GELANG GIOK BERUKIR NAGA

GELANG GIOK BERUKIR NAGA
Chapter 89: PENGEMIS YANG MENINGGAL


__ADS_3

    Sore itu, jalanan sangat ramai. Jalan raya pantura penuh sesak dengan truk muatan berat yang berlalu-lalang dari arah Jakarta ke Surabaya atau sebaliknya. Tentu sopir truk hanya mampu berjalan pelan. Apalagi ditambah beberapa jalan banyak lubang. Sehingga para sopir harus hati-hati untuk melintasi jalan Juwana - Rembang. Paling tidak agar truk tidak oling saat melintasi lubang yang mulai tidak kelihatan dalam remang malam.


    Namun, yang namanya malang tak bisa dipantang, namanya nasib tak bisa disetip. Seperti yang dialami oleh sopir truk gandeng ini. Sore yang menjelang gelap, para sopir truk biasanya memilih berhenti untuk istirahat. Biasanya ada yang mandi, makan, ada juga yang tidur. Tetapi sopir truk gandeng dari Jakarta mau menuju Surabaya itu terus saja melajukan truknya. Mungkin tubuhnya masih fit. Tetapi nasib apesnya justru terjadi saat melintas di tengah Kota Juwana ini, kota yang terkenal dengan julukan Kota Bandeng. Di jalan yang tidak begitu ramai, tiba-tiba ada orang yang berlari menyeberang jalan. Dan, "Duoght ...!! Brees ...!!"


    "Ada kecelakaan ...!!"


    "Ada orang ketabrak truk ...!!"


    "Di mana?"


    "Itu ..., di situ ...."


    Orang-orang langsung berkerumun, menyaksikan kecelakaanm sebuah truk gandeng sarat dengan muatan menabrak orang yang tiba-tiba saja menyeberang. Tentu sang sopir tidak mungkin untuk mengerem mendadak. Maka orang yang tiba-tiba menyeberang itu langsung terlindas roda depannya, persis di bawah tempat sopir duduk. Tubuh orang yang terlindas itu masih tejepit roda truk.


    Orang-orang langsung mengerubung tempat kejadian. Namun sopir truk sudah tidak ada di situ. Ia melarikan diri, agar tidak dikeroyok oleh masa.


    "Siapa yang kecelakaan?" tanya orang-orang yang berdatangan.


    "Belum tahu .... Masih terlindas ban truk."


    Tentu orang-orang belum bisa memastikan siapa yang tertabrak truk itu. Karena berada di bawah truk, tempatnya gelap. Sehingga wajah orang yang masih tergeletak di jalan dan terhimpit ban truk itu belum bisa dilihat wajahnya. Hanya tahu dari ciri bentuk badan, kalau yang terlindas truk itu laki-laki dewasa.


    Dua orang petugas polisi datang. Mereka langsung memeriksa kejadian. Tentu langsung mengamati orang yang celaka dan masih terjepit ban truk. Darah merah yang masih segar mengalir membasahi aspal. Pasti orang itu sudah meninggal.


    "Sopirnya mana?" tanya petugas polisi itu kepada orang-orang yang berkerumun meninton.


    "Tidak tahu ...."


    "Paling sudah melarikan diri."


    "Kalau masih di sini, pasti sudah dikeroyok warga, Pak ...."


    Orang-orang yang ada di situ tidak tahu ke mana sang sopir menyelamatkan diri, dengan cara pergi melarikan diri.


    "Minta dibantu, dorong truknya ke belakang sedikit .... Biar bisa mengangkat korbannya." kata polisi itu kepada warga yang sudah berjubel ingin tahu siapa yang mengalami kecelakaan. Tentu agar bisa mengangkat korban yang masih terjepit roda, satu-satunya jalan truk itu harus dimundurkan dahulu, agar orang yang terlindas bisa ditarik.


    "Ayo ..., ayo ..., ayo ...! Kota dorong truknya ...!!" teriak orang-orang yang langsung menempelkan tangan ke kepala truk untuk membantu mendorong truk ke belakang.


