamar mandi biarkan saja. Setidaknya bisa dipakai untuk istirahat. Kalau butuh masak, nanti biar gampang. Jadi, ya toko, ya bisa untuk rumah. Bagian depan saja yang jadi toko." kata Indra yang memberi masukan kepada suaminya. Memang, rata-rata orang keturunan Cina yang punya usaha, rumahnya juga dijadikan gudang. Tidak ada kata rumah harus seperti istana, tetapi istana bisa dijadikan tempat usaha. Itulah pemanfaatan semua ruang yang bisa digunakan.


    "Lhah, tapi kalau kita mau jadi agen, kan harus punya stok barang yang banyak, Dek .... Terus nanti akan ditaruh di mana?" tanya suaminya pada Indra.


    "Bagaimana kalau tanah kosong yang di samping itu, yang katanya mau dibuat garasi, itu kita kasih tembok dan atap sekalian. Nanti untuk menaruh barang-barang dagangan. Sebut saja sebagai gudang." usul Indra pada suaminya.


    "Oh, ya .... Berarti nanti yang di sisi kanan biar ditembok sekalian, terus atapnya pakai galvalum saja yang ringan. Jadi tidak butuh kayu banyak. Gitu yo, Kang .... Jadi nanti buat tembok sana dahulu, terus yang ini, ruang tamu dan kamar depan di bongkar untuk toko. Nanti pintunya pakai rolingdoor." kata Irul menjelaskan kepada tukang-tukangnya. Tukang itu tetangganya sendiri, jadi lebih enak dan leluasa untuk diajak rembugan.


    "Walah, nggak eman-eman ini, Mas Irul ...? Ini kusen pintu dan jendela gendongnya bagus, lho .... Jati semua ini." kata si tukang.


    "Besok dipasang di tempat lain. Kalau membangun lagi." Kata Irul yang sulit untuk menjelaskan. Tentu karena beda kebutuhannya.


    "Ya, Mas Irul ...." jawab si tukang yang menurut saja dengan yang diperintahkan oleh yang punya rumah. Para tukang itu langsung bekerja. Ada yang pergi ke toko bangunan, belanja kebutuhan material, ada yang langsung menggali tanah untuk membuat pondasi. Dan juga ada yang membobol tembok. Semuanya rajin dan tekun. Bahkan, Irul yang punya bangunan itu, juga ikut membantu. Demikian juga bapaknya Irul, tidak pergi ke ladang, melainkan juga ikut cawe-cawe membantu beres-beres. Apalagi ibunya, pasti mengirim makanan dan minuman.     Makanya, pembangunan yang dilakukan untuk merombak rumah itu dijadikan toko, cepat terlihat perkembangannya.


    Hanya butuh waktu satu minggu. Rumah itu sudah berubah menjadi luang. Bahkan bangunan tambahan di samping, juga sudah jadi. Ruangan yang cukup luas dan memanjang ke belakang. Langsung menghubung ke ruang toko. Itu nanti, pasti akan memuat barang yang sangat banyak. Semua sudah dicat dengan warna yang cerah dan segar. Sehingga rumah itu benar-benar terlihat baru. Tinggal mengisi barang-barang dagangan.


    "Kang, tolong pohon mangga yang di samping kanan itu dipotong. Terus, pelataran yang depan rumah ini semuanya dipasangi paving block. Sampai pol di bagian barat. Tolong dihitung berapa meter, nanti langsung dipesankan paving block." kata irul kepada tukangnya.


    "Dipasangi paving semua?" tanya tukangnya.


    "Iya, halaman depannya. Biar nanti yang belanja ke sini merasa nyaman dan enak. Parkirnya luas dan gampang memutar kendaraan." jawab Irul yang tentu terinspirasi dari pabriknya Pak Jamil, yang halamannya leluasa dipakai parkir.


    "Pohon mangganya di tebangi semua?" tanya tukang itu lagi.


    "Tidak semua .... Hanya pohon itu, yang di sebelah timur, mepet dengan tembok tetangga. Dan nanti biar untuk keluar masuk mobil angkutan membawa barang. Biar halamannya luas, mobil bis muter. Yang di barat sama pinggir pagar depan itu tidak usah ditebang. Buat perindang, dan kalau berbuah kan bisa dinikmati." jawab Irul, yang tentu juga tidak mau tempat tokonya itu panas total.


