GELANG GIOK BERUKIR NAGA

GELANG GIOK BERUKIR NAGA
Chapter 54: SUARA-SUARA ANEH


__ADS_3

    Karena rasa capek yang teramat sangat, maka malam itu Juminem dan Jamil betul-betul terlelap. Bahkan Jamil mendengkur keras hingga suaranya seperti orang sedang menggergaji kayu, "Grak ..., grok ..., grak ..., grok ...." Mereka tidak terjaga sama sekali. Benar-benar tidur yang teramat pulas.


    Sementara itu, Melian yang sudah tidur sejak sore, sebelum para tamu tetangga-tetangga yang ikut berkirim doa untuk acara selamatan yang ada di rumahnya, maka pasti tidurnya sudah nyenyak. Sehingga, ditengah malam saat ayah dan ibunya tertidur pulas, ia pun terbangun.Namanya anak, sudah umum jika terjaga dai tidurnya ia bicara sendiri, senyam-senyum, bahkan tertawa sendirian, seakan ada orang lain yang mengajak gojegan.


    Seperti halnya Melian, malam itu terjaga dari tidurnya. Tanpa sepengetahuan Jamil maupun Juminem, anak itu tersenyum, tertawa, sekikikan. Tetapi ia tidak sendirian. Kali ini ada sebuah liong-liong besar dan panjang yang masuk di rumahnya. Seperti liong yang ada dalam pertunjukkan barongsai. Iringan musik pun ramai dengan tabuhan-tabuhan khas antara suara drum dan simbal.


    "Dung ..., dung ..., dung ..., dung ..., dung ..... Chasss ...." begitu suara musiknya yang meriah.


    Tetapi kali ini Liong warna merah dengan garis-garis sisik berwarna kuining itu seperti ular naga yang hidup, ular naga yang sesungguhnya, bukan liong yang dimainkan oleh para penari. Tetapi benar-benar mirip naga yang susungguhnya. Dengan juluran lidah yang seakan mengeluarkan api, bahkan juga kaki-kaki yang menapak sesuai dengan iringan musiknya. Naga itu terus meliuk seakan menari.


    Naga liong besar dan panjang itu menyusuri ruangan rumah kuno yang ditempati oleh Jamil bersama Juminem dan Melian. Terkadang melompat tinggi seakan menangkap bola api yang terlempar ke langit. Kadang pula menelusup ke bawah kolong meja atau tempat tidur. Lantas mencumbu Melian yang ada di tempat tidur. Kemudian naik ke atap rumah, selanjutnya menghilang keluar dari lubang jendela.


    Naga liong itu seakan sedang bercanda dengan Melian. Liong raksasa itu seakan sedang bermain menghibur Melian yang terjaga sendirian di tempat tidur. Bahkan berkali-kali, liong itu mengangkat tubuh Melian, kemudian menaikkan bayi itu di bagian lehernya, lantas dibawa menari berkeliling ke ruangan-ruangan rumah. Lantas melemparkannya kembali ke tempat tidur, yang ditangkap dengan ekornya, agar si anak itu tidak terjatuh. Lantas ekor liong yang meletakkan di atas tempat tidur secara perlahan, selanjutnya menggelitik perut Melian. Tentu Melian merasa senang, sehingga tertawa terbahak-bahak.


    Sepanjang malam, liong terus menghibur Melian. Tak seorang pun tahu kejadian itu. Jamil maupun Juminem, seakan kena sirep, sehingga tidur tak terbangunkan.


    Dan saat pagi hari, saat ayam jantan berkeluruk, tanda fajar akan menyingsing, Jamil bangun. Dengan mengusap matanya yang seakan tidak mau dibuka, ia memaksa dirinya turun dari tempat tidur.


    "Jum ..., bangun .... Sudah pagi ...." kata Jamil yang membangunkan istrinya.


    "Uuuch .... Sudah pagi to, Kang ...?" sahut Juminem sambil menggeliatkan tubuhnya.


    "Iya .... Ayo bangun ...." Jamil menjawab.