    "Ada yang di bak gandengan belakang ...!!" teriak yang lain.


    Orang-orang pun langsung membantu. Berusaha mendorong truk gandeng tersebut. Tentu sangat berat, karena memang truk itu memuat penuh barang.


    "Satu ...!! Dua ...!! Tiga ...!! Dorong ...!!" teriak orang-orang pada memberi aba-aba, yang kemudian mendorong truk. Lumayan, truk bisa bergeser ke belakang sedikit.


    "Sedikit lagi ...!! Satu ...!! Dua ...!! Tiga ...!! Dorong ...!!" teriak pemberi aba-aba. Truk itu pun sudah lumayan jauh bergeser.


    "Hop ...!! Sudah cukup ...!!"


    Korban yang terlindas truk sudah kelihatan. Tapi memang sudah tidak bernyawa. Korban itu sudah meninggal.


    "Siapa yang ketabrak ...?!" tanya orang-orang yang ingin tahu.


    "Kayaknya pengemis yang bau badek itu ...."


    "Ya .... Itu si pengemis busuk ...."


    "Oo ..., wong edan kae ...."


    "Walah ..., melas men leh ...."


    Orang-orang yang menyaksikan pun banyak yang tahu, kalau korban tertabrak truk itu adalah pengemis yang baunya tidak karuan. Mereka hafal karena memang orang ini adalah pengemis yang setiap hari berkeliaran di pasar dan alun-alun. Layaknya bukan pengemis, tetapi seperti orang gila. Maka tidak heran kalau orang-orang pasar menyebutnya "wong edan" atau orang gila. Ada juga yang menyebutnya "wong bosok", karena tubuhnya penuh luka yang membusuk. Maka wajar kalau baunya busuk.


*******

__ADS_1


    Berita kematian Pak Bos sampai juga ke telinga para karyawan perusahaan kerajinan kuningan Bima Sakti. Serta merta para karyawan saling bercerita. Tentu banyak versi yang dibicarakan.


    "Mas Irul ..., itu Pak Bos yang dulu juragannya sini, yang kemarin waktu datang marah-marah dan mengancam kita itu, ini dengar kabar katanya meninggal dunia." kata Ika yang datang paling gasik, dan ketemu Irul yang sudah bersih-bersih ruangan.


    "Mosok, sih ...? Yang orangnya datang langsung duduk di kursi pimpinan itu? Yang mengejek kita waktu bersih-bersih gara-gara dilempari telur busuk itu?" tanya Irul yang tentu kaget.


    "Iya .... Ini saya dapat kabar dari tetangganya yang kebetulan tadi naik angkot bareng." jawab Ika.


    "Innalilahi .... Tapi senang juga, sih ...." sahut Irul yang tentu lega karena pabriknya pasti tidak jadi diambil alih.


    "Lah, kok ..., malah senang ...?!" tanya Ika yang belum tahu maksudnya.


    "Lha kalau dia masih hidup dan kembali menguasai pabrik ini, pasti kita tidak seenak sekarang." jawab Irul.


    "Benar juga, sih .... Tapi kasihan juga Pak Bos itu." kata Ika.


    Lalu datang pekerja lain. Dan langsung bilang kepada Ika dan Irul yang sedang berbincang di tokonya.


    "Eh, Mbak Ika ..., Mas Irul .... Ada berita mengejutkan, Pak Bos meninggal." kata karyawan itu.


    "Iya, Pak .... Ini kami juga membicarakan. Saya dengar dari tetangganya saat naik angkot tadi." jawab Ika.


    "Alhamdulillah ..., pabrik kita tidak jadi diambil alih lagi oleh Pak Bos ...." kata orang itu, yang tentu juga senang mendengar berita kematian Pak Bos.


    "Kemarin sore, pas maghrib ada kecelakaan .... Pengemis yang baunya busuk, yang pernah kemari itu, tertabrak truk gandeng!" tiba-tiba karyawan yang baru datang langsung bercerita tentang kecelakaan.