    "O, ya ..., Mas .... Nanti kami menyelesaikan memotong pohon mangga itu sama pemasangan paving." kata tukang yang diajak rembugan.


    Semuanya sudah beres. Indra dan Irul memandangi bangunannya itu dengan senyum gembira. Demikian juga bapaknya Irul, yang tentu bangga kalau anaknya akan membuka toko besar, yang menyediakan segala kebutuhan sembako. Bahkan adik-adiknya Irul sudah menyampaikan kepada para tetangga, kalau kakaknya akan menjadi agen sembako di Lasem. Suatu berita yang tentu menjadi ajang promosi. Apalagi orang kampung yang suka menyampaikan kabar dengan dibesar-besarkan. Pasti berita tentang Irul bersama istrinya akan membuka toko sembako yang besar itu sudah tersiar ke berbagai penjuru.


    "Le, Irul ..., itu bangunannya toko kan sudah jadi .... Kalau misalnya besok Minggu Pahing malem Senin Pon, itu kita slameti dulu, bagaimana? Yoo ..., istilahe ngeslupi toko ...." kata bapaknya Irul saat jagongan di ruang tamu rumah keluarganya. Kebetulan sore itu semua keluarganya kumpul di rumah orang tuanya.


    "Heeh, Le .... Biar selamat semuanya ...." tambah ibunya.

__ADS_1


    "Dan rezekinya lancar, Pakde ...." timpal adiknya.


    "Ya .... Saya juga sudah kepikiran seperti itu, kok Pak, Mak .... Lha, kira-kira yang diundang siapa saja?" kata Irul yang langsung menanyakan orang-orang yang akan dindang untuk selamatan.


    "Besok kamu ke RT-nya sana .... Sekalian laporan dan mengundang tetangga-tetangga dekat tokomu sana. Bila perlu modinnya juga orang sana. Tanyakan sekalian jumlahnya ada berapa orang, nanti untuk menghitung konsumsinya." kata bapaknya yang tentu meminta Irul untuk mengenal para tetangganya.


    "Nggih .... Lha yang orang-orang kampung sini bagaimana, Pak?" tanya Irul.


    "Nanti saya yang mengundang .... Saya temui satu persatu, terutama saudara-saudara kita. Kalau saya yang ngundang, pasti mereka akan sungkan kalau tidak mau datang." kata bapaknya, yang tentu ingin memaksa orang yang diundang untuk datang.


    "Nggih, Pak ...." Irul menuruti semua yang direncanakan oleh orang tuanya. Tentu semuanya itu demi kebaikan, terutama untuk hidup rukun bersama saudara dan tetangga, serta selalu meningkatkan rasa bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang sudah melimpahkan rezeki dalam hidupnya.


    "Mas ..., kita kan akan membuka toko sembako .... Bagaimana kalau misalnya besok itu saat acara selamatan, kita memberikan paket sembako kepada yang diundang?" usul Indra pada suaminya.


    "Tapi kita kan belum punya barang dagangan, Dek ...?" tentu Irul bingung dengan yang diusulkan istrinya, karena memang di toko itu masih kosong.


    "Besok kita datangkan. Yang pokok saja dahulu. Beras, gula dan minyak. Bila perlu dengan mi instan." kata Indra yang tentu ingin menunjukkan barang dagangannya kepada warga yang diundang.


    "Memang bisa belanja mendadak?" tentu Irul ragu-ragu. Karena selama menjadi karyawannya Babah Ho, belum pernah tahu bagaimana caranya belanja besar-besaran secara mendadak. Kalau di pasar, sales itu datang tidak setiap hari.


    "Coba besok saya tanyakan, Mas .... Semoga saja bisa." jawab Indra yang sudah bersemangat untuk menjadi pedagang sembako besar-besaran.


    Pagi harinya, Indra sudah sibuk dengan telepon. Tentu ia mulai menghubungi berbagai kenalan supplier atau pemasok sembako. Termasuk menanyakan keteman-temannya yang ada di bank, untuk meminta nomor-nomor nasabah yang bergerak di bidang penyediaan sembako. Tentu sangat mudah, karena bank tempat kerja Indra waktu itu adalah bank swasta bonafid yang sebagian besar nasabahnya adalah orang-orang keturunan Cina yang rata-rata bergerak di usaha dagang. Termasuk perdagangan sembako.