    "Walah ..., anak ini ..... Tidur dari sore sampai pagi begini kok tidak nglilir .... Tidak bangun-bangun ...." kata Juminem sambil membetulkan selimut anaknya yang sudah terlepas dari tubuhnya.


    "Jangan dibangunkan, Jum .... Nanti malah rewel ...." Ka Jamil yang sudah melangkah, tentu akan ke kamar mandi.


    "Tidak, Kang .... Hanya membetulkan selimutnya ...." sahut Juminem, yang tentu masih memandangi wajah anaknya yang tersenyum.


    Selanjutnya, suami istri itu melakukan rutinitas pekerjaan mereka masing-masing. Jamil mulai bersih-bersih. Sedangkan Juminem sudah ke dapur untuk menyiapkan masakan buat sarapan pagi dan bekal suaminya.

__ADS_1


    Tidak ada yang aneh. Tidak ada yang berubah. Semua barang dan benda yang ada di rumah itu posisinya tetap. Maka Jamil maupun Juminem juga menganggap biasa saja.


    Namun saat Jamil keluar rumah, akan membersihkan teras dan halaman, tiba-tiba didatangi tetangga.


    "Mas Jamil ..., kalau nyetel tivi, suaranya jangan terlalu keras .... Nggurahi tanggane .... Mengganggu orang tidur ...!" kata sang tetangga tersebut.


    "Lhoh .... Saya tidak nyalakan tivi, kok .... Habis memberesi tikar, tadi malam saya langsung tidur .... Istri saya juga tidur ...." sahut Jamil yang memang tidak menyalakan televisi.


    "La wong suara musik barongsai dombrang-dombreng jelas-kelas terdengar dari rumah kamu, kok ...." tetangga itu masih meyakinkan kalau pendengarannya tidak salah.


    "Walah ..., kami tertidur pulas, Pak ..., barusan bangun ini kok .... Dan saya juga tidak mendengar apa-apa .... Mungkin salah pendengaran, Pak ...." sahut Jamil yang tetap bersikukuh tidak mendengar musik barongsai itu.


    "Oo .... Ya, coba nanti saya akan tanya tetangga yang lain." sahut orang itu yang terus meninggalkan rumah Jamil.


    Jamil pun melanjutkan aktivitas paginya. Tidak berfikir apa-apa dari yang disampaikan oleh tetangganya. Karena memang ia sama sekali tidak mendengarkan musik iringan barongsai tersebut. Anggapan Jamil, tetangganya itu pasti salah dengar.


    Setelah semuanya beres, seperti hari-hari sebelumnya, Juminem yang menggendong anaknya, sambil menyuapi makan untuk Melian, ia melepas keberangkatan suaminya bekerja. Di halaman rumah. Jamil pun selalu mencium anaknya lebih dahulu saat mau berangkat kerja. Dan tentu, Juminem mengangkat tangan anaknya, berdada melepas keberangkatan bapaknya.


    Namun selepas kepergian suaminya, ada perempuan, ibu setengah baya tetangga Juminem yang tadinya lewat depan rumah Juminem, tetapi begitu tahu ada pemilik rumah di luar, ia langsung masuk ke halaman. Menemui Juminem.


    "Betul, Buk .... Kirim doa untuk para leluhur ...." jawab Juminem yang tentu masih menyuapi makan untuk anaknya.


    "Walah .... Sampai malam, ya .... Kok ramai banget ...." kata wanita tetangganya itu lagi.


    "Iya, Buk .... lha itu, bapak-bapak kalau sudah kumpul ..., ada saja yang diceritakan ...." jawab Juminem.


    "Walah .... Ya memang begitu maunya bapak-bapak .... Apalagi kalau ada tanggapannya .... Pasti penginnya ninton terus tidak mau pulang ...." kata wanita itu.


    "Tapi tadi malam tidak sampai larut, kok .... Katanya besok pada kerja .... Begitu, Bu ...." sahut Juminem.