    "Pengemis yang kemarin minta-minta ke sini itu?" tanya karyawan lain.


    "Iya ...." jawab yang mulai cerita.


    "Iya, betul .... Saya juga mendengarnya. Anak saya yang cerita." sahut yang lain.


    "Lha, terus bagaimana?" tanya Ika yang masih terngiang dengan pengemis itu.


    "Walah ..., kasihan ...." sahut yang lain.


    Para karyawan yang lain pun berdatangan. Tentu obrolan cerita bertambah seru dan ramai. Ada yang membahas tentang pengemis yang tertabrak truk dengan cerita-cerita yang mengerikan. Tetapi ada juga yang membahas cerita tentang kematian Pak Bos, yang tentunya membuat para karyawan menjadi tenang dan tidak khawatir tentang pabriknya.


    Bersamaan dengan itu, Jamil datang. Seperti biasa, memberi salam kepada para karyawan serta memberi senyum dan sedikit canda tawa.


    "Ada apa ini, kok pagi-pagi sudah ramai-ramai, meriah sekali?" tanya Jamil yang baru saja datang.


    "Anu, Pak Jamil ...." jawab salah seorang karyawan yang kemudian berhenti, takut melanjutkan.


    "Anu apa?" tanya Jamil ingin tahu.


    "Pak Bos meninggal, Pak Jamil .... Apa Pak Jamil sudah dengar?" tanya Mbak Sri yang memang paling mudang untuk nyeplos.


    "Innalillahi .... Beneran ini?" sahut Jamil.


    "Betul, Pak .... Tadi saya ketemu tetangganya di angkot, dia cerita kalao Pak Bos meninggal." sahut Ika.


    "Iya, Pak Jamil .... Tadi saya juga dengar berita dari teman saya, yang rumahnya dekat dengan Pakde. Tapi mayatnya sudah dikubur tadi malam, Pak. Dari rumah sakit langsung dikuburkan." sahut Tarno, yang kebetulan punya teman tetangga keluarganya Pak Bos.


    "Semoga Tuhan mengampunkan salah dan dosanya .... Kasihan keluarga yang ditinggalkan. Anaknya belum ada yang mentas, masih sekolah semua. Kasihan Pakde yang harus membiayai anak-anaknya sekolah." kata Jamil yang tahu kondisi keluarga kakaknya.


    "Betul, Pak .... Itu anak Pak Bos yang paling besar masih kuliah di Surabaya, pasti butuh biaya besar." sahut karyawannya.


    "Tapi teman-teman banyak yang senang kok, Pak .... Hehe ...." sahut yang lain.


    "Kok begitu?" tanya Jamil.


    "Lah, kan pabriknya tidak jadi diambil alih lagi sama Pak Bos ...." sahut karyawan itu.

__ADS_1


    "Tidak boleh begitu .... Apapun yang terjadi, kita harus berempati pada orang yang mengalami kesusuahan." kata Jamil mengingatkan karyawannya.


    "Nggih, Pak ...." sahut para karyawan.


    "Hyah ..., nanti kita melayat ke sana. Siapa yang mau ikut?" kata Jamil yang menawarkan kepada karyawannya.


    "Kalau bisa kita semua bareng-bareng ke sana, Pak .... Bagaimanapun juga kita ini dulu pernah menjadi bagian dari Pak Bos saat pabrik ini jadi miliknya." sahut Pak Tarno, sopir yang merupakan karyawan paling tua di situ.


    "Iya ..., betul. Kita sewa angkot saja, bareng-bareng ke sana." jawab Jamil.


    "Kapan, Pak ...? Saya pesankan angkot sekarang?" sahut Tarno.


    "Nanti siang saja .... Saat istirahat kita tutup sebentar. Toh jenazahnya sudah dimakamkan, jadi kita hanya bersilaturahmi dan memberi simpati kepada keluarga yang ditinggalkan." kata Jamil pada karyawannya.


    "Nggih, Pak .... Siap. Akan saya pesankan angkot." sahut Tarno yang merasa paling tua di situ, dan harus membimbing karyawan yang lain.