    "Mas Irul ..., habis sarapan kita langsung ke toko. Karena ini sudah ada distributor yang berangkat mengirim barang." kata Indra kepada suaminya.


    "Secepat itu, Dek ...?" tentu Irul kaget dengan sistem kerja istrinya.


    "Kalau kita mau buka usaha, jangan malas, Mas .... Harus bergerak secepat kilat. Beda waktu satu menit saja, barang maupun harga sudah berubah. Posisi penjual pun sudah berpindah tempat. Jadi kalau Mas Irul mau jadi juragan sembako yang besar, harus bergerak cepat dan selalu mengikuti berita harga. Jangan sampai kita merugi, walau kita berani pasang tarif harga paling murah. Kalau Mas Irul mau seperti itu, nanti seluruh wilayah di sekitar kita, akan kulakan semua ke toko kita. Bahkan mungkin Mas Irul hanya bicara saja, barang sudah jalan sendiri." kata Indra memberi pemahaman kepada suaminya.


    "Begitu ya, Dek ...?" Irul semakin bingung dengan sistem perdagangan orang-orang Cina.


    "Jangan malas, jangan ogah-ogahan, jangan suka tidur, dan jangan hanya menunggu. Nanti rezekinya dipatuk ayam. Kita harus rajin, tekun, bergerak cepat dan selalu menjemput bola .... Bangun komunikasi dengan semua orang yang bisa kita ajak bermitra. Jangan pandang remeh pada orang yang kelihatan lemah. Bahkan pengemis saja bisa memberi rezeki kepada kita. Begitu caranya kalau mau maju." kali ini Irul benar-benar dikuliahi oleh istrinya. Maklum, ia hanya lulusan SMP, sedangkan Indra adalah sarjana muda bidang manajemen keuangan. Pasti soal perdagangan ia lebih memahami.


    Irul mengeluarkan kendaraannya, tentu bergegas untuk pergi ke tokonya bersama Indra. Karena seperti yang disampaikan oleh istrinya tadi, sebentar lagi akan ada barang yang datang. Terlihat aneh, istrinya tidak pergi ke mana-mana, tetapi sudah bisa mendatangkan pesanan-pesanan barang dagangan dalam waktu sekejap. Namun sayangnya, motor yang digenjot oleh Irul, berkali-kali tidak mau hidup. Hingga akhirnya harus didorong lebih dahulu, agar mesinnya mau hidup.


    "Nanti siang ke dealer motor, Mas .... Beli motor baru. Motor yang mogak-mogok seperti ini juga menghambat pekerjaan." kata Indra pada suaminya, yang tentu berpeluh karena harus mendorong motor berkali-kali.


    "Iya, Dek .... Kita beli motor yang bagaimana?" sahut Irul yang masih memboncengkan istrinya.

__ADS_1


    "Terserah Mas Irul .... Yang penting tidak mogokan ...." jawab Indra yang tentu agak kesal dengan motor butut yang rewel itu.


    Memang hanya sebentar untuk sampai ke tokonya, toh jaraknya memang tidak jauh. Hanya sekitar satu setengah kilometer. Tetapi karena motor yang mogok, akhirnya jadi lama. Dan kenyataannya, di jalan raya depan toko Irul yang masih tutup itu, sudah ada truk box yang berhenti. Pasti itu truk yang akan mengirim barang.


    "Ibu Indra, ya ...?" tanya sopir truk saat tahu Indra dan Irul yang berboncengan masuk ke halaman toko.


    "Iya, betul .... Dari mana?" tanya Indra.


    "Dari Den Marco Raya .... Mau mengirim barang, Bu ...." kata sopir truk box itu.


    "O, ya .... langsung masuk saja ...." kata indra pada sang sopir. "Mas, ini barang-barang dagangannya sudah datang .... Kita taruh di ruang gudang dahulu, ya ...." lanjut tutur Indra pada suaminya yang menaruh motor jauh dari pintu masuk.