    "Lhoh ..., lha hiburannya saya dengar sampai malam tidak berhenti-berhenti, kok ...." kata wanita itu.

__ADS_1


    "Hiburan apa to, Bu ...?" Juminem jadi bingung, karena tidak merasa kalau pakai hiburan.


    "Lhoh ..., kamu itu bagaimana to, Mbak Juminem .... Lha genah suara dombreng-dombreng musik barongsai sampai tengah malam begitu, kok ...." kata wanita itu, yang tentu mengagetkan Juminem.


    "Tidak ada barongsai kok, Bu .... Kami tidak nanggap barongsai .... Mungkin Ibu mendengar musik itu dari klenteng, orang-orang latihan barongsai ...." bantah Juminem yang masih bingung.


    "Ah, kamu itu lho, Mbak Jum .... Senengnya kok mengalihkan perhatian .... Lha wong saya itu benar-benar mendengar sendiri dengan daun telinga saya ini ..., kalau musik barongsai itu berasal dari rumah kamu .... Kok malah dibilang dari klenteng ...." wanita itu balas membantah.


    "Setahu aku tidak ada, Bu .... Ya coba nanti saya mau tanya ke Kang Jamil .... Mungkin Kang Jamil tahu ...." akhirnya Juminem mengalah, tidak mau berbantahan dengan wanita tetangganya tersebut.


    "Halah, Mbak Jum .... Gitokku kok malah mrinding begini ...?! Bulu kudukku berdiri, aku takut, Mbak Jum .... Ya, sudah ..., saya pulang dulu ...." sahut wanita itu yang langsung berjalan cepat meninggalkan rumah Juminem.


    "Kok aneh .... Orang yang punya rumah saja tidak tahu apa-apa, kok malah dia yang ribut ...." gerutu Juminem yang tentu jengkel dengan omongan tetangganya itu.


    Sore hari. Sengaja Juminem menghadang kepulangan suaminya dari kerja. Sambil menggendong anaknya, Juminem masih menyuapi Melian. Pastinya Juminem penasaran dengan omongan yang disampaikan oleh tetangganya tadi pagi. Kali ini ia ingin tahu jawaban dari suaminya. Apakah sama dengan dirinya.


    Betul saja, Jamil yang hanya jalan kaki dari tempat kerjanya, langsung disambut oleh anak dan istrinya.


    "Pa ..., Pa ..., Pa ...." kata Melian menyambut kedatangan ayahnya.


    "Uh ..., uh ...uch .... Anak manis ...." kata Jamil yang tentu sudah menciwel pipinya Melian.


    "Kang ..., tadi ada tetangga yang tanya ..., katanya tadi malam mendengar ada musik barongsai di rumah kita ...." kata Juminem pada suaminya.


    Jamil tidak menjawab, tetapi justri mengambil sapu, untuk membersihkan halaman rumahnya.


    Juminem mengejar suaminya yang sedang menyapu. Lalu menanyakan lagi yang dikatakan oleh tetangganya itu.


    "Kang Jamil, tahu ...?" tanya Juminem.


    Jamil menghentikan sapunya. Lantas mendekati istrinya dan berkata lirih, "Jum ..., kamu sudah sering melihat keanehan yang kita alami, kan ...? Jadi, tidak usah heran ..., tidak usah kaget ..., tidak usah khawatir .... Biarkan saja kata orang, yang penting kita tetap berbuat baik. Begitu ya, Jum ...." kata Jamil menenangkan istrinya.

__ADS_1


    "Iya, Kang ...." jawab Juminem sambil tersenyum. Ia ingat dengan kejadian-kejadian aneh yang selalu dialaminya, selama bersama Melian.


    "Pa ..., Pa ..., Pa .... Ma ..., Ma ..., Ma ...." kata Melian sambil tertawa, dan kedua tangannya sudah menggenggamjari ibunya dan ayahnya. Mungkin, Melian akan bercerita kalau barongsai semalam adalah liong-liong yang sudah menemani, sudah menghibur dirinya yang terjaga sendirian.


__ADS_2