    Akhirnya, siang itu mereka berangkat melayat. Bersama-sama naik angkot. Tidak begitu jauh, tatpi lumayan kalau harus membecak dari pabrik hingga sampai di rumah Pakde.


    Meski jenazah sudah dikuburkan semalam, namun orang-orang yang melayat siang itu masih ramai. Tentu karena Pakde dan istrinya termasuk orang yang cukup berpengaruh di Kampung Bakaran Juwana. Pengelola tambak bandeng yang cukup sukses.


    Jamil bersama para karyawan langsung masuk dan menyalami keluarga yang sedang berduka. Tentu setelah itu mereka duduk dan tanya kisahnya.


    "Kenapa dengan Pak Bas, Pakde? Kok mendadak sekali?" tanya Jamil pada kakaknya yang menemani duduk para karyawan.


    "Saya tidak tahu asal mulanya .... Tetapi malam-malam ada dua orang polisi datang kemari, menyampaikan berita kalau Basuki, adik saya itu mengalami kecelakaan." jawab Pakde yang mulai bercerita.


    "Kecelakaan dengan apa, Pakde?" tanya Jamil lagi.


    "Katanya terlindas truk gandeng di jalan besar sebelum alun-alun." kata Pakde lagi.


    "Apa kecelakaan yang sore-sore itu, Pakde?" tanya Tarno, sopir pabrik yang sudah kenal saudara-saudara Pak Bos.


    "Betul .... Mengenaskan, kepalanya yang terlindas ban. Sampai darahnya mengucur terus. Makanya tadi malam begitu sampai langsung dimakamkan." kata Pakde lagi.


    Berbincangan pun terus mengalir, hingga cukup lama. Dan akhirnya, Jamil harus berpamitan, untuk mengajak para karyawan kembali ke pabrik. Dan tentu karena juga ditunggu oleh sopir angkot yang disewanya. Dan saat pulang, Jamil memberikan amplop sebagai tanda tali kasih kepada keluarga, yang diberikan kepada anak sulung Pak Bos.


    "Kamu harus tekun belajar, jadi anak pintar biar kelak jadi orang sukses." kata Jamil yang menasehati Danang sambil memberikan amplop tebal berisi uang.


    "Terima kasih, Pak Jamil .... Jangan bosan kalau kami selalu minta tolong ke Pak Jamil." kata anak itu.


    "Tentu, Mas Danang ..., selama kami mampu membantu." kata Jamil yang langsung meninggalkan rumah itu dan naik ke angkot yang sudah menunggu.


    Di dalam angkot, Jamil langsung diserbu para karyawannya.


    "Pak Jamil ..., ternyata yang tertabrak truk gandeng itu Pak Bos, ya?" tanya Ika yang langsung mengarah.


    "Iya." jawab Jamil ringan.


    "Lhah ..., katanya yang ketabrak truk gandeng itu si pengemis yang bau busuk itu?" tanya yang lain.


    "Iya ...." jawab Jamil lagi.


    "Lhah, kalau begitu pengemis yang baunya busuk itu Pak Bos?" tanya lainnya lagi.


    "Iya ...." jawab Jamil, yang lagi-lagi mengiyakan pernyataan karyawannya.


    "Walah .... Kalau begitu Pak Jamil tahu, waktu pengemis itu datang ke toko kita, bahwa dia adalah Pak Bos?" tanya karyawannya lagi.


    "Iya." lagi-lagi Jamil menjawab iya.


    "Oalah .... Pak Jamil itu lho, kok pandai sekali menyimpan hal-hal yang tidak perlu dibicarakan. Pandai menutupi kejelekan orang lain." kata Ika yang tentu gemas dengan bosnya itu.


    "Iya .... Kita tidak boleh membongkar atau mengungkap keburukan orang, karena diri kita sendiri belum tentu baik. Ya ...." kata Jamil saat angkot itu sudah sampai di depan tempat usahanya.

__ADS_1


__ADS_2