    "Iya, Dek .... Biar saya buka." jawab Irul pada istrinya. Lalu berteriak pada kernet yang memberi aba-aba pada sopir truk box, "Mas, truknya mundur saja, ke arah pintu gudang. Nanti biar pintu belakang truk masuk ke pintu gudang." kata Irul yang langsung membuka pintu gudangnya, yang barusan selesai dibangun.


    "Ya, Pak ...." jawab sang sopir yang sudah memutar truknya. Mundur menuju pintu gudang yang baru dibuka oleh Irul.


    Kernet dan sopir itu pun langsung menurunkan barang-barang yang dipesan oleh Indra. Satu truk penuh diturunkan semua. Ada beras kemas dalam plastik lima kiloan. Ada minyak goreng kemas botol dan kemasan isi ulang, semuanya ada dalam kardus. Ada gula pasir premium satu kiloan yang dipak dalam karton. Dan tentu masih banyak lagi barang-barang dagangan yang sudah dibelanja oleh Indra. Itu yang datang baru dari satu pemasok. Tentunya, besok akan datang pemasok-pemasok lain yang sudah masuk dalam daftar rekanan Indra. Pasti gudang yang baru dibangun itu langsung terpenuhi oleh sembako yang baru datang itu.


    Kernet dan sopir setelah selesai menurunkan barang, lantas mengecek jumlah barang, bersama dengan Indra dan suaminya. Tentu untuk memastikan jumlahnya benar dengan yang dipesan.


    "Maaf, Bu Indra .... Ini resi surat jalan dan bukti penerimaan, minta tanda tangan Ibu." kata sang sopir yang menyodorkan kertas kerjanya.


    "Iya, Pak .... Terima kasih, lho ...." jawab Indra yang langsung menandatangani resi itu.


    "Tadi kami dipesan oleh manajer, agar Ibu Indra besok segera membuat PO atau surat pesanan barang, untuk memudahkan pengeluaran. Ini sudah ada nama tokonya apa belum, Bu?" kata sang sopir itu.


    "Oh, iya, Pak .... Maaf, ini kami baru mau buka besok Senin. Jadi memang kami belum punya nama toko ini. Akan segera saya buat nama dan izinya. Terima kasih, Pak ...." kata Indra yang tentu memberikan amplop berisi uang untuk tip sopir dan kernet. Tentu besok kalau disuruh mengantar ke tokonya lagi akan senang.


    Truk box itu langsung keluar halaman toko Indra, dan langsung membelok ke jalan raya. Pasti akan kembali ke majikannya. Irul dan Indra mengamati truk hingga menghilang.


    "Walah ..., ini belanjaannya langsung segudang, Dek ...." kata Irul yang bersama istrinya sudah kembali masuk ke gudang.


    "Iya, Mas .... Besok kita kan mau memberi oleh-oleh untuk yang kita undang selamatan di sini." jawab Indra.


    "Namanya berkatan. Oleh-oleh selamatan. Kalau begitu, nanti kita minta tolong adik-adik membantu mengemas, ya ...." usul Irul yang akan minta bantuan adik-adiknya.


    "Iya, Mas .... Kita besok kalau sudah buka tokonya, juga butuh tenaga, butuh karyawan yang bantu kita." tambah Indra yang tentu harus punya pelayan di toko itu.


    "Iya, Dek .... Kalau itu sambil jalan. Toh masih ada saya dan adik-adik. Kita sambatan dulu. Justru yang saya kepikiran, itu tadi yang dikatakan sopir truk, kita memberi nama dan ijin usaha." kata Irul.

__ADS_1


    "Betul, Mas. Kalau begitu kita tutup gudangnya. Kunci dari dalam. Kita ke Kecamatan, menanyakan pengurusan izin usaha. Terus bablas ke dealer motor. Aku gak mau dorong-dorong motor butut ini. Nanti kalau kesenggol bisa tetanus .... Hehe ...." kata Indra yang tentu langsung meledek suaminya.


    "Iya ..., iya .... Ayo, mbonceng sini ...." kata Irul yang sudah siap untuk berangkat ke Kantor Kecamatan, untuk mengurus izin usaha seperti yang dikatakan oleh sopir truk tadi. Pastinya hal itu sangat penting, karena nantinya usaha irul dan Indra ini akan membesar. Menjadi agen sembako yang besar.


__ADS